Arsya memarkirkan motornya, setelah itu mengajak Rara segera masuk ke Mall. Sangking antusiasnya, Rara berjalan lebih dulu meninggalkan Arsya yang membuat cowok itu sedikit kecewa. Ia kan ingin berjalan bergandengan dengan Rara.
"Ra," panggil Arsya.
"Kenapa, Sya? Ayo!" ajak Rara. Namun, Arsya masih diam mematung. Rara menghela napas, ia pun berbalik, berlari menghampiri Arsya kembali dan menarik tangan cowok itu.
Mereka pun akhirnya menyejajarkan langkah, saling beriringan sembari bergandengan tangan. Arsya tersenyum, ia menoleh menatap Rara yang tampak bahagia.
Padahal hanya diajak ke sini, tetapi Rara tampak sangat menikmatinya.
"Kita mau ke mana dulu?" tanya Rara menoleh, mendapati Arsya yang sedang tersenyum padanya. Rara kembali memalingkan muka karena rona merah mulai menyebar di mukanya. Lagian kenapa Arsya malah menatapnya seperti itu.
"Kita keliling dulu aja, yuk! Lo mau beli baju, sepatu, atau apa gitu?"
"Nggak usah, deh. Mending kita beli itu aja," ujar Rara menunjuk es krim.
"Oh, mau es krim?" tanya Arsya. Rara pun mengangguk lucu, yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
"Ya udah, ayo!"
Mereka lalu membeli es krim itu, Rara pun segera menyicipintya. Es krim yang dipilih Rara adalah rasa cokelat, sedangkan Arsya rasa vanila.
"Sya, aku mau nyicip, dong," ucap Rara. Belum sempat Arsya menjawab, cewek itu sudah mengarahkan mulutnya ke es krim di tangan Arsya.
Tentu saja cowok itu terkejut. Rara ... mau menyicipi bekasnya? Pipi Arsya langsung memerah.
"Enak. Kamu mau nyicip rasa cokelatnya juga, gak?" tanya Rara menyodorkan es krimnya.
"Hmm ...."
"Ya udah, nih!" Rara langsung menyodorkan es krim itu ke mulut Arsya.
Mau tak mau cowok itu menerima saja. Rasanya sangat manis.
"Gimana? Enak, nggak?"
"Enak."
Rara tersenyum. Ia sudah lama tidak ke Mall. Terakhir kali ia kemari bersama orang tuanya dan mereka makan es krim bersama saling menyicipkan rasa masing-masing, makanya ia praktekkan pula pada Arsya.
"Setelah ini mau ke mana?" tanya Arsya.
"Aku ngikut kamu aja."
Arsya menggaruk kepalanya. Ia bukannya tak tahu mau mengajak ke mana lagi, tetapi ia hanya ingin mengikuti ke mana maunya Rara saja.
"Gue maunya lo yang nentuin," ujar Arsya.
"Hmm ... kalau gitu, aku mau nonton bareng!"
"Oke, boleh."
"Wah, boleh?" tanya Rara berbinar.
"Iya, boleh."
"Kenapa kamu mau nurutin gitu?"
"Ya, karena kita lagi kencan, masa permintaan cewek secantik lo gue tolak, apa pun yang lo mau bakal gue kabulin, kok."
Rara dibuat senyum malu-malu lagi.
"Ya udah, ayo, kita beli tiketnya!"
"Oke."
Mereka pun beranjak dari situ lalu menuju ke lantai atas, masuk ke bioskop.
"Lo duduk tunggu di sini aja, biar gue yang ngantri."
"Oke, makasih, Arsya."
"Iya."
Antrian tak begitu panjang, jadi Arsya sekarang berada di posisi nomor tiga.
Enam menit kemudian sampailah gilirannya. "Mbak beli tiket nonton film yang tayang sekarang."
"Wah adanya film horor, Mas."
"Gak ada film cinta-cintaan, Mbak?" tanya Arsya polos.
"Maksudnya film romance ya, Mas? Ada, tapi tayang dua jam lagi."
"Ya udah, deh, horror aja, Mbak."
"Baik, Mas. Berapa buah?"
"Dua, Mbak."
"Baik, sebentar, Mas."
"Iya."
Tak butuh lama, tiket pun sudah berada di tangan Arsya. Ia pun membayarnya.
"Terima kasih, Mbak."
Arsya kembali berjalan menghampiri Rara. "Wah, kamu beli tiket film apa?"
"Nih, Film Kuntilanak Janda."
Rara tercengang mendengar judul film yang dikatakan Arsya.
"Film horror?"
"Iya, tapi kayaknya ada cinta-cintaannya, kok, tuh buktinya si Mbak Kunti udah jadi janda."
Mendengar itu Rara yang polos hanya bisa terdiam. Ia yang polos, atau Arsya yang tidak mengerti?
"Filmnya udah mulai, yuk masuk!" ajak Arsya.
"Eh, tapi itu film horror, aku takut!" ujar Rara, langsung merangkul lengan Arsya.
"Kagak usah takut, kan ada gue!"
"Kalau aku teriak, kamu harus tanggung jawab, ya!"
"Tanggung jawab ke mana? Ke KUA?" goda Arsya, yang membuat Rara memukul pundak cowok itu pelan.
Mereka langsung masuk ke ruangan dan duduk bersebelahan. Dalam hati Arsya senang, karena mendapat posisi di pojokan.
Lumayan, kesempatan, pikirnya dalam hati.
Film pun sudah tayang. Percayalah, film horror itu yang paling mengerikannya adalah sound-nya yang membuat penonton terkejut. Rara yang memiliki lemah jantung pun dibuat memucat.
Teriakan-teriakan penonton pun semakin menebalkan suasana. Tampak kuntilanak di layar itu sedang pargoy-ria. Lalu, lama-lama kepalanya melayang ke udara.
Walaupun terlihat seperti dark komedi, tetapi Rara yang mendengar sound dan teriakan penonton lain, membuatnya bekali-kali terkejut.
"Arsya ... kamu gak lupa, kan, kalau aku ada riwayat lemah jantung?" lirih Rara dengan suara lamban. Peluh sudah membanjiri sekujur badannya.
Arsya langsung terkejut. Benar juga! Ia pun langsung mendekap Rara ke pelukannya. Gadis itu pun menenggelamkan mukanya ke d**a bidang Arsya.
"Kalau lo gak kuat, kita sudahi aja nontonnya, yuk!" ajak Arsya.
"Gak pa-pa, kok, kasian kamu sukanya filmnya malah nggak tau ending."
"Nggak. Udah, ayo! Kita keluar aja," ujar Arsya memapah badan Rara keluar studio.
Ingin modus, malah merasa bersalah, itulah yang dirasakan Arsya sekarang.
"Ra, mau beli minum dulu?" tanya Arsya.
"Nggak usah, aku gak pa-pa, kok." Rara berjongkok, mengatur napasnya. Ini karena ia mendengar suara kejutan berkal-kali.
"Ya udah, ayo kita ke restoran itu aja dulu," ajak Arsya. Ia lalu merangkul Rara. Berjalan ke arah restoran yang tak terlalu jauh dari situ.
"Maaf ya, Sya, aku malah merusak suasana kencan kita," ucap Rara.
"Gue yang ngerasa bersalah sama lo, karena udah ngajakin nonton film horror."
"Nggak pa-pa, kok, bukan salah kamu. Makasih, ya."
"Iya, sama-sama."
Pelayan restoran pun menghampiri meja yang mereka duduki, Arsya langsung menyebutkan pesanan, begitu pun dengan Rara.
"Ra, lo seriusan gak pa-pa?" tanya Arsya masih kgawatir.
Rara tersenyum, ia sudah merasa baikan. "Aku udah gak pa-pa, kok, serius!" ujar Rara mengambil tangan Arsya lalu mengarahkan ke posisi jantungnya.
"Udah berdetak normal, kan?" tanya Rara. Arsya pun dibuat terkejut, masalahnya sekarang adalah malah jantung Arsya yang tak normal.
Rara lalu melepaskan tangan Arsya lagi.
"Ra, gue mau nanya perihal nama lo Raquel."
"Hm, iya. Kenapa?"
"Soalnya gue dulu waktu kecil pernah ketemu sama cewek bernama Raquel juga."
Mendengar itu, Rara pun dibuat terkejut. "Benarkah?"
"Iya, tapi gue kayaknya gak pernah ketemu lagi sama tuh cewek."
"Hmm." Entah kenapa Rara merasa cewek itu adalah dirinya. Namun ia tak yakin, jika cowok yang mengaku pangeran itu adalah Arsya. Sangat tidak mungkin, bukan?
"Oh, ya, Sya. Aku boleh nanya sesuatu, nggak?" tanya Rara.
"Apa?"
"Di antara banyaknya pacar kamu, yang paling kamu cintai siapa?" tanya Rara.
Pertanyaan ini sudah mengganggunya sejak dulu, karena ia tahu jika Arsya memiliki banyak pacar. Walaupun Arsya tampak tak serius menjalin hubungan dengan mereka. Namun, bisa saja, kan, di antara mereka ada yang benar-benar dicintai Arsya.
"Nggak ada, semuanya itu cuma gue anggap teman doang, lagian hubungan kami juga sama-sama fake, kok. Mereka juga nganggapnya gitu."
"Tapi di antara pacar-pacar kamu, pasti ada yang benar-benar kamu cintai, kan?"
"Nggak ada, Ra. Kalau lo nanya siapa cewek yang gue cintai, harusnya lo udah tau jawabannya."
Arsya menarik tangan Rara, lalu menggenggamnya pelan. "Karena orang yang benar-benar gue cintai adalah ... lo sendiri, Ra."
Jantung Rara kembali berdetak cepat, kali ini detakannya terkesan beda dan malah suatu sensasi yang berbeda.
"Arsya, kamu benar-benar mencintaiku?"