BAB 47

1037 Kata
Adimas mengepel lantai, karena sudah lama ia tak mengepel lantai rumahnya itu, biasanya ia pel lantai sekali seminggu. Ini sudah hampir sebulan belum. "De, udah kelar ngepelnya?" tanya Farah. "Dikit lagi, Mam. Kenapa, tuh?" "Ke sini bentar, deh," suruh Farah. "Ngapain, Mam? Aku lagi ribet ini." "Aduh, bentaran doang. Ayo!" Adimas pun menurut saja. Ia menghampiri maminya itu terlebih dahulu yang berada di kamar. "Hm, apa, Mam?" "Gaun Mami ada yang hilang masa, De." Adimas menelan salivanya susah. Gaun yang ia pakai tempo hari, lupa dikembalikan. Mampus, ketahuan, kan! "Hah, masa, sih, Mam. Mungkin Mami salah letak kali." "Enggak mungkin. Mami inget banget ada di lemari ini. Aduh, ke mana pula hilangnya, padahal Mami mau pake ke kondangan besok." "Gak mungkin hilang, Mam. Udah pasti Mami yang salah letak atau lupa gaunnya belum Mami beli kali, cuma imajinasi Mami doang ada gaun itu di lemari." "Sembarangan kamu. Gak mungkinlah. Udah, ah, Mami mau cari dulu, mungkin keselip di mana." "Ya udah, aku lanjut ngepel lagi ya, Mam." "Iya, yang bersih." "Iya ...." Buru-buru Adimas keluar dari kamar maminya itu. Ia bernapas lega, untung saja Farah tak mencurigainya. Adimas melangkah pergi ke kamarnya. Mengambil gaun itu, untung sudah dicuci dan sudah kering. Ia pun membawa gaun itu ke jemuran yang ada di balkon belakang. "Hufh, hampir aja ketahuan," ujarnya bernapa lega. Adimas pun kembali ke ruang tamu melanjutkan pel lantai. Farah keluar kamar tampak frustrasi. "Aduh, De, Mami pusing carinya. Masa gak ada di kamar Mami?" "Hmm ... Mami udah periksa ke jemuran belum? Mana tau abis nyuci Mami lupa bangkit." "Itu gaun baru, De, belum Mami pake, masa dicuci udah di jemuran aja." "Ya sapa tau Mami khilaf, udah coba periksa aja dulu, atau gak di taman juga," ujar Adimas mencari alibi. "Hufh, ya udah, deh, Mami cari di jemuran. Walau gak bakal ada, sih." "Ya, cari aja, Mam." Farah pun melangkah pergi ke atas. Adimas terkikik pelan. Ia sudah menggelabu maminya sendiri. "Dimas ... De! Lihat, beneran ada di jemuran ternyata," ujar Farah berlari-larian sembari membawa gaunnya. Adimas pun tertawa melihat tingkah maminya itu. Ia juga segera mengucap atas kesalahannya, ia sudah berdosa. Namun, Adimas tak bisa menyembunyikan tawanya. "Ketawa negeledek ya kamu." "Hehe, gak kok, Mam. Lagian Mami, sih, kayak anak kecil aja." "Dosa, loh, kamu kalau ngeledek Mami." "Aduh, ampun-ampun, Mami." "Cepet beresin pelnya. Abis itu kita makan siang. Mami udah masak, tuh." "Iya, Mam, ini juga udah kelar, kok." *** Arsya pun mengantarkan Rara sampai depan pintu rumah. Rara melepaskan helmnya lalu memberikan pada Arsya. "Kamu gak mau mampir dulu?" "Enggak, makasih. Lain kali aja, Ra." "Oke, makasih ya, Sya, udah nganterin aku pulang dan makasih juga untuk hari ini." "Iya sama-sama. Cepet sembuh." Tangan Arsya mengusap rambut gadis itu pelan. "Ish, apaan, wong aku gak sakit, kok." "Ya apa pun itu, jaga kesehan. Gue balik, ya. Salam buat Camer." "Camer?" tanya Rara heran. "Iya, calon mertua." "Dih," ledek Rara memeletkan lidahnya. "Haha, daaa!" ucap Arsya. Rara pun melambaikan tangannya. "Daa!" teriaknya saat motor Arsya sudah pergi meninggalkan perkarangan rumahnya. Rara pun berbalik dan masuk ke rumahnya. "Hei, ayo, tadi dianterin siapa?" tanya Sinta yang ternyata mengintip dari kaca. "Ih, Mama ngintip, ya!" "Mama penasaran aja, siapa yang nganterin putri cantik Mama ini." "Hehe, cuma teman, kok, Ma." "Ah, yakiin?" "Iya, Ma." "Kalau pacar-pacaran harus tetap inget waktu dan batasan ya, Sayang. Jangan bucin pokoknya!" nasihat Sinta. "Siap, Ma. Rara gak gitu, kok, buktinya cowok yang tadi udah pernah Rara tolak." "Wah, main tolak-tolak aja, nih." "Hehe, karena Rara belum suka, Ma. Lagian belum siap cinta-cintaan. Mungkin belum ketemu sama yang tipe Rara." Sinta mencolek hidung putrinya itu pelan. "Wah, udah punya tipe-tipean aja, nih." "Udah, ah, Ma, Rara masuk, ya." "Oke." Saat ingin masuk kamarnya, Rara bertemu dengan Razel yang tampak sudah rapi hendak bepergian. "Razel mau ke mana?" "Ke luar, bentar." "Ooh, oke." "Emang kenapa? Lo mau ikut?" ajak Razel. "Enggak, deh, tapi nanti nitip cilok, ya." "Oke." Razel pun melanjutkan jalannya. Ia hanya ingin mencari angin saja keluar. Walau sejujurnya Razel ingin bertemu dengan Farah lagi, sih. Entah kenapa Razel mengharapkan pertemua kedua mereka, walau itu mustahil. "Gue harap kita bisa ketemu lagi, Farah, gue pengen cerita lebih lama lagi sama lo." *** Arsya sudah sampai rumahnya. Alisnya mengkerut menatap pintunya terbuka. Biasanya pintu rumah Arsya terbuka itu hanya menandakan ada tamu, lantas apakah benar ada tamu di rumahnya? Siapa? "Assalammualaikum," salam Arsya saat baru masuk rumah. "Waalaikumussalam," jawab semuanya ramai. Arsya pun terkejut dibuatnya, karena sudah seperti rapat keluarga besar saja di ruang tamu. "Wah, Arsya kamu udah besar, ya, sekarang." 'Yaiyalah, Tan, masa gue kecil terus,' batin Arsya menjawab. "Arsya, kamu makin ganteng aja, padahal terakhir kali ketemu sama Om, kamu pup di celana." 'Yaelah, aib gue kagak usah dibongkar juga kali,' batin Arsya kembali menjawab. "Arsya, sini duduk!" suruh Reni. Di ruang tamunya sekarang, ada kedua orang tuanya, ada Tante, Om, dan anak mereka. Ada Adimas dan juga Tante Farah. Arsya lupa, jika Tante Fira adalah temannya Tante Farah dulu, ya bertiga satu geng. Tante Fira adalah adik Reni. Jangan lupakan Lian. Bocah SMP itu langsung berlari menghampiri Arsya. "Kak Arsyaaaa!" teriaknya langsung memeluk Arsya, ya seperti itulah kebiasaannya. "Aduh, Lian. Lo kagak lebay bisa gak, sih." "Bundaaa, lihat, tuh, Kak Arsya bilang aku lebay terus," ujarnya mengadu. Nah, ini, nih sifatnya satu lagi yang sangat menyebalkan. "Aduh, Arsya. Punya sepupu cantik, kok, digituin. Gak boleh gitu," ucap Tante Fira. Arsya menghela napas gusar perdramaan hidupnya tak tenang dimulai. Arsya melirik ke arah Adimas yang tampak menahan tawa dari tadi. "Kalau mau ngakak, sih, lepasin aja, jangan ditahan, entar jadi kentut," kesal Arsya berbicara pada Adimas. Sontak sahabatnya itu langsung tertawa terbahak-bahak. "Ah, sabodolah. Gue mau ke kamar dulu, biar hidup gue tenang," ucap Arsya, tetapi tangannya ditahan oleh Lian. "Apa lagi bocil?" kesal Arsya. "Mau ke kamar Kak Arsya dong. Mau main PS." "Gak ada PS, udah rusak. Main sono sama si Adimas aja, noh!" suruh Arsya lalu berlalu ke kamarnya. Adimas terkekeh pelan, daridulu Arsya memang seperti itu. Ia memang seorang playboy, tetapi ia tak akan suka didekati oleh bocil cewek yang terkesan ingin menempel padanya. Arsya tidak suka itu. Prinsip seorang Arsya adalah. Biarlah ia mendekati cewek daripada didekati cewek. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN