BAB 51

1033 Kata
Perkataan Rara begitu terngiang-ngiang oleh Arsya. Apakah tadi ia tidak salah dengar? Arsya masih tak percaya. Lalu, apakah artinya Rara sudah menerimanya? Arsya membalikkan badannya ke samping, sembari memeluk guling. Jika begini, ia pasti akan mimpi indah dan tertidur nyenyak. "Mau yang tadi itu dia ngomong serius atau nggak, intinya gue seneng!" Setelah itu, Arsya memejamkan matanya, masuk ke lautan mimpi. Malam ini ditutup dengan senyuman. Ia berharap semoga esok lebih menyenangkan. Di balik itu, Rara juga tampak tersenyum malu. Apakah ucapannya tadi sudah benar? Ya, ia mengakui jika sudah mulai menyukai Arsya. Berada di dekat cowok itu juga sangat nyaman. Rara merasakan sesuatu yang berbeda. Malam ini pun terasa indah baginya. Rara mematikan lampu kamar, lalu mulai terlelap. Namun, saat baru saja matanya terpejam, ketukan pintu kamar terdengar, membuat mau tak mau Rara membuka matanya kembali. Siapakah? Tidak mungkin Arsya, bukan? Rara lalu melihat dari lubang kecil pintu yang memperlihatkan orang di luar pintu. Tampak seorang perempuan yang seumuran dengannya. Rara pun tanpa ragu membuka pintu. "Selamat malam. Maaf mengganggu," ujar gadis itu dengan wajah tidak enakan. Rara terkekeh pelan. "Gak pa-pa kok. Kebetulan aku belum tidur. Ada apa, ya?" "Eum, boleh bicaranya di dalam aja, nggak?" "Eh, iya. Silakan masuk!" Gadis itu masuk dan duduk di kasur. Rara pun menutup pintu. "Btw, nama kamu siapa?" tanya Rara. "Namaku Sika. Asal Bandung, tapi aku lahir di Jakarta." "Oh, oke. Aku Rara, asal Jakarta." "Salam kenal, ya. Maaf ganggu." "Nggak ganggu, kok, santai aja." Sika menghela napas dalam sebelum mengutarakan maksud tujuannya ke kamar Rara. "Sebelum itu gue mau kasih tau, kalau kamar kita bersebelahan. Makanya gue milih ke sini aja." "Hm, oke. Terus?" tanya Rara. "Sebenernya, teman gue belum balik ke kamar sejak tadi. HP-nya mati. Gue cariin di seluruh penjuru hotel gak ada. Dia pasti tersesat!" "Jadi, itu alasannya?" "Iya." "Kenapa kamu nggak lapor ke guru pembimbingmu aja?" "Duh, gimana ya ngomongnya?" Sika menunduk pelan. Alis Rara mengkerut. Sebenarnya apa permasalahan gadis itu? Tampaknya ada sesuatu yang disembunyikan. Sika menghela napas pelan. "Guru pembimbing kami kabur. Dia sama sekali gak dampingi kami. Dia juga ancam gue, jangan sampai beritahu panitia acara kalau dia gak dateng. Terus dia bawa semua uang kontribusi. Jadi, kami mau pulang ke Bandung pun gatau gimana besok." Rara benar-benar terkejut mendengar peruturan Sika. Kejam sekali guru mereka. "Lalu, teman kamu itu?" "Dia sebenernya lagi nyari guru kami. Tapi malah gak balik ke sini. Gue takut ditinggal sendiri. Makanya karena tadi cemas mikirin itu, gue ke kamar lo aja." "Hufh, kalau gitu, kamu harus lapor ke panitia aja, sih, Sika. Paling gaknya teman kamu balik ke sini. Takut terjadi apa-apa, kan." "Iya, sih, tapi gue juga takut. Gimana, ya?" "Ya udah, kita cari teman kamu dulu aja, yuk!" ajak Rara. "Eh, gue gak mau ngerepotin lo, sih." "Nggak pa-pa." Rara lalu mengambil jaketnya di dalam koper. Lalu mengucir rambutnya. "Ayo!" "Eh, beneran, nih?" "Iya! Yuklah!" ajak Rara, menarik tangan Sika. Namun sebelum itu, Rara mengirim pesan kepada Arsya. *** Arsya membuka matanya. Ia kembali bermimpi yang sama. Pengantin misterius itu masih terus menghantuinya. Cowok itu mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Arsya lalu mencari HP-nya, yang ternyata terhimpit olehnya. Untung saja HP Arsya tidak pecah. Arsya mengernyit, melihat notifikasi yang masuk ke HP-nya. Ada yang lebih mengejutkan lagi, yang membuat Arsya segera duduk tegap setelah membaca pesan dari Rara. "Lo mau ke mana malam-malam gini, Ra!" Arsya bergegas mengambil dompet, HP, lalu keluar dari kamarnya. Tak lupa mengunci pintu. Ia harus mencari Rara secepatnya. Pesan itu dikirimnya satu jam yang lalu. Arsya berharap Rara sudah balik ke kamarnya. Ia pun mengecek ke kamar Rara terlebih dahulu. Cowok itu mengetuk beberapa kali kamar Rara, tetapi tak kunjung ada jawaban. Hal itu membuktikan jika gadis itu belum kembali ke hotel. "Duh, Ra. Lo ke mana, sih?" tanya Arsya khawatir. Mau tak mau, ia harus mencari keluar hotel. Arsya mencoba menghubungi Rara, tetapi nomor gadis itu tidak aktif. Benar-benar membuat Arsya khawatir. Jika begini, ia harus mencari ke mana? Arsya juga tak membawa motor. Ia pun memilih berjalan kaki saja mencari di jalanan luar hotel. Siapa tau, Rara masih di sekitar sini. Dua puluh menit pun berlalu, tetapi Arsya belum juga menemukan Rara. Ia sangat panik. Apa gadis itu baik-baik saja? Arsya takut terjadi apa-apa dengan Rara. Tiba-tiba HP-nya berdering menandakan telepon masuk. Mata Arsya memelotot melihat nama Rara memanggil. Buru-buru Arsya mengangkat panggilan. "Halo, Ra? Lo di mana?" "Arsya ... aku--" "Halo, Ra? Hei! Jawab, dong! Ra? Lo gak pa-pa, kan?" "Halo?" "Ra, lo di mana?" "Ini gue Sika, temannya Rara. Lo segera ke sini aja. Gue sharelock aja, ya." "Ok--" Telepon pun terputus. Pesan masuk dari Rara, Arsya segera membuka pesan itu, melihat lokasi di mana Rara sekarang. Syukurlah tidak jauh dari sini. Arsya pun berlari menuju tempat itu. Namun, tiba-tiba seseorang menghalanginya. *** "Apa yang mau kalian lakukan ke Arsya, ha?" tanya Rara dengan tatapan dinginnya. "Hahaha. Lo tenang aja. Cowok lo gak akan gue apa-apain." Rara mengeram kesal. Ia sudah tertipu. Sika bukanlah peserta perwakilan antar sekolah, melainkan penyusup yang datang untuk merampoknya. Ia mengatakan temannya hilang dan alasan gurunya kabur. Padahal teman-temannya itu menunggunya di tempat ini. Sialnya, Rara malah percaya begitu mudah. Mereka sengaja mengumpulkan para siswa di hotel si sini, agar jadi alat sanderanya. Saat ini, sudah lima siswa terkumpul. Tiga orang lainnya dalam keadaan pingsan. Lalu, bagaimana caranya Sika masuk ke hotel? Tadi ia berhasil menangkap salah satu peserta yang sedang berada di luar hotel, lalu mengambil kartu peserta dan kunci hotelnya. Hal itu membuat Sika dan teman-temannya lebih mudah beraksi. Mereka ingin meminta tebusan pada panitia acara. Benar-benar licik, bukan? "Rara!" teriak Arsya terdengar. Rara yang ingin menyahut, tetapi mulutnya langsung dibekap oleh Sika. "Eits, diam dulu, dong!" Sial, tangan Rara terikat ke belakang kursi, jadi ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Arsya tiba-tiba menerobos masuk, membuat semuanya terkejut. "Rara!" teriak Arsya terkejut. Rara menggigit tangan yang membekapnya. "Arsya, awas!" BUKK! Seseorang memukul Arsya dari belakang membuat cowok itu ambruk. Namun, Arsya masih sempat tersenyum sinis sebelum matanya tertutup. Sepertinya ada yang direncanakan oleh Arsya. Apakah itu? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN