BAB 11

1017 Kata
Hari senin kembali! Semua aktivitas berjalan seperti biasa. Namun, saat ini seorang Arsya masih berada di bawah selimutnya. Hari hujan. Cuaca sangat dingin, tidur pastinya semakin nyenyak. Tak peduli sudah jam berapa sekarang. Kebetulan orang tua Arsya sedang berada di luar kota karena ada keperluan. Jadi, jika ia belum berangkat sekolah orang tuanya tak akan tahu. Akan tetapi, Arsya melupakan seseorang yang masih ada sebagai pengawasnya. Orang itu pun sudah berada di dalam kamar Arsya sekarang. Ia tampak tersenyum mengerikan. Tangannya memegang seember air yang siap disiramkan ke badan Arsya. "Masih belom mau bangun juga?" tanya Adimas mengangkat embernya lalu hendak menyiramkan ke Arsya. Namun, cowok itu langsung bangun dan bangkit, karena seember air itu sangat tidak masuk akal jika menyiramnya. Yang ada kasur Arsya pun ikut basah kuyup. "Ampun-ampun," ucap Arsya mengangkat tangannya. "Nah, bangun juga lo! Kirain udah innalillahi," ujar Adimas pedas. "Astaga, De. Lo niatin gue mati muda gitu? Ck ... ck ... ck. Lo siap kota ini banjir karena tangisan pacar-pacar gue?" "Idih, siapa juga yang mau nangisin lo. Udah, ah. Lihat, tuh, sekarang jam berapa! Lo udah telat!" "Nah, karena udah telat itu, makanya gue gak usah sekolah aja. Lagian pasti sekolah sepi, karena banyak yang ketiduran." "Dih, alasan. Gue lapor ke nyokap lo, ya." "Eh, jangan, dong, De. Please!" Arsya langsung mengambil tangan Adimas, menggenggamnya sembari memohon. Adimas yang melihat Arsya seperti anak kecil itu pun hanya bisa menghela napas. "Ya udah serrah, lo mau sekolah atau kagak bukan urusan gue. Yang penting gue udah bangunin lo!" Adimas pun langsung melangkah ke luar kamar Arsya. "Cepet mandi lo! Gue buatin sarapan, nih." "Weh, tumben lo baek, De. Emangnya lo bisa masak?" "Dih, ngeledek. Kalau masakan gue enak lo kudu bayar, ya!" "Oke. Gue gak yakin lo bisa masak." "Lihat aja entar," ucap Adimas benar-benar sudah hilang dari balik pintu. Arsya pun bangkit dari kasur. Berjalan ke kamar mandi. Namun, saat melintasi nakas yang terpajang di samping kamar mandi, mata Arsya tak sengaja menatap foto masa kecilnya bersama Adimas. Hanya tampak seperti bocah laki-laki, karena Adimas memang sudah berpenampilan seperti itu. Namun, Arsya sangat ingat, karena pada saat itu, ia bisa melihat sendiri sisi cewek dari Adimas. Arsya tertawa jika membayangkan itu. "De, lo kapan jadi cewek, sih?" tanya Arsya terkekeh pelan. Ia pun langsung bergegas ke kamar mandi. Jika tidak, maka Adimas pasti akan marah-marah lagi dengannya. Jika sedang mengomel, jiwa laki-tipuan Adimas tak akan mempan lagi, karena ia lebih mirip emak-emak yang sedang mengomeli anaknya. Lima menit sudah berlalu, Arsya keluar dari kamar mandi dan segera memakai bajunya. Ia tak berbohong jika ada aroma enak yang ditangkap oleh hidung mancungnya. "Hmm ... kayaknya, tuh, orang beneran bisa masak, deh," ucap Arsya segera bergegas keluar. Pasti Adimas sudah menunggunya. "Woi, lo masak apaan?" tanya Arsya setelah sampai di dapur. Jarak kamarnya dengan dapur memang tak terlalu jauh. "Rendang sawi! Hufh, lo nggak lihat gue lagi bikin kue!" ujar Adimas kesal. "Ciahelah, marah-marah mulu, Neng." "Stop manggil gue neng-nong, neng-nong. Risih tau, gak!" Mata Arsya menyipit pelan menatap ada yang aneh dengan Adimas. "De, bentar, deh!" ujarnya. Arsya pun tiba-tiba mendekati Adimas, menatap wajah gadis itu lekat, yang membuat Adimas tak berkutik. Ada apa? Kenapa? Arsya lalu mengusap tepung yang menempel di pipi Adimas. "Ada tepung di muka lo," ujar Arsya segera menjauh. Adimas sangat deg-degan, jantungnya berdebar kencang. Apa-apaan itu? Buat jantungnya tak aman saja. "Kenapa lo?" tanya Arsya, karena Adimas diam saja. Untung cowok itu tak melihat seberapa merahnya pipi Adimas sekarang. "Ish, ganggu aja," ujar Adimas melenggang kembali mengadoni kuenya. Arsya terkekeh pelan. "Jangan bilang lo baper sama gue, De?" Tawa Arsya kembali lebar. Sedangkan Adimas hanya merengut kesal. "Siapa juga yang baper." Padahal ... aslinya memang iya. Adimas juga tak tahu, kapan perasaan aneh ini muncul. Ia jadi sering deg-degan jika berada di dekat Arsya. Padahal dulu mereka sering berduaan pun tak terjadi apa-apa. "De, lo kan cewek, nih. Lo suka cowok, kan?" "Ya iyalah! Yakalu gue gak suka sama cowok!" "Nah, terus ... lo pernah suka sama cowok, nggak? Kan selama ini gue lihat lo jomlo terus, tuh." Adimas memutar bola matanya malas. "Gak mikirin itu, gak penting." "Ah, serius? Lo gak pernah suka atau ada rasa gitu sama cowok?" "Gak tau! Gak mikirin ke situ. Udah, ah. Topik lo gak ada yang lebih bagusan dikit? Bosan gue dengernya." "Soalnya gue mau jodohin lo sama temen gue, De!" ujar Arsya tiba-tiba serius. "Eh--nggak mau!" "Udahlah, coba aja dulu!" "Nggak." "Tapi nomor lo udah gue kasih ke dia. Gimana, dong?" Mendengar itu, Adimas refleks melempar tepung ke muka Arsya. "Eh? Sorry-sorry, gue kaget," ucap Adimas menggigit bibir bawahnya, takut Arsya marah. "Oh, mau perang tepung sama gue?" Arsya lalu ikut mengambil tepung dan melemparkan ke arah Adimas. Alhasil, mereka pun jadi main lemparan tepung yang membuat dapur berantakan. "Woy, udah, ah! Ini kapan jadinya kue ini kalau lo lemparin gue tepung terus!" teriak Adimas. "Ya kan lo yang mulai duluan!" "Ya maap. Udah, ah. Lihat, deh! Berantakan semua Arsya naudzubillah!" "Lo yang beresin," ucap Arsya hendak melangkah pergi, tetapi tangan cowok itu segera ditahan oleh Adimas. "Nggak boleh, ya! Lo juga kudu bantuin gue bersihin!" "Enggak mau. Lo aja, kan lo yang masak." "Ya kan untuk lo juga!" "Ya bodo, bukan urusan gue!" Arsya pun hendak berlari, melepaskan tangan Adimas. Akan tetapi, pegangan gadis itu sangat kuat. Akibat lantai yang sudah berserakan tepung, lantai itu pun jadi licin dan keduanya tiba-tiba terpeleset yang membuat mereka jatuh ke lantai. Adimas memejamkan matanya, takut merasakan badannya yang pasti sakit, karena mencium lantai keramik. Namun, Adimas tak merasakan apa-apa. Ia pun perlahan membuka matanya. Mata Adimas melotot lebar saat melihat ia sedang berada di atas badan Arsya. Cowok itu pun sedang menatap muka Adimas yang hampir saja bersentuhan dengan mukanya. Lantas, buru-buru Adimas bangkit dan membuang muka, seolah tak terjadi apa-apa. Jantungnya sudah pargoy di dalam. Tak usah ditanya lagi. "Wey, badan gue sakit, nih. Tanggung jawab!" suruh Arsya. "Bodo amat," ujar Adimas kembali saja pada kue yang sedang ia buat. Perasaan apa ini? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN