"Peserta selanjutnya ... SMA Harapan Bangsa Jakarta!"
Riuh tepuk tangan menggelegar memenuhi aula. Arsya langsung menggandeng Rara menaiki panggung. Mereka lalu sedikit membungkukkan badan, memberi hormat pada puluhan kepala sekolah yang datang.
"Berikut prestasi yang diperolah SMA Harapan Bangsa Jakarta. Yaitu ... juara satu olimpiade sains senasional. Juara satu FLS2N seni sastra. Juara dua voli putra ...." Pembawa acara melanjutkan menyebutkan prestasi tersebut.
Rara tersenyum singkat, beberapa prestasi yang disebutkan, ia ikut terlibat. Sedangkan Arsya hanya bisa cengengesan dalam hati. Prestasi apa yang ia peroleh? Prestasi memiliki banyak pacar? Bukanlah suatu hal yang patut dibanggakan.
Lagi pula ia dipilih sebagai perwakilan, karena populer di sekolah saja, berbeda dengan Rara yang memang memiliki prestasi dan tingginya nilai akademik.
"Berikutnya, dipersilakan kepada siswa perwakilannya menyampaikan sepatah dua patah kata." Pembawa acara langsung memberikan mic kepada Arsya. Cowok itu memberikan mic kepada Rara, tetapi Rara memposisikan mic itu di tengah, agar suara mereka berdua terdengar.
"Selamat siang. Saya Raquel."
Arsya terkejut mendengar nama itu. Namun, mic sudah mengarah kepadanya menyuruh Arsya berbicara.
"Saya Arsya."
"Kami mengucapkan terima kasih, karena diberi kesempatan untuk menghadiri Acara Pertemuan SMA Harapan Bangsa. Suatu kehormatan bagi kami. Semoga SMA Harapan Bangsa semakin sukses, maju, melahirkan banyak siswa berbakat. Terima kasih."
Tepuk tangan kembali menggelegar. Mereka pun dipersilakan menuruni panggung. Akhirnya, selesai sudah.
Arsya menggandeng Rara kembali. Mereka menuju belakang panggung.
"Hufh, akhirnya kelar," ucap Rara.
"Iya."
Arsya mengajak Rara duduk di bangku yang sudah disediakan.
"Ra."
"Hm?"
"Gue mau nanya."
"Nanya apa?" Rara menoleh menatap Arsya.
"Nama lo ... bukannya Rara?"
Rara terkekeh pelan. "Selama ini emang, sih, orang-orang mengenalku dengan nama Rara aja, tapi ... namaku sebenarnya Raquel."
Jantung Arsya berdetak kencang. "Raquel?"
"Iya. Emang kenapa?"
Arsya kembali teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat ia pertama kali bertemu dengan gadis cantik yang bernama ... Raquel.
"Sya?" tanya Raquel heran.
Tidak mungkin kebetulan seperti ini, pikir Arsya.
"Helo, Sya?"
"Eh, iya? Sor--sorry."
"Emang kenapa? Namaku gak cocok, ya? Makanya aku lebih senang dipanggil Rara aja, sih."
Walaupun kebetulan itu bisa saja terjadi, tetapi Arsya tak bisa mengklaim hal itu benar atau tidaknya. Lebih baik ia diam saja dulu.
"Hai, Nato!" sapa Rara melambaikan tangannya. Arsya menoleh menatap orang yang disapa Rara.
Eh, Rara kenal dengan Nato?
"Eh, hai, Ra! Ada Arsya juga. Gimana keadaan lo?"
"Gue baik."
"Sya, aku belum bilang, ya? Nato ini teman SD-ku dulu," ujar Rara.
"Iya," sahut Nato. "Dulu Rara sering ngajarin gue pelajaran, karena dia pinter," lanjutnya.
Entah kenapa mendengae itu, membuat hati Arsya memanas.
"Kapan-kapan gue boleh, nggak, main ke rumah lo?" tanya Nato.
"Nggak," jawab Arsya refleks.
Rara pun terkejut, kenapa malah Arsya yang merespons?
"Eh?" Nato pun dibuat heran, yang ditanya siapa, yang menjawab siapa.
"Bo--boleh, kok, To," jawab Rara kikuk, sedangkan Arsya menampilkan muka masamnya.
"Ra, keluar, yuk!" ajak Arsya menarik tangan Rara segera pergi dari situ.
Nato yang melihat Arsya jelas sekali cemburunya terkekeh pelan. "Jadi, gue gak boleh deketin Rara, gitu?"
Nata lalu tersenyum sinis. "Gue duluan yang kenal Rara, jadi gue punya hak kenal lebih dekat dengannya."
***
"Kita kapan balik?" tanya Arsya, ia mengajak Rara duduk di taman hotel.
"Kata Bu Linda, sih, nanti sore."
"Oh, oke."
Rara menyipitkan matanya. "Kamu kenapa, Sya?"
"Hah, kenapa apanya?"
"Kok aneh gitu? Dan juga, muka kamu kok ditekuk gitu, sih?" tanya Rara mendekatkan mukanya ke muka Arsya, yang membuat cowok itu degdegan, karena jarak muka Rara sangat dekat.
"Ng--nggak ada."
Rara menjauhkan mukanya kembali, lalu tersenyum kecil. "Kamu kayaknya gak suka sama Nato, ya? Kenapa?"
"Nggak, kok, perasaan lo aja kali."
"Apa kamu cemburu?" tanya Rara menunduk sambil tersenyum.
Arsya melirik ke arah Rara. Jelas sekali cemburunya, ya?
"Siapa juga yang gak cemburu kalau ceweknya digoda gitu sama cowok lain."
Rara terkekeh kecil. Arsya berbicara begitu, sudah seperti menjadi pacarnya saja. Padahal mereka belum terikat hubungan apa pun.
"Kita, kan, gak pacaran, Sya. Jadi, kamu gak boleh larang aku deket sama temanku dong," ucap Rara.
Arsya terkejut mendengar peruturan Rara. Jadi, ia masih dianggap teman biasa saja? Setelah mengatakan I love you pada Arsya? Apa-apaan itu?
"Ra, lo anggap gue apa, sih?"
"Ya, teman akulah."
"Cuma teman?" tanya Arsya. Bibirnya tersungging sebelah.
"Ya, terus? Kamu nggak ngajak aku pacaran, kan?" ujar Rara to the point.
Arsya malah kena skakmat. Memang benar. Ia sama sekali tak memberikan kepastian.
"Anu--" Arsya menggaruk tengkuknya.
Sekarang, yang salah siapa?
"Jadi ... lo mau gue tembak lagi, ya?" tanya Arsya.
Rara kembali menunduk, pipinya memerah.
"Ya udah. Lo mau nggak jad--"
"Jangan sekarang," potong Rara.
Alis Arsya mengernyit. "Kenapa?"
"Kamu gak serius mau nembaknya," ucap Rara, lalu bangkit dan hendak beranjak dari situ. "Aku balik dulu, ya."
Setelah itu, Rara pergi meninggalkan Arsya yang masih duduk melongo di taman.
"Salah gue apa, sih, Woi?"
Arsya mengacak rambutnya kesal. Serba salah saja.
***
"Ya, tadi gue udah tembak dia tapi katanya gue nggak serius," ucap Arsya menceloteh di telepon. Adimas yang mendengar curhatan Arsya yang baru saja tertolak lagi, hanya bisa tertawa.
"Salah lo! Masa dia baru ngode, lo langsung main gas aje! Kalau dia ngomong gitu, lo kudu cari waktu yang pas dong buat nembak dia. Biar momennya pas dan tak terlupakan."
"Ya, abisnya apaan lagi, De? Gue mah orangnya bisa nembak cewek kapan aja. Di toilet bisa, di empang bisa, di pasar bisa, di angkot juga bisa. Tadi kan tempatnya di taman, lumayan baguslah buat nembak."
"Ya lo ngomongnya kayak ngajak beli cilok, Woi! Lo kagak ada persiapan sama sekali. Hadeh. Cepet pulang lo! Gue pukul pala udang lo itu pake panci."
"Serem amat, Neng."
"Neng, nang, neng, nong. Udah, ah. Gue mau nyuci. Bye!"
Sambungan terputus. Arsya melempar HP-nya ke kasur. Ia ikut membaringkan badan di kasurnya. Memikirkan maksud Rara dan Adimas perihal menyatakan cinta dan momen segala macam.
"Ternyata dapatin cewek kayak Rara susah juga, ya," ujarnya. Sebentar lagi ia harus siap-siap membereskan barang untuk pulang.
"Urusan nembak pacaran dan lainnya gue pikirin besok aja, dah."
Arsya menguap pelan. Perlahan rasa kantuk mulai menyerang, sepertinya jika ia tidur setengah jam dulu lebih baik.
"Ra, gue pasti bisa jadi pacar lo," gumamnya sebelum terlelap.
Sebegitunya Arsya. Namun, Rara selalu menunda.