BAB 56

1029 Kata
Arsya tak habis pikir, jika ia dipertemukan lagi dengan cowok bernama Nato itu. Ia pikir kemarin pertemuan pertama dan terakhir. Sebenarnya tak ada masalah, bahkan Nato juga sudah menolongnya malam itu. Akan tetapi, mengetahui jika Nato adalah teman Rara dulu, membuat Arsya tak bisa tinggal diam. Ia takut Rara direbut. "Halo, gue Nato," ujarnya ke arah Adimas. "Gue Dimas." Tak usah khawatir, Nato pasti menganggap Adimas seorang lelaki. "Mereka ngapain ke sini, Bi?" tanya Nato. "Mereka tamu, Bibi. Lebih tepatnya anak teman Bibi. Kamu kok bisa kenal sama Arsya?" "Ketemu pas acara kemarin, Bi," jawab Nato singkat. "Oalah." "Nato ini anak adiknya Ibu. Dia sedang liburan sekolah makanya tinggal di sini sementara nemenin Bibi. Dulu waktu kecil dia sekolah di sini, tapi pas masuk SMA dia pindah ke Bogor." Bu Nuri pun menjelaskan. Adimas mengangguk paham, sedangkan Arsya menampakkan muka tak senangnya. "Oh ya, Nato juga seumuran sama kalian." "Ooo." Arsya lalu berbisik ke arah Adimas. "Udah, ah. Pulang, yuk!" ajaknya. Adimas tentu tidak enak, padahal Nato baru saja datang. "Oh, ya, Bi. Maaf ya telat pulang soalnya tadi Nato ketemu sama TEMEN LAMA dulu," ujar Nato dengan sengaja menekan kata teman lama yang membuat Arsya langsung melirik. Apakah artinya, jika Nato baru saja bertemu dengan Rara? "Wah iya, Nak, tidak apa-apa." Arsya menyenggol bahu Adimas lagi yang membuat gadis itu mendengkus. "Bu, saya pamit pulang dulu, ya," ujar Adimas. Arsya langsung bernapas lega, sudah muak ia berada di sini, apalagi tatapan Nato seolah-olah mengajak duel. "Ya sudah. Terima kasih ya, Nak." "Sama-sama, Bu." Adimas dan Arsya pamit undur diri, lalu keluar rumah. Arsya segera menuju motornya, diikuti oleh Adimas. Ternyata Nato pun mengikuti mereka ke halaman. "Gue tadi ketemu Rara," ujar Nato membuat langkah Arsya berhenti, ia menoleh. "Terus, urusannya sama gue?" "Gue cuma mau bilang, sih, gue udah lama suka sama Rara. Jadi, gue akan memanfaatkan kesempatan ini buat deketin dia." Arsya terkekeh pelan. "Cowok seganteng dan seperfect gue aja ditolak, apalagi cowok modelan kayak lo. Jangan berharap, deh. Ngaca dulu sana," ujar Arsya sarkas. Adimas memukul dahinya pelan. Kenapa mereka malah ribut di sini? "Gue pasti bisa dapetin Rara, karena gue kenal lebih dulu sama Rara." Arsya kembali terkekeh. "Udahlah gak ganteng, sok-sokan pula," ujar Arsya tanpa beban. Ia memasang helm. "Yuk, De. Kita pulang! Ada orang lupa ngaca di sini." "Eh, jangan sembarangan lo ya." "Nato ...." Bu Nuri keluar, karena mendengar keributan. "Bibi ...." "Ma-maaf ya, Bu. Eng--kami pamit dulu," ucap Adimas. Ia langsung naik ke atas motor Arsya. Motor itu pun melaju kencang meninggalkan halaman rumah Bu Nuri. "Nato nggak boleh begitu, Nak. Masa kamu marahin tamu Bibi." "Maaf, Bi." Nato lalu berlalu masuk ke rumah. Nuri menghela napas pelan. "Drama anak muda memang seperti itu, ya," lirihnya. *** "Woi! Kusut amat tuh muka," ujar Adimas, melempar kentang gorengnya ke arah muka Arsya. Saat ini mereka singgah dulu di restoran, karena lapar. Jarak pulang ke rumah sekitar setengah jam lagi. Jadi, mereka memutuskan untuk makan dulu sebentar. "Abisnya saingan gue nambah lagi. Gue kan belum dapetin Rara sepenuhnya." "Hadeh. Mana, sih, Arsya yang sok kegantengan, Arsya playboy cap buaya yang gue kenal? Masa gara-gara ada saingan lo langsung nyerah gitu, sih? Harusnya lo lebih semangat lagi, biar kagak kalah sama tuh orang." "Lo kalau ngomong ada benernya juga ya, De." "Iyalah, gue lebih pinter dari lo," ucap Adimas. "Tapi gue beneran kepikiran, emangnya bener tadi dia ketemuan sama Rara?" "Ya mana gue tau. Kenapa gak lo tanyain sama Rara aja langsung? Telepon, kek! Hadeh, lemah amat jadi cowok." "Bener juga! Kenapa gak gue tanyain langsung aja." Arsya mengeluarkan HP-nya. Ia langsung mencari kontak Rara dan memanggil. "Gak diangkat," lirih Arsya. "Ya telepon lagilah. Siapa tau tadi dia gak denger." "Oke." Panggilan kedua ... akhirnya diangkat! "Halo, Arsya?" "Halo, Ra. Gue ganggu, gak? Lo lagi apa?" "Nggak kok, gak ganggu. Ini aku lagi di rumah, bersihin kamar." "Oh gitu. Tadi lo ke mana aja?" "Gak ke mana-mana. Aku di rumah aja." Arsya menutup loadspeaker-nya lalu berbisik ke Adimas. "Katanya dia gak ke mana-mana tadi." "Siapa tau dia samperin ke rumah Rara." "Eh iya, juga. "Halo? Sya ...." "Eh, iya, sorry. Eumm ... terus, tadi ada tamu gak datang ke rumah lo?" tanya Arsya. "Emm ... emang kenapa?" "Nggak ada. Cuma nanya aja." "Ada, sih." Arsya kembali berbisik ke Adimas. "Mpus, katanya ada!" "Ya tanyalah siapa." "Iya, iya." "Emm, tamunya siapa, Ra?" tanya Arsya. "Emang kenapa sih, Sya?" "Nggak ada kok. Kalau lo gak mau kasih tau juga gak pa-pa." Arsya merasa sudah terlalu mengganggu privasi gadis itu. "Hehe. Tadi temanku datang si Sofia." "Cewek?" "Iya, dong. Masa Sofia cowok." Arsya pun bisa bernapas lega. "Hufh, syukurlah. Oke, deh. Makasih ya, Ra. Lanjut aja bersih-bersihnya, sorry ganggu. Byeeee!" Arsya menutup panggilannya. "Eh, itu lo matiin aja?" "Iya! Hufh, syukurlah bukan si Nato itu. Berarti dia bohongin kita, kan. Awas aja kalau ketemu lagi, gue ajak geluud." "Katanya gak mau ketemu lagi." "Eh, iya, sih. Amit-amit. Semoga gak ketemu lagi!" "Ya udah, udah kelar, kan? Pulang, yuk!" ajak Adimas. "Eh, bentar De. Ada sesuatu di mulut lo." Arsya lalu mengambil tisu dan menyeka saus yang ada di sudut bibir Adimas. Cewek itu pun tertegun sebentar. "Dah, tadi lo belepotan. Hadeh, kayak anak TK aja!" cibir Arsya. Adimas memalingkan wajahnya. Kenapa ia jadi malu-malu begini. Adimas juga merasakan pipinya memanas. Sudah pasti sekarang memerah. "Eh, lo make blush on ya, De?" tanya Arsya mendekatkan mukanya. Buru-buru Adimas mendorong wajah cowok itu. "Apaan, sih, lo! Nggak usah deket-deket!" "Abisnya muka lo memerah gitu, kirain lo make blush on." "Ish, apaan, sih!" Adimas menutup sebagian mukanya, yang membuat Arsya terkekeh. "Lo kalau kayak gitu mirip cewek, De." "Gue emang cewek, Woi!" "Ya, lo sohib ganteng dan manis gue." Manis? Barusan Arsya memujinya manis, kan? Jantung Adimas dibuat ketar-ketir. Sepertinya sudah berdetak tak aman. "Udah, ah, pulang!" ajak Adimas segera bangkit. Lama-lama ucapan Arsya malah semakin ngawur yang membuat detak jantungnya tak karuan. "Iya, iya. Tapi bayar dulu, woi!" ujar Arsya. "Ya, lo dong yang bayarin!" "Lah, kok gue? Patungan, dong, kan kita makan bareng," protes Arsya. Kenapa hanya ia yang disuruh membayar? "Jangan pelit!" Arsya menghela napas gusar. "Awas ya lo, De!" Mau tak mau, Arsya beranjak ke kasir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN