"Gue suka sama lo," ujar Arsya menatap manik mata Adimas tajam.
Adimas masih terdiam, tak percaya jika Arsya tiba-tiba mengungkapkan perasaannya begini.
"Anu--" Adimas pun ragu menjawab.
"Kenapa muka lo merah gitu?" Arsya lantas bangkit. Ia pun terkekeh pelan. Adimas dibuat heran.
"Tadi gue cuma latihan buat nembak si Rara," ujar Arsya santai, yang membuat bola mata Adimas membesar.
Ia langsung mendorong badan Arsya, lalu kembali berbaring di kasur.
"Udah, deh, gue ngantuk pengen tidur. Pulang sana!" suruh Adimas mengusir Arsya. Ia tidur membelakangi cowok itu.
"Dih, dengerin gue dulu, De! Gue takut ditolak sama Rara, nih. Entah kenapa gue merasa gue bakal ditolak, deh."
"Ya itu masalah lo, bukan urusan gue," ujar Adimas yang belum terlelap.
"Yaelah, lo sebagai sodara gue harus bantuin gue, dong."
"Gue bukan sodara lo."
"Ya tapi lo, kan, udah kayak sodara gue, Bro-Dek!"
Alis Adimas mengerut. Ia langsung membalikkan badan mengarah ke Arsya. "Bro-Dek?"
"Ya. Lo kan ada dua, tuh. Bisa jadi bro, sebagai teman cowok gue. Bisa jadi cewek sebagai adek gue."
"Dih, alay," cibir Adimas.
"Anggap aja panggilan sayang gue. Kalau begitu, jumpa esok Brodek!" ucap Arsya menggoda, membuat Adimas mendengkus.
Arsya kembali keluar dari balik pintu balkon. Adimas terpaksa bangkit lagi dari tidurnya untuk mengunci pintu dan menutup gorden.
Adimas merasakan jantungnya berdebar kencang. Apa karena ungkapan Arsya tadi? Ah, padahal Arsya bukan menembaknya.
"Dasar Arsya kampreet!" kesal Adimas.
***
Malam ini Rara menunggu orang tuanya di meja makan—mengharapkan untuk makan bersama, tetapi sudah dua jam ia menunggu, orang tuanya belum juga pulang.
"Non, udah, yuk, tidur aja ke kamar, Non. Mungkin Nyonya dan Tuan pulang larut."
"Tapi Rara masih pengen nungguin Mama, Bik. Tadi Mama bilang bisa pulang cepat."
"Sekarang udah malam, Non. Bukannya besok Non Rara sekolah? Ketemu Nyonya dan Tuan besok pagi aja, yuk."
Berkat bujukan Bik Anti, akhirnya Rara menurut. Ia berlalu masuk ke kamar.
"Selamat tidur, Non," ujar Bik Anti setelah menyelimutkan gadis cantik itu.
"Bik," panggil Rara.
"Iya, Non?"
"Tetap di sini aja, temenin sampai Rara tidur," pintanya. Bik Anti pun tersenyum pelan.
"Baik, Non."
Bik Anti memilih duduk di tepi kasur.
"Bibik tidur di sebelah Rara aja. Rara pengen tidur bareng Bibik."
Bik Anti merasa tidak enak. Dulu memang ia selalu menidurkan Rara, berbaring di sebelahnya dan membacakan dongeng sebelum Rara tidur. Namun, sekarang gadis kecil itu sudah besar.
"Bibik gak mau nemenin Rara, ya?" lirih gadis itu sedih.
"Eh, bukan begitu, Non. Ya udah, Bibik temenin, ya."
Bik Anti lalu berbaring di samping Rara, mengusap rambut hitam panjang gadis itu seperti yang biasa ia lakukan saat menidurkan Rara kecil.
Rara mendekatkan badannya ke arah Bik Anti, memeluk wanita paruh baya itu, mencari kehangatan. Ia tak pernah ditemani tidur seperti ini oleh ibu kandungnya. Entah bagaimana rasanya, Rara tidak tagu, karena ia tak pernah merasakan.
Perlahan mata Rara meredup dan gadis itu mulai terlelap. Bik Anti jadi kasihan dengan gadis cantik itu. Sejak kecil tak terlalu diperhatikan oleh ibu kandungnyaa.
Ayah kandung Rara sudah meninggal sejak ia masih dalam kandungan. Tiga tahun yang lalu ibu kandungnya baru menikah lagi dengan seorang duda beranak satu. Namun, sejak mereka menikah, Rara semakin jarang melihat orang tuanya itu di rumah.
Padahal Rara berharap jika ibunya menikah lagi, ia akan merasakan keluarga yang lengkap, apalagi memiliki saudara, walaupun saudara tiri. Namun, Rara tetap merasa kesepian. Hanya Bik Anti yang selalu menemaninya.
"Selamat tidur, Non Rara. Semoga kebahagiaan selalu menyelimutimu, Nak," ucap Bik Anti mencium kening gadis itu lembut. Mungkin terlihat tidak sopan, tetapi Bik Anti sudah menganggap Rara seperti anak kandungnya, karena memang Bik Anti tak memiliki anak.
Sejak bayi bahkan Bik Anti yang mengasuh Rara. Jadi, tak heran jika Rara dekat dengannya. Hanya Bik Anti-lah ibu pengganti Rara yang bisa ia anggap seperti ibu sendiri.
***
Pagi pun tiba. Rara sengaja bangun lebih pagi, karena ingin sarapan bersama orang tuanya.
"Selamat pagi, Bik," sapa Rara saat melihat Bik Anti yang sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi, Non. Tumben udah siap-siap sepagi ini."
"Rara pengen sarapan bareng sama Mama dan Papa, Bik."
"Duh, maaf, Non. Tuan dan Nyonya tidak pulang semalam, pukul dua pagi tadi Nyonya nelepon, katanya menginap di hotel bersama Tuan, tidak sempat pulang."
Sontak mendengar itu, Rara langsung menelan kekecewaan. Ia lantas bangkit, menarik tasnya lalu berlari keluar rumah.
"Tunggu, Non!" Bik Anti segera mengejarnya.
Rara segera masuk ke mobil yang sudah siap mengantarkannya.
"Non Rara, tunggu dulu, Non, sarapan dulu!" teriak Bik Anti yang diabaikan oleh Rara. Mobil pun melaju meninggalkan rumah.
"Ada apa, Bik?" tanya seseorang yang ikut keluar rumah, karena mendengar teriakan Bik Anti.
"Eh, Den Razel?"
Bik Anti tentu terkejut, karena saudara tiri Rara itu tiba-tiba muncul. Sudah dua minggu cowok itu tak pulang ke rumah.
"Iya, ini aku, Bik."
"Aden kapan pulang? Kok Bibik nggak tau?"
"Baru pulang tadi pagi, Bik. Kebetulan ada Pak Mori, terus dibukain pintu dan aku masuk."
"Wah, syukurlah Aden baik-baik aja. Ke mana aja kemarin, Den?"
"Si Rara kenapa, Bik?" tanya Razel mengalihkan pertanyaan Bik Anti.
"Ini, Den. Non Rara belum sarapan. Bibik khawatir, nanti kalau Non Rara kelaparan gimana?"
"Dia bisa jajan di kantin, Bik," jawab Razel tak mau pusing.
"Iya, Bibik tau, tapi dia main pergi gitu saja karena dengar Tuan dan Nyonya nggak pulang semalam."
Razel menghela napas pelan. "Ya, udah biasalah, Bik."
"Iya, Den. Udah jarang sekali Nyonya dan Tuan di rumah. Non Rara kesepian."
"Nanti aku hibur dia, Bik."
"Wah, makasih banyak, Den."
Razel mengangguk pelan. "Ya, nanti kalau dia udah pulang."
***
Rara tak habis pikir jika mamanya itu tak menepati janjinya. Kemarin Rara meneleponnya dan ia berkata jika pulang malam, mereka bisa berkumpul. Namun, nyatanya?
Rara mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya. "Pak, Rara nggak mau ke sekolah. Kita ke taman aja," ujar Rara.
Mungkin sudah satu minggu ia bolos tanpa kabar. Biarlah, tidak masalah. Menghilang tak sekolah, absen berkali-kali orang tuanya pasti dipanggil ke sekolah. Nah, itulah yang Rara inginkan. Apakah itu cara agar ia bisa bertemu dengan orang tuanya?
"Rara kangen Mama," lirihnya.
Sang supir yang mendengar itu pun merasa iba. Rara yang sangat kesepian.
***