Hari ini Adimas dan Arsya pergi ke suatu tempat, untuk mengantarkan sesuatu yang diamanatkan Farah. Arsya hanya menemani sahabatnya itu, karena kebetulan ia juga sedang ingin jalan-jalan, daripada bosan di rumah.
Mereka menaiki motor Arsya. Sekarang sudah hampir sampai di tujuan.
"Di sini tempatnya?" tanya Arsya.
"Iya."
Mereka sudah masuk ke kawasan kampung dan berdiri di depan rumah bercat abu-abu.
Sebenarnya Adimas diminta mengantarkan kain songket ke rumah Bu Nuri, karena dulu Farah pernah meminjam kain songket tersebut. Alhasil, baru ia kembalikan sekarang. Namun, rumah Bu Nuri lumayan jauh, membutuhkan satu jam setengah perjalanan.
"Assalamualaikum, Bu!" salam Adimas.
"Paket!" teriak Arsya, yang malah berteriak bak kurir. Adimas langsung menginjak kaki cowok itu, membuat Arsya meringis pelan.
"Woi, sakit, nih!"
"Lagian, kenapa lo bilang paket!" kesal Adimas. Lebih baik Arsya diam saja.
"Hehe, biar orang rumahnya cepet keluar."
Adimas memutar bola mata malas. Ia kembali mengetuk pintu, tetapi tak juga ada sahutan. Apa Bu Nuri tidak berada di rumah?
"Permisi, Bu!" teriak Adimas lagi.
"Iya, sebentar!" Akhirnya, ada sahutan dari dalam. Adimas bernapas lega.
Jika Bu Nuri tidak di rumah, maka perjalanan jauh mereka akan sia-sia. Pintu rumah pun terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya.
"Ya, ada apa, Nak?"
"Maaf, Bu. Saya Adimas, anaknya Farah. Ingin mengantarkan songket Ibu."
"Wah, anaknya Farah tampan sekali, ya."
Adimas hanya bisa tersenyum mendengarnya. Bagaimana lagi, kan? Sedangkan Arsya menahan untuk tak tertawa, harusnya ia sudah kebal, karena tak satu dua orang saja yang menganggap Adimas laki-laki.
"Ini, Bu," ucap Adimas memberikan kantong berisikan songket itu.
"Terima kasih, Nak. Silakan masuk dulu!" suruh Bu Nuri, membuka pintunya lebar. Adimas menatap Arsya, lalu mengangguk kecil. Mereka pun sama-sama masuk dan duduk di ruang tamu.
Rumah Bu Nuri tidak kecil dan juga tak terlalu besar. Jika dilihat, sepertinya hanya ada dua kamar.
"Sebentar, Ibu ambilin air, ya," ujar Bu Nuri.
"Eh, gak usah repot-repot, Bu."
"Tidak pa-pa, lagi pula, kalian baru pertama kali kemari." Bu Nuri lalu beranjak ke dapurnya.
Arsya mendekatkan bibirnya ke telinga Adimas. "Ibu itu siapa nyokap lo, sih?" tanya Arsya kepo.
"Nggak tau juga, Mami bilang anterin songket ini ke rumah Bu Nuri, di alamat ini."
"Emang itu songket apaan?"
"Kata Mami songket ini dipinjamin sama Bu Nuri, makanya dibalikin."
Mereka malah asyik berbisik-ria. Bu Nuri muncul membawa dua gelas berisikan teh manis.
"Yuk, Nak, diminum dulu."
"Terima kasih, Bu."
Bu Nuri tersenyum. "Kamu tampan, Nak," ujarnya lagi. "Walau aslinya perempuan," lanjut Bu Nuri, yang membuat Adimas tersedak.
Arsya langsung memukul tengkuh gadis itu pelan. Ken--kenapa Bu Nuri tahu? Apakah ia salah dengar?
"Bu ...."
Bu Nuri terkekeh pelan. "Jadi Farah tidak cerita apa-apa, ya?"
"Nggak, Bu."
Adimas masih dibuat terkejut. Arsya pun sama. Ia jadi penasaran siapa ibu ini sebenarnya.
"Sebenarnya Ibu adalah bidan yang membantu proses persalinan kamu dulu," ujar Bu Nuri, yang membuat Adimas dan Arsya melongo tak percaya.
"Ja--jadi ... Ibu bidan yang bantu persalinan Mami?"
"Iya, Nak."
"Wah, Mami saya nggak bilang apa-apa."
Bu Nuri mengambil songket yang diberikan Adimas tadi. "Songket ini adalah ucapan terima kasih Farah pada Ibu, karena dulu dia tidak bisa bayar biaya rumah sakit. Jadi Ibu bantuin suka rela. Nah, Farah berjanji akan memberikan songket tiap tahunnya. Ini sudah tujuh belas songket Ibu terima."
Adimas hanya bisa terdiam mendengar cerita Bu Nuri. Lalu, apa alasan Mami tak sanggup bayar biaya rumah sakit?
"Em, maaf, Bu, kalau boleh tau. Kenapa, ya, Mami gak sanggup bayar biaya rumah sakit? Emang gak dibayarin Papi?" tanya Adimas.
Arsya hanya bisa diam mendengarkan. Ternyata menemani Adimas juga ada manfaatnya.
"Papi kamu nggak ada saat Mami kamu melahirkan. Dia sedang berada di luar negeri."
Adimas menekuk mukanya. Ternyata papinya itu sudah sibuk sejak ia lahir.
"Ah, iya, Ibu juga bidan yang sama saat Mami kamu melahirkan anak pertama."
"Anak pertama? Maksudnya Kakak saya? Loh, emangnya saya punya Kakak?" tanya Adimas makin bingung. Apa-apaan ini? Ia sama sekali tak tahu.
"Kamu juga tidak dikasih tau Farah perihal kakak laki-lakimu? Namanya padahal sama denganmu."
"Maksud, Ibu?"
"Lebih lengkapnya kamu tanyakan pada Farah saja."
"Terus, Kakak saya di mana sekarang, Bu?"
Raut wajah Bu Nuri berubah sedih. "Sayangnya, Kakakmu sudah meninggal."
Pantas saja ia tak tahu, ternyata sang kakak memang tidak pernah bertemu dengannya. "Yah ...." Nada kecewa terdengar dari helaan napas Adimas. Arsya mengusap bahu gadis itu pelan, agar bisa tegar.
"Lalu, Bu? Maksudnya namanya sama dengan saya?"
"Iya, Kakakmu namanya juga Adimas, tetapi karena sudah meninggal. Nama itu diberikan padamu saja."
"Oh, begitu. Terima kasih, Bu. Tanpa Ibu kasih tau, saya mungkin tidak akan tahu, karena Mami nggak pernah mau cerita tentang masa lalu."
"Iya, Nak. Sebenarnya Ibu juga merasa bersalah sama Farah, karena sudah terlanjur cerita sama kamu. Ibu pikir Farah sendiri sudah ceritakan semuanya."
Apa yang akan ia katakan jika nanti Farah marah padanya, karena sudah menceritakan pada anaknya yang senga tak ia kasih tahu? Mungkin itu nanti saja Nuri pikirkan.
"Kamu, Nak? Namanya siapa?" tanya Bu Nuri.
"Arsya, Bu. Anak ganteng kebanggaan Mama Reni," ucap Arsya malah bersikap kepedean. Tak tahu tempat.
Adimas menyiku perut cowok itu yang membuat Arsya meringis.
"Oalah anaknya Reni. Ibu tahu. Farah pernah cerita."
"Wah, itu buktinya saya famous, Bu. Ya, biasalah, cowok ganteng."
"Arsya ...."
"Ampun-ampun, lagian Ibunya asyik, kok, gak pa-palah."
Bu Nuri terkekeh pelan. Mereka malah kelihatan seperti sepasang kekasih. "Kalian cocok, ya. Apa kalian sudah pacaran?"
"HAH, PACARAN? NO!" teriak mereka kompak, yang membuat Bu Nuri tertawa.
"Kalian anak-anak yang lucu, seringlah main ke sini. Ibu tidak punya anak dan suami Ibu sudah meninggal." Bu Nuri malah curhat yang membuat tatapan Adimas dan Arsya berubah iba.
"Pergi ke kota aja, Bu, ada banyak duda berdompet tebal," ujar Arsya. Sekarang, Adimas tak segan memukulnya keras.
"Bisa diem aja gak lo!"
"Ish, sakit, nih!"
"Bodo amat! Maaf ya, Bu. Asisten saya emang rada-rada."
"Asisten apaan!"
"Sst, diam aja lo!" suruh Adimas.
Bu Nuri hanya bisa tersenyum. Ia jadi ingat dengan anak adiknya yang juga seumuran dengan mereka.
"Assalammualaikum, Bi. Aku pulang!" Panjang umur! Baru saja Bu Nuri memikirkan anak adiknya yang dimaksud.
Arsya dan Adimas langsung menoleh ke depan pintu, melihat seorang cowok masuk. Ia langsung menghampiri Bu Nuri dan mencium tangan wanita paruh baya itu.
Saat cowok itu berbalik. Mata Arsya memelotot tak percaya.
"LO ... NATO?" teriak Arsya terkejut. Sedangkan cowok yang dipanggil Nato itu pun tak kalah terkejutnya.
"Arsya?"
"Loh, kalian sudah saling kenal?" tanya Bu Nuri senang.
"Nggak kenal!" jawab mereka serentak. Adimas hanya bisa mengerutkan kening. Ada apa dengan mereka berdua?