BAB 62

1061 Kata
"Razel, kamu dari mana?" tanya Rara saat saudara tirinya itu baru saja masuk rumah. Saat ini Rara sedang duduk di ruang tamu. "Dari super market," jawab Razel singkat, lalu berlalu ke kamarnya. "Tuh, kan, benar. Kayaknya Razel emang lagi marah deh sama aku, gak biasanya dia begitu." Rara pun akhirnya berniat mengekori cowok itu. Razel yang menyadari Rara mengikutinya segera memberhentikan langkah, membuat kepala Rara tersandung dengan punggung Razel. "Mau ke mana?" tanya Razel. "Mau ngikutin Razel aja." "Gue mau ke kamar, mau ke toilet juga. Yakin mau ikut?" Rara pun memundurkan langkahnya. Kakinya digesekkan ke lantai keramik. "Razel sebenernya kenapa, sih?" tanya Rara menunduk tak berani menatap muka Razel. "Lah, emang gue kenapa?" "Aku rasa Razel beda aja gitu. Nggak kayak biasanya. Hm ... Rara ada salah, ya?" Razel membalikkan badannya. Tangan cowok itu mengusap rambut gadis itu pelan. "Lo gak ada salah apa-apa, kok. Gue juga kayak biasa aja, nggak berubah. Mungkin perasaan lo aja kali." "Gak mungkin. Razel berubahnya keliatan banget. Jujur aja!" Tangan Razel pun berubah memegang kedua pundak gadis itu. "Gue serius. Maaf kalau sifat gue keliatam berubah di mata lo" Dalam hati Razel berteriak. Sungguh sakit menahan perasaan yang tak bisa tersampaikan. Bagaimana lagi, kan? Mereka tak ditakdirkan bersama. "Beneran, nih?" "Iya." "Ya udah, deh, kalau gitu." "Kalau gue boleh nanya, sih. Foto cowok yang di kamar lo itu siapa?" tanya Razel. Jadi, setelah ia diam-diam mengambil foto itu kemarin, untung saja Rara tidak ngeh fotonya hilang. Razel kembali meletakkan foto itu di tempat semula, saat Rara tak di rumah. Jadi, sekarang foto itu sudah kembali terletak di kamar Rara. "Foto yang mana?" "Itu, foto anak kecil yang lo pajang di kamar." "Yang mana, sih?" Rara mendadak lupa, karena ada banyak foto yang ia pajang di kamar, termasuk fotonya. "Itu di kamar lo, ada--" "Ya udah, ke kamar aku aja langsung lihat!" ajak Rara menarik tangan Razel. Ia membawa cowok itu masuk ke kamarnya. "Foto yang mana?" tanya Rara. Razel pun berjalan mendekati nakas, lalu mengambil figuran foto itu. "Ini ... siapa?" Sebenarnya Razel tak perlu menanyakan lagi, sudah pasti itu cowok yang ditaksir Rara sejak kecil. Melihat itu Rara tersenyum, ia mengambil alih foto itu lalu segera memeluknya. Tentu saja melihat reaksi Rara seperti itu, membuat Razel semakin yakin jika yang ada di foto itu adalah .... "Ini foto ayah kandungku saat masih kecil." Sontak, Razel langsung terkejut. Ia menatap tak percaya. Buru-buru cowok itu menepuk dahinya pelan. Bisa-bisanya ia salah paham terhadap foto itu. "Foto ... almarhun bokap lo?" "Iya." "So--sorry, gue pikir ...." "Emang kamu pikir siapa? Foto cowok yang aku taksir gitu?" Muka Razel langsung memerah, ia sudah salah sangka. Ia juga malu terbakar api cemburu oleh foto tersebut. "Oh, aku paham. Apa karena itu kamu berubah?" tanya Rara mendekatkan mukanya ke Razel membuat cowok itu tak berkutik. "Ngg--gak kok bukan itu. Udah, ya, gue mau ke kamar dulu," ujar Razel segera pergi dari situ. Rara terkekeh pelan. "Memang, sih, ada orang yang aku taksir sejak kecil walau gak pernah ketemu lagi, tapi aku gak punya fotonya. Hanya gelangku yang menjadi pegangan buat dia." Rara kembali teringat kejadian sembilan tahun di taman, saat ia kehilangan Bi Anti, ada seorang cowok yang menemaninya. Untuk membalas kebaikan cowok itu, Rara memberikan satu gelang besinya. Cowok itu mengaku bernama Pangeran Zen Wisteria. "Kira-kira, kapan ya kita bisa ketemu lagi, Pangeran?" Rara menggeleng, menepuk pipinya pelan. "Nggak boleh gitu! Aku kan sekarang udah jadi pacar Arsya. Jadi, gak boleh haluin Pangeran Zen lagi," ujarnya. Gadis itu lalu merebahkan badannya. Hari ini ia resmi berpacaran dengan Arsya. Ternyata menyenangkan juga, apalagi cowok itu membuktikan perasaannya dengan cara memtuskan semua pacarnya. Namun, apakah semua akan berjalan baik-baik saja? *** Adimas sudah berdiri di depan gedung perusahaan papinya. Ia menghela napas dahulu sebelum masuk. Kali ini ia akan menghadap papinya itu sebagai seorang gadis yang tentunya bukan sebagai anak Alex. "Tapi kalau Papi ngenalin gue, sih, berarti Papi hebat!" ujarnya. Ia pun masuk lalu berjalan ke tempat resepsionis. "Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" "Saya ingin bertemu dengan Pak Alex, Mbak." "Waduh, maaf sekali, Mbak. Pak Alex-nya baru saja keluar." "Ke luar mana, Mbak?" "Maaf sebelumnya, jika boleh tau, Mbak ini siapa, ya? Apakah sudah ada buat janji dengan Pak Alex?" "Saya ... ehmm, istrinya," jawab Adimas menggigit bibir bawahnya. Bisa-bisanya ngaku sebagai istri dari papinya sendiri. "Wah maaf ya Ibu. Saya baru di sini jadi tidak tahu. Pak Alex sedang di luar, ada meeting dengan clien di luar perusahaan, Bu. Di kafe dekat sini, di seberang jalan persimpangan tiga." 'Busyet, gue dipanggil ibu-ibu,' batin Adimas. Ia hanya bisa mendengkus di dalam hati. Masih mending, daripada selama ini selalu dipanggil mas atau bro. "Baik, terima kasih, Mbak." "Sama-sama, Bu. Terima kasih kembali." Resepsionis itu tampak membungkukkan badannya sedikit. Adimas segera berbalik, keluar dari perusahaan itu. "Bodo amat dipanggil Ibu-ibu, yang penting gue masih diakui sebagai cewek." Adimas pun memesan ojek kembali, ia menata alamat ke kafe yang dimaksud oleh Mbak resepsionis tadi. Tak terlalu jauh dari sini, tetapi Adimas tak ingin membuang tenaga jika harus berjalan kaki. Lebih baik naik ojek saja. Tak lama ojek pesanannya pun datang. Adimas segera menaiki ojek itu menuju kafe yang ditempatin papinya sekarang. "Papi awas aja kalau gak kenal sama aku, ya," ujar Adimas mengancam. Ya iya, ia sudah menyamar seperfetc mungkin. Padahal selama inilah Adimas yang menyamar untuk menyembunyikan identitas aslinya. Dirinya yang sekarang wujud asli dari diri Adimas itu sendiri. Tak butuh waktu lama, akhirnya Adimas sampai di kafe yang dimaksud resepsionis tadi. Ia segera masuk, menyisir tempat dengan matanya, melihat di mana keberadaan sang pali. Ketemu! Di ujung sana, sedang mengobrol dengan clien dan sekretarisnya yang berdiri di belakang. Lebih baik Adimas menunggu saja. Setidaknya sampai papinya itu makan, jadi lebih santai. Sekarang tampaknya Alex sedang bertemu tamu penting, klien bukan sembarang klien. "Oke, gue tunggu!" Lima belas menit kemudian, akhirnya Alex dan cliennya itu bisa menikmati makanan pesanan mereka. Inilah kesempatannya. Adimas pun bangkit dan berjalan menghampiri papinya itu. Ia jadi gemetaran sendiri. Adimas berdeham pelan. "Maaf, Bapak-bapak. Maafkan saya jika mengganggu. Saya hanya ingin bertemu dengan Pak Alex. "Saya? Kamu ada perlu apa dengan saya?" sahut Alex. Adimas lalu menghadap ke arah papinya itu, anggap aja seperti adegan slow motion. "Loh, kamu bukannya ...." Alex menunjuk ke arah Adimas yang membuat gadis itu menegang. Jangan-jangan Alex memang tahu jika dia adalah putrinya? Apa yang akan terjadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN