Hari ini adalah hari pertandingan final basket putra antar kelas. Yakinya Kelas IPS 3 melawan kelas IPA 2 yang masuk final pada hari ini.
Para suporter kelas pun sudah siap di bangku penonton untuk mendukung kelasnya masing-masing.
Rara yang hadir pun sudah siap di bangku penonton untuk menonton Arsya, tentunya. Di samping Rara sudah ada Voren yang ikut menonton.
"Gue juga dukung Arsya, deh," ucap Voren."
"Haha, iya, aku nonton aja, sih, gak dukung siapa-siapa. Cuma ya berharap tim Arsya yang menang," ucap Rara.
"Ra, gue boleh tanya?"
"Tanya apa?"
"Lo suka gak, sih, sama Arsya?" tanya Voren dengan tatapan menyelidik.
"Eum, emang kenapa?"
"Gak ada, sih, kalau lo gak suka biar gue yang gebet, nih," ucap Voren membuat Rara tertegun.
"Hah?"
Voren dalam hati tertawa, jelas sekali muka Rara tampak cemburu. Tadi Voren tak sengaja bertemu dengan Arsya sebelum pertandingan dimulai. Arsya memintanya untuk menanyakan hal tersebut kepada Rara. Jadi, Arsya-lah yang menyuruhnya.
"Beneran, nih, gak suka?" tanya Voren.
"Nggak suka, sih, tapi aku ... nyaman aja sama dia."
Voren merangkul pundak Rara pelan. "Kalau nyaman tandanya suka, loh, Ra," bisik Voren.
Rara menjauhkan mukanya. "Ish, apa, sih. Enggak!"
"Sekarang gini, kalau misalnya Arsya gak ngedeketin lo lagi, gimana? Misalnya dia deketin gue, terus nembak gue dan jadian sama gue. Lo rela?"
"Voren gak ada topik lain, kah?"
Tampaknya Rara mulai risih dengan pembicaraan Voren. Cewek itu pun menghentikan bicaranya.
"Hehe, sorry kalau buat lo gak nyaman," ujar Voren. Ini semua salah Arysa, jika sampai Rara tak mau berteman dengannya karena risih, berarti yang harus disalahkan adalah Arsya.
Karena mereka sibuk berdua, tak menyadari jika tim Arsya sudah mencetak tiga kosong pada tim lawan. Para pentonton pun bersorak sorai menyaksikan dengan antusias.
Rara menatap Arsya yang sangat lincah mengiring bolanya. Cowok itu tampak bercahaya di antara lainnya. Mata Rara seakan hanya melihat Arsya di lapangan itu.
Apakah matanya hanya tertuju pada Arsya seorang? Tiba-tiba Rara memikirkan ucapan Voren tadi. Benar juga, bagaimana jika cowok itu menemukan cewek baru yang lebih baik darinya dan memilih berhenti untuk mengejarnya? Apakah Rara sanggup? Oh, tidak! Rara terlalu jauh memikirkan Arsya.
Permainan semakin memanas, tim lawan pun berhasil merebut angka yang sudah dicetak oleh Tim Arsya. Skor sekarang adalah 7 : 7. Seri! Permainan semakin genting.
Arsya tampak lebih gesit lagi bermain. Waktu tinggal sendikit lagi, jadi mereka harus bisa mencetak ring untuk terakhirnya agar bisa menang.
Bola dilemparkan ke arah Arsya. Inilah kesempatannya. Arsya melompat memasukkan bola itu ke ranjang. Namun, meleset, ah gawat.
Bola kembali jatuh ke bawah, hampir saja diambil alih oleh tim lawan, tetapi untung saja Arsya dengan gesit mengejar bola itu menangkapnya kembali, lalu mulai melompat lagi memasukkan bola itu dan ....
"PIIPP!"
"YEEEYY!" Teriakan dari suporter Kelas IPS 3 sangat keras, karena kelas mereka pun akhirnya menang.
Arysa dan teman-temannya bertos-ria. Para kelompok pacar-pacar Arsya yang sedang menonton pun tampak bergoyang merayakan kemenangan Arsya.
Cowok itu menatap ke sekelompok pacarnya itu, lalu memberikan kecupan jauh seperti kissbye. Yang membuat semuanya langsung salah tingkah.
Dasar Arsya, jiwa playboynya tetap mendarah daging.
Arsya pun duduk di tepi lapangan itu untuk minum. Banyak pacar-pacarnya berbondong-bondong memberikan cokelat, air mineral, bunga, dan lainnya ke arah Arsya.
"Makasih pacar-pacar gue."
Mereka pun menggerubungi Arsya membuat cowok itu tak bisa berkutik.
Melihat ada sedikit celah untuk kabur. Arsya memanfaatkan celah itu. Ia langsung menyelinap pergi dan menjauh dari mereka.
Arsya lalu berlari ke bangku penonton dan menarik tangan Rara. Untuk pergi dari situ. Rara tersenyum singkat, karena ia masih dispesialkan daripada yang lain.
Arsya dibuat ngos-ngosan. Ia sudah berada di taman belakang sekolah.
"Hufh, hah. Gila, ya, tuh, cewek-cewek malah keroyok gue. Gak tau apa gue capek, kepanasan gini."
Rara terkekeh pelan. Ia pun mengeluarkan botol mineral dari dalam tasnya. "Nih, minum dulu," ucap Rara.
Arsya pun menerimanya. "Makasih, Ra."
"Iya."
Arsya meneguk air itu meninggalkan sisa sedikit saja, tampaknya Arsya benar-benar kehausan.
"Sya, coba nunduk dikit," suruh Rara.
"Buat apa?"
"Udah, bungkuk dikit!" suruh Rara, Arsya pun membungkukkan badannya, menyejajarkan tingginya dengan Rara.
Tangan Rara lalu mengusap kepala Arsya pelan. "Cup ... cup," ujarnya membuat jantung Arsya tak aman, apalagi sentuhan tangan Rara begitu lembut.
"Kasian yang dikeroyok pacar-pacarnya," ucap Rara malah ditambah bumbu-bumbu ledekan.
Arsya pun kembali berdiri lurus lagi. Tangan Arsya gantian mencubit pipi chuby Rara pelan.
"Ih, sakit," dengkus Rara.
"Hah, sakit?" Arsya malah kembali mencubit pipi mulus Rara.
"Arsya, ih, kamu, ya!" Rara menarik hidung Arsya keras sampai memerah. Cowok itu pun hendak membalas, tetapi Rara segera berlarian. Alhasil mereka saling kejar-kejaran seperti bocah saja.
"Udah, ah, capek. Udah tau aku gak bisa kecapekan," ucap Rara.
"Eh, iya, sorry, Ra. Gue lupa! Lo gak pa-pa, kan? Lo gak kumat atau gimana, kan?" tanya Arsya cemas memeriksa Rara.
"Aduh, duh, sakit!" teriak Rara memegang dadaa sebelah kanannya.
Arsya mendengkus pelan, tahu jika Rara hanya menipunya. "Sejak kapan jantung letaknya di kanan?"
"Eh, iya, lupa," kekehnya.
"Ketauan, kan, boongnya!" ujar Arsya membuat Rara terkekeh.
"Bodo amat, kalau beneran entar kamu pasti cemas, ketakutan, ya, kan?"
"Yaiyalah."
"Hihi, tuh, kan."
"Arsya ... Rara? Benarkah itu kalian yang di sana?" panggil Bu Santi.
"Iya, Bu," jawab mereka kompak.
"Kebetulan sekali, ke sini ayo, Nak!"
Rara dan Arsya pun berjalan menghampiri Bu Santi.
"Ada apa, Bu?"
"Ibu mau minta tolong, kalian minta formulir pendaftaran sama Bu Linda ya, Nak, ya. Bilang aja Bu Santi yang nyuruh."
"Oh, oke, Bu."
"Terima kasih, Nak."
Rara dan Arsya pun segera ke ruangan Bu Linda.
"Eh, iya, emang formulir apa yang disuruh Bu Santi tadi, ya?" tanya Rara. Bu Linda tak menyebutkan formulir apa.
"Udahlah, paling nanti juga Bu Linda tau aja. Bu Santi kang suruh itu emang ga kuat jalan atau gimana, sih?"
"Ey, gak boleh ngomongin guru di belakang, Arsya. Gak baik, nanti kualat. Lagian Bu Santi kan udah tua, jadi maklum ajalah."
Sampailah mereka di ruangannya Bu Linda. Setelah mengucapkan salam dan kata permisi, mereka berdua pun masuk menemui Bu Linda.
"Oh, ternyata kalian, ya. Silakan isi formulirnya," ucap Bu Linda yang membuat Arsya dan Rara terkejut.
"Hah, formulir apa ini, Bu?" tanya Arsya dan Rara serentak.
***