Entah kenapa Rara masih dibuat tak yakin dengan pengakuan Arsya yang mencintainya. Bagaimana tidak? Mereka belum lama kenal dan awal kenalan pun Arsya bilang sudah menyukainya, apakah Rara bisa percaya semudah itu? Bisa saja jika Arsya begitu ke semua cewek yang didekatinya, kan?
"Arsya, apa kamu serius?" tanya Rara.
Arsya menghela napas pelan. Bagaimana cara untuk membuktikan ketulusannya lagi? Arsya sudah hampir frustrasi dibuatnya.
"Ra, kalau gue mau main-main sama lo, mungkin gue udah nyerah dari dulu buat ngejar lo."
Betul juga, lantas kenapa Arsya masih belum menyerah? Walaupun sudah ditolak berkali-kali.
"Ak--aku masih belum yakin sama perasaanku," ucap Rara menunduk pelan.
Lagi-lagi Arsya dibuat kecewa. Mungkin ini ujian baginya, karena tidak semudah itu mendapatkan cewek yang kita cintai. Harus butuh perjuangan!
"Gak pa-pa, Ra, gue akan tunggu lo."
"Tapi aku juga gak mau ngasih kamu harapan."
"Jadi?" tanya Arsya memperjelas.
"Jadi, apa?" tanya balik Rara heran.
"Jadi, gue ditolak, kan?"
Rara hanya bisa menunduk. Pelayan restoran lalu datang ke meja mereka mengantarkan makanan. Untung saja bisa menutupi suasana sebentar.
"Kalau lo emang gak suka sama gue dan gak mau kasih gue harapan, gue akan berhenti berjuang, Ra."
Mendengar itu tentu saja Rara terkejut, ia mungkin egois karena masih mengharapkan perjuangan Arsya.
"Kamu mau berhenti berjuang?"
"Iya, suatu saat, kalau benar-benar udah gak ada harapan," ucap Arsya. Lagi pula jika memang Rara tidak mau dengannya, ia tidak usah capek mengejar.
Apa gunanya mengejar yang tak pasti bukan?
"Maaf, tapi aku gak pernah nolak kamu," ucap Rara melirik Arsya sedikit. "Aku cuma gak mau kita pacaran aja, karena aku emang gak mau pacaran."
"Kenapa?"
"Belum siap aja."
"Mencintai bukan harus pacaran, kan? Cukup saling menjaga hati aja."
Rara menoleh. Apa maksud ucapan Arsya? Ia masih tak paham.
"Hm? Aku gak paham."
"Gini, lo gak harus jadi pacar gue, kalau emang gak mau pacaran dulu, tapi lo harus janji untuk jaga hati lo buat gue."
Mendengar itu Rara mendengkus pelan. "Mending kata-kata itu buat kamu, deh, kan kamu yang gak bisa jaga hati," ujar Rara sekaligus mencibir Arsya.
"Eh, kok gue?"
"Ya iya, pacar kamu, kan, banyak. Berarti kamu gak bisa jaga hati buat satu cewek aja, dong?"
"Kan gue udah bilang, pacar-pacar gue yang lain itu cuma fake, gue gak ada rasa lebih selain anggap teman."
"Tetep aja aku gak suka kamu banyak pacar gitu," ucap Rara mengutarakan maksudnya.
Oh, apa karena ini ia masih belum bisa menerima Arsya? Apa karena Arsya memiliki banyak pacar? Arsya mengerti sekarang.
"Lo cemburu, ya, sama pacar-pacar boongan gue?"
"Eng--nggak, ma--mana ada cemburu." Pipi Rara memerah, jelas sekali jika cewek itu memang cemburu. Arsya terkekeh dalam hati. Ia lalu mengeluarkan HP-nya dan memberikan kepada Rara.
"Sekarang, lo bisa putusin mereka semua," ucap Arsya yang membuat Rara tercengang.
"Putusin?"
"Iya. Semua nomor pacar-pacar gue ada di sana, lo bisa kirim pesan untuk putus ke semuanya."
"Eh? Beneran? Kamu gak keberatan?" tanya Rara terkejut. Sebenarnya pacar-pacar Arsyalah yang merasa keberatan.
"Iya, lo bisa putusin semuanya kalau emang itu yang menjadi keberatan lo buat nerima gue."
Rara kembali menyodorkan HP Arsya. "Kalau gitu, kamu aja yang putusin sendiri, kenapa harus aku?"
"Ya, biar lo percayalah."
"Aku percaya, kok, tapi ya jangan tambah pacar lagi."
Arsya lalu mendekatkan mukanya ke Rara, membuat gadis itu tak berkutik. "Cie ... cemburu, ya?"
"Ish, Arsya, apa, sih!" Rara memalingkan mukanya.
"Kalau itu mau lo, oke gue putusin mereka semua sekarang."
Pertama-tama, Arsya membuat grup untuk semua pacar-pacarnya itu, setelah masuk semua. Ia pun mulai mengetik pesan panjang, yaitu pesan perpisahan yang berbunyi ....
Hai, pacar-pacarku sekalian, yang pernah gue sukai atau pun gue deketin. Gue masih anggap kalian semua teman, tapi karena gue mau tobat. Gue kagak mau nyakitin atau mainin perasaan kalian lagi ke depannya. Untuk itu, terutama gue mau minta maaf dulu.
Maaf udah menjadikan kalian pacar-pacar gue yang budiman, walaupun gue kagak serius sebenarnya pacaran sama kalian, tapi karena kalian juga gak serius, makanya hubungan kita tetap jalan.
Sekali lagi gue minta maaf soal itu, semua ini hanya just for fun, gue gak berniat menyakiti hati kalian, kok, terserah kalau mau marah sama gue. Ya, itu resiko gue, tapi gue udah minta maaf sama kalian, ya. Kalau mau maafin pas lebaran sekalian dapat THR dateng aja ke rumah. Hehehe.
Maka dari itu, hari ini gue akan menyampaikan jika hubungan gue dengan kalian semua RESMI BERAKHIR!
Maaf banget, gak bisa lanjutin hubungan ini lagi, yang pasti gue mau tobat. Doain, ye! Ya udah, gue cuma mau ngomong itu doang, kok! Salam buat kalian semua.
Semoga sehat selalu, salam jumpa. Bye!
Pesan itu pun dikirimkan oleh Arsya ke grup. Tak lama kemudian balasan dari pacar-pacarnya pun beruntun. Banyak yang kecewa, tetapi malah banyak juga yang rerpesona. Ada juga yang berterima kasih, karena mereka juga menganggap hubungan itu menyenangkan dan sebatas untuk have fun saja.
Namun, ada juga yang tak terima, sampai ada yang meblok nomor Arsya. Sudahlah, biarkan. Terpenting Arsya sudah mengakhiri hubungan mereka baik-baik.
"Nih, coba lo baca, deh," suruh Arsya. Ia memberikan HP-nya pada Rara. Gadis itu pun langsung membaca pesan panjang Arsya dan respons para pacarnya.
Rara tersenyum dalam hati, ternyata Arsya memang serius dengannya. Tidak ada yang perlu diragukan lagi, bukan? Rara mengembalikan HP cowok itu.
"Ey, makan dulu, yuk! Udah daritadi dianggurin," ucap Rara.
"Lo belum jawab--"
"Selesai makan aku jawab, sekarang abisin dulu makanannya!" suruh Rara.
"Hmm, okelah."
Mereka lalu menikmati makanan itu sampai habis. Tidak ada yang membuka suara. Mereka makan sampai habis tanpa pembicaraan.
Sepuluh menit berlalu, mereka sudah selesai. Rara mengelap mulutnya dengan tisu yang tersedia di meja.
"Hekhem." Arsya berdeham pelan. Mengode Rara untuk melanjutkan percakapan.
"Ra?" panggilnya, karena Rara malah bermain HP.
"Eh, ya, Sya?"
"Itu ... yang tadi?"
"Yang tadi apa?" Oh, ayolah, Rara ingin Arsya mengulang pembicaraannya, karena Rara pun tak tahu harus memulai seperti apa.
"Lo sebenarnya suka gak sih sama gue?" tanya Arsya kembali. Syukurlah cowok itu mengulangnya.
Rara tersenyum sebentar. "Nggak," jawab Rara yang membuat Arsya frustrasi. Cowok itu menghela napas gusar. Sudah tidak ada harapan sepertinya.
"Ya, aku memang gak suka lagi sama kamu, karena ... aku udah mencintaimu."
Bola mata Arsya dibuat melebar. Ia menatap tak percaya. Benarkah?