Selama beberapa menit pelukan itu tak dilepaskan oleh Adimas. Entah kenapa begitu terasa hangat di dalam pelukan cowok itu. Adimas juga tak mengerti kenapa ia tiba-tiba bisa memeluk Razel.
"Lo ... Farah, kan? Yang pernah ketemu sama gue di danau?" tanya Razel memastikan.
Adimas baru ingat, jika ia memperkenalkan diri sebagai Farah pada cowok itu. Namun, untuk sekarang ia sedang tak ingin dipanggil dengan nama itu.
Adimas melepaskan pelukannya. "Panggil gue De aja, ya."
"De?"
"Iya. Nama kecil gue. Lo boleh manggil gue De," ujar Adimas.
"Oke, De."
"Sorry tadi gue--" Belum selesai Adimas berbicara, tiba-tiba Razel kembali menariknya ke pelukan.
Gadis itu dibuat tertegun, jantungnya langsung berdetak kencang. Adimas dapat merasakan aroma wangi cowok itu. Hangat dan nyaman.
"Lo boleh peluk gue kapan aja."
Adimas menggigit bibir bawahnya pelan, menahan isak tangis yang hendak keluar. Razel semakin mengeratkan pelukannya. Ia tak tahu apa yang terjadi pada gadis itu, tetapi Razel bisa merasakan jika telah terjadi sesuatu yang menyakitkan.
"Makasih." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Adimas saat ini.
"Iya, sama-sama."
Razel lalu melepaskan pelukannya. Saatnya bertanya pada gadis itu karena tampaknya ia sudah tenang.
"Lo kenapa? Butuh teman cerita? Kita ke kafe di depan sana aja, yuk!" ajak Razel. Adimas pun hanya bisa mengangguk.
Razel menghidupkan motornya lalu menyuruh Adimas naik. Kafe itu berada di seberang jalan. Sepertinya Razel tidak jadi ke pesta ulang tahun Caca. Ya bagaimana lagi, kan? Lagi pula ia tak menyiapkan kadk apa pun, urusan Caca nanti saja ia urus belakangan.
Razel lalu mengajak Adimas masuk, gadis itu menurut saja. Jika dipikir-pikir perutnya juga sudah keroncongan.
Mereka memilih duduk di pojokan. Kafe ini juga tak terlalu ramai malam ini.
"Lo mau pesan apa?" tanya Razel.
"Nasi goreng komplit aja sama teh manis."
"Oke, gue juga. Nasi goreng komplitnya dua, teh manis dua, Mbak," ujar Razel kepada pelayan kafe.
"Baik, Mas, mohon tunggu sebentar." Pelayan itu segera kembali.
Kini tatapan Razel pada gadis di hadapannya. Ia jadi penasaran. "De?" panggilnya.
Mata Adimas pun menatap Razel. "Iya."
"Lo kenapa?"
"Gak pa-pa," jawab Adimas cepat.
"Gak mungkin."
"Beneran, kok."
"Terus kenapa lo nangis?" Tangan Razel lalu mengangkat dagu Adimas agar menoleh ke arahnya. "Tatap mata gue."
Adimas kembali melengah. Ia sebenarnya tak ingin menceritakan masalahnya, tetapi jika sudah begini, sepertinya tidak apa-apa jika ia bercerita.
"Gue ... berantem dikit sama nyokap."
"Oh, sorry, gue gak maksud nyinggung privasi keluarga lo," ujar Razel tak enak.
"Gak pa-pa. Ya itu aja, sih, masalahnya. Jadi, gue gak ada niatan buat pulang."
"Terus, lo mau nginep di mana?" tanya Razel. Tak mungkin ia biarkan seorang gadis berjalan malam-malam seperti ini.
"Aman. Gue mau kembali ke rumah bokap aja."
"Emangnya nyokap sama bokap lo gak serumah? Eh, so--sorry." Lagi dan lagi Razel merasa bersalah.
"Tenang aja, Zel, gue sama sekali gak tersinggung kok. Ya, memang gak serumah," jawab Adimas.
Tidak mungkin juga Razel mengulik lebih dalam masalah keluarga gadis itu, kan?
"Apa pun masalahnya, lo harus tetap kembali ke rumah, walaupun bukan sekarang."
"Iya."
"Karena gue yakin, nyokap lo selalu nungguin lo pulang."
"Hm, iya."
Seberat apa pun masalahnya. Orang tua adalah tempat pulang anaknya.
Jadi, tidak ada alasan untuk meninggalkan rumah.
"Makasih udah ngingetin," ujar Adimas.
"Sama-sama."
"Permisi ... Mas, Mbak. Ini pesanannya." Pelayan kafe itu lalu meletakkan makanan pesanan mereka.
"Terima kasih, Mbak," ujar Adimas dan Razel serentak.
"Wah, kompak sekali, ya. Udah berapa lama jadiannya?" goda pelayan itu, yang membuat keduanya membungkam suara.
"Belum jadian, Mbak," jawab Razel.
"Wah, kalau begitu semangat buat Masnya!" ujar pelayan itu memberi dukungan yang membuat Razel terkekeh pelan.
Pipi Adimas memerah, ia bukannya tersipu tetapi hanya membayangkan bagaimana jika Razel tahu, dirinya ini adalah Adimas, yang dianggap cowok menyebalkan oleh Razel sendiri.
'Mpus gue kalau ketauan, mending jaga sikap terus deh,' batin Adimas lebih berwaspada.
"Ayo dimakan dulu, De!" suruh Razel.
"Iya. Lo juga."
Mereka pun makan bersama. Setidaknya Adimas bersyukur bertemu Razel malam ini. Jadi, ia tak terlalu kesepian.
***
"Ra, gue matiin bentar, ya. Mama gue manggil."
"Oke, Sya."
Telepon pun dimatikan. Rara menyimpan HP-nya. Padahal baru tadi mulai berpacaran, tetapi mereka sudah semakin terbuka saja.
Rara lalu turun dari kasurnya untuk pergi ke dapur, mencari air pelepas dahaganya. Kerongkongannya terasa kering, butuh asupan air.
Namun, saat melewati kamar Razel, ia melihat pintu kamar terbuka. Rara pun memilih masuk untuk melihat saudaranya itu.
"Loh, Razel ke mana, ya?" tanya Rara. Ia mencari ke sepenjuru kamar tak menemukan cowok itu.
Mata Rara menatap sesuatu di atas meja. Sebuah undangan.
"Wah, Razel pergi pesta, ya. Tumben banget," ujar Rara tersenyum. Sebuah kemajuan, bukan?
"Syukur, deh, Razel udah lebih baik sekarang. Aku mau dia terus berkembang," ujar Rara. Ia pun keluar dari kamar Razel menutup pintunya.
Rara melanjutkan langkah menuju dapur.
"Loh, belum tidur, Bik?" sapa Rara saat melihat Bik Anti masih di dapur.
"Non Rara. Belum, Non. Ini Bibik mau beres-beres."
"Dilanjut besok aja, Bik. Udah malam."
"Aduh, Non Rara teh baik pisan. Tapi nggak pa-pa, Non. Ini Bibik juga udah mau selesai."
Rara mengambil air, lalu meneguknya. "Oke, deh, habis ini langsung tidur ya, Bik. Rara tidur duluan!" ujar Rara.
"Baik, Non. Selamat tidur!"
Bik Anti tersenyum. Rara tak pernah berubah. Ia selalu dianggap seperti keluarganya saja di sini.
"Semoga Non Rara mendapatkan kebahagiaan."
Rara kembali ke kamar. Mengecek notifikasi yang masuk ke HP-nya. Ternyata ada pesan dari Arsya.
[Teman gue si Adimas gak pulang ke rumah, kata nyokapnya dia ngilang.]
Rara terkejut membaca pesan itu. Ia lalu menelepon Arsya yang langsung diangkat oleh cowok itu.
"Halo, Sya. Terus gimana? Kamu nggak nyari dia?"
"Adimas kalau ngambek selalu gitu, tapi entar dia juga balik sendiri," ujar Arsya tanpa beban.
"Duh, Sya, gak boleh gitu. Kalau ternyata dia tersesat di jalanan terus gak bisa hubungi siapa-siapa, gimana?" Rara saja khawatir, masa Arsya yang sahabat dekatnya terlihat biasa saja.
"Yaudah entar gue telepon."
"Telepon sekarang aja!" suruh Rara. "Kamu harus pentingin sahabat kamu dulu, oke!" Rara mematikan telepon.
Ia sedikit kesal dengan Arsya. Bukan karena cowok itu yang masih menggunakan panggilan lo-gue, tetapi karena melihat Arsya yang masih tetap santai ketika sahabatnya hilang.
"Bagaimanapun sahabat itu harus selalu ada untuk sahabatnya," ujar Rara. Ia juga terpikiran tentang Adimas.
"Adimas, di mana pun kamu berada, semoga baik-baik saja."