BAB 57

1011 Kata
Tak terasa tiga hari lagi masa liburan berakhir. Sangat cepat, karena tahun ajaran baru akan dimulai. Tentu saja Arsya akan naik ke kelas 11. Tak ingin menyia-nyiakan waktu libur yang tinggal sedikit, Arsya memanfaatkannya untuk mengajak Rara pergi jalan bersama hari ini. Untung saja gadis itu tak menolak. Pukul sepuluh pagi. Arsya sudah rapi dengan setelan santainya. Baju kaos putih oblong dilapisi jaket kulit hitam dan celana pendek yang mengekspos kaki putih cowok itu. "Widih, mau ke mana lo?" tanya Adimas. Pagi-pagi sudah berada di rumahnya saja. Sudah biasa, tak heran lagi. "Mau kencan." "Sama siapa? Pacar-pacar lo?" "Nggaklah. Sama Rara, calon pacar gue." "Hadeh, ternyata belum jadian juga. Lama amat. Masa dapetin Rara doang segitu susahnya." "Yee, males banget pagi-pagi dinasehatin sama jomlo abadi," ledek Arsya. "Gue emang jomlo, tapi nggak abadi juga, ya!" "Ya buktinya lo kagak bisa dapet pacar. Yaiyalah kan, yang naksir lo kan cewek semua." Arsya tertawa lebar, membuat Adimas menggerutu. "Suatu saat gue bakal dapetin cowok yang tepat!" "Iya, deh, iya. Gue doain aja, supaya dapat yang terbaik." "Ya, asal bukan lo aja," ucap Adimas. Entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutnya. "Oh, nggak mau cowok kayak gue? Rugi amat!" "Lagian siapa emangnya yang mau cowok playboy cap buaya kayak lo!" "Semua cewek yang naksir gue, buktinya mereka mau jadi pacar gue, walaupun gue selingkuhin di mana-mana." "Terserah lo, males gue debat," ujar Adimas ingin kembali ke rumahnya, tetapi tangannya dicekal oleh Arsya. "Bentar gue mau ngomong sama lo." "Ngomong apaan?" "Temen gue, si Ardi pengen cari cewek, gue rekomenin lo aja gimana? Kasian lo jomlo, kan!" Adimas melepaskan pegangan tangan Arsya. "Dih, kagak! Gue bukannya gak laku, ya. Tapi emang kagak mau pacaran dulu. Ada banyao hal yang harus gue lakukan, apaan pacaran, gak penting!" tegas Adimas. Ia akan menyelidiki apa alasan dan tujuan Farah menyembunyikan identitas aslinya. Kenapa ia harus menjadi seperti laki-laki, sedangkan ia terlahir sebagai perempuan. Apakah tidak aneh? Bahkan keluarganya pun tak tahu menahu soal ini. Hanya keluarga Arsya yang tahu. "Dahlah, gue mau pulang." "Perlu gue anter?" goda Arsya. "Kagak usah." Sudah seperti rumah Adimas jauh saja, padahal jarak lima langkah saja. Arsya lalu beranjak ke ruang makan. Ia akan sarapan terlebih dahulu, kan tidak lucu jika saat kencan, perutnya malah keroncongan di depan Rara. "Mau ke mana?" tanya Reni yang baru muncul dari dapur. "Mau kencan, Ma. Biasalah anak muda. Punya anak ganteng gini harus memanfaatkan tampang, Ma," ujar Arsya narsis pagi-pagi. "Anak siapalah ini, gak kayak Mama papanya," ujar Reni yang membuat Arsya mendengkus. "Punya anak ganteng malah gak disyukuri." "Nanti Mama mau pergi arisan juga sama teman-teman Mama. Jadi, kalau kamu pulang duluan, kunci rumah Mama titipin ke Adimas, ya." "Iya, Ma. Papa mana?" "Ya kerjalah!" "Maksudnya, kenapa gak keliatan dari kemarin," dengkus Arsya. "Oh. Papamu ke luar kota. Jadi ya gak pulang dulu, tapi lusa pulang katanya." "Oh," jawab Arsya singkat. "Udahlah, Mama mau setrika baju dulu. Kalau kamu berangkat jangan lupa tutup pintu." "Iya, Ma." Arsya menghela napas, ia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Rara. "Halo, Sya?" "Halo, Ra. Lo udah siap?" "Udah, daritadi." Arsya langsung tersedak dan terbatuk‐batuk dibuatnya. Ternyata ia yang telat! "Eh, so--sorry, gue telat bangun, tapi sekarang udah otw, kok." OTW jalan depan pintu, maksudnya. "Iya, gak pa-pa. Aku tunggu, ya." "Oke, Ra. Byee!" Arsya langsung menutup panggilan. Kencan pertama malah ia yang terlambat, jadi segan karena Rara menunggunya terlalu lama. "Ma, Arsya pamit!" teriak Arsya. Mungkin tak terdengar oleh Reni, tapi tak masalah. Ia buru-buru mengeluarkan motor dan melaju kencang. Oh, no! Kencan pertamanya tak boleh gagal. *** "Sorry, ya, nunggu lama," ucap Arsya cengengesan. Ia berdecak kagum dalam hati, karena Rara tampak semakin glowing. Apa, sih, rahasia cantiknya? Sangat memikat Arsya. "Gak pa-pa, Sya. Mau masuk dulu?" "Nggak usah, deh, thank you. Kita langsung jalan aja gimana? Keburu makin siang nanti panas," ujar Arsya. "Oh, oke." Sekilas banyangan orang melintas terlihat oleh Arsya. "Siapa di rumah?" tanya Arsya. "Hm? Bibik dan Razel. Orang tuaku kerja." "Razel?" "Iya, saudaraku." "Oh." Syukurlah jika hanya saudaranya. Pikiran Arsya masih terganggu dengan Nato kemarin, untung saja ia tak bertemu lagi dengan cowok itu. "Ya udah, naik yuk, Ra!" suruh Arsya untuk menaiki motornya. Rara lalu duduk di belakang cowok itu. "Udah." Arsya pun menjalankan motornya. Tujuan mereka pertama adalah Mall. Mungkin nanti Arsya mengajak Rara untuk keliling-keliling sekalian shopping dan menonton film saja. Awalnya mereka mau ke pantai, tetapi karena masih pagi, tak akan seru juga. "Ra, pegangan aja kalau lo takut jatuh!" ujar Arsya sedikit berteriak, karena angin kencang takut tak terdengar. Dalam hati Rara tersenyum. Bilang saja jika Arsya hanya ingin modus, agar dipeluk oleh Rara. "Gak usah, aku gak takut, kok!" "Yah!" Nada kecewa pun terdengar. Gagal untuk modus, dengkus Arsya. Namun, tidak pa-pa. Bisa pergi jalan bersama saja sudah lebih cukup, secara mengajak Rara keluar tentu tidak mudah. "Ya udah kalau gak mau," ucap Arsya menambah kecepatan laju motornya yang membuat Rara terpekik dan refleks memeluk pingganh Arsya. Ya tentu saja, jika tidak ia terjengkang ke belakang. "Arsyaaa, kamu jail, ih!" Rara menepuk punggung cowok itu kesal. Arsya hanya terkekeh pelan. Ia memutar kaca spion untuk melihat wajah Rara. Walaupun terlihat kesal, tetapi rona merah menjalar di pipinya. Rara dibuat merona, karena tersipu. Arsya terkekeh dalam hati. Bilang saja jika baper! Arsya memilih jalan tikus, yang tak terlalu ramai, di sini bisa sepuasnya berkendara karena jalanan sepi. Rara pun merentangkan tangannya, menikmati embusan angin kencang yang menerpa mukanya. Arsya tersenyum menatap di kaca spion. Rara begitu cantik, apalagi terkena silauan cahaya matahari. Duh, jantung Arsya semakin berdetak kencang. "Sya, lebih laju lagi, dong!" suruh Rara. "Serius? Lo gak takut?" "Nggak, soalnya jalan sepi. Ayo!" suruh Rara. Arsya pun mengebut dan tiba-tiba Rara memeluk pinggangnya erat. Kepala gadis itu juga menyandar di bahu Arsya yang membuat cowok itu tercengang. Rara memejamkan matanya, terasa sangat nyaman memeluk Arsya dan menikmati embusan angin seperti ini di jalanan. Arsya tersenyum, bagaikan lampu hijau untuknya. Rara sepertinya sudah mulai terbuka dan mengatakan jika ia sudah menerima Arsya. Tentu saja cowok itu sangat bahagia. Apakah ini pertanda jika Rara benar-benar sudah menerima cintanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN