Tak terasa satu minggu sudah berlalu, yang artinya ujian semester 2 atau kenaikan kelas sudah berakhir.
Sebelum penerimaan rapor, ada yang namanya class meeting, yang artinya lomba antar kelas untuk refreshing setelah ujian.
Arsya ikut andil, ia akan bermain basket bertanding dengan kelas sebelah. Tim Arsya pun sudah bertanding dua hari ini, sedangkan pertandingan finalnya adalah besok. Kelas Arsya IPS 3 melawan kelas IPA 2.
Banyak siswa yang hanya hadir saja pada acara classmeet tersebut dan ada juga memilih libur agar bisa di rumah saja. Namun, Arsya lebih memilih di sekolah.
Bisa ketemu Rara, batin Arsya. Seperti saat ini, ia bertemu Rara di lapangan. Mereka sedang menyaksikan pertandingan lomba basket putri.
"Ra, lo nggak ikut apa-apa?" tanya Arsya.
"Nggak, Sya."
"Kenapa?"
"Aku gak bisa di bidang non akademik," jawab Rara. Padahal alasan sebenarnya adalah ia tak bisa ikut, karena penyakitnya.
Rara terlalu lemah, jika disuruh beraktivitas banyak.
"Oh, gitu. Eum ... gue final besok, nonton, ya."
"Okey."
Arsya mencuri-curi pandang Rara daritadi. Gadis itu benar-benar imut yang membuat Arsya tak berkedip. Apalagi poninya itu menambah kesan menggemaskan seorang Rara. Tak lupa rambutnya yang selalu dikucir dua, kanan dan kiri, membuatnya tampak seperti bocah SMP.
Jangan lupakan jika wangi Rara hampir seperti anak bayi, karena wangi minyak telonnya dominan, campuran dengan parfum vanila soft.
Benar-benar menggemaskan, bukan?
"Sya, kamu kenapa liatin aku terus gitu?" tanya Rara malu, pipinya kini sudah memerah.
"Eh, hehe, sor--sorry, muka lo gak ngebosanin kalau dipandang, jadi gue gak puas lihatinnya."
Rara tersenyum mendengarnya. "Jangan puji aku terus. Padahal aku gak secantik itu."
Cewek cantik mana yang berani menolak tiga cowok seperti Rara?
"Tapi di mata gue lo paling cantik, Ra."
"Ah, udah, ah. Aku gak suka digombalin," ucap Rara mengalihkan tatapannya. Lebih baik fokus menatap orang bermain basket saja.
"Eh, gue gak ngegombal. Itu faktanya."
"Hmm." Rara hanya bergumam.
"Raquel," panggil seseorang. Arsya terkejut mendengar nama itu dan ia pun heran, Rara malah menoleh ke sumber suara yang memanggil nama Raquel.
"Iya?" jawab Rara.
Sebentar. Raquel? Sepertinya Arsya tak asing dengan nama itu.
"Bisa minta tolong ke sini sebentar?" tanya gadis yang memanggil Rara.
"Oke."
"Bentar ya, Sya," ucap Rara beranjak dari itu, sedangkan Arsya masih dibuat heran.
Raquel? Apakah nama Rara adalah Raquel? Lalu, kenapa bagi Arsya nama itu tak asing?
Mata Arsya melotot saat menyadari itu. "Raquel, kan, nama cewek yang gue temuin waktu kecil itu!" ucap Arsya baru ingat.
"Eh, apa mungkin itu Rara, ya? Hah, masa, sih? Berarti gue emang ditakdirkan sama Rara, dong, tuh buktinya udah ketemu waktu kecil," ucap Arsya walau belum seratus persen yakin jika Raquel yang dimaksudnya adalah Rara.
"Gue pastiin aja kali, ya," ujar Arsya beranjak dari situ. Namun, ternyata ada seseorang yang mengekori Arsya di belakang.
"Rara tadi ke mana, ya?" tanya Arsya. Ia mendadak kehilangan jejak gadis itu dalam sekejap. Wah, tidak bisa dibiarkan. Arsya benar-benar penasaran.
Di samping itu, Rara dibawa ke kelasnya oleh Tini. Ya, yang memanggilnya tadi adalah teman sekelasnya.
"Please ... Ra, kami gak tau lagi minta tolong sama siapa, yang lain pada gak mau, ini, kan demi kelas kita juga," ujar Voren--sang ketua tim basket putri kelas Bahasa.
"Eum ... gimana, ya?" tanya Rara ragu. Ia bukannya mau menolak, tetapi Rara memang tak diperbolehkan berlarian, melompat, dan sebagainya karena penyakitnya. Akan tetapi menatap teman-temannya yang memohon bahkan memelas, Rara jadi tak tega.
Apa tidak masalah jika ia ikut saja? Nanti Rara bisa memilih untum tidak terlalu banyak bergerak.
Ia sebenarnya jago bermain basket, walaupun Rara tak pernah bertanding sebelumnya. Dulu saat terapi ia berlatin main basket pelan-pelan dan Rara bisa memasukkan bola ke keranjangnya. Ya, walau ia hanya bermain sendiri.
Akan tetapi, apakah tidak masalah jika ia ikut bertanding? Karena jika bertanding pastinya ada lawan.
Ia harus lebih gesit dan tentunya membutuhkan pergerakan banyak.
"Please, Ra, kali ini aja ...."
"Aduh, bukannya gak mau, tapi--"
"Gak pa-pa, Guys. Gue ikut main aja kalau emang gak ada yang gantiin," ujar Sari, dengan kaki yang masih diperban. Sari kemarin jatuh dari motor dan kakinya pun keseleo, hal itulah yang membuat tim mereka terancam kalah. Apalagi Sari mainnya hebat.
Melihat kondisi Sari yang masih memikirkan kelas mereka, membuat Rara jadi tak tega. Apa usahanya untuk kelas ini? Percuma Rara meraih peringkat pertama, tetapi tak bisa bekerja sama dengan temannya itu untuk memenangkan kelas mereka.
Namun, Rara kembali bimbang dengan penyakitnya.
"Nggak, Sar, kaki lo cedera yang ada nanti malah makin sakit, loh," ucap Felin melarang keras. Ia tahu Sari ingin sekali bermain, tetapi kondisisnya juga tak memungkinkan.
Sebenarnya jika mereka tahu kondisi Rara yang sebenaenya, mereka tak akan berani mengajak Rara bertanding, karena penyakit gadis itu lebih berbahaya.
"Ya, tapi, masa kita didiskualifikasi hanya karena pemainnya kurang, sih?"
"Ya, gimana lagi, kan, mungkin emang belum takdirnya kelas kita sampai final," ujar Voren.
"Ya, gak pa-palah, mungkin pertandingan kita sampai kemarin aja, Guys."
"Yuk, semangat, lain waktu pasti kita dikasih kesempatan lagi."
"Iyap, kelas bahasa, semangat!"
Melihat keantusiasan mereka yang sangat berkobar membuat api semangat dalam diri Rara pun membara. Ia memejamkan mata, meyakini dirinya sendiri dan bersiap menanggung resiko apa pun yang terjadi nantinya. Dengan rasa kepeecayaan diri dan penghormatan Rara kepada teman-teman sekelasnya yang kompak. Rara menghela napas pelan, lalu berucap. "Aku siap bertanding!"
Semua mata beralih menatap Rara tak percaya, senyum lebar terbit di wajah mereka masing-masing.
"Yey, makasih, Rara!"
"Aaa, Raquel! Terima kasih," ujar Tini yang memang memanggil Rara dengan nama aslinya.
"Ra, lo penyelamat!"
"Rara, makasih."
"Aduh, sama-sama teman-teman semua. Tapi Rara gak janji, ya, bisa menang, karena Rara percaya, kalian lebih jago dan Rara hanya akan jadi beban nantinya."
"Enggaklah, berkat lo kita bisa lanjut ke pertandingan selanjutnya, tenang aja lo berdiri aja di lapangan juga boleh," ucap Voren merangkul pundak Rara.
"Hehe, oke siap. Terima kasih kepercayaannya. Rara akan lakukan yang terbaik!"
"Yey, semangat!"
Mereka pun bertos ria, tak sabar menuju pertandingan nanti siang. Sekarang masih ada waktu untuk berlatih. Lantas, apakah tidak terjadi apa-apa pada Rara nantinya? Apa semua akan baik-baik saja? Karena Rara hanya modal nekad ikut bertanding, demi membantu teman-teman sekelasnya.
Mari kita lihat pentandingannya nanti bagaimana.
***