BAB 46

1022 Kata
Rara membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah ruangan serba putih. "Ra?" "Arsya ... aku kok di sini?" "Lo tadi pingsan di lapangan, Ra." Rara pun dibantu oleh Arsya bangkit dan duduk menyandar di kepala ranjang. "Bentar, ya, gue panggil Kak Hina dulu." Arsya lalu keluar mengabari teman-teman anggota PMR jika Rara sudah sadar. Voren dan Tini pun ikut masuk, mereka tentu khawatir. Kak Hina segera dihubungi untuk kembali ke UKS. Buru-buru Voren menghapiri Rara. "Ra, lo gak pa-pa? Kita khawatir banget sama lo," ucap Voren diangguki oleh Tini. Rara tersenyum singkat. "Aku gak pa-pa, kok." "Gue jadi merasa bersalah karena udah ajakin lo, Raquel," ucap Tini. "Bukan salah kamu, kok, tapi aku aja yang terlalu lemah." "Terus sekarang keadaan lo gimana?" "Permisi," sela Kak Hina agar mereka memberika jalan. Hina lalu kembali memeriksa detak jantung Rara. "Kamu ada riwayat penyakit jantung, gak?" tany Hina, yang membuat Rara terdiam. Ia tak tahu apakah harus jujur atau berbohong, karena jika ia jujur maka akan membuat semuanya panik. Namun, jika a bohong, sepertinya Hina mengetahui. "Eum ...." "Lo beneran punya penyakit jantung, Ra?" tanya Arsya terkejut jika benar. Rara menghela napas pelan. Ia pum mengangguk saja. "Aku lemah jantung," ujarnya yang membuat semua orang di sana terkejut. Terlebih Tini yang merasa bersalah karena sudah mengajak Rara bermain. Voren pun sama. "Udah gue duga. Kebetulan Bunda gue dokter spesialis jantung. Karena gue tertarik, gue banyak belajar sama nyokap dan gue curiga kalau lo emang punya penyakit itu. Jangan beraktivitas terlalu banyak, ya. Apalagi tadi main basket, melompat, berlari, lo pasti tau itu gak boleh, kan?" "Iya, Kak." "Ya udah, abis ini pulang ke rumah, istirahat. Minum obatnya. In sya Allah, lo bakal baik-baik aja." "Terima kasih banyak ya, Kak." "Sama-sama." Hina pun pamit undur diri. "Ra, gue minta maaf banget, nih, karena udah buat lo terpaksa bermain. Lagian kenapa lo gak bilang dari awal sih, Ra." Rara kembali tersenyum. Ia menggenggam tangan Voren. "Gak apa-apa. Yang penting kelas kita menang. Aku baik-baik aja, kok." "Terima kasih, Ra, gue gak tau mau ngomong apa lagi." "Hehe, iya. Sama-sama." Setelah itu, Voren dan Tini pamit undur diri, meninggalkan Arsya berdua saja dengan Rara. "Lo buat gue khawatir," ucap Arsya. "Maaf, ya. Aku juga gak tau kalau bakal jadi gini." "Lain kali gak boleh gitu, ya. Jangan dipaksain, kalau lo emang gak bisa. Ingat, kesehatan lo lebih penting dari apa pun." "Iya-iya. Bawel, ih." Tangan Rara menarik hidung Arsya pelan. "Wah, udah berani ya sekarang mainin hidung gue," ucap Arsya hendak membalas. Rara pun segera menjauhkan mukanya. "Sya, kamu emangnya mau berteman sama orang penyakitan kayak aku?" "Menurut lo?" "Makasih ya, Sya, walau aku hanya beban." "Beban apaan secantik ini." "Tuh, kan, mulai deh gombalnya," ujar Rara kembali menarik hidung Arsya. Cowok itu pun hanya bisa pasrah, karena jika itu yang membuat Rara tertawa ia akan menerima saja. "Oh, ya, Ra. Ada yang mau gue tanyakan sama lo." "Iya, mau tanya apa?" "Tapi, tunggu dulu. Lo beneran udah gak pa-pa, kan? Rebahan dulu aja gak pa-pa, kok." "Aish aku mah udah seger ini. Ayo, mau nanya apa?" "Hm ... gimana ya tanyanya?" Arsya takut malah salah orang. "Tanya apa Arsya?" Alis Rara mengkerut, karena cowok itu tampak ragu bertanya. "Waktu kecil ... lo pernah ... eum, anu-- pernah ket--eum ... pernah makan nasi, gak?" tanya Arsya yang malah keluar topik. Ah, mulutnya tak singkron dengan apa yang ia pikirkan. "Hahaha, yaiyalah aku makan nasi masa kecil-kecil makan baygon." Arsya menepuk dahi pelan. Namun, melihat Rara tertawa ia jadi tak menyesal salah sebut kata. "Anu, bukan itu, hehe. Waktu kecil lo pernah ket--" "Maaf, apakah bilik ini bisa kami rapikan? Karena sebentar lagi jam pulang," ucap Aria menyela ucapan Arsya. "Eh, iya." Rara pun hendak turun, tetapi Arsya langsunh membantunya. "Aku bisa jalan, kok, Sya," ucap Rara, karena Arsya malah merangkulnya. "Udah gak pa-pa, lo kan sakit, masa gue biarin jalan sendiri." "Haha ... kamu, mah, terlalu lebay!" "Gak pa-palah, lebay sama cewek kayak lo ini." "Gak denger, gak denger. Nggak akan kedengeran kalau Arsya gombal-gombal lagi." Arsya terkekeh pelan. Tingkah Rara yang seperti inilah yang membuat Arsya susah move on dan malah semakin menyukai gadis itu. "Gue anterin pulang, ya." "Eh, gak usah repot-repot." "Gue siap direpotin lo, kok." "Hihi, oke, deh." "Ya udah, ke kelas lo dulu ambil tas lo masih di sana, kan?" "Iya." Mereka pun berjalan bergandengan bak orang pacaran. Ya jika dilihat keakraban mereka memang sudah seperti sepasang kekasih. Padahal hubungan mereka sampai saat ini masih stuck di pertemanan. Apakah jika Arsya mencoba mengulang sekali lagi, Rara akan menerimanya? "Ra, lo mau jadi pacar gue, nggak?" tanya Arsya santai sambil berjalan. Pipi Rara memerah. "Gak mau," tolaknya. "Oh, oke. Berarti PDKT gue belum berhasil, ya," ucap Arsya mengerti. Ia akan berusaha lebih keras lagi. Dekat dengan Rara saat ini saja sudah suatu kemajuan. Rara sebenarnya ingin melihat seberapa perjuangan Arsya mau memperjuangkannya? Apakah cowok itu benar-benar tulus? Atau ia hanya dijadikan seperti pacar-pacarnya yang lain saja? Setelah mengambil tas Rara di kelas. Mereka pun berjalan ke parkiran. Arsya membawa motor, ya seperti biasa. "Gue cuma bawa helm satu. Lo aja, deh, yang make," ucap Arsya memasangkan helm itu ke kepala Rara, membuat gadis itu tak berkedip. Sudah seperti adegan di salah satu drama korea saja. "Eh, masa kamu gak pake?" tanya Rara heran. Kenapa malah dipasangkan ke kepalanya? Rara, kan, hanya jadi penumpang, bukan pengendara. "Gak pa-pa, keselamatan lo lebih penting daripada gue." Rara senyam-senyum dibuatnya. Kenapa setiap Arsya berkata-kata manis, pipinya selalu memerah? "Ayo, naik, Princess!" suruh Arsya. Rara segera naik ke bangku belakang, memegang pundak Arsya. "Kalau mau meluk, gak usah malu-malu, ya." "Ish, gak mau meluk!" ujar Rara. "Ya, kan, kalau mau. Kalau nggak rugi, sih, gak mau peluk cogan." "Dih, narsis ya, kamu." "Rumah lo di mana?" tanya Arsya. "Masa gak inget, kamu kan pernah ke rumahku." "Oh, iya, hehe. Tadi cuma basa-basi doang." "Aish, ayo cepet jalan!" "Siap, Princess!" Arsya pun mulai menjalankan motornya meninggalkan perkarangan rumah. Ini adalah pertama kalinya ia membonceng Rara dan mengantarkan cewek itu pulang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN