BAB 6

1009 Kata
"Kondangan, diajakin nyokap," ucap Adimas dengan nada tak semangat. "Hah? Ke kondangan? Jangan bilang lo pakai jas lagi?" "Ya emang, ini pakai kemeja." Arsya pun langsung tertawa terbahak-bahak, puas sekali menertawakan Adimas. "Udah, ah. Kalau lo cuma mau ngetawain gue, bye!" Adimas pun memutuskan sambungan sepihak. Ia harua segera bersiap-siap sekarang. Membiarkan Farah pergi sendirian juga tidak enak. Maka dari itu, Adimas berniat menemani maminya itu. "Gue cewek, kenapa harus jadi cowok, sih?" tanya Adimas berkaca di depan cermin. Ia menatap badannya yang tinggi dan tegap. Dadaanya juga tak terlalu menonjol, makanya penyamaran Adimas terlihat meyakinkan. Apalagi potongan rambutnya juga seperti laki-laki. Adimas meraba wajahnya. Walaupun tanpa bedak, tetapi kulitnya memang sudah putih. Adimas tersenyum menampakkan gingsulnya di cermin. Belum ada siapa pun yang melihat dirinya berpenampilan seperti cewek. Kira-kira seperti apakah dirinya jika berpenampilan layak cewek biasanya? "Gue ... cantik, kan?" tanya Adimas memperhatikan wajahnya di cermin. *** Malam ini Adimas dan Farah berada di hotel tempat diselenggarakannya acara. Adimas memakai baju kaos longgar dilapisi kemeja yang tidak dikancing, dan celana jeans panjang. Berpenampilan ala laki-laki seperti biasa. Rambutnya pun dibuat ada jambulnya yang berdiri rapi. "Kamu ganteng, deh, De," ujar Farah tersenyum senang. Adimas hanya memutar bola matanya malas. "Hai, Farah. Saya kira kamu nggak datang," ujar Bu Tya—yang mengadakan acara. Tidak hanya ada Tya, beberapa teman Farah yang lain pun sudah berkumpul. "Eh, Tya. Maaf, ya, telat sedikit. Oh, ya. Kenalin ini anak saya, namanya Adimas." Semua mata teman-teman Farah pun beralih menatap Adimas yang sudah menunduk malu, karena menjadi pusat perhatian. "Wah, ganteng sekali anakmu, Farah!" "Eh, iya, cakep pisan, euy!" "Dimas, mau nggak jadi mantu Tante?" Adimas hanya bisa tersenyum kikuk. Dalam hatinya berteriak kesal ingin memberitahu jika ia adalah seorang gadis, bukan laki-laki! "Eh, ya, sampai lupa. Makan dulu, yuk!" suruh Tya diangguki oleh Farah. "Iya, nanti kami makan." "Ya udah, saya tinggal, ya." "Iya." Farah dan Adimas pun duduk di meja yang berisikan teman-teman sosialita Farah itu. Adimas sedikit kesal, karena teman-teman Maminya itu terus saja menatapnya. Tidak adakah cowok di sini? Kenapa harus ia yang kena? "Anak kamu umur berapa, Farah?" tanya Dwi. "Baru kelas sepuluh." "Oh, setahun lebih muda dari anakku, namanya Winda. Kalau kamu mau, Tante kenalin, nih, sama anak Tante," ujar Dwi. 'Gue? Mau sama anak ceweknya? Yang benar aja! Emang gue belok!' batin Adimas yang sudah risih berada di sini. Harusnya tadi ia tak usah saja masuk. "Anak saya emang pendiem dan pemalu, jadi maklumin aja, ya," ujar Farah, karena Adimas hanya diam sambil menunduk. "Duh, gemmesh banget sih kamu," ujar Nia mencubit pipi Adimas yang duduk di sampingnya. Adimas tentu terkejut, tetapi ia hanya bisa pasrah. "Selain ganteng, kulitnya juga mulus lagi. Duh, anakmu kayak pangeran, Farah." Farah pun terkekeh pelan mendengar pujian teman-temannya yang berlebihan sejak tadi. Ia yakin Adimas pun sudah risih dibuatnya. "Permisi, Tante-tante. Saya izin ke toilet dulu," ujar Adimas. "Eh iya, Ganteng." Adimas pun berlarian ke toilet. Tanpa sadar ia pun masuk ke toilet cewek. Lah, memang inilah toiletnya yang sebenarnya. Namun, karena ini tempat umum, bisa bahaya jika cewek-cewek di toilet itu menganggapnya m***m. Adimas pun melangkah keluar cepat dan masuk ke toilet cowok. Sudah biasa, tetapi tetap saja tak enak rasanya. Bagaimana ini? Tidak mungkin juga ia berdiri. Seorang cowok pun masuk ke toilet yang membuat Adimas terkejut, refleks berteriak. "NGAPAIN LO, HA?" teriak Adimas sambil memejamkan matanya. Cowok itu pun mengerutkan keningnya. "Ya mau pipislah." "Gue masih di sini, Woi! Keluar sana!" suruh Adimas. "Kenapa, sih, cowok aneh," ujar cowok itu ketus. Ia pun langsung saja buang air kecil di sana yang membuat bulu kuduk Adimas berdiri mendengar suaranya. Dia beneran pipis di sini? batin Adimas. Setelah itu cowok yang tadi mengagetkan Adimas pun berlalu keluar dari toilet. Adimas bernapas lega. Ia pun baru tersadar, apa yang baru saja ia lakukan! "g****k banget gue! Kan gue di sini Lakik! Gus lagi di toilet cowok! Ya iyalah tuh cowok masuk ke sini," ujar Adimas menepuk dahinya pelan. Ya, ialah yang salah. Ia segera buang air kecil, lalu berniat mengejar cowok ketus tadi. "Woi, tunggu!" Akan tetapi cowok itu sepertunya sudah pergi jauh. "Mata gue ternodai gara-gara lo kencing di sebelah gue, Woi!" ujar Adimas tak terima. *** Setelah dari kondangan. Akhirnya Adimas bisa bernapas tenang. Ia langsung menuju kamarnya. Adimas sedikit kecewa karena tidak menanyakan nama cowok tadi. "Kalau nanti gue ketemu dia lagi, gue bakal minta maaf sama dia, dah. Mau pakai tumpeng pun ayo! Gue malu banget njeeer!" Adimas pun menguap pelan. Sudah waktunya tidur. Namun, gordennya tiba-tiba bergerak. Adimas pun kembali membuka matanya lebar. Ia lalu mengecek sendiri ada apa di balik gordennya. Adimas turun dari kasur aecara perlahan. Ia pun meraih raket nyamuk di atas meja. Jika saja cowok m***m yang datang, ia akan menyerang dengan benda ini. Adimas pun membuka gordennya. Mata Adimas memelotot melihat siapa yang datang. Eh, tetapi mengapa ia bisa berada di sini? "WOI, LO MAU NGAPAIN?" tanya Adimas pada orang yang seperti tidak ada kerjaan itu. Mungkin kerjanya hanya mengusik Adimas. "De, buka pintunya dong!" ujar cowok itu di balik kaca transparan yang menjadi pintu menuju balkon kamar Adimas. Gadis itu hanya bisa menghela napas, laku membukakan saja pintu untuk cowok super gabut itu. "Kenapa lo ada di sini, ha?" "Lo lupa? Di sebelah tuh kamar gue kali!" ujarnya. Ya, cowok itu adalah Arsya. "Mau ngapain? Gue mau tidur, nih." "Eh, eh, tunggu dulu!" ujar cowok itu menahan tangan Adimas. Ya, cowok itu adalah Arsya, sabahat Adimas. "Ada yang mau gue bilang ke lo," ujar Arsya serius. "Apaan? Nggak bisa besok pagi aja, ha? Gue keburu ngantuk, nih. Lo juga datangnya ngagetin. Kenapa nggak telepon dulu, hah? "Lo kok jadi ceweret gini, sih, De?" "Ya karena lo! Mau apa, ha? Cepet kasih tau!" Tiba-tiba Arsya berlutut di hadapan Adimas dan meraih kedua tangan gadis itu. Adimas pun dibuat deg-degan. Kenapa? Ada apa? "De." "Iya." "Gue ... eumm ... gue sebenernya ..." Jeda sebentar, membuat Adimas penasaran aja. "Gue suka sama lo." Mata Adimas pun melebar bukan main. Benarkah ini? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN