BAB 54

1025 Kata
Adimas membaringkan badannya di kasur. Sudah dua hari ia tak bertemu dengan Arsya, entah kenapa tanpa adanya cowok itu terasa sepi juga. Biasanya ia bisa menyelonong masuk ke kamar cowok itu kapan saja, sekarang penghuni kamar itu sedang tak di rumah. Adimas memainkan HP-nya. Ia baru selesai memasak. Hari-hari Adimas mulai terasa membosankan, apalagi maminya sibuk bekerja dan sering pulang malam. Ia terpaksa belajar sendiri. Beginilah jadinya jika guru adalah emak sendiri. Penat menghadap ke kanan. Adimas memutar badannya menghadap kiri, ke arah balkon kamar. Saat baru saja berbalik badan tiba-tiba .... "BBBAA!" "AAAAA!" Refleks Adimas mendorong kepala seseorang yang tiba-tiba muncul. "Aduh, woi! Sakit, nih." Adimas mengatur napasnya. Cowok itu yang tak lain adalah Arsya sudah mengejutkannya. Dengan tanpa dosanya membuat cewek itu kaget. "Sejak kapan lo di situ?" "Barusan." "Kapan lo balik? Ngagetin gue aja," kesal Adimas, walau begitu dalam hati ia berteriak senang. Akhirnya Arsya pulang. "Gue baru balik, langsung ke sini." Arsya ikut duduk di kasur Adimas. "Terus, gimana? Seru, nggak?" "Hmm ... serulah! Gue bisa berduaan sama Rara. Bisa deketin dia, walau ada makhluk pengganggu, sih." Adimas menyipitkan matanya. "Siapa?" "Ada cowok lain yang kayaknya naksir Rara, saingan gue bertambah, nih, tapi gak pa-pa, gue lebih ganteng," ujar Arsya dengan kepedean tingkat tinggi. "Dih, kepedean. Tapi kata lo, Rara nolak lagi, kan?" "Ya, dia kayak nunda gitu. Ehm ... gimana, ya, caranya biar dia mau sama gue?" Adimas menghela napas lelah. "Lo tanya sama gue, ya mana gue tau! Lagian gue kagak paham." "Ya menurut pendapat lo aja, De. Siapa tau lo lebih pintar daripada gue." "Lah, emang iya, baru nyadar?" Arsya memutar bola matanya. "Kagak usah narsis. Jadi, gimana, nih? Reputasi gue sebagai cowok tak tertolak udah dihancurin Rara, nih, karena dia satu-satunya cewek yang pernah nolak gue." "Ya mana gue tau. Emang menurut lo perasaan suka itu bisa dipaksain? Mungkin Rara emang kagak suka sama lo kali." Arsya menghela napas. Memang apa kurangnya di mata Rara? Ia akui, masih memiliki kekurangan, karena Arsya selama ini hanya membanggakan paras tampannya saja. Akhlak juga tidak bisa dibanggakan. Prestasi akademik? Biasa saja. Apa karena itu? Lalu, bukankah cinta itu harus menerima apa adanya? Cinta tak menuntut kesempurnaan, bukan? "Kayaknya bukan itu, deh, alasan Rara nolak gue." "Hah, kenapa? Lo ngomong apaan?" tanya Adimas. "Gak. Gue lagi mikir aja." "Wah, emangnya lo punya otak?" Arsya mengernyit pelan. Sepertinya ada yang berubah dengan Adimas. Ia lalu mendekati wajah gadis itu, yang membuat Adimas kikuk. "Ken--kenapa?" "Lo kok kayak cewek, ya?" Tangan Adimas langsung menampol pipi Arsya pelan. "Ya emang gue cewek, kan!" "Bukan gitu, tingkah lo kayak cewek normal, kan biasanya lo lebih lakik." Pipi Adimas tiba-tiba memerah. Ia langsung memalingkan wajahnya. "Apaan, sih, lo. Udah sana-sana pulang!" usir Adimas, ia malah kelihatan lebih salah tingkah. Arsya tertawa pelan. Ia lalu mengacak rambut Adimas, yang memberantakan rambut cewek itu. "Ish, apa-apaan lo!" "Gue kangen sama lo." Tak bisa dibayangkan betapa memerahnya muka Adimas sekarang. "ARSYAA PULANG!" teriak Adimas dengan suara lakiknya yang membuat Arsya ketar-ketir. "Serem," ujar Arsya langsung berlarian ke kamarnya. *** "Aku pulang," ucap Rara saat masuk rumah. Ia sebenarnya tahu jika orang tuanya tidak di rumah. Rara hanya beranggapan masih ada orang yang menunggunya pulang. "Wah, Non Rara udah pulang." "Bibik!" Rara langsung berhamburan memeluk bibiknya itu. "Wah, gimana, Non, acaranya lancar?" "Lancar, Bik?" "Ah, syukurlah. Ya sudah, Non langsung ganti baju aja, Bibik udah siapin makanan kesukaan Non." "Wah, makasih, Bik!" "Sama-sama atuh, Non." Rara tersenyum. Ia lalu melangkah masuk ke kamarnya. Tumben sekali ia tak melihat Razel. Ke mana saudara tirinya itu? Saat membuka pintu kamar, Rara terkejut mendapati Razel yang sedang berbaring di kasurnya. "Ra ... zel," panggil Rara. Ia cukup terkejut mendapati cowok itu berada di sini. Cowok yang sedang memejamkan matanya itu, langsung membuka matanya mendengar suara yang sangat familier. "Rara?" ujar Razel terkejut langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Rara tersenyum singkat. "Aku pulang," ujarnya. "So--sorry, gu ... gue." "Gak pa-pa, kok, toh pintu juga gak aku kunci," ucap Rara. Ia tak mengunci pintu kamarnya. Lagi pula untuk apa? Tidak ada siapa-siapa di rumah, selain Razel. "Sorry kalau gue masuk ke privasi lo." "Gak pa-pa, Razel. Kamu sering main ke kamarku juga gak masalah, kok," ucap Rara dengan senyum manisnya. Senyum yang Razel rindukan selama dua hari ini tak melihatnya. Bukan itu masalahnya, tetapi Razel merasa tak enak saja, karena ia baru menyatakan perasaan pada Rara. "Hm ... gimana sama acaranya?" tanya Razel. Mendadak suasana berubah canggung. "Berjalan lancar, walau ada insiden dikit." "Insiden apa?" "Ada yang berulah, nipu aku dan peserta lain, karena mau minta tebusan sama panitia acara." "Lo gak diapa-apain, kan?" tanya Razel langsung menghampiri Rara, memegang kedua pundak gadis itu, membuat Rara tertegun sebentar. "Ngg--gak pa-pa, kok. Aku baik-baik aja. Nih, buktinya aku pulang dengan selamat." Razel mengembuskan napas lega. "Syukurlah." Walau sudah jelas Rara tidak apa-apa, tetapi wajah khawatir Razel masih kentara. "Ya udah, istirahat, gih. Gue balik ke kamar," ucap Razel mengusap kepala Rara pelan. Lagi dan lagi Rara tertegun. "Razel udah makan? Bibik udah nyiapin. Kita makan bareng, yuk!" ajak Rara. "Gue udah kenyang, tadi udah makan. Lo aja." "Oke." Razel pun keluar dari kamar Rara. Gadis itu menutup pintu kamarnya, karena ia ingin mengganti baju. "Razel kenapa, ya?" tanyanya heran. Tatapan Razel tadi tampak berbeda, tak seperti biasanya. Seperti ada bercak kesedihan. "Nanti aku hibur aja, deh." Rara pun berlalu ke kamar mandi. Di lain sisi, Razel masuk ke kamarnya, lalu berbaring. Ia tadi ke kamar Rara karena rindu dengan gadis itu. Namun, ternyata ia menemukan sesuatu. Razel tersenyum pedih. Ia melihat ada foto yang terbingkai indah terletak di nakas Rara. "Lo udah naksir sama seseorang dari kecil ternyata, Ra. Pantesan lo nolak gue. Padahal gue juga naksir lo dari kecil," ucap Razel tersenyum sedih. Sudah tidak ada harapan. Hati Rara memang tidak diperuntukkan untuknya. Sudah ada cowok lain yang mengisi hati Rara. Bagaimanapun juga ia tak mungkin bisa bersatu dengan Rara, bukan? Mereka sudah mengubah hubungan menjadi keluarga yaitu adik-kakak. Walaupun saudara tiri, tetap saja mereka sudah menjadi satu keluarga. Razel menghela napas gusar. "Saatnya gue mengubur perasaan ini, gue emang gak ditakdirkan buat Rara." Razel mengambil foto Rara yang ada di laci nakasnya. "Goodbye, Rara."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN