Arsya dan Rara masih tercengang memegang formulir di tangannya.
"Masa kalian gatau. Kalau Bu Santi nyuruh kalian menghadap ke Ibu, berarti kalian yang dipilih untuk mewakili sekolah kita."
"Ta--tapi, Bu. Tadi Bu Santi gak ada ngasih tau apa-apa," ucap Rara.
"Iya, karena Bu Santi bilang ke Ibu, kalau nanti dia nyari siswa dan siswi berdua, kalau mereka udah menghadap Ibu, berarti mereka yang dipilih. Paham, tidak?"
"Paham, Bu," jawab keduanya serentak.
"Nah, ayo cepat isi formulirnya, yuk!"
"Maaf, Bu, tapi kami gatau ini formulir maksudnya apa. Boleh tolonh jelaskan dulu, Bu?"
Bu Linda menarik napas dalam. "Baiklah, kalau kalian masih tidak paham. Jadi, pemilik yayasan SMA Harapan Bangsa senasional, nih, dari Sabang sampai Merauke, mengadakan acara perkumpulan perwakilan dari kota masing-masing siswa SMA Harapan Bangsa-nya. Nah, jadi kalian, kan, Jakarta, nih. Ya, kalian mewakili SMA Harapan Bangsa yang di Jakarta ini. Kan, ada juga tuh, Harapan Bangsa Jogja, Bandung, Padang, dan lain-lainnya."
"Untuk acara perkenalan gitu aja," ucap Bu Linda yang menjelaskan berbelit membuat Rara semakin tak paham.
"Jadi kami ini perwakilan SMA ini termasuk mewakili kota Jakarta ya, Bu?" tanya Arsya.
"Yes!"
"Oh, begitu. Baik-baik. Saya paham, Bu."
"Acaranya lusa, dan besok kalian udah harus nginap di hotelnya. Besok Ibu antarkan."
"Ini bukan lomba kan, Bu?"
"Bukan, Rara. Cuma sebagai ikon perkenalan dari sekolah kita aja. Kan di Jakarta ini cuma satu SMA Harapan Bangsanya."
"Oh, iya, Bu."
"Ya sudah setelah isi formulirnya, kalian boleh keluar."
"Baik, Bu."
Rara dan Arsya pun mengisi formulir itu cepat. Bisa-bisanya mereka terjebak dalam hal ini, mendadak pula.
Lagi pula kenapa harus mereka berdu yang terpilih.
Alsan Bu Santi adalah, pertama Rara sangat pintar dan ia pun cantik. Kedua, Arsya sangat tampan memiliki banyak penggemar, jadi mereka cocok menjadi perwakilan SMA ini. Tak akan mengecewakan!
Setelah selesai mengisi formulir itu, mereka pun pamit keluar dari situ.
"Hufh, mendadak aja gak, sih?" kesal Rara.
"Ya, gue juga kaget."
"Terus besok kita bakal nginep di hotel dong?" tanya Rara.
"Ya iya."
"Berarti nanti malam, kita packing? Hotelnya di mana?"
"Halah, palingan deket-deket sini, tuh."
"Iya mungkin. Ya udah, deh, aku mau kembali ke kelas dulu aja. Bye, Arsya!"
"Bye!"
Saat perjalanan menuju kelas, Rara tak sengaja bertemu dengan Aldo. Ia masih trauma, tetapi ia memilih memberanikan diri untuk kali ini.
"Bentar, Ra, ada yang mau aku omongin sama kamu."
"Apaan?"
"Aku janji gak akan kasar lagi. Please, kita duduk di sana dulu, yuk?" ajak Aldo dengan suara yang selembut sutera.
Rara pun menuruti saja. Ia duduk di kursi panjang di depan kelas.
"Ra, kamu gak keberatan, kan?"
"Nggak. Emang kenapa?"
"Aku baru inget, kita pernah ketemu waktu kecil," ucap Aldo, yang membuat Rara mencibir tak percaya.
"Masa, sih?"
"Iya. Kita pernah main bareng terus kamu kasih tau namamu yaitu ... Raquel."
Rara terkejut bukan main. Apakah benar? Cowok yang ia idam-idamnkan selama ini adalah Aldo? Cowok kasar yang bertindak semaunya ini? Rasanya sulit dipercaya, tidak semudah itu.
"Kita ketemunya kapan?"
"Tiga tahun yang lalu."
"Tet not. Salah! Aku ketemu sama dia sekitaran sembilan tahun yang lalu. Jelas sekali tau boongnya. Udah, ah, bye," ucap Rara berlalu kembali ke kelasnya.
Aldo menarik rambutnya kesal. Sudahlah gagal, malu pun bertambah.
***
"Siang, orang ganteng pulang!" teriak Arsya saat masuk rumah. Reni menyanbut langsung dengan berkacak pinggang.
"Udah berapa kali Mama bilang, setiap masuk rumah itu baca salam. Kalau ada tamu gimana? Jaga sopan santunmu."
"Kan kemarin pas ada tamu, Arsya baca salam, Ma."
"Ya masa pas ada tamu doang!"
"Iya deh, Ma. Arsya mau ke kamae dulu, ya."
Arsya pun masuk ke kamaenya. Betapa terkejutnya ia ketika baru saja masuk hal pertama yang ia lihat adalah kamarnya bak kapal pecah. Lian bermain mengeluarkan semuanya. PS, laptop, Ipad. permainan Arsya pun.
"Heh bocaah. Lo ngapain di kamar gue?" kesal Arsya, memungut permainan itu kembali.
"Hehe, maaf, Kak Arsya. Tadi aku gabut, tapi nanti pasti aku beresin, kok."
"Bomat, keluar gak lo sekarang?" suruh Arsya.
"Kak ...."
"Keluar!"
Lian pun tak ada pilihan lain selain pergi meninggalkan kamr Arsya, sebelum cowok iru benar-benar murka.
Ponsel Arsya berdering, ia pun mengecek HP-nya. Ternyata ada grup yang dibuat oleh Bu Linda. Pasti ini akan membahas tentang penampilan itu.
"Halo, De. Lo kayak rumah kita jauh aja deh, pake nelepon segala."
"Sya, bantuin gue."
"Kenapa?"
"Gue ...."
Sambungan terputus, membuat Arsya khawatir saja. Ia segera mengganti baju, lalu pergi ke rumah Adimas melewati balkon kamarnya. Tak ada Adimas di dalam kamarnya.
Ia harus masuk dari pintu depan jika sudah begini.
"De, ada apaan, sih? Buat gue panik aja, deh." Arsya bergegas masuk ke rumah itu. Tidak ada orang juga di ruang tamu. Arsya mengecek di ruang kerluarga juga, tetapi tak menemukan Adimas di sana. Di mana sahabatnya itu?
"Astaga, Arsyaaa! Gue di dapur, nih, lagi mengba-bu," ujar Adimas. Alias sedang memasak.
"Maksud lo minta tolong di telepon apa, ya?"
"Oh, iya, lupa. Bantuin gue pel lantai, dong," ucap Adimas santai, bahkan tanpa segan mengatakan hal itu. Tentu saja Arsya menolak.
"Gua kagak bisa ngepel, kalau mengapelin cewek baru bisa," ujar Arsya yang membuat Adimas meloak mual.
"Gak gak, ini serius, ya. Gue mau minta tolong beliin sesuatu di Super Market."
"Beli apa? Beli cinta dan kasih sayang, ya?" ujar Arsya yang malah membuat Adimas bad mood abis.
"Sya, gue serius. Nyokap gue ulang tahun entar malam, jadi gue mau buatin makanannya, nih, nah gue minta tolong sama lo beliin kue tar-nya, jangan sampai ketauan. Letakin dulu di rumah lo, besok gue jemput."
"Oh, oke. Beli kue tar doang, kan?"
"Iya."
"Ya udah, abis ini gue bisa bikin yang lain lagi.
"Ya udah kalau cuma itu. Entar gue beliin."
"Oke, makasih, ya, Sya!"
Arsya kembali masuk ke kamarnya.
"Hai, Kak Arsyaaa."
"Udah, ya, Lian, gue gak mau main-main dulu sama lo."
"Bukan itu, Kak. Itu ada yang nungguin Kak Arsya tuh."
"Wah, siapa, ya itu?"
Arsya pun masuk ke ruang tamu ternyata sudah ada cewek dengan rambut panjang, ia pun menoleh.
"Hai, Arsya. Lama gak berjumpa."
Arsya terkejut menatap gadis itu di situ. Siapakah gadis itu kira-kira?