Sebelum Arsya ke lokasi. Ia sempat bertemu seseorang yang menghalangi jalannya. Orang itu adalah salah satu peserta.
"Nama gue Nato. Teman gue juga hilang dan gue juga diminta ke sana," ujarnya.
"Ya udah tunggu apalagi? Kita harus samperin mereka, kan?"
"Tunggu dulu. Lo nggak merasa aneh? Ada banyak peserta lain yang juga hilang. Tadi ada juga yang mau pergi jemput temannya belum balik sampai sekarang. Gue yakin ada sesuatu," ucap Nato yang merasa keanehan tersebut.
Arsya terdiam sebentar. Dipikir-pikir benar juga, tadi Rara sedang berbicara, tetapi langsung diambil alih oleh seseorang.
"Terus, apa rencana lo?" tanya Arsya.
"Syukurlah lo langsung ngerti."
"Ya, cepat aja bilang apaan. Cewek gue udah lama nunggu, tuh," ujar Arsya tak sabaran.
"Gue akan hubungin satpam hotel dan panitia acara. Sementara itu, lo ke sana aja pergokin mereka. Sisanya biar gue yang selesein."
"Okelah."
"Siap!"
Maka dari itu, Arsyalah menjadi umpan. Dibuat tak sadarkan diri akibat pukulan mendadak dari belakang.
"Arsya!" teriak Rara.
Tiba-tiba segerombolan orang pun masuk. Para satpam dan juga peserta lainnya.
"Angkat tangan!" bentak satpam itu.
Sika dan para kompotannya mendengkus kesal. Rencana yang sudah mereka rencanakan matang-matang hancur begitu saja.
Sempat menberontak untuk melarikan diri, tetapi mereka kalah jumlah. Hal itu memudahkan para satpam menangkap semuanya untuk dibawa ke kantor polisi.
Rara segera menghampiri Arsya yang masih tak sadarkan diri.
"Sya, bangun!"
"Ayo, kita bawa dia ke hotel sekarang!" suruh Nato.
Tanpa sadar air mata Rara jatuh. Ia bersyukur bisa selamat, tetapi khawatir dengan Arsya. Ah, semoga cowok itu baik-baik saja.
***
Arsya mengerjap-ngerjapkan matanya. Hal pertama dilihatnya adalah langit-langit kamar. Ah, kenapa ia bisa berada di sini?
"Arsya!" panggil seseorang.
"Arsya, syukur kamu udah bangun!" ucap Rara refleks memeluk badan Arsya yang membuat cowok itu tercengang. Apakah ia sedang bermimpi?
"Aku khawatir banget, soalnya kamu gak bangun semalaman!" lirih Rara.
Arsya tersenyum singkat. Ia pun baru menyadari jika sudah berada di kamar hotel sekarang.
"Gue gak pa-pa, kok, Ra."
Rara melepaskan pelukannya. "Makasih, ya," ucapnya.
"Makasih buat apa?"
"Udah jemput aku, walau kamu masuk perangkap."
"Mau sebesar apa pun perangkapnya, gue bakal tetep nyelamatin lo, kok."
Rara tersipu malu. "Ah, kamu, mah. Udah, sana siap-siap! Bentar lagi acara udah mau mulai, loh."
"Eh, emang udah pagi?"
"Udah siang, Arsya!"
"Eh, oke-oke. Gue siap-siap, kok."
"Oke. Aku juga mau siap-siap."
Rara lalu berlalu keluar kamar Arsya. Setelah pintu tertutup. Arsya buru-buru turun dari kasur, lalu melompat-lompat kegirangan.
"YAHHU! Rara perhatian banget sama gue. HAHAHHA. Jangan iri, jangan iri!"
Namun, ia tiba-tiba terhuyung karena masih pusing.
"Argh!" Arsya memegang kepalanya.
"Ah, udah. Gue mau mandi dulu, biar cakep. Eh, gak mandi juga udah cakep, sih," ujarnya narsis sembari menatap cermin.
Arsya mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi.
Lima belas menit berlalu. Ia pun segera memakai kostum yang sudah dipersiapkan oleh sekolah mereka. Ia memakai baju batik seragam sekolah mereka, tetapi dilampisi jas.
Semua peserta di sini memang siswa SMA Harapan Bangsa, tetapi seragam batik tiap sekolah mereka didesain berbeda.
Arsya menyisir rambutnya. "Eh, tapi lebih mantep kalau acak-acakan gak, sih?" Ia mengacak-acak rambutnya yang membuat Arsya keliahatan lebih tampan.
"Eh, tapi kalau gak rapi bisa diceramahin entar gue sama panitia."
Arsya lalu menyisir rambutnya serapi mungkin. Kelihatan seperti pengusaha muda. Ia pun tertawa pelan, melihat diri sendiri di cermin. Oh, ayolah Arsya itu sangat tampan! Pesonanya luar biasa.
Tiba-tiba HP-nya berdering. Ada VC-an masuk dari Adimas. Ah, berpisah sehari dengan sahabatnya itu ternyata ada efek rindunya juga.
"Halo, sohib ganteng gue!" sapa Arsya.
"Dih, alay lo!"
"Kenapa? Kangen, ya, sama gue? Sampai mau VC," goda Arsya menaikan sebelah alisnya.
"Kagak! Ini Tante Reni mau ngomong sama lo, karena semalam dichat, gak lo bales!"
Ah, iya. Tak mungkin juga jika Arsya bilang ia pingsan semalam. Bisa-bisa semuanya cemas.
"Oh, itu, HP di-silent, Ma. Terus, Arsya udah ketiduran kemarin."
Muka Reni langsung muncul di layar. "Wah, kamu udah rapi aja. Udah mau tampil?"
"Ya, bentar lagi, Ma."
"Eh, Sya. Kalau menang, traktir gue, ya!" ucap Adimas cengengesan.
"Ini bukan lomba, Woi! Cuma perkenalan sekolah kita aje."
"Yah, gak asyik, tapi walau gitu lo pasti dapat komisi, kan?"
"Ahelah, itu bahas entaran aja. Tunggu gue balik aja."
"Oke, deh. Semangat!" ucap Adimas.
"Eh, seriusan itu lo yang ngomong? Kuping gue kagak ngelantur, kan?"
"Dih, disemangatin malah gitu. Lihat, tuh, anaknya Tante." Adimas tampak mengadu ke Reni.
"Arsya ... kamu, yah."
"Ya udah, gue tutup, ya. Udah mau ke aula-nya, nih."
"Iya. Bye!"
Telepon pun dimatikan. Arsya menyimpan HP-nya. Ia bersiap keluar.
Saat membuka pintu kamar. Sudah ada seorang gadis menunggunya. Arsya menatap dari ujung kaki, dibaluti high heels itu, sampai ke atas.
Gadis bergaun ungu dengan motif batik itu melekat indah pada lekuk tubuhnya. Arsya menelan saliva susah. Apalagi saat melihat muka cantik gadis itu yang sudah dipoles make up. Rambut tersanggul dengan poni menyamping yang menutupi dahinya.
"Rara," ucap Arsya masih berdecak kagum. Apakah yang berdiri di depannya ini benar-benar Rara? Kenapa seperti bidadari yang turun dari kayangan? Bahkan lebih indah dari itu.
Rara tak berani menatap Arsya. Pipinya memerah. Ia lalu tersenyum kecil. "Ayo, Sya!" ajaknya lembut.
"Lo cantik banget," ujar Arsya membuat pipi Rara semakin merah padam. Blush on saja kalah merahnya.
"Kamu juga."
"Hah? Gue kagak cantik, Ra," ucap Arsya, karena ucapan Rara ambigu.
Lantas Rara terkekeh pelan. "Maksudnya kamu ... ya itu."
"Itu, apa?" pancing Arsya.
"Pikir aja sendiri."
"Yah, kok gitu? Gue apa coba?"
Rara mengigit bibir bawahnya. Daritadi ia tak bisa menatap muka Arsya, karena aura ketampanan cowok itu saja sudah tampak. Mungkin Rara akan jauh deg-degan lagi jika berani menatap mata Arsya.
Tidak berbohong. Arsya memang sangat tampan.
"Udah, ah. Yuk! Bentar lagi giliran kita."
"Yah, gimana, sih, masa mau muji gue doang susah?" ucap Arsya mengelos pasrah. Rara tersenyum kecil, buru-buru melangkah duluan.
Arsya segera mengunci pintu. Lalu mengejar Rara. Ia berhasil meraih tangan Rara.
"Seorang putri itu harus didampingi pangeran," ucap Arsya menggandeng tangan Rara.
"Terima kasih, Pangeran," ucap Rara pelan.
"Eh, apa tadi? Nggak denger!"
"Gamau ulang!" ujar Rara memalingkan mukanya, membuat Arsya terkekeh. Rara benar-benar tampak menggemaskan.
"Lo cantik, Ra," ucap Arsya lagi.
'Kamu juga tampan banget, Sya!' Sayangnya itu hanya bisa diucapkan dalam hati oleh Rara.