"Ya. Saya kebetulan saja berada di sini dan lihat kamu." Bukan, itu bukanlah suara Adimas, melainkan suara seseorang di belakangnya. Sontak gadis itu segera menoleh, matanya melotot menatap Farah yang kini tepat di belakangnya.
"Mau ikut duduk?" tawar Alex.
"Tidak, terima kasih." Farah kembali memasang kacamata hitamnya yang tadi ia pakai. Tangannya lalu menarik tangan Adimas segera pergi dari situ.
"Mami, kok bisa ada di sin--"
"Nanti aja bicaranya, sekarang masuk ke mobil Mami cepat!" suruh Farah.
"Tapi, Mam, aku mau ketemu pa--"
"Ayo, cepat, De! Masuk!"
"Mami ...."
"Masuk, De!"
Adimas menghela napas, lalu menunduk. Ia pun segera menuju mobil maminya yang terparkir di parkiran.
Adimas menggerutu kesal, ia langsung masuk ke mobil dan duduk di belakang.
Tak lama, Farah pun masuk ke mobilnya duduk di tempat pengemudi. Ia menoleh ke belakang menatap Adimas yang duduk melengah tak menatapnya.
"Siapa suruh kamu duduk di belakang? Kamu pikir Mami supir kamu, apa? Cepat pindah!" suruh Farah.
"Di sini aja, malas pindah ke depan."
"Pindah, De!"
Adimas kembali mendengkus, lalu segera pindah ke depan. Ia memilih menghadap ke kaca, membelakangi Farah.
Maminya itu pun mulai menjalankan mobil. Farah bernapas lega, untung tadi ia sempat mencegat Adimas bertemu Alex. Ia tak sengaja menatap Adimas masuk ke restoran itu, ya walaupun putrinya itu berpenampilan seperti gadis biasa, ia masih bisa mengenalinya. Buru-buru Farah mengikuti Adimas dan ternyata ia tahu, jika Adimas ingin bertemu dengan Alex.
Apakah putrinya itu ingin memberitahu papinya jika ia sebenarnya adalah perempuan? Oh, tidak! Farah tak bisa membiarkan itu terjadi sekarang.
"Apa maksud kamu dandan seperti ini, ha?" tanya Farah.
"Wajar aja, kan, Mam? Aku kan cewek."
"Ya tapi nggak cocok sama kamu, Adimas!"
"Cocok aja, kok, yang gak cocok itu selama ini berpenamilan seperti cowok."
"Lalu, kamu merasa keberatan sekarang? Sudah gak mau nurutin apa ucapan Mami lagi, iya?"
"Bukan gitu, Mam. Tapi aku udah dewasa dan aku butuh alasan kenapa Mami selama ini menyembunyikan identitas asliku? Sampai papiku sendiri aja gak tau."
"Kamu gak akan ngerti, De! kamu gak akan tau apa yang Mami lalui. Jadi, lebih baik kamu nurut aja sama Mami."
"Nggak tau, deh, gak ngerti lagi sama jalan pikir Mami. Alasan gak jelas tapi malah maksa aku kayak gini," ujar Adimas yang sudah pasrah.
"Kamu kenapa, sih? Nggak kayak biasanya juga kamu gini? Dulu kamu juga anti kan sama penampilan cewek begini? Kamu juga udah nyaman tomboi. Terus sekarang kenapa?"
Dalam hati Adimas menjawab, 'karena ini aku sudah kehilangan orang yang kusuka.'
"Mami juga gak akan ngerti, kok." Adimas membalikkan ucapan maminya itu kembali.
"De ... Mami sekarang udah pusing, ya, jangan bertingkah seperti anak kecil begini."
"Nggak kok, aku biasa aja, tapi Mami yang--"
"Udah, cukup! Mami gak suka ya kamu seperti ini. Makanya Mami ingin anak cowok! Yang gak banyak tingkah, yang nurut, yang--"
"Oh!" Adimas tertawa. Namun, tawanya terbesit kepedihan. "Jadi Mami ingin aku jadi laki-laki karena ingin punya anak laki-laki, ya? Sayangnya aku lahir sebagai perempuan. Lalu, kenapa tetap Mami besarkan? Kenapa gak buang aku aja dari lahir?"
"ADIMAS!" bentak Farah. Ia memberhentikan mobilnya, lalu memukul setir mobil keras.
Mata Adimas berkaca-kaca, hatinya sangat terluka saat Farah berbicara seperti itu padanya. Seolah-olah maminya itu menyesal melahirkan seorang anak perempuan sepertinya.
"Kenapa, Mi? Benarkan? Mami gak seneng aku lahir sebagai perempuan."
"Jaga omongan kamu, ya! Kamu itu anak Mami!"
"Ya tapi kenapa Mami gak mau menerima aku sebagai PEREMPUAN?" Adimas menghadap menatap maminya dengan mata berkaca-kaca.
"De ...."
"Kenapa? Kalau gitu sebaiknya aku nggak lahir, kan?"
"De, kamu--"
"Ya udah, kalau gitu anggap aja selama ini aku nggak lahir, Mi. Anggap aku gak pernah ada." Adimas membuka pintu mobil, lalu keluar.
"De! De kamu mau ke mana?"
Adimas segera berlari menjauh. Farah pun keluar, hendak mengejar Adimas, tetapi putrinya itu sudah menghilang. Farah memukul bibirnya.
"Apa yang sudah aku katakan?" Ia sungguh menyesal, tadi Farah hanya kesal, jadi omongannya tak bisa dikontrol.
"Dee, maafkan Mami." Farah segera masuk ke mobil, ia berharap jika Adimas nanti pulang sendiri ke rumah.
Melihat mobil maminya sudah pergi, Adimas keluar dari persembunyiiannya. Ia lalu memesan ojek, ia akan ke suatu tempat yang pasti bukan pulang ke rumah.
Air mata begitu deras meluncur di pelupuk matanya. Walaupun ia selama ini terlihat seperti cowok. Namun, fakta dirinya seorang gadis tdakah bisa diubah. Bagaimanapun hati seorang gadis pasti lebih lembut dan mudah terluka.
"Ojek, Mbak?"
"Iya, Mas."
Adimas pun segera menaiki ojek itu. Ia harus menenangkan pikirannya dulu di suatu tempat.
***
Di sinilah Adimas berada. Di danau yang selalu ia kunjungi ketika ada masalah. Danau yang bisa menenangkan hatinya.
Adimas duduk menyelonjorkan kakinya, menatap hamparan danau luas yang tenang. Kicauan burung pun terdengar mengalun indah.
Ucapan maminya tadi selalu terngiang-ngiang di otaknya, mau melupakan ucapan itu, hatinya terus merasa sakit. Tak seharusnya Farah berbicara seperti itu padanya, bukan?
Adimas lalu memilih mematikan HP-nya. Ia tak ingin ada yang mengganggunya sekarang. Adimas butuh kesendiran sampai ia benar-benar tenang.
***
Razel menatap undangan di tangannya, kemarin ia tak sengaja bertemu dengan teman ceweknya dan memberikan undangan ulang tahun itu padanya.
Namanya Caca, teman sekelas Razel saat SMP. Ia dulunya adalah sekretaris kelas. Jadi, sekarang Razel berpikir apakah sebaiknya ia datang atau tidak? Ia sebenarnya malas sekali urusan acara seperti ini. Lebih baik ia tidur saja di rumah.
Namun, Caca sangat mengharapkan kedatangannya. Bagaimanapun Caca sama sekali tak menjauhinya dulu, walaupun semua temannya tak menyukai Razel.
"Gue dateng atau nggak, ya? Atau ajak Rara aja?" tanya Razel. Daripada datang sendirian, bukan?
"Gue lihat Rara dulu, deh." Ia bangkit, lalu keluar kamar, menuju ke kamar Rara. Seperti biasa pintu kamar gadis itu tak terkunci.
Ia mendorong sedikit pintu, melihat Rara yang tampak sedang VC-an dengan pacarnya. Buru-buru Razel kembali menutup pintu. Jika begini ia juga tak ingin mengganggu.
"Masa gue ganggu orang yang lagi pacaran," ujarnya.
Razel pun kembali ke kamarnya. "Ya udahlah, gue pergi sendiri aja. Yang penting dateng ketemu Caca, abis itu pulang," ujar Razel.
Bisa-bisanya cowok itu PD datang tanpa membawa kado untuk orang yang berulang tahun. Namun, bagi Razel yang penting ia sudah datang, daripada tidak datang padahal sudah diundang bukan?
Razel memakai hoodie, lalu segera pergi. Acaranya jam tujuh malam. Untung ia sudah selesai sholat magrib.
Razel pun menjalankan motornya, rumah Caca tak terlalu jauh dari sini, ia hanya akan melewati persimpangan jalan di depan.
Setelah hampir sampai di persimpangan, mata Razel menyipit menatap seseorang yang berjalan sendirian di tepi jalan itu. Penasaran, Razel pun melajukan motornya menghampiri gadis itu.
"Hei!" panggil Razel. Gadis itu pun menoleh. Mata Razel memelotot, muka gadis itu familier baginya.
"Farah?" ujar Razel memanggil namanya.
Ya, Farah yang dimaksud Razel adalah ... Adimas!
Tanpa aba-aba, sontak gadis itu segera mendekati Razel, lalu tiba-tiba memeluknya, yang membuat cowok itu terkejut.
Ada apa dengan Farah? batin Razel heran.