Setelah dari taman, Rara pun diajak pulang oleh Razel ke rumah. Ia sudah bolos sekolah, jadi untuk apa tetap berkeliaran, lebih baik Rara pulang saja.
"Makasih ya, Zel."
"Iya, Ra."
"Sebagai ucapan terima kasih aku. Gimana kalau aku masakin kamu sesuatu, mau nggak?"
Razel yang mendengar itu pun jadi berseri-seri. Matanya menatap senang.
"Boleh. Lo mau masak apaan?"
"Hm ... kamu maunya apa? Aku bisa masa nasi goreng, mie goreng, telur ceplok, telur dadar, sama bikin omelet juga bisa."
Razel terkekeh mendengarnya. "Terserah lo aja, deh."
"Eum ... kalau lihat bahan-bahannya, sih, aku buatin kamu nasi goreng aja. Gak pa-pa?"
"Gak pa-pa. Makasih, ya."
"Oke, sama-sama. Razel tunggu aja di meja makan. Mungkin agak sedikit lama."
"Oke."
Rara pun mulai bergulat dengan bahan-bahan yang tersedia di dapur. Bik Anti yang melihat Rara memasak pun tersenyum. Sudah lama ia tak melihat nona mudanya itu memasak.
Rara biasanya memasak hanya untuk mamanya. Namun, sejak mamanya jarang di rumah. Rara jadi kehilangan hobinya.
"Non, mau Bibik bantu?"
"Eh, nggak usah, Bik. Biar Rara aja. Lagian ini nasi goreng spesial buat Razel karena udah pulang."
"Oh, gitu. Oke, deh. Semangat, Non!"
"Makasih, Bik. Nanti Rara buatin sekalian buat Bibik, ya."
"Eh, gak usah repot-repot, atuh, Non. Bibik gak usah."
"Gak pa-pa, Bik. Sekalian juga, kok."
Bik Anti tersenyum. "Ya udah, Bibik tinggal, ya. Bibik mau ke depan dulu bersih-bersih."
"Oke, Bik. Kalau udah masak entar Rara panggil aja."
"Siap, Non."
Bik Anti pun pergi meninggalkan dapur. Rara lalu tersenyum dalam diam. Sudah lama ia tak memasak. Apakah masakannya akan sama seperti biasa?
Rara pun mulai memanaskan minyak di wajan. "Razel, ini spesial untuk kamu. Selamat datang kembali ke rumah kita!" ujarnya berteriak senang.
Ternyata Razel diam-diam mendengarkan. Ia pun tersenyum tipis. "Gue tunggu, ya."
Rara terkejut, ia pun menoleh ke belakang. Tampak Razel berdiri di depan pintu.
"Oke siap, Bossku!"
Razel memberikan jempol untuk Rara, lalu berlalu dari dapur.
***
"Nasi goreng sudah jadi, yey!" teriak Rara senang. Ia pun membawa mangkuk nasi goreng itu ke meja makan. Di sana sudah ada Razel duduk manis menunggu.
"Bik, ayo, Bik, sini cobain nasi gorengnya," ajak Rara. Bik Anti pun menghampiri nona mudanya itu.
"Aduh, Bibik jadi segan."
"Ngapain segan, Bik, ambil aja," ucap Razel pula.
"Ayo, Bik, duduk sini sama kita," ajak Rara.
"Bibik makan di dapur aja deh, Non." Bik Anti mengambil nasi goreng itu meletakkannya ke piring.
"Ambil yang banyak dong, Bik."
"Nggak usah, Non, ini aja udah banyak. Nih, udah Bibik ambil. Makasih banyak ya, Non."
"Sama-sama, Bik."
Bik Anti lalu berlalu ke dapur membawa sepiring nasi goreng itu. Begitulah Rara, ia tak menganggap Bik Anti sebagai orang asing yang hanya bekerja di rumahnya sebagai Asisten Rumah Tangga, melainkan sudah dianggap sebagai ibu sendiri oleh Rara. Bagaimana Bik Anti tidak sayang jika nona mudanya itu yang sudah cantik, baik hati, dan tidak sombong pula.
"Ayo makan, Zel," ucap Rara.
"Okey. Thank you, ya."
"Sama-sama. Gak tau, ya, enak apa enggak."
"Udah pasti enak."
Rara tersenyum singkat. Ia pun menyendokkan nasi goreng itu ke mulutnya.
Razel pun melakukan hal yang sama, tetapi karena masih panas---baru masak. Razel pun meniupnya terlebih dahulu. Rara yang duduk di samping Razel menghentikan itu.
"Razel, jangam ditiup. Nggak boleh meniup makanan, loh."
"Kenapa?"
"Karena karbondioksida yang kita keluarkan jadi masuk lagi ke makanan yang akan kita makan. Aku pernah belajar, katanya gak baik. Jadi ... kalau kamu mau makanannya cepat dingin, kamu kipas aja gini." Rara mengipas-ngipaskan tangannya ke piring nasi goreng Razel. Cowok itu tersenyum singkat.
"Makasih."
"Iya."
Razel melanjutkan makannya. Rara melirik Razel sekilas.
"Dari satu sampai sepuluh, nasi goreng buatanku nilainya berapa?" tanya Rara.
"Kayaknya nilai seratus pun gak cukup untuk nasi goreng seenak ini," ucap Razel yang membuat Rara tersenyum malu.
"Ih, Razel bisa aja, deh!"
"Tapi beneran, ini nasi goreng paling enak yang pernah gue makan."
"Ah, seriusan?"
"Iya."
"Masa, sih? Razel mau muji-muji Rara aja, nih, kayaknya."
"Enggak, dong." Sendok Razel disodorkan ke Rara. Gadis itu menerima suapan Razel.
"Suapan untuk orang pembuat nasi gorengnya," ucap Razel.
"Yey! Ini ... aku juga mau suapin Razel. Aaaak!"
Rara menyendokkan Razel pula. Cowok itu mengunyah sambil tersenyum. Ia terbayang saat mereka kecil melakukan hal yang sama. Dulu, Rara selalu bawa bekal ke sekolah dan ia selalu memaksa Razel untuk makan bersamanya saat jam istirahat.
Karena Rara hanya bawa satu sendok, ia pun menyendokkan Razel mereka pun hanya makan memakai satu sendok bersamaan.
"Oh, ya, Razel menghilang ke mana aja, sih, kemarin itu?" tanya Rara.
"Gue ke rumah Tante, Om, Nenek gue, biasalah, kangen kampung halaman."
"Ooh. Razel kangen keluarga ibu kandungmu, ya?"
"Iya."
Razel memiliki masalah di sekolahnya, karena keseringan cabut dan tidak masuk sekolah, alhasil papanya dipanggil dan ia kena scors. Maka dari itu, Razel memilih balik ke kampung halaman ibunya. Razel sebenarnya berharap satu sekolahan dengan Rara, tetapi karena nilainya tak cukup untuk masuk SMA yang sama, Razel harus berpisah dengan Rara di bangku SMA.
Waktu SMP penyemangat Razel adalah Rara, lalu siapa yang akan menjadi motivasinya lagi di SMA? Razel juga tidak memiliki teman. Ia juga tak mudah bergaul. Razel anak yang nakal, tetapi cenderung menyendiri. Saat jam istirahat pun ia tak berada di kantin atau kelas. Ia pergi berjalan-jalan dengan motornya, lalu memilih mengisi perut di jalanan.
Makanya ia tak memiliki teman. Di kelas pun Razel hanya mengantuk dan tidur. Tugas juga kadang dibuat kadang lupa. Sekacau itu hidup Razel, apalagi tidak diperhatikan lagi oleh papanya. Razel marah dan ia memilih pergi ke rumah neneknya menenangkan diri.
"Kemarin gue juga ke makam Ibu."
Rara menepuk-nepuk pundak cowok itu pelan. "Sekarang Razel udah punya Rara. Aku janji akan jadi adek yang baik. Ingat, Razel gak sendiri lagi, loh. Pokoknya kalau mau cerita atau butuh bantuan, Rara siap membantu. Jangan sungkan. Kita udah jadi keluarga sekarang."
Razel mengacak-acak rambut gadis itu pelan. "Makasih, ya."
"Iya, Kak Razel."
"Dih, ngapain panggil Kakak segala."
"Ya, pengen aja."
"Nggak usah. Geli gue kalau pakai embel-embel Kakak."
"Kak Razel ... Kak Razel ... Kak Razel!" Rara malah mengulang-ulangnya yang membuat Razel kesal, sedangkan Rara terkekeh pelan berhasil menjaili saudara tirinya itu. Rara memeletkan lidahnya, mencibir Razel.
"Awas, ya!"
Rara segera berlari dari situ dan Razel pun mengejarnya. Alhasil mereka main kejar-kejaran di sepanjang rumah.
Bik Anti yang melihat itu tertawa pelan, mereka seperti anak-anak saja. "Padahal Bibik rasa kalian berdua itu cocok kalau jadi pasangan, tapi malah jadi saudara."
Ya, seperti itulah, manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.