BAB 12

1014 Kata
Hari ini Arsya kembali sekolah. Sudah hari selasa. Subuh tadi Adimas sudah mengawasi Arsya agar tidak tidur kembali dan menyuruhnya bersiap-siap. Orang tua Arsya masih di luar kota, jadi Adimas masih bertugas mengurusi cowok itu. Jika tidak, maka akan sama halnya dengan kemarin. Arsya telat bangun dan jadi bolos sekolah. Tentu Adimas tak ingin hal tersebut terjadi dua kali. Arsya yang bolos sekolah, tetapi Adimas yang merasa bersalah. "Woy, nih, sarapan lo, udah gue siapin pagi-pagi!" teriak Adimas di meja makan, saat Arsya baru keluar dari kamarnya dengan seragam lengkap. "Ah, lo emang sohib terbaek gue, dah. Thank you, Bro!" ujar Arsya segera duduk di kursi—di hadapan Adimas. Menu sarapan pagi ini adalah nasi goreng dan Adimas yang memasakkannya tadi subuh. "Gimana? Yakin, kan, kalau gue cewek tulen?" tanya Adimas. "Yakinlah, walaupun lo gak cantik, malah ganteng, tapi ya, tetap gantengan gue. Tapi, lo tetep aja seorang WA ... NI ... TA." Adimas mendengkus, karena Arsya sengaja mengeja kata wanita penuh penekanan seperti itu. "Entar gue telat pulang, ya," ucap Arsya mulai menyendokkan nasi goreng itu ke mulutnya. "Mau ngapain?" "Gue pengen berusaha lagi deketin Rara. Gue gak bisa terima kalau gue kalah sama cowok songong di taman itu. Cakep juga lebih cakepan gue," ujar Arsya tak menyerah. "Kalau, tuh, cowok beneran pacarnya, elo yang salah, Sya. Masa lo mau jadi orang ketiga?" "Ya, makanya gue mau mastiin. Kali aja cowok itu cuma teman dekatnya yang lagi PDKT. Kan gue masih ada harapan. Lagian, gak mungkinlah Rara nolak cowok seganteng gue. Ye, gak?" tanya Arsya menaik-turunkan alisnya. Adimas hanya memutar bola matanya malas. "Udah, ah, cepetan abisin sarapan lo. Gue mau cuci piring." "Iya. Makasih, De. Lo udah cocok jadi seorang istri," ucap Arsya yang malah membuat muka Adimas memerah. "Masih lama!" teriak Adimas yang sudah berjalan ke dapur. "Jodoh, kan, nggak ada yang tau kapan datangnya." "Ah, berisik!" Arsya terkekeh pelan. Ia menyudahi makannya. Diteguk air sampai habis, lalu ditariknya tas dan keluar dari rumah. "Dee, gue pamit! Nitip rumah, ya!" teriak Arsya. Adimas masih sempat mendengar dan ia hanya mengiyakan dalam hati. Entah kenapa ia merasa sakit hati ketika mendengar Arsya ingin mendekati Rara lagi. Siapa, sih, Rara itu? Adimas jadi penasaran secantik apa. Adimas memukul kedua pipinya pelan. "Eh? Gue mikir apaan, sih? Udahlah biarin aja si Arsya mau pacaran sama siapa, kek. Bukan urusan gue! Lagian, gue nggak suka sama dia!" ujar Adimas meyakinkan diri. "Gak mungkin, kan? Gak mungkin gue suka sama cowok modelan Arsya! Iih ... gak mau, ah!" Adimas bergidik geli sendiri. "Gak gak, kemarin gue cuma khilaf doang dan lagi pun, kalau emang gue suka sama dia. Gue bakal kubur perasaan itu dalam-dalam. Nggak mau, ah, suka sama sahabat sendiri, entar yang ada jadi canggung dan aneh gitu!" Adimas malah mengoceh sendiri. "Gue kenapa, sih? Argh!" Gadis itu menarik rambutnya keaal. Entah apalah yang ia pikirkan sekarang. Ia tak boleh menyukai seorang Arsya. Ya, tak boleh dan jangan sampai terjadi. Setelah selesai mencuci piringnya, Adimas pun kembali ke meja makan, untuk mengambil piring Arsya yang masih di sana. Setelah mengambil piring dan gelas Arsya. Mata Adimas menyipit melihat sesuatu di bawah meja. Ia pun segera mengambilnya. Mata Adimas melotot menatap itu, ia pun menghela napas pelan. "ARSYAAA! Dompet lo ketinggalan, nih!" ujar Adimas kelas. Arsya tidak akan bisa jajan jika dompetnya ketinggalan. Alhasil, tidak ada pilihan lain, ia terpaksa ke sekolah Arsya untuk mengantarkan dompet cowok itu. "Argh, Arsyaaa! Lo bener-bener, ya. Nyusahin gue mulu, argh!" Adimas segera menyimpan dompet itu ke saku celananya, lalu melanjutkan mencuci piring itu dulu. Setelah itu, ia akan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah Arsya. Apa yang akan terjadi jika ia ke sekolah Arsya? Ingatlah, Adimas seperti pria tampan. Melihat Arsya saja para siswi di sana sudah kejang-kejang. Apalagi melihat tampang rupawan milik Adimas? Walaupun perempuan, jangan ragukan ketampanan tipu-tipuan yang dimiliki Adimas. "Hufh, Arsyaaa! Kalau nggak penting juga gue kagak mau ke sekolah lo, nih. Untung gue baik! Kalau gue jahat, nih, gue biarin aja lo kelaparan nggak jajan. Atau malah ngutang. Hahaha!" Adimas tertawa membayangkan wajah Arsya jika mengutang dengan ibu-ibu kantin, pasti sangat lucu. Karena Arsya terbiasa menjadi anak sultan tiba-tiba ngutang, pasti akan menjadi sesuatu yang menarik bukan? Ah, sudahlah. Adimas segera mengunci pintu rumah Arsya dan kembali ke rumahnya terlebih dahulu, tak mungkin juga ia hanya memakai boxser ke sekolah. Di rumahnya, ternyata ada Farah yang tampak sudah rapi. "Mau ke mana, Mam?" tanya Adimas. "Biasalah ke kantor. Kamu jaga rumah, ya." "Aku mau ke sekolahnya Arsya, Mam." "Ngapain?" tanya Farah penuh selidik, ia takut jika Adimas malah tertarik dengan sekolah umum dan memaksa Farah memindahkannya ke sekolah Arsya. "Mau anterin dompetnya, Mam. Nih, dompet si Arsya ketinggalan. Emang ceroboh banget, tuh, anak." "Oh, ya udah. Hati-hati. Nanti Mami juga telat pulang, ya, karena ada urusan." Alis Adimas mengerut. "Urusan apa, Mam?" "Ada, deh. Pokoknya abis balik, kamu kembali ke rumah lagi, ya. Jangan ke mana-mana." "Iya, Mam." "Ya udah, Mami pamit dulu. Bye!" "Bye, Mam." Adimas berlalu ke kamarnya mengganti pakaian yang sopan. Mungkin ini pertama kalinya ia ke sekolah Arsya. Ia dulu sempat tertarik dengan sekolah umum, karena bagaimanapun juga Adimas ingin punya teman. Akan tetapi, Farah tak ingin menyekolahkannya di sekolah umum. Makanya ia hanya homeschooling dan yang menjadi gurunya adalah maminya sendiri. Memang Farah dulunya berprofesi menjadi guru dan sekarang bekerja sebagai karyawan kantoran biasa. Walaupun begitu, Alex tetap menafkahi Adimas dan maminya. Karena orang tuanya itu bukanlah bercerai, melainkan berpisah saja. Selama ini juga Alex tetap memperhatikan mereka, walaupun respons maminya sedikit berbeda, tetapi Adimas yakin Farah masih mencintai Alex. Tak peduli seberapa banyaknya istri papinya itu yang pasti Farah tetap cinta pertama Alex. Setelah selesai, Adimas pun keluar dari kamarnya tak lupa mengunci rumah. Ia ke sekolah menaiki motor saja, karena jika menaiki taksi tak terbayang nanti macetnya seperti apa. Lagi pula sekarang masih jam orang pergi kerja. Adimas memakai helmnya lalu mulai melajukan motornya. Sekolah Arsya tak jauh dan tidak pula dekat. Mungkin membutuhkan waktu dua puluh lima menit untuk sampai di sana, jika tidak ada gangguan apa-pun. Lihatlah sekarang, style Adimas benar-benar mirip seperti seorang laki-laki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN