"Adiba," panggil Adimas.
Gadis kecil yang masih kelas tiga SD itu pun membuka telapak tangan yang menutupi mukanya.
"Kak Dimas!" teriaknya senang, lalu menghambur ke pelukan sang kakak.
Adiba adalah adik se-ayah beda ibu dengan Adimas. Ibu dari Adiba adalah Pilar—istri ketiga Alex.
Adiba selalu dikucilkan oleh kedua kakak perempuannya, karena ia berbeda ayah dengan kedua kakaknya itu.
Kedua kakak Adiba yaitu, Lina dan Lini. Mereka berdua kembar.
Adiba juga terlahir kembar. Kembaran Adiba adalah laki-laki yang bernama Abidar. Namun, saat umur dua minggu Abidar meninggal. Sejak saat itu, kedua kakaknya membenci Adiba. Mereka selalu berkata, "kenapa bukan Adiba saja yang meninggal, biarkan Abidar hidup." Mereka memang sangat menginginkan adik laki-laki.
Apakah mereka tidah tahu, jika kematian adalah sebuah takdir? Bukan Abida yang menginginkan saudara kembarnya meninggal.
"Kenapa, Dek? Cerita sama Kakak. Lina, Lini, lagi?"
Adiba melepaskan pelukannya. Ia hanya menunduk, takut jika bercerita dengan Adimas malah semakin membuat kedua kakaknya marah.
"Nggak usah takut. Cerita aja."
"Bu ... buku Adiba diambil Kak Lina dan Kak Lini, Kak. Padahal itu buku tugas Adiba, ta ... tadi Adiba dimarahin sama Bu Guru, karena nggak ngumpulin tugas."
Tangan Adimas terkepal. Lina dan Lini memang sudah kelewatan.
"Kamu kenapa nggak aduin tingkah mereka ke mama kamu?" tanya Adimas.
"Percuma, Kak. Mama pasti lebih percaya sama Kak Lina, Lini."
"Ya udah, ayo ikut kakak!" ajak Adimas menarik tangan Adiba pelan. Ia pun berjalan ke arah lift. Adimas yakin Lina dan Lini berada di lantai paling atas.
Ternyata benar. Lina dan Lini sedang berjoget ria dengan musik yang memekakkan telinga.
"Woi!" panggil Adimas keras. Gadis tomboy itu melempar speaker di atas meja ke lantai yang membuatnya mati seketika.
Lina dan Lini pun langsung berhenti berjoget. Ia menatap Adimas takut.
"Ka--kak Dimas."
"Hebat, ya. Udah merasa paling hebat? Paling berkuasa? Mana buku Adiba, ha!" bentak Adimas.
Lina langsung mengode Lini. Gadis itu pun mengambilkan buku Adiba yang mereka sembunyikan di dalam laci.
"Kembaliin cepat!" suruh Adimas.
Lini pun memberikan buku itu ke Adiba. Ia menatap adiknya itu tajam. Adimas mengetahui itu.
"Biasa aja, dong, mata besar lo itu!" bentak Adimas yang membuat Lini terkejut dan segera kembali berdiri di samping Lina.
"Sekali lagi, ya, gue peringatin lo berdua! Sampai kalian jailin Adiba lagi. Gue nggak akan kasih ampun," ancam Adimas tidak main-main.
"Paham, nggak!"
"Paham, Kak."
***
Adimas membawa Adiba duduk di taman belakang rumahnya, yang terdapat gazebo dan kolam renang. Tempat paling tenang untuk bersantai.
"Kak Lina dan Kak Lini sebenarnya nggak jahat, kok, Kak. Cuma sering gangguin Adiba aja. Kadang Kak Lina, Lini, juga beliin Adiba kue," ucap Adiba membela kedua kakak kembarnya.
Lina dan Lini masih kelas satu SMP. Wajar sebenarnya jika mereka suka usil, akan tetapi terkadang keusilan mereka malah merugikan Adiba dan itu yang membuat Adimas marah.
Adiba selalu disuruh-suruh oleh Lina dan Lini. Walaupun terkadang mereka juga membawa Adiba berbelanja di Mini Market. Sikap buruk mereka lebih dominan sebenarnya.
"Tapi kamu nggak usah terlalu dekat sama mereka. Nanti kamu dimanfaatin, Dek."
"Iya, Kak."
"Kalau Kakak nggak main ke sini, kamu mending main sama Kak Zahra aja," ujar Adimas.
Zahra adalah kakak pertaa mereka—anak dari Yuni. Walaupun hanya kakak tiri, karena mereka tidak seayah. Namun, Zahra sangat menyayangi adik-adiknya.
Saat ini Zahra sedang kuliah. Makanya jarang di rumah, karena sibuk dengan tugas-tugasnya.
Alex menikahi Yuni yang memang sudah berstatus janda. Alex dulu terpaksa menikahi Yuni, karena Ayah Alex—kakek Adimas—menyuruhnya menikahi Yuni, karena Yuni adalah kakak angkat jauh Alex.
Ari—Ayahnya Alex—sangat menyayangi Yuni seperti anak sendiri, karena orang tua Yuni menitipkan anak mereka pada Ari sebelum meninggal. Maka dari itu, sebelum Ari pun meninggal, ia ingin Alex menikahi Yuni.
Walaupun menikah tanpa cinta. Namun, Alex tetap menyayangi Yuni dan Zahra. Satu tahun kemudian, Alex menikah dengan Farah—Mami Adimas—yang memang berdasarkan cinta.
Farah adalah first love Alex dan mereka dulunya satu sekolah, dari SMP sampai berkuliah. Sebenarnya Alex akan menikahi Farah. Namun, ia terpaksa menikahi Yuni terlebih dahulu, barulah menikahi Farah—wanita yang ia cintai.
Farah sama sekali tak mempermasalahkan tentang Yuni, karena mereka bisa berteman baik. Farah tahu jika Yuni kakak angkatnya Alex. Jadi, ia tak akan cemburu. Yuni pun tak cemburu jika Alex lebih mencintai Farah daripadanya.
Lalu, kenapa Alex sampai menikah dengan Pilar? Itu akan dibahas nanti saja. Sedikit info, Pilar adalah sepupu jauhnya Farah.
Adimas bangkit, sudah seharusnya ia pulang. Ia ada janji dengan Arsya. Pasti sahabatnya itu sudah menunggu.
"Kakak pulang dulu, ya. Baik-baik di sini. Nanti Kakak ajarin silat, deh, biar kamu bisa lawan si Lina, Lini," ucap Adimas terkekeh.
"Siap, Kak. Hati-hati."
"Ya udah, bye!"
"Bye, Kakak ganteng!" ucap Adiba tersenyum.
Oh, ayolah! Keluarga sendiri pun menganggap Adimas seorang pria. Memang begitulah yang diinginkan Adimas dan Farah.
***
Saat sampai rumah Adimas langsung dihadang oleh Arsya.
"Ke mana aja lo, De? Lama banget. Mending tadi gue lama-lama aja di sekolah sama cewek-cewek gue."
"Dih. Ya sorry, gue tadi ke rumah bokap."
"Terus sekarang, gimana? Jadi perginya?"
"Ya, jadilah. Ayo!"
Arsya pun menaiki motor Adimas, karena motornya masih di bengkel. Arsya memilih biarlah ia membonceng Adimas, daripada sebaliknya.
Adimas mengajak Arsya ke tempat yang bernama Adimastria. Tempat yang memang khusus dihadiahkan oleh Alex untuk Adimas.
Tempat dengan tanah luas, ada sungai kecil, pondok tempat duduk-duduk. Ada ayunan kayu juga dan terakhir, ada berbagai macam tanaman yang dapat menyejukkan mata.
Tempat ini berada tak terlalu jauh dari rumah mereka, tetapi jika berjalan kaki juga akan terasa penat.
Adimas mengatakan pada Arsya jika ada yang ingin ia bicarakan di sana.
Saat turun dari motor Arsya, Adimas langsung berjalan ke pondok yang ada di sana. Pondok kecil untuk duduk-duduk bersantai.
"Lo mau ngomongin apaan, De? Kenapa nggak ngomong di rumah aja?"
"Gue cuma mau ngomong ini sama lo, Sya."
"Ya udah, apaan?"
"Bentar dulu, napa. Baru juga nyampe," kesal Adimas.
"Eh, tapi, sebelum lo ngomong. Gue juga mau cerita. Tadi, gue ketemu sama cewek cantik. Gila, cakep banget, De! Terus, suaranya lembut banget kayak tikus kejepit. Dia pendek, sih, tapi malah imut-imut menurut gue kayak kecebong."
"Lo lagi muji apa ngehina?"
"Dua-duanya. Eh, tapi serius! Namanya Rara. Tadinya gue mau nembak langsung, tapi dia keburu pulang. Mungkin gue coba besok. Menurut lo gue diterima, nggak? Ya, diterimalah, kan, siapa coba yang berani nolak gue. Cowok ganteng perisa apel gini."
Adimas hanya mendengkus mendengar celotehan Arsya dengan kepedean melebihi langit.
"Sya, giliran gue ngomong," ucap Adimas.
"Iya. Silakan, Pangeran. Eh ... Tuan Putri maksudnya," ucap Arsya terkekeh.
"Serius," ketus Adimas.
"Eh, iya, iya. Ampun. Silakan, lo mau ngomong, apaan? Serius amat kayak b***k susah keluar."
"Sya!"
"Iya, sorry. Lanjut, De!"
"Gue selama ini kayak ... hmm, ya ... gitu." Adimas mendadak bingung juga dengan apa yang akan ia katakan.
"Hadeh, gue kentutin juga lo, De!"
"Hehe. Gue juga bingung. Hekhem, oke. Udah." Adimas menghela napasnya, lalu mengembuskan pelan.
"Gue masih heran aja gitu, kenapa nyokap gue nyembunyiin identitas asli gue. Kenapa gue dibuat kayak cowok? Gue kayak kehilangan jati diri, Sya. Lihat ... saat ke pesta, di mana cewek-cewek pakai gaun, gue malah pakai jas, Sya!"
"Pfft ...." Arsya malah menahan tawa, sangat tidak tepat untuk situasi seperti ini.
"Sya, lo bisa serius, nggak, sih," kesal Adimas ketus.
Arsya terkejut saat menyadari jika mata Adimas berkaca-kaca. Gadis tomboy itu menangis? Ulangi, Adimas menangis? Momen langka yang sangat jarang dilihat Arsya.
"Ma--maaf, De. Gue pikir lo nggak akan ngomong seserius ini," ucap Arsya merasa bersalah.
"Gue juga kepengen kayak anak cewek biasanya. Lo bisa bayangin, nggak, di saat orang tua lo berharap yang lahir adalah anak laki-laki, tapi yang lahir malah cewek? Berat, Sya. Lo nggak akan bisa ngerasainn gimana jadi gue, belum lagi dituntut ini itu. Gue juga kepengen sekolah umum, punya banyak teman, kayak lo. Tapi, sejak kecil, gue udah homeschooling itu pun guru gue nyokap sendiri."
Adimas menyeka air matanya yang terjun begitu saja. Arsya terdiam. Ikut merasakan apa yang dialami oleh Adimas.
Arsya juga ingin sekali satu sekolah dan sekelas dengan Adimas, pasti seru. Namun, sayang sekali, keinginan itu tak dapat diwujudkan oleh Farah.
"Gue tahu, nyokap sayang sama gue. Ya, gue juga sayang sama nyokap, tapi keputusan dan pilihan nyokap nggak pernah mau dengerin pilihan gue."
Arsya mengusap bahu Adimas pelan.
"Gue capek, Sya. Capek berpura-pura menjadi seorang cowok di hadapan orang-orang."
Arsya mendekatkan duduknya. Saat ini memang Arsya duduk berhadapan dengan Adimas. Tangan Arsya tergerak menangkup kedua pipi Adimas. Cowok itu menatap tepat pada bola mata gadis itu.
"De. Lo keren. Lo hebat. Lo bahkan orang paling kuat yang gue kenal," ucap Arsya dengan nada paling serius. Matanya masih menatap Adimas.
"Selama ini lo udah bertahan. Lo ikuti aja sama alur yang dibuat nyokap lo sampai ke titik final. Jika ini yang terbaik buat nyokap lo, pasti akan baik juga untuk lo, tapi jika ini bukanlah pilihan terbaik. Gue, bunda, dan ayah gue bakal ada untuk lo pulang. Kita keluarga, kan, De. Kita saudara. Lo ... sama gue. Satu hati, satu jantung, satu pikiran. Jadi, lo nggak usah takut. Gue akan selalu ada untuk lo. Gue akan jadi pelindung lo." Arsya berkata sangat bijak dengan raut muka serius. Matanya terlihat indah di mata Adimas.
Tidakkah Arsya tahu. Jika detik itu juga, Adimas terkagum. Jantung gadis itu berdetak kencang. Matanya tak lepas menatap mata Arsya yang membuat ia tenang.
Arsya langsung memeluk gadis itu. Adimas membenamkan kepalanya di bahu Arsya. Tangis Adimas pecah. Arsya memang selalu ada untuknya.
Perasaan kagum satu menit yang lalu, sudah berubah menjadi perasaan suka. Sayang sudah tentu. Namun, cinta? Apakah cinta sudah hadir di hati Adimas untuk Arsya?
Lalu, apakah Arsya juga memiliki perasaan yang sama? Sedikit diragukan, karena Arsya sudah bertemu dengan Rara.
Akan tetapi masalah perasaan tidak ada yang tahu.