BAB 61

1035 Kata
Setelah mengantarkan Rara pulang, Arsya langsung balik ke rumah. Bukan, lebih tepatnya ke rumah Adimas. Ya, walaupun bersebelahan, tetapi Arsya sudah tidak sabar ingin memberitahu kabar menggembirakan menurutnya ini. Ia yakin Adimas pun akan senang mendengarnya. "De! Woy, lo di mana, De?" Tak kenal sopan santun lagi, karena sudah berasa rumah sendiri, Arsya berteriak memasuki rumah. Adimas yang masih di dapur, setelah menyusun belanjaannya tadi di super market pun keluar menghampiri Arsya sembari berkacak pinggang. "Lo pikir ini hutan apa? Main teriak-teriak aja!" kesal Adimas. Namun, Arsya hanya terkekeh pelan, menurutnya itu tak penting sekarang, karena ada yang lebih penting. "De, lo tau, gak?" "Kagak," jawab Adimas langsung. Ia paling malas dengan basa-basi begitu. Kalau mau kasih tau ya kasih tau langsung saja. Ya, taulah Adimas tak suka ribet. "Hadeh, dengerin dulu makanya!" "Ya, apaan?" "Tau gak--" "Dibilangin juga kagak tau, lo gimana, sih." "Ya dengerin dulu sampe abis. Ahaelah udah kayak cewek pms aja lo." "Gue emang cewek ya moon maap, kalau pun gue lagi pms, bukan urusan lo, kan?" "Iya-iya. Dengerin gue dulu, napa! Gue mau kasih kabar bahagia, nih." Alis Adimas bertaut. "Berita apaan? Uang jajan lo ditambah? Atau dapat motor baru? Dibeliin mobil atau menang give away lo, ya? Wah suatu keajaiban tau bisa menang." "Bukan itu, De!" Arsya menyentil dahi Adimas pelan yang membuat gadis itu meringis. "Apaan, sih, lo." "Makanya dengerin!" "Iya-iya. Gue serius, nih. Apa?" tanya Adimas dengan tangan masih berkacak pinggang. "Gue jadian sama Rara. YEYYY! Akhirnya perjuangan gue selama ini gak sia-sia. Gue seneng banget! Tadi tiba-tiba aja Rara mau nerima gue! Emang, ya, pesona cowok ganteng tuh gitu." Arsya malah kepedean lagi. Adimas memutar bola matanya malas. "Terus bahagianya di mana?" "Ya, karena gue udah jadian sama Raralah!" "Yah elah, itu doang? Letak bahagianya di mana?" tanya Adimas cuek. "Duh, De! Gue serius, nih, masa sahabat lo bahagia gini lo kagak ikutan seneng, sih?" Tangan Adimas menepuk pundak Arsya pelan. "Gue bahagia, kok," ujar Adimas tersenyum singkat. Setelah itu ia pergi masuk ke kamarnya meninggalkan Arsya. "Yaelah, gue ditinggal. Tapi gak pa-pa, deh. Yang penting itu Rara udah jadi pacar gue!" Arsya mengetuk pintu kamar Adimas tiga kali. "Woi, De! Gue balik, ya! Maksudnya ke sebelah, ke rumah gue. Nih pintu rumah lo gak pa-pa, gak dikunci, kan?" "Ya!" teriak Adimas dari dalam kamar. "Dia kenapa, sih?" tanya Arsya merasa heran. Tak biasanya Adimas bersikap cuek seperti itu padanya. Apakah Arsya ada salah? Sepertinya tidak, toh, ia hanya menyampaikan suatu berita membahagiakan menurutnya sendiri. Arsya langsung masuk ke rumahnya, ternyata Reni pulang lebih dulu daripada Arsya. "Sya, kamu udah pulang?" tanya Reni yang jelas-jelas sudah melihat wujud anaknya di depan matanya sendiri. "Belum, Ma. Ini arwahnya aja yang pulang," jawab Arsya mendengkus kesal. "Kamu, ya, gak boleh gitu sama orang tua! Udah sana ganti baju, ini Mama buatin soto ayam!" "Yah, Arsya udah kenyang, Ma. Nanti malam aja, ya." "Eh, nanti malam--" Reni menghela napas pelan, putranya itu sudah pergi ke kamarnya, jadi tak ada gunanya juga ia berteriak. Arsya membuka pintu kamarnya, tak tanggung-tanggung, ia langsung melompat ke kasur. "Gak pa-pa kehilangan puluhan pacar-pacar gue, yang penting dapat Rara!" ujarnya kegirangan. Ternyata sebahagia itukah Arsya bisa jadian dengan Rara. *** Adimas mencoba tetap tersenyum, sembari memeluk erat gulingnya. Entah kenapa mendengar ucapan Arsya tadi membuat hati kecilnya mengelos. Bukan tak senang, tetapi ada rasa kecewa di lubuk hatinya. Karena apa? Arsya sudah berhasil mendapatkan Rara, cewek yang ia idam-idamkan selama ini. Tentu tak mudah perjuangan mendapatkan gadis itu dan juga tak mudah melepaskannya. "Gue harusnya bahagia, dong! Bukannya sedih," ujar Adimas, karena tiba-tiba air mata meluncur dari pelupuknya. "Gak, gak. Gue apaan, sih, gak gue banget gini! Arsya udah nemuin kebahagiaannya, jadi gue harus dukung, dong!" Adimas mencoba menghibur dirinya sendiri, walau ia sebenarnya terluka. Apakah ini tandanya jika ia masih menyukai Arsya? Rasa itu masih ada? "Gue udah janji mau lupain perasaan ini, tapi kenapa denger dia udah sama yang lain, gue masih gak bisa menerima, ya, apalagi ceweknya seimut Rara, tipe Arsya banget." Adimas melihat dirinya sendiri melalui kaca ponsel. "Gue yang modelan cowok gini mana dia suka." Adimas mengacak rambutnya pelan. "Gue juga pengen jadi cantik!" ujarnya. Selama ini ia dipanggil Mas, Ganteng, dan selalu dianggap cowok saja oleh orang-orang. Ia juga ingin diakui sebagai seorang gadis. Adimas memilih duduk, ia pun membuka lemarinya. Ia mengambil blouse pendek, lalu memakai celana jeans. Ia juga mengambil wig rambut panjang. Adimas duduk di depan cermin. "Gue kalau kayak gini udah mirip cewek, kan?" tanyanya. Ia memasang wig tersebut serapi mungkin, tak menyaksikan celah jika ketahuan memakai rambut palsu. Adimas mengambil bedak dan lipstik di laci toletnya, untung saja dulu ia sempat mengambil beberapa dari peralatan make up maminya. "Gue pake bedak sama lipstik ini aja, deh. Walau gue gak suka dandan, tapi gue ingin buktikan kalau gue ini cewek sejati!" ujar Adimas. Ia lalu sibuk mengoles wajahnya dengan bedak itu. Setelah selesai memakai bedak, ia pun memakai lipstik, lebih tepatnya liptint yang warnanya pink alami. "Nah, gak usah norak! Gue udah cakep dari lahir, kok," ujarnya berkaca di cermin itu. "Oke, udah kayak cewek, kan?" tanyanya, walaupun tak memakai gaun, berpakaian seperti itu saja sudah sangat berdamage. Lagi pula cantik tak harus mandang outfit, bukan? "Sip! Sebelum mami pulang, gue kayaknya masih sempet, deh, keluar bentar," ujarnya. Ia hanya ingin diakui sebagai cewek, sudah itu saja. Kapan lagi, kan, ia bisa bergerak sebebas ini tanpa penyamaran. Adimas mengunci pintu rumahnya, ia melihat ke arah balkon kamar Arsya, memastikan tidak ada cowok itu di sana, jika ada bisa malu Adimas diledekin sahabat kurang akhlaknya itu. "Oke, syukurlah dia gak ada di luar." Adimas segera memesan ojek online. Pertama-tama ia ingin ke kantor papinya dulu. Kira-kira bagaimana respons papinya? Apakah ia masih mengenali Adimas sebagai anaknya? "Lagian Papi juga belum tau identitas asli gue, kan. Jadi kalau gue kayak gini, kira-kira papi kenal gak, ya?" Ojek pesanan Adimas pun datang, ia langsung memakai helm yang diserahkan tukang ojek itu. "Hati-hati ya, Neng, motor saya agak tinggi." Mendengar itu, Adimas tersenyum. Ia dipanggil neng, kan? Berarti sudah ada satu orang asing yang mengakuinya sebagai seorang gadis. Ternyata berperan menjadi cowok selama ini membuat Adimas kehilangan jati dirinya sendiri, ya. Kira-kira apa alasan maminya menjadikannya seperti ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN