"Lo nggak bercanda, kan?" tanya Arsya berdebar. Ini telinganya tak salah dengar, bukan?
"Ya, nggaklah, Sya. Aku serius, kok."
"Jadi, lo ... mau jadi pacar gue?"
"Emm ...." Rara kembali berpikir. Hal itu membuat Arsya kembali jantungan. Jadi, ia belum benar-benar lega.
"Hm, gimana, ya. Kamu katanya mau jadi pacar aku, tapi kenapa ngomongnya masih lo-gue?"
Ternyata masih ada yang membuat Rara keberatan. "Lo maunya gue ubah pake aku-kamu, gitu?" Jujur saja, Arsya tak biasa berbicara aku-kamu bersama teman-temannya.
"Gimana? Bisa, gak?"
"Bi--bisa, dong." Arsya berdeham pelan. Baik, ia akan mengulangi sekali lagi.
"Ra, gu--aku ... sayang sama kamu. So, kamu mau gak jadi pacarku?" Arsya malu sendiri berbicara seperti itu, bukan dirinya sekali.
Pipi Rara memerah, Arsya berbicara seperti itu terkesan lembut. "Ya, aku mau," jawab Rara pada akhirnya yang membuat Arsya tersenyum lebar.
"YES!" Arsya berteriak sambil mengepalkan tangannya, membuat beberapa pengunjung restoran menatap ke arahnya.
"Lo beneran mau jadi pacar gue kan?" tanya Arsya masih tak percaya.
Rara mendengkus pelan, gaya bicara Arsya kembali lagi seperti semula.
"Eh, mak--maksudnya kamu beneran udah jadi pacarku, kan?"
Rara terkekeh pelan, sepertinya susah sekali bagi Arsya mengubah gaya bicaranya.
"Ya, sebenarnya aku juga gak mau pacaran, sih, seperti yang kubilang tadi, tapi ... kalau kamu orangnya, aku harus siap pacaran aja, karena aku juga gak mau kehilangan kamu."
Arsya melongo mendengar perkataan Rara. Ia seperti melihat keajaiban. Ternyata Rara juga bisa membuatnya salah tingkah begini.
"Sya, pipi kamu memerah," ucap Rara mendekatkan mukanya ke Arsya yang membuat cowok itu memundurkan kepalanya. Duh, jantung Arsya sudah tidak aman.
"Makasih ya, Ra."
"Kok kamu bilang makasih?"
"Ya, makasih, akhirnya lo eh maksudnya kamu, udah mau menerima aku."
"Asalkan kamu janji gak akan ninggalin aku," ucap Rara menyodorkan kelilingkingnya.
"Aku janji, kok," ujar Arsya mengaitkan kelingkingnya.
Tepat hari ini, jam, menit, dan detik ini, Arsya dan Rara telah resmi berpacaran. Menjalin hubungan memang tak mudah. Namun, bagaimana caranya menjalankan saja, karena tidak akan ada hubungan yang berjalan mulus saja, pasti ada kerikil-kerikil kecil yang mengiringinya.
Akan tetapi, mereka sudah siap dengan itu, melalui jalan hidup bersama, susah senang akan dilalui berdua. Ya, semoga saja bisa bertahan selamanya, karena kita tak tahu apakah mereka ditakdirkan berjodoh atau tidak.
"Ya udah kalau gitu, kamu mau gak menerima suapan ini dariku?" tanya Rara menyodorkan sendoknya yang berisi steak.
"Mau, dong!"
Rara langsung menyuapkan Arsya yang baru saja menjadi pacarnya itu. Ternyata Rara jika sudah diluluhkan akan menjadi sangat perhatian, ya.
Sepertinya keberuntungan Arsya mendapatkan Rara menjadi berkali lipat. Harusnya Arsya buat syukuran di rumahnya. Ia jadi tak sabar untuk memberitahu Adimas perihal ini. Kira-kira bagaimana reaksi sahabatnya itu?
***
Adimas disuruh Farah untuk berbelanja ke super market hari ini, karena kebutuhan sehari-hari mereka berdua sudah mulai menipis, mulai dari minyak, gula, teh, sabun, sampo, dan kawan-kawannya sudah hampir habis. Maklum akhir bulan.
Namun, karena banyaknya rincian pembelanjaan, membuat Adimas pusing tujuh keliling. Belum lagi jika mereka yang dilist berbeda dengan yang ada di rak.
"Duh, Mami nggak angkat telepon pula!" kesal Adimas. Ia jadi bingung harus membeli teh sari harum, atau sari manis.
"Kalau gini gue beli dua-duanya aja kali, ya!" ujar Adimas tak ingin pusing. Ia pun menarik teh sari manis di atas rak. Namun, ternyata ada tangan seseorang di balik rak juga menarik teh itu.
Adimas tak mau kalah menarik lebih kencang, tetapi seseorang di balik sana pun tak mau kalah, alhasil mereka saling tarik menarik yang membuat pelayan menghampiri rak tersebut.
"Maaf, Mas, jangan ditarik! Lagi pula, masih ada yang lain.
Masalahnya teh sari manis itu hanya tinggal satu kotak saja. Alasan Adimas mengambil itu, karena ia juga penasaran dengan rasanya.
"Tapi, Mbak, saya ingin ambil yang ini!" ujar Adimas tegas.
Tiba-tiba tangan yang menarik teh di balik rak itu melepaskannya membuat Adimas segera mengambil teh itu.
"Daritadi kek!" kesal Adimas. Namun, seseorang yang tadi berebutan dengan Adimas ternyata memilih menghampirinya.
Saat tahu siapa pelaku di balik tarik-menarik teh sari manis itu, mata Adimas memelotot tak percaya.
"LO LAGI?!" teriak mereka berdua, membuat pelayan yang berdiri di sana lebih baik memundurkan langkah saja.
"Eh, lo ngikutin gue, ya? Ngaku lo!" ujar Adimas.
"Dih, siapa juga yang mau ngikutin lo! Lagian itu teh gue duluan yang ambil!"
"Gue duluan! Sebelum lo lahir, nih, teh udah gue tandain!" ujar Adimas yang malah aneh.
"Udahlah, malas gue debat sama orang kayak lo," ujar cowok itu berbalik.
"Eh, tunggu dulu, Bro! Nama lo siapa? Kalau gak salah Rafathar, ya?" ujar Adimas.
Cowok itu mendengkus. "Nama gue Razel! Kalau mau gonta-ganti nama gue, potong kambing dulu sana!"
"Eh, ya, itulah pokoknya! Tumben lo dimari, mau ngapain?"
"Lo pikir orang ke super market mau apa? Numpang konser, ha? Ya mau belanjalah."
"Sinis amat lo, jadi cowok, tuh, kalem dikit napa."
"Lo sendiri cowok malah kayak cewek," ujar Razel. Kenapa ia masih menganggap orang yant ditemukannya berkali-kali ini adalah seorang gadis? Padahal penampilannya cowok banget.
Ya emang gue cewek, Woi! batin Adimas kesal.
"Udahlah, sana-sana!" usir Adimas.
"Oh, atau jangan-jangan ...." Razel mendekati Adimas yang membuat gadis itu memundurkan langkahnya. Razel semakin mendekat dan Adimas terpojokan. Ia sudah menyentuh rak. Razel semakin mendekatinya, mendekatkan wajahnya ke Adimas yang membuat gadis itu tak berkutik.
"Jangan-jangan lo cewek?" ujar Razel menatap tepat bola mata Adimas, buru-buru gadis itu mendorong Razel ke belakang.
"Ish, apaan, sih, lo, begituan! Jangan-jangan lo ... gak normal, ya!" tuduh Adimas bergidik ngeri.
"Sembarangan!" ujar Razel mengetuk dahi Adimas pelan, yang membuat pipi gadis itu memerah.
Setelah itu, Razel berbalik pergi meninggalkan Adimas. Gadis itu menyentuh dahinya.
"Tuh, cowok kenapa, sih?" tanyanya. Namun, tak bisa dipungkiri jika Adimas melihat ketampanan cowok itu dari jarak sedekat tadi.
"Oh, no! Tuh, cowok paling menyebalkan di dunia, jadi stop mikirin dia!" ujar Adimas menepuk pipinya pelan.
"Dahlah, mau ke kasir," ujarnya.
Ternyata Razel juga merasakan hal yang sama, tadi saat ia menatap Adimas, ia merasa deg-degan. Ia jadi ragu apakah ia masih normal atau tidak.
"Yakali gue suka sama cowok!" kesal Razel, ada-ada saja. "Eh, tapi ... kenapa gue semakin yakin kalai dia cewek, ya? Siapa tau emang cewek tapi lagi nyamar. Ah, bukan urusan gue. Bodo amat dia cewek atau cowok, kek. Gak peduli dan gak urus juga! Lagian gue juga ogah ketemu dia lagi!"
Namun, jika dihitung sudah sering juga mereka bertemu tanpa sengaja.