Arsya berdecak kesal, karena ia sudah terlambat masuk gerbang. Sekarang, pagar itu sudah tertutup rapat. Jika Arsya memaksa masuk, maka ia akan dihukum oleh Guru BP, karena ketahuan terlambat.
"Apa gak usah masuk aja kali, ya?" tanya Arsya berpikir sebentar. Tentu saja ia terlambat, karena Arsya bangun tidur tadi jam 07.25 WIB. Sedangkan bel masuk 07.45 WIB. Rumahnya juga jauh dari sekolah.
"Bodo amat gue males dihukum," ujar Arsya berbalik meninggalkan gerbang. Ia akhirnya bolos hari ini. Sesuatu yang tak patut dicontoh, tetapi Arsya memang tidak bisa dijadikan contoh. Playboy cap buaya memang beda.
Arsya kembali menaiki motornya. Ia juga tak mungkin kembali ke rumah sekarang. Baiklah, Arsya akan berkeliling saja. Untung ia selalu memakai jaket, sehingga seragamnya tak kelihatan. Bisa-bisa ia ditangkap, karena dituduh bolos sekolah dan pergi tawuran.
Oke lupakan. Sekarang Arsya sudah jauh dari sekolah. Motornya masih tetap berjalan tanpa arah. Mau ke mana sepagi ini? Restoran yang ia lewati juga belum pada muka. Ya, maklum, jam berapa sekarang!
Mata Arsya tetap menyisir jalanan. Mencari tempat yang cocok untuk menunggu sampai dua jam lagi. Setidaknya jam 10an ia bisa pulang. Ia akan beralasan guru rapat saja nanti.
Arsya memilih berhenti di taman seberang jalan. Ya, di sinilah tempat yang tepat.
***
"De, Mami minta tolong, dong, beliin sabun, odol, dan kawan-kawannya di super market sana," suruh Farah, karena kebutuhan rutinnya sudah habis.
"Harus ke super market, Mam? Emang mini market di depan nggak ada?"
"Tadi Mami udah ke sana, mini marketnya tutup, nggak tau kenapa. Jadi, kamu ke super market ujung aja, ya. Di sana lebih lengkap."
Adimas menghela napas pelan. Malas sekali jika berhadapan dengan orang banyak.
"Ayolah, De. Sabun Mami habis, nih."
"Iya-iya, Mam. Mana list belanjaannya," ucap Adimas menurut saja.
"Oke, bentar. Biar Mami catatin dulu."
"Hmm."
Adimas pun memilih duduk di sofa. Ia memainkan ponsel sembari menunggu. Ternyata ada pesan yang masuk dari Arsya.
[De, gue bolos hari ini karena telat. Diam aja. Gue lagi di taman.]
Adimas menghela napas pelan, lalu segera membalas pesan sahabatnya itu.
[[ Y ]]
Adimas kembali menyimpan HP-nya karena Farah menyerahkan daftar belanja yang sudah ia catat di kertas.
"Hati-hati, ya."
"Iya, Mam."
Adimas mengambil kunci motor yang terletak di atas meja. Ia berlalu keluar rumah. Tujuan utamanya adalah super market. Adimas tak habis pikir jika kepeeluan Farah sebanyak ini. Ia jadi merasa bersalah, karena mengeluh terus.
"Oke-oke, gue beliin apa yang dipesanin Mami dulu, ah."
Adimas pun melajukan motornya.
***
Sesampainya di sana, Adimas langsung mengambil barang-barang yang tercatat di list belanjaan. Ternyata ada banyak juga.
Keranjang belanjanya pun sudah hampir penuh. Harusnya Farah saja yang membeli ini, karena maminya itu lebih tau. Namun, sekarang ialah yang disuruh.
Di luar terasa panas, untung saja Super Market ini cukup sejuk, karena ada AC.
Adimas mengambil sikat gigi yang tinggi di atasnya. Sikat gigi bewarna ungu gold—warna yang sangat indah dan hanya ada satu di antara deretan sikat gigi di sana.
Saat Adimas menyentuh sikat gigi itu, tiba-tiba sebuah tangan pun juga memegang sikat gigi itu. Adimas menatap sang pemilik tangan, bersamaan dengan cowok itu juga menatap manik mata Adimas.
Buru-buru gadis itu mengalihkan perhatiannya. Bisa gawat jika bertatapan lama-lama dengan seorang cowok, karena indetitasnya adalah cowok juga. Bahaya jika orang mikirnya macam-macam.
"Ambil buat lo aja," ujar cowok itu segera berlalu.
Sebentar. Ia merasa tidak asing dengan cowok itu. Setelah berpikir cukup lama Adimas pun baru ingat jika cowok itu adalah cowok yang ia temukan semalam. Adimas pun segera mengejarnya. Gadis itu tak ingin kehilangan jejak lagi, ia cukup tertarik dengan cowok itu.
"Tunggu!" teriak Adimas pada cowok tadi.
Cowok itu menoleh, membalikkan badannya. Alisnya mengerut.
"Apa?"
"Lo yang semalam, kan?" tanya Adimas.
"Hah?"
"Itu ... yang pipis di sebelah gue," ujar Adimas tanpa segan.
Cowok itu dibuat malu, ia pun menoleh ke kanan dan kiri, mendengar tidak ada yang mendengar.
"Oh, lo cowok aneh itu," komentarnya, membuat Adimas mendengkus. Ia bukan cowok! Ingin sekali Adimas berteriak di depan wajah cowok itu.
"Gu--gue cuma penasaran siapa nama lo."
"Razel."
"Oh, oke. Itu aja, bye!" ujar Adimas segera berlalu dari situ membuat Razel tak habis pikir.
"Apa coba maksud cowok aneh itu," ucap Razel menggaruk tengkuhnya yang tak gatal. Ah, sudahlah. Padahal ia hanya ingin membeli minuman, karena kebetulan lewat sini.
Razel tadi hanya tak sengaja menatap sikat gigi itu yang tampak unik, ia berencana membujuk saudari tirinya dengan itu. Namun, seseorang yang aneh tadi malam juga mengambil sikat gigi itu.
"Ah, udahlah. Gue beliin Rara yang lain aja," ujar Razel melangkah ke kasir untuk membayar minumannya.
***
Arsya memilih berjalan-jalan di taman ini setelah memarkirkan motornya di parkiran. Jika pagi begini, taman akan lengang, paling hanya anak-anak dan orang tuanya saja yang bermain.
Arsya memilih duduk di bangku kosong di sebelah sana. Oh, tidak, bangku itu tidak kosong lagi, karena ada seseorang yang baru saja menduduki bangku taman itu. Alis Arsya mengerut, menatap seragam yang dipakai cewek itu sama dengan seragam sekolahnya.
Siapa di sana? Apakah salah satu pacar Arsya? Jika iya kebetulan sekali, Arsya tak perlu kesepian.
Arsya segera menghampiri bangku taman itu, sebelum ada yang duduk di sana.
"Hai, gue boleh duduk di sini, nggak?" tanya Arsya pada cewek yang sedang menoleh ke samping.
Gadis itu pun segera menoleh ke arah Arsya, ketika mendengar seseorang sedang berbicara dengannya.
Mata Arsya melotot menatap gadis di hadapannya sekarang.
"Loh, Rara?"
"Hm? Ka--kamu ...."
Tanpa persetujuan gadis itu, Arsya langsung duduk di samping Rara.
"Ra, lo ke mana aja? Gue cariin seminggu ini di sekolah, lo nggak ada."
Rara tersenyum tipis. "Kamu cowok yang di halte itu, ya?"
"Iya. Gue Arsya."
"Salam kenal, Arsya," ucap Rara. Tanpa sadar ia sudah mengalihkan topik.
"Lo ngapain di sini?" tanya Arsya.
"Kamu sendiri ngapain?"
"Gue telat, jadi gue males masuk, karena kalau masuk entar pasti dihukum. Ya udah, gue bolos aja."
"Ya, aku juga gitu," ujar Rara tanpa ribet memikirkan jawaban. Lebih baik menyamakan saja dengan yang diucapkan Arsya.
"Lo bisa bolos juga, ya."
Rara hanya tersenyum kikuk.
"Oh, ya. Ra ... gue mau ngomong sesuatu sama lo."
Mungkin sekarang waktu yang tepat.
"Ngomong apa?"
"Gue ...."
***