Siang ini seperti biasa Adimas dan Arsya akan nongkrong di kafe tempat biasa.
"Terus gimana? Lo udah nembak si Rara itu?" tanya Adimas, karena daritadi Arsya menceritakan cewek itu saja.
"Nah itu masalahnya, De. Gue kagak ada, tuh, ketemu sama dia lagi. Padahal gue udah keliling satu sekolahan. Gak kebayang kan, gimana pesona gue ketika dilihat adek kelas?"
Adimas mendengkus pelan. Arsya semakin hari semakin narsis saja.
"Kepopuleran lo belum menandingi gue, sih," ujar Adimas. "Cuma, ya, gue kagak pernah ngajak cewek-cewek yang klepek-klepek sama gue itu pacaran. Gila aja gue cewek pacaran sama cewek."
"Ya, lo nge-trap sih. Orang-orang, kan, anggep lo cowok."
"Gue, kan, cewek ganteng!" ujar Adimas PD. Sepertinya narsis dan kepedean milik Arsya menular ke Adimas.
"Eh, De. Lo bukannya belajar, ya, sekarang?" tanya Arsya.
"Mami lagi gak di rumah, entar malam aja."
"Seru, ya, homeschooling gitu, bisa kapan aja waktunya kita yang nentuin sendiri. Apalagi gurunya emak sendiri, kalau nggak buat tugas, nilai tetap aman, kan?" ujar Arsya.
"Kalau nggak tau, diem aja, deh, lo! Nyokap itu kalau sebagai guru gak akan mandang bulu. Mau gue anaknya, kek, sodara, atau siapa-nya dia tetap aja gue diperlakukan seperti murid biasa. Jadi, lo pikir nyokap gue gak pernah marahin kalau gue nggak buat tugas gitu?"
"Ya gue gak pernah lihat lo lagi belajar, sih. Mana gue tau."
"Ya ada enak dan gak enaknya lah pasti. Gue aja pengen sekolah umum kayak lo," ucap Adimas. Ia juga ingin mempunyai banyak teman.
"Ya makanya lo pindah, dong, De. Mumpung masih kelas sepuluh. Masih bisalah lo pindah sekarang."
"Yaelah kaya gatau Mami gue gimana aja. Udah, ah. Gue mau ketemu bokap, nih. Udah lama gue cariin ga pernah ketemu, mana no HP papi pasti ganti lagi, deh."
"Ya udah, yuk. Mau gue anterin?" tawar Arsya.
"Nggak, deh, gak usah. Gue sendiri aja."
"Lah, lo, kan, nggak bawa motor."
"Gak pa-pa, gue naik taksi aja," ujar Adimas.
"Ya udah, hati-hati."
"Oke, bye."
***
Sesampainya Adimas di sana, ia langsung masuk ke kantor yang menjulang tinggi itu, ada tiga puluh lantai. Adimas jarang ke kantor papinya. Bahkan terakhir kali saat ia berumur tujuh tahun, itu pun pergi bersama maminya.
Adimas menuju ruang resepsionis terlebih dahulu, mengikuti prosedur seperti biasa.
"Selamat siang. Apakah ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionisnya ramah.
"Siang, Mbak. Saya ingin bertemu Pak Alex."
"Dengan siapa dan ada keperluan apa?" tanya resepsionis itu.
Mungkin resepsionis itu tidak tahu Adimas merupakan anak dari pemilik perusahaan ini. Tidak masalah, lagi pula Adimas juga tak ingin dikenal.
Adimas membuka masker yang menutupi wajahnya. "Saya anaknya dan ada keperluan pribadi yang harus dibicarakan sekarang," ucap Adimas. Seketika sang resepsionis itu tercengang melihat ketampanan Adimas.
Ia sampai tak berkutik beberapa saat sampai Adimas memanggilnya kembali.
"Halo, Mbak?"
"Eh, iya, Ganteng," ucap resepsionis itu refleks, membuat Adimas menelan salivanya susah. Lagi dan lagi orang tertipu dengan tampilannya.
"Aduh, ma--maaf." Resepsionis itu jadi salah tingkah sendiri.
"Maaf, Pak Alex tidak berad di kantor sekarang, beliau baru saja mendapatkan undangan clien tadi pagi."
"Oh, gitu. Hm ... oke, deh, Mbak. Terima kasih, ya."
"Sama-sama, Ganten--Dek ... eh, Tuan, anu--" Resepsionis itu gelagapan tak tahu harus memanggil Adimas.
"Panggil Dimas aja, Mbak."
"Oh, ok--oke, Dimas." Resepsionis itu menundukkan kepalanya. Adimas tersenyum kecil.
"Kalau gitu saya pamit ya, Mbak."
"Ba--baik."
Adimas kembali memakai maskernya, lalu keluar dari kantor itu. Percuma saja ia ke sini, karena papinya juga tak berada di sini. Lagi pula nomor Alex tidak bisa dihubungi. Padahal ayah kandung sendiri, tetapi ingin bertemu saja susah sekali.
Ya begitulah, tetapi papinya itu malah memperbanyak istri.
Setelah keluar dari kantor, Adimas memakai kacamata hitam untuk mengurangi silauan matahari yang terik.
Adimas bersiap menunggu taksi yang lewat. Cuaca memang sangat panas. Untung Adimas memakai topi yang melindungi kepalanya.
Adimas mengeluarkan sapu tangannya dari saku celana belakang. Ia mengelap peluh yang mulai membanjiri pelipisnya. Sudah hampir setengah jam ia menunggu, tetapi taksi juga belum muncul. Mata Adimas melirik ke arah ujung yang tampak mobil taksi berhenti. Wah, kesempatan.
Buru-buru Adimas menghampiri taksi itu. Saat sudah sampai, Adimas menarik pintunya lalu segera masuk. Ia bernapas lega akhirnya mendapatkan taksi juga.
"Jalan, Pak," ucap Adimas. Namun, ada suara lain yang berbicara serempak dengannya. Adimas menoleh ke samping. Betapa terkejutnya ia melihat ada seorang cowok di sampingnya.
"Eh, lo kenapa di sini?"
"Gue yang dapetin taksi ini duluan," ucap cowok itu.
"Enak aja! Gue tau yang masuk duluan."
"Gue di sini daritadi sebelum lo masuk!" ucap cowok itu tak mau kalah.
Sang supir taksi hanya bisa melongo karena ia mendapatkan dua penumpang sekaligus.
"Pokoknya lo turun sana, gue yang dapetin taksi ini duluan," ucap Adimas.
"Enak aja, gue duluan."
"Aduh Mas-mas. Jangan bertengkar," ucap supir taksi.
"Saya bukan mm--" Adimas menahan mulutnya. Hampir saja keceplosan.
"Saya duluan yang masuk kan, Pak? Jadi, anterin saya aja," ucap cowok di samping Adimas yang bernama Razel itu. Ia terpaksa naik taksi, karena motornya berada di bengkel.
"Saya dulu kan, Pak?" Adimas tentu tak mau kalah.
"Aduh, Mas-mas masuknya barengan, kok," ucap supir taksi itu.
"LAH," teriak keduanya kompak.
"Pokoknya anterin saya duluan, Pak."
"Saya duluan!"
"Sabar, Mas. Pasti saya anterin keduanya," ucap supir taksi itu tak ingin ambil pusing.
"Hufh," dengkus keduanya saling membelakangi, menatap luar jendela.
Razel tak percaya jika yang di sampingnya ini adalah seorang lelaki, karena sifatnya seperti seorang gadis.
"Heh, lo cewek, kan?" tanya Razel yang membuat Adimas terdiam.
"Gue cowok, segender sama lo. Mau apa, ha? Gelud? Ayo!" tantang Adimas.
"Ogah."
Razel melirik sekaki lagi, memang tampilannya seperti laki-laki, tetapi entah kenapa Razel merasa jika orang itu adalah perempuan.
Adimas mengusap peluhnya kembali dengan sapu tangannya, mobil pun berjalan. Setelah menyebutkan alamat masing-masing ternyata mereka satu tujuan, tetapi berbeda arah saat sampai.
Sepuluh menit perjalanan, akhirnya sampai di perempatan. Ya, mereka memang berhenti di sana, karena Adimas akan menaiki ojek untuk masuk ke komplek perumahannya dan Razel akan menyebrang jalan untuk sampai ke bengkelnya.
"Ini, Pak," ucap Adimas membayar dan keluar lebih dahulu dari Razel.
Mata Razel menangkap sesuatu yang terjatuh di lantai mobil. "Eh, saputangan lo ketinggalan, Woi!" teriak Razel, mengambil saputangan itu.
"Yah, udah hilang tuh orang."
Razel menyimpan saja saputangan itu. Siapa tahu mereka nanti bertemu lagi. Ia melepaskan masker dan kacamata hitamnya. Ia juga sedikit kesal, kenapa tampilannya hmpir sama dengan orang tadi. Mereka sama-sama menutupi wajah.
Akankah mereka bertemu lagi?
***