Sepulang sekolah, Rara langsung pulang. Seperti biasa, rumah akan selalu sepi, hanya ada ART dan satpam rumahnya saja. Jika orang tuanya sibuk bekerja, mungkin Rara tidak akan protes. Namun, nyatanya orang tua Rara jarang di rumah bukan karena pekerjaan, melainkan sibuk dengan diri sendiri.
"Udah pulang, Non," sapa Bik Anti.
"Udah, Bik."
"Langsung makan siang aja, yuk, Non. Udah Bibik siapin."
"Makasih, Bik. Rara mau ganti baju dulu, nanti langsung ke sana."
"Baik, Non."
Rara lalu masuk ke kamarnya. Ia berjalan ke lemari, mengambil kaos oblong lalu mengganti di kamar mandi.
Setelah itu Rara pun mencari charger, karena HP-nya low. Namun, matanya tiba-tiba melirik ke arah kotak yang terletak di atas nakas.
Di dalam kotak itu terdapat gelang besinya yang ia pakai delapan tahun yang lalu. Rara pun tersenyum kecil, sekelebat bayangan tentang itu pun berputar di otaknya.
"Hai, nama kamu siapa? Kenapa nangis?" tanya seseorang saat Rara sedang duduk di bangku taman.
"Aku tersesat," jawab Rara dengan tersedu-sedu.
"Rumah kamu di mana?" tanya cowok itu.
Saat itu Rara masih berumur delapan tahun. Mungkin anak laki-laki yang menghampirinya itu juga seumuran dengannya.
"Komplek Mega Land," jawab Rara.
"Oh, berarti bukan di dekat sini, ya. Kamu ke sini sama siapa?"
"Sama Bibik."
"Oh, ya udah. Kita cari Bibik kamu sama-sama, yuk!" Cowok itu lalu mengulurkan tangannya, membuat Rara dengan ragu menerima uluran tangan itu. Namun, tidak ada pilihan lain. Rara pun mengikuti cowok itu.
Mereka sama-sama berjalan mengelilingi sekitar taman dengan tangan yang masih bergandengan.
"Oh, ya. Nama kamu siapa?"
"Raquel."
"Oh, kalau namaku Pangeran Zen Wisteria. Panggil aja Pangeran Tampan," ujar cowok itu dengan kepedean tingkat tinggi.
"Oke, Pangeran," ucap Rara yang saat itu sangat polos.
"Ya udah, ayo kita cari Bibik kamu ke sana!"
Mereka pun kembali berjalan, mencari di mana keberadaan Bik Anti. Setelah lama mengitari taman, akhirnya Rara bertemu kembali dengan Bik Anti yang sudah panik mencari anak majikannya itu.
"Terima kasih udah bawa Rara," ujar Bibik Anti pada anak cowok itu.
"Sama-sama, Bik."
Rara lalu berbalik, menghampiri anak cowok itu. Rara pun melepaskan satu gelangnya, lalu memberikan kepada anak cowok yang sudah menyelamatkannya.
"Sampai ketemu lagi, Pangeran," ucap Rara meletakkan gelang besinya itu ke tangan cowok tersebut.
Rara tersentak. Terlalu banyak melamun.
"Pangeran Tampan. Aku kembali," ujar Rara memeluk kotak yang berisi gelangnta itu.
Pada saat itu Rara memakai dua gelang besi kembar, salah satunya diberikan kepada anak cowok itu. Rara berharap semoga ia menjaga gelang Rara. Agar suatu saat mereka bisa bertemu lagi.
***
Adimas kembali ke rumahnya, setelah balik dari rumah Arsya. Percuma saja, karena cowok itu tidak ada di rumahnya.
"De, kamu mau pergi kondangan sama Mami gak entar malam?" tanya Farah.
"Kondangan apa, Mam?"
"Anak temannya Mami tunangan gitu. Ikut aja, yuk! Sekalian Mami kenalin sama anak teman-teman Mami."
Adimas menghela napas pelan. "Boleh, Mam. Aku pakai gaun, ya."
"Eits, no-no. Walaupun ini Acara Formal. Kamu tetap nggak boleh pakai gaun. Mami udah siapin kemeja yang bisa kamu pakai nanti. Tadi Mami beli di Mall."
Dalam hati Adimas pun mendengkus kecewa. Ia sebenarnya juga risih memakai pakaian wanita, karena sudah terbiasa dan nyaman seperti ini. Namun, Adimas juga ingin diakui sebagai seorang gadis di depan Farah.
"Lihat nanti, Mam," ujar Adimas melenggang masuk ke kamar.
"Eh, ikut aja, dong, Sayang. Kamu gak kasian sama Mami pergi sendirian?"
Bukannya bergitu, hanya saja Adimas ragu, jika ia pergi, berpenampilan seperti ini, yang ada ia disangka laki-laki lalu diperkenalkan dengan anak cewek teman maminya.
Cewek dan cewek. Adimas pun bergidik ngeri membayangkannya.
"Lihat nanti, Mam."
"Duh, Deee! Mami maksa pokoknya!" teriak Farah agar terdengar oleh Adimas.
"Gue ke pesta entar malam?" tanya Adimas ragu. Berpenampilan seperti memang nyaman. Namun, apakah bisa dikatakan aman?
***
Rutinitas Arsya jika tidak di rumah adalah mengajak salah satu pacarnya ke luar, untuk berkencan.
Seperti saat ini, Arsya sedang mengajak Fina jalan. Daritadi cewek itu terus saja mengajak Arsya berselfie, membuat Arsya bosan saja.
"Fina udah, ya. Gue anterin pulang, yuk. Kafenya mau tutup, tuh," bujuk Arsya mengajak gadis itu pulang, karena ia daritadi menolak terus.
"Kafe ini tutupnya jam sepuluh malam, Beb. Sekarang masih jam lima sore. Masih lamalah!" ujarnya kembali menyodorkan HP ke muka Arsya.
Menyesal sudah Arsya mengajak cewek ini berkencan. Sangat membosankan, lalu terlalu narsis.
"Eh, bentar, deh. Gue tadi ada janji sama teman gue. Bentar gue cek dulu, ya." Arsya pun mengeluarkan HP-nya, lalu mengirim pesan kepada Adimas.
[Woy, De. Telepon gue, please! Suruh gue pulang gitu. Bantuin gue!]
Setelah mengirim pesan itu Arsya meletakkan HP-nya di atas meja.
Lima menit kemudian HP Arsya pun berdering menandakan panggilan masuk. Ah, ternyata Adimas. Tepat sekali.
"Woi, anjir. Lo di mana, ha? Janjinya mau nonton filem barbie sama gue sore ini. Cepetan ke sini, Cok! Gue tungguin! Byeee."
Mata Arsya melebar. Adimas ada-ada saja, mana suaranya terloadspekear pula oleh Arsya sehingga terdengar oleh Fina.
"Dih, cowok kayak kamu tontonanbya barbie? Dih, gak elit banget. Gimana kalau teman-teman aku tau. Ah, nggak bisa. Kita putus aja, ya. Cowok itu nontonnya Dora, kek, ini malah barbie. Bye!"
Fina pun bangkit, meninggalkan Arsya yang masih melongo, secepat itukah ia memutuskan Arsya? Lagi pula Adimas berbicara sembarangan. Sejak kapan Arsya suka nonton barbie?
Namun, diputuskan oleh Fina bukanlah masalah besar. Masih banyak lagi pacar Arsya yang bisa dibawa kencan. Namun, dari semua cewek yang ia pacari. Ada satu cewek yang ia harapkan, tetapi mendapatkan cewek ini sepertinya lebih sulit.
"Rara, kan, ya namanya? Lo di mana, sih. Gue cariin ke kelas bahasa nggak ketemu mulu!" ujar Arsya.
Arsya teringat. Ia pun kembali menelepon Adimas. Gara-gara omong kosong sahabatnya itu, ia jadi kehilangan satu pacar.
"Kenape?" tanya Adimas saat telepon tersambung.
"Lo gimana, sih! Sejak kapan gue nonton barbie, ha?"
"Hahaha, tapi gue berhasil gak buat lo lari dari pacar lo itu?'
"Dia yang lari ninggalin gue. Langsung diputusin gue tau, nggak," kesal Arsya.
Putus dengan satu cewek tak masalah, tetapi diputuskan itu Arsya merasa dicampakkan tak terhormat. Percuma bukan gelar playboy cap buayanya jika cewek itu mengumbar ke sosmednya. Fina, kan, sangat alay dan narsis.
"Eh, gue mau pergi, nih."
"Ke mana?" tanya Arsya.
"Ke ...."
***