BAB 9

1014 Kata
Arsya pasti bisa! Ia sudah berlatih untuk mengatakan ini pada Rara. Ah, ayolah, Arsya. Bukankah ini mudah? Ia sudah biasa melakukan ini, bukan? "Kenapa, Sya?" tanya Rara, karena cowok itu tak kunjung bicara. "Eum ... gue ...." Entah kenapa bibir Arsya terasa berat. Baru kali ini ia sulit menyatakan perasaan. "Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Rara khawatir, ia pun meletakkan punggung tangannya di dahi Arsya, membuat cowok itu semakin panas dingin. "Eng--nggak, kok, Ra. Gue baik-baik aja," jawab Arsya. Tangan Rara begitu lembut. "Oh, syukurlah." Arsya kembali bergumam. 'Kenapa susah banget mau nembak doang?' batin Arsya berkecamuk. "Ra, gue sebenernya su--" "RARA!" Teriakan itu langsung menyela ucapan Arsya. 'Argh, dikit lagi! Siapa, sih, yang ganggu?' batin Arsya berang. Merasa namanya dipanggil, gadis itu pun menoleh. Ia terkejut menatap cowok itu menghampirinya. "Ra ... zel." Cowok yang bernama Razel itu segera menghampiri Rara, membuat Arsya tercengang. Siapa orang ini? "Kamu kapan pulang?" tanya Rara senang melihat saudara tirinya itu sudah kembali. "Tadi pagi, Ra." Tanpa aba-aba, Rara segera memeluk Razel, yang membuat Arsya memelotot tak percaya. Apa-apaan ini? Apakah Rara sudah memiliki pacar? "Rara kangen sama Razel," ujarnya masih memeluk cowok itu. Melihat penampakan tak mengenakkan itu, Arsya memilih bangkit dan melangkah pergi. Dalam pikirannya ia sudah tertolak duluan, karena berpikir cowok itu adalah pacar Rara. Tidak ada gunanya juga menembak cewek yang sudah memiliki pacar, bukan? Rara pun melepaskan pelukannya, lalu mengajak Razel duduk di sampingnya. Ia sedikit terkejut melihat Arsya sudah tidak berada di tempat. "Dia pergi ke mana?" tanya Rara, yang membuat kening Razel mengerut. "Siapa?" "Teman aku, dia tadi di sini nemenin, tapi kayaknya udah pergi." "Oh." Razel pun duduk di bangku taman bersama Rara. "Kata Bik Anti lo nggak sarapan. Lo juga nggak masuk sekolah ternyata. Kenapa, Ra?" Rara hanya tersenyum tipis. "Aku nggak mau ke sekolah." "Kenapa?" "Lagi nggak mood aja." "Nyokap bokap lagi?" tebak Razel. Rara pun menunduk. Ia mengangguk kecil. Razel merangkul pundak saudari tirinya itu, memeluknya dari samping. "Kayak nggak tau mereka gimaba aja. Udah, ya. Gak usah terlalu dipikirin. Suatu saat pasti ada waktu buat kita kumpul sama-sama," ujar Razel menenangkan Rara. Razel adalah tipikal orang yang cuek dan jarang bicara. Namun, jika bersama Rara, ia bisa menjadi kakak yang baik dan sangat dewasa. Hanya pada Rara Razel sedewasa ini. "Razel ke mana aja seminggu ini menghilang?" tanya Rara. "Ada, deh," jawabnya yang membuat Rara mengerucutkan bibirnya. "Ish, jawab, dong! Kamu ke mana seminggu ini? Tanpa kabar, tanpa kasih tau pula. Rara panik tau!" ujar Rara marah dengan ekspresi menggemaskan. Razel menggigit bibir bawahnya menatap tingkah saudarinya itu. Rara sangat menggemaskan. Rambutnya dikucir dua. Kulit putih, bibir merah muda, pipi chubby, dan bulu mata melentik. Rara berbadan kecil dan pendek. Ia terlihat seperti anak TK. Siapa pun yang melihat Rara pasti ikut gemas. Razel yang tak tahan melihat Rara pun mencubit pipi gadis itu, yang membuat Rara terpekik. "Ih, Razel! Sakit tau!" "Gemes." "Siapa yang gemes?" "Lo, Ra." Rara pun tertawa pelan. Ia membalas mencubit pipi Razel kencang. "Eh, gak adil. Lo nyubitnya gak pakai hati," ujar Razel mengusap pipinya. Rara tertawa pelan. Namun, melihat tawa Rara, rasa sakit di pipi Razel langsung menghilang. Inilah yang ia inginkan. Melihat saudarinya itu tersenyum dan tertawa bahagia. "Ra, pulang, yuk!" ajak Razel. *** Arsya mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Baru kali ini ia merasakan tertolak sebelum mencoba. Apa mungkin Rara itu berbeda dari cewek-ceweknya sebelumnya? Arsya ketika melihat Rara sangatlah terpikat. Berbeda dengan pacarnya yang lain, yang hanya semata untuk bermain-main saja. Setelah sampai di rumahnya. Arsya pun melangkah masuk ke kamar. Bodo amat ketahuan bolos, karena ia pulang terlalu cepat. Lagi pula orang tuanya sedang tidak di rumah sekarang. Saat membuka pintu kamarnya. Hal pertama yang ia lihat adalah, seseorang yang sedang santainya berbaring di kasurnya sambil menonton televisi yang tergantung di dinding. "Woi, lo ngapain di sini," ujar Arsya. "Lo gak lihat? Gue lagi nonton, tuh. Film si tuyul," jawab orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat Arsya. Siapa lagi jika bukan Adimas. Sudah biasa. Adimas memang sering masuk ke kamar Arsya tanpa izin. Walaupun begitu, Arsya tidak mau masuk ke kamar Adimas jika tidak diizinkan. Arsya masih menghargai Adimas sebagai cewek. "Eh, lo napa udah pulang aja? Masih pagi. Lo pasti bolos, ya?" tebak Adimas. "Iya, gue bolos." "Weh, kenapa? Gak biasanya lo bolos. Bukannya lo sangat mencintai sekolah lo itu, ya? Karena ada banyak pacar lo di sana." "Ya, kan, gue seneng karena pacarnya doang. Bukan cinta sekolahnya. Udah, ah, gue mau ganti baju." Adimas memejamkan matanya, tetap saja ia segan melihat Arsya ganti baju di depannya. Lagian cowok itu tidak ke kamar mandi saja. Setelah selesai. Arsya duduk di kasurnya. Ia pun melamun sebentar, masih memikirkan Rara tadi. Adimas menatap Arsya aneh. Tak biasanya cowok itu melamun. "Kenapa, woi? Tumben lo melamun gitu. Kesambet?" ledek Adimas. "Gue lagi patah hati, De." "HAH?" Kaget Adimas tak percaya. "Gue abis ditolak." "HAHHH?" Adimas kembali berteriak tak percaya. "Gue serius." "BENERAN?" tanya Adimas masih tak percaya. Seorang Arsya patah hati, karena ditolak? Siapa gadis yang sudah menolak Arsya? "Iya, baru aja gue mau nembak, tuh, cewek. Eh, cowoknya dateng." Mendengar itu, Adimas pun tertawa terbahak-bahak, sambil memukul kaki Arsya. "Lagian lo ada-ada aja. Masa nembak cewek yang udah punya pacar." "Ya gue mana tau kalau dia udah punya pacar." "Terus, malu, dong?" Adimas mulai meredakan tawanya. "Gak juga, karena gue belum selesai ngomong tuh cowok udah dateng. Terus gue main pergi aja lagi." "Hahaha ... baru kali ini gue ngelihat seorang Arsya tertolak, hati-hati lo, siapa tau karma." "Gue gak pernah nolak cewek!" "Ya tapi lo pernah mutusin cewek, kan? Lo juga mending berenti deh main-main gitu sama mereka." "Gak pa-palah, sejatinya gue, kan, tetap jomlo. Mereka juga tau gue cuma mau main-main. Toh, kalau mereka mau selingkuh gue juga biarin." "Ya, terus sampai kapan lo kayak gini terus dodol!" ujar Adimas mengarahkan telunjuknya menyentuh dahi Arsya. "Sampai gue ketemu sama cewek yang di mimpi gue," ucapnya. "Hah? Siapa?" "Seorang pengantin, tetapi mukanya masih samar-samar." Adimas jadi penasaran. Siapa cewek di mimpi Arsya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN