BAB 50

1020 Kata
"Kak Cia?" tanya Arsya menatap tak percaya. Buru-buru cowok itu menghambur ke pelukan gadis yang ia panggil Kak Cia itu. "Hai, Arsya!" Kak Cia adalah sepupu Arsya dari keluarga papanya. Dulu, ketika Arsya main ke rumah neneknya ia sering bermain dengan Kak Cia. Kak Cia berumur dua puluh dua tahun sekarang. Sifatnya yang penyayang membuat Arsya dekat dengannya. Ya, sifat kakaknable sekali. "Apa kabar, Kak?" "Baik, Sya." "Kakak sama siapa ke sini?" "Sendiri." "Wah, ada apa, tuh, Kak? Tumben mampir kemari." Kak Cia tersenyum singkat, ia pun mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tasnya. "Datang ya, Sya." Arsya pun mengambil undangan itu. Matany berbinar menatap nama Cia terlukis di sana. "Kak Cia mau nikah?" Kak Cia pun tersenyum malu. "Iya. Alhamdulillah." "Wah, selamat, Kak!" "Makacih. Ya, Kakak mau anterin itu aja, sih, ke sini." Sedikit informasi, dulu Arsya sangking kagumnya dengan kecantikan dan kelembutan Kak Cia, si cowok playboy itu pernah menembak Kak Cia. Ya, walaupun Arsya ditolak, sih. Namun, dengan alasan mereka bersaudara sepupuan. Lebih baik cari yang lain, lagi pun Arsya menembak Kak Cia saat ia masih SMP, yang benar saja. Ia masih terlalu kecil. Lagi pula Cia hanya menganggap Arsya sebagai adiknya. Tak lebih. "Gimana, seneng, ga? Kakaknya udah ada pawang sekarang." "Ya, senang, sih, tapi Kak Cia jangan lupa lupain aku!" "Gak akan lupa, tenang aja!" "Cia ... ini diminum dulu," ucap Reni meketakka nampan yang berisi segelas air. "Kak Cia, aku tinggal bentar, ya, mau keluar." "Oke." Sesuai permintaan Adimas. Arsya akan membelikan kue tae untuk mami sahabatnya itu. Super Market lumayan jauh dari sini. Akan tetapi, tenang saja. Untuk kali ini Arsya memakai mobil, karena jika membawa motor, akan susah ia membawa kue tar tersebut. *** Tak terasa hari cepat berganti. Pagi tadi Adimas mengetuk pintu balkon kamarnya, untuk mengambil kue yang dibelikan Arsya. Cowok itu kurang tidur semalam dan sekarang ia harus berangkat ke hotel pula, karena cara perknalan itu. Namun, esok hari setelah selesai acara mereka bisa pulang. "Ra, lo bawa koper gede amat. Berapa banyak baju yang lo bawa?" tanya Arsya. "Kamu, tuh, yang bawa tas kecil banget. Emang muat semua keperluan dalam satu tas ransel gitu doang?" "Ya, muat aja, sih. Oh, ya, Ra. Sebelum kita sampai di hotel, nih. Gue mau nanya sekali lagi. Lo mau gak jadi pacar gue?" ucap Arsya to the point saja tanpa basa-basi terlebih dahulu. "Masih belum, Sya." "Oke, gue gak bakal nembak lo lebih dari tiga kali," ucap Arsya yang terlanjur patah hati. Kenapa susah sekali? Rara terdiam. Ia takut jika itu beneran. Berarti ia harus siap kehilangan Arsya? "Anak-anak, kalian udah siap?" "Udah, Bu." "Oke, mari kita berangkat!" Mereka menaiki mobil fasilitas sekolah. Tak disangka saja mereka yang terpilih menjadi perwakilan di sekolah. Mereka duduk berdua di belakang, hotel itu sangat jauh. Setelah sampai hotel, tentu saja kamar mereka berpisah. Namun, masih bersebelahan. "Ra, nanti malam gue tunggu di taman hotel ini, ya," ucap Arsya. "Mau ngapain?" "Lihat aja." "Oke, deh, untuk sekarang kita istirahat dulu, ya." "Oke. Selamat istirahat, Cantik!" ucap Arsya mencubit pili chubby Rara. Tampak semakin menggemaskan apalagi pipi itu memerah. Malam pun tiba. Rara pun menuruti ucapan Arsya yang menyuruhnya ke taman hotel malam ini. Rara pun dibuat heran, karena tidak ada satu orang pun di sini. Hanya ada ia dan Arsya saja. Oh, jangan bilang jika Arsya-lah yang membooking tempat ini? "Ada apa, Sya?" tanya Rara. Namun, tiba-tiba ada yang menutup matanya. "Hai, selamat malam." "Malam." "Silakan duduk. Tenang aja, malam ini milik kita, Anggap aja hotel ini rumah sendiri." Arysa lalu berjongkok memberikan sebuket bunga kepada Rara. "Gue pernah ngomong gak akan menembak cewek lebih dari tiga kali kan? Ya, memang benar, tetapi gak akan berlaku untuk lo serorang." Rara tak berani menjawah. Lagian ia harus menjawab apa? Tiba-tiba lampu taman padam menampakkan lilin-lilin yang berbaris mengelilingi Rara dan Arsya berdiri saat ini. Rara tentunya berdecak kagum. Apakah Arsya berkerja sama dengan pihak hotel ini? Sehingga bisa menyiapkan semua ini untuknya. Apakah masih ada alasannya untuk menolak? "Ra," panggil Arsya. "Iya, sya." Arsya lalu berjongkok di hadapan Rara, menyodork bunga itu. "Entah udah berapa kali gue menyatakan perasaan ini ke lo, yang pasti masih tetap sama. Gue masih suka sama lo. Kalau lo ragu, jika suatu saat gue bakal ninggalin lo. Maka, gue rela kalau lo mau mutusin gue dan membenci gue selamanya. Gue suka sama lo, Rara." Rara tersenyum. Entah sudah berapa kali pula ia menolak cinta Arsya, tetapi cowok itu tak juga menyerah. Ya, bukan Arsya namanya jika menyerah. "Arsya ... aku juga mencintaimu." ... "Arsya? Arsyaaa. Arsya bangun, Sya!" Arsya pun terlonjak kaget. Ia menatap sekeliling dan ternyata ia masih berada di mobil. Eh? Benarkah? "Kamu mimpi apaan, sih, Sya?Kayaknya seru banget, kamu senyum-senyum gitu," ucap Rara. Jadi yang barusan ia menembak Rara itu di taman hotel adalah mimpi? Ah, sial. Padahal ia sudah bahagia, karena Rara menerimanya. Kenapa tadi itu mimpi! "Kita bentar lagi sampai di hotel penginapan, ya," ucap Bu Linda. "Sya?" "Iyaaa." "Kamu, kok, badmood gitu?" "Tadi gue mimpi indah, sayangnya cuma mimpi." "Wah, pantesan kamu susah dibangunin, ya." Tangan Rara menyentuh kepala Arsya. "Cup ... cup! Emang kamu mimpi apa, sih? Sini cerita." Arsya menghela napas gusar. "Gue mimpi nembak lo lagi, Ra," ucap Arsya. "Wah, terus, aku terima atau nggak?" "Kamu terima, tapi aku keburu bangun dan sadar jika itu cuma mimpi doang." Rara tertawa pelan. Ada-ada saja mimpi Arsya. "Nah, udah sampai, nih. Yuk, turun!" ajak Bu Linda. "Baik, Bu." Setelah melakukan chek-in. Mereka pun mendapatkan kamar masing-masing. Namun, kamar mereka bersebelahan tadi adalah mimpi yang menjadi nyata. Akankah semua dalam mimpi itu akan menjadi nyata? Arsya beeharapnya seperti itu. Saat hendak membuka pintu, untuk masuk ke kamarnya. Tangan Rara menahan tangan Arsya. "Bungkuk, dong, ada yang mau aku bisikin!" ujar Rara. Alis Arsya mengkerut, tetapi ia menurut saja. Ia pun membungkukkan nadan. Rara berjinjit lalu membisikkan sesuatu ke telinga Arsya. "Anggap aja di mimpi tadi itu nyata. Because ... i love you, Arsya!" Setelah mengatakan itu, Rara segera masuk ke kamarnya. Arsya menegang. Ia tak tahu, harus berkata apa sekarang, yang pasti ia sangat bahagia. Apakah itu artinya. Rara membalas cintanya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN