BAB 45

1015 Kata
Lima belas menit lagi pertandingan basket putru antara kelas Bahasa dengan kelas IPA 1 akan segera dimulai. Rara sudah siap dengan pakaian olahraganya. Ia benar-benar sudah nekad. Namun, Rara harus percaya ia akan baik-baik saja. Sebelum dimulai, mereka pun berjalan-jalan, hitung-hitung pemanasan. Tadi saat berlatih, Rara tak terlalu bergerak. Ya pada saat latihan ia masih bisa menahan dan memperkirakan gerakannya, tetapi saat bertanding nanti? Rara juga pastinya tak ingin menghambat teman-temannya. "Rara!" teriakan daru belakang. Rara pun menoleh. "Kalian duluan aja, nanti aku nyusul," ucap Rara pada teman-temannya. "Oke." Rara kembali menoleh ke arah Arsya. Ia tadi lupa menghamiri cowok itu lagi. "Lo ke mana aja, sih? Gue cari ga ketemu." "Hehe, maaf, ya. Tadi aku ke halaman belakang sekolah, latihan basket." "Eh? Lo ikutan tanding?" "Iya." "Lah, katanya gak bakat non akademik, ini malah ikutan basket." "Hehe, cuma gantiin temen yang gak bisa ikutan, kok. Awalnya aku gak main." "Oh, gitu. Oke, deh, semangat, ya!" "Makasih, Arsya. Doain aku, ya." "Iya, pastinya. Gue juga bakal nonton lo, kok. Jadi penasaran lihat cewek seimut lo main basket gimana." "Ah, kamu, mah." "Ya udah sana, siap-siap!" "Oke, aku ke teman-temanku dulu, ya." "Iya. Semangat!" Rara lalu melambaikan tangannya pada Arsya. Ia pun jadi gugup, karena Arsya akan menontonnya. Rara mempercepat langkahnya, tak ingin temannya menunggu terlalu lama. Mereka sudah harus berada di lapangan, karena pertandingan selanjutnya adalah kelas mereka. "Kelas Bahasa pasti bisa!" teriak mereka saling menumpukkan tangan di atas tangan yang lainnya. "Lakukan yang terbaik, ya." "PIIPPP!" Suara peluit pun dibunyikan. Mereka mulai mengambil posisi. Rara mencari tempat yang aman. Bola pun mulai digiring para pemain, mereka saling merebut bola untuk berpacu memasukkan benda bulat itu ke keranjangnya. Berkali-kali bola yang hendak dimasukkan tim lawan digagalkan oleh Tim Bahasa. Tini mengambil alih bola tersebut dan mengoper ke Felin. Gadis itu mengiring bola mendekati ring, lalu melempar ke Voren. Gadis itu pun berkesempatan memasukkan bola ke ring. Namun, sedikit meleset dan bola itu menggelinding tertangkap oleh Rara. "Ra, masukin, Ra!" suruh temannya. Rara pun menarik napas dalam, mengiring bola sebentar, tim lawan yang hendak merebut bola pun ditahan oleh teman-teman Rara memberikan jalan untuknya memasukkan ke ring. Rara pun melompat mendorong bola itu sekuat tenaganya agar masuk ke ring. Dan .... MASUK! "PIIPPP!" Tim Bahasa pun berteriak girang! Walaupun satu kosong, tetapi waktu pertandingan tinggal sebentar lagi. Tim lawan sangat hebat, makanya mereka sama-sama sulit untuk mencetak ring. "Ra, mantap, Ra!" "Ra, keren!" "Bukan aku, tapi kita!" ucap Rara. Mereka pun tertawa. Peluit kembali dibunyikan dan mereka pun mulai mengiring bola kembali. Bola kembali berhasil dimasukkan ke ring dan sekarang yang memasukkannya adalah Voren---sang ketua Tim Bahasa. Mereka pun kembali berpelukan. Setelah itu, peluit kembali berbunyi. Bola berhasil dimasukkan oleh tim lawan. Namun, Tim Bahasa tetap semangat, karena mereka sudah mencetak dua ring. Rara mulai ngos-ngosan. Ia terlalu banyak bergerak. Peluh sudah membanjiri pelipisnya. 'Tahan sedikit lagi, Ra, tahan. Sebentar lagi pertandingan berakhir.' Ia merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Detaknya tak beraturan, ini karena Rara terlalu memaksakan diri. "Ra, masukin!" suruh Voren. Rara pun tertatih-tatih mengiring bola, lalu melompat dan memasukkan bola itu ke ring. "YEYYY!" Mereka kembali berteriak girang. Sedangkan Rara sudah memucat, ia tak tahan lagi. Waktu pertandingan tinggal lima menit lagi. Pandangan Rara mendadak berputar. Ia memegang dadaa kirinya, di mana letak jantungnya. "Ra, bolanya, Ra!" "Ra, jangan lengah, Ra!" "Ra ...." Suara itu mulai terdengar samar dan akhirnya .... BRUKK! "RARAAA!" Wasit pun memberhentikan permainan. Teman-teman Rara langsung menggerubungi gadis itu yang sudah tak sadarkan diri. "Rara kenapa?" "Eh, dia kenapa? Kok bisa pingsan?" "Udah, udah. Angkat dan bawa dulu ke UKS!" suruh Pak Bambang, yang menjadi wasit. Tak hanya para pemain yang panik, penonton pun kalang kabut, terutama Arsya. Ia terkejut melihat Rara tiba-tiba pingsan di lapangan. Apakah gadis itu baik-baik saja? Arsya mulai cemas. Ia pun mengikuti teman-teman Rara yang membawanya ke UKS. Pertandingan berakhir, kelas Bahasa dinyatakan menang, karena waktu pun sudah habis. Kelas IPA 1 pun menerima kekalahan, mereka ikut khawatir melihat Rara. Rara dibaringkan di kasur UKS. Para petugas PMR langsung menjalankan tugasnya, memeriksa Rara. "Gue gak yakin dia pingsan karena kecapekan aja," ucap salah satu petugas PMR itu. Sang Ketua PMR yaitu Hina pun turun tangan langsung, ia memeriksa suhu tubuh, denyut nadi, dan jetak jantung Rara. Hina terkejut karena goncangan jantung Rara tak seperti orang normal. Apakah pasiennya itu memiliki riwayat penyakit jantung? "Untuk saat ini, biarkan saja dia istirahat dulu, untuk lebih lanjutnya kita tunggu dia sadar," ucap Hina. "Baik, Kak." Hina pun keluar dari bilik ruang UKS. Melihat sang Ketua PMR keluar, buru-buru Arsya menghampirinya. "Kak, teman gue gak pa-pa, kan?" "Dia punya penyakit dalam atau nggak?" "Gak tau juga, Kak." "Ya udah, biarin dulu Rara-nya istirahat, ya. Jangan dibangunin." "Baik, Kak, terima kasih." Arsya pun menyibakkan tirai yang membatasi bilik kasur Rara. Ia lalu duduk di kursi samping ranjang. "Gue boleh tungguin di sinu, kan?" "Iya, silakan. Kalau Rara udah bangun, mohon beritahu kami, ya," ucap Aria pergi ke bilik sebelah. Arsya pun mengangguk saja. Ia menggenggam tangan Rara pelan. "Lo sebenernya kenapa, sih, Ra? Gue khawatir banget," ujar Arsya. Ia pun menatap wajah Rara yang terlelap damai. Sangat cantik, tetapi muka cantik itu kini sangatlah pucat. Apa tadi Rara memaksakan diri bertanding? "Rara, gue merasa bersalah," ucap Voren tiba-tiba masuk. Telunjuk Arsya diletakkan di bibirnya, megisyaratkan untuk diam. "Maaf, gue pikir Rara udah bangun." "Iya." "Ka--kalau gitu, gue keluar dulu, ya. Kalau Rara udah bangun kasih tau," ucap Voren. "Iya." Arsya kembali menatap wajah damai Rara. Kenapa gadis semungil ini terlalu memaksakan diri? Jika benar ia tadi sedang sakit dan malah nekad ikut bertanding, maka Arsya tak habis pikir. Apakah Rara dipaksa? Entahlah, tetapi gadis itu tadi tampak sangat bersemangat. "Gue bangga, Ra, ternyata lo hebat, ya. Walau kecil, pendek gini, tapi lompatan lo bikin gue takjub. Lo punya bakat main basket ternyata. Cepet bangun, ya, gue mau muji di depan lo langsung," ujar Arsya semakin mengeratkan genggaman tangannya. Tak lama kemudian, Rara pun mengerjapkan matanya. "Ra, lo udah bangun?" "Arsya ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN