Adimas melangkahkan kaki masuk ke gerbang sekolah Arsya, setelah memarkirkan motornya di parkiran. Tadi, ia sempat melapor kepada satpam terlebih dahulu, agar tidak menjadi masalah.
Lagi pula Adimas bukan siswa di sekolah ini, bisa-bisa ia dianggap penyusup. Untung saja satpam itu mengizinkannya masuk dan tidak banyak tanya.
Baru saja kakinya menyusuri lorong-lorong di sekolah ini, sudah banyak pasang mata memperhatikannya. Bahkan ada beberapa yang terdengar oleh Adimas jika siswi itu terang-terangan memujinya.
"Woi, lihat, deh. Tuh cowok ganteng!"
"Dia ngapain di sini, ya? Ganteng banget, gue gak tahan!"
"Apa jangan-jangan anak baru?"
Adimas hanya menampilkan muka datarnya. Tujuannya kemari adalah untuk mengantarkan dompet Arsya yang ketinggalan. Tadi Adimas sudah mengirimkan pesan kepada Arsya dan mengatakan jika ia akan mengantarkan dompet cowok tersebut.
Dengan senang hati Arsya menunggu Adimas di kelas, katanya. Adimas sempat mendengkus kesal, karena cowok itu sengaja sekali ingin Adimas masuk ke sekolahnya. Padahal Arsya bisa saja menunggu di gerbang, bukan? Sialnya Adimas tidak tahu kelas Arsya di mana.
Sudah puas berjalan di lorong-lorong itu, tetapi tak menemukan kelas 10 IPS 3. Adimas menyerah, sekolah ini sangatlah luas.
Mau tidak mau Adimas terpaksa harus bertanya kepada siswi-siswi itu.
"Hekhem, permisi ...." Adimas menghampiri para siswi yang duduk di bangku panjang depan kelas itu.
Sontak para siswi itu terdengar setengah berteriak. Ada apa? batin Adimas bingung, apa karena ia menghampiri mereka?
"Permisi ...," sapa Adimas mengulang.
"AAAAA!" ketiga siswi itu malah memekik girang. Adimas mendengkus pelan, kekesalannya terhadap Arsya semakin bertambah. Hal ini yang malas ia lakukan.
"Hekhem ...."
"Hai, Ganteeeng. Ada apa, ya?" sahut salah satu di antara siswi tersebut.
Adimas hanya bisa pasrah disebut ganteng, karena cantik tak melekat padanya.
"Mau nanya. Kelas Arsya di mana, ya?" tanya Adimas to the point saja. Arsya pernah bilang jika ia sangat famous di kalangan siswi sekolah. Tentu saja mereka mengenal Arsya, bukan? Jika tidak, maka kata-kata cowok itu hanyalah kebohongan semata, akibat terlalu narsis.
"Wah, kamu siapanya Arsya? Jangan-jangan sodaranya? AAAA pantesan sama gantengnya."
Lagi lagi Adimas hanya bisa bersabar. Padahal yang ia tanya bukanlah itu. Oh, ayolah, Adimas semakin muak sekarang. Lagi pula kenapa tak tampak batang hidung Arsya di sini?
Menyesal sekali ia datang ke sekolah ini, lebih baik ia biarkan saja Arsya mengutang di kantin atau kelaparan.
"Ya, gue kerabatnya," ujar Adimas mengiyakan saja.
"AAAA! Satu Arsya aja udah bikin kejang-kejang, apalagi yang ganteng modelan gini!" Mereka bertiga malah kegirangan.
Adimas memilih untuk pergi saja, karena tidak ada gunanya juga bertanya dengan mereka.
"Eh, tunggu-tunggu. Nama kamu siapa? Sini-sini biar aku anterin," ujar Sofia menahan tangan Adimas yang hendak pergi.
Adimas menatap tangannya yang dipegang Sofia, buru-buru Sofia melepaskannya.
"Adimas."
"Oke, ayo Dimas, aku anterin ke kelas Arsya!" Sofia pun menarik tangan Adimas dan berlalu dari situ, membuat dua temannya merengut iri.
'Pasrah aja udah,' batin Adimas.
***
"Nah ini kelasnya, cepat, ya. Tujuh menit lagi bel." Sofia pun memanggil Arsya di dalam kelas.
"Beb! Arsyaku! Ini sodara kamu ada yang nyariin," ujar Sofia melambaikan tangannya.
Arsya yang sedang mengobrol dengan temannya pun segera menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum singkat menatap Adimas sudah berdiri di depan pintu bersama Sofia—salah satu pacarnya juga di kelas sebelah.
Arsya segera menghampiri Adimas. Semua mata di kelas itu pun memusatkan perhatian kepada Adimas. Banyak yang memujinya ganteng, banyak juga yang penasaran bertanya siapa cowok itu?
Adimas menampilkan muka datarnya dengan tatapan jengkel yang membuat Arsya terkekeh.
"Hai, Bro!"
Adimas langsung menyodorkan dompet Arsya ke cowok itu.
"Weh, thank you, Brother!" ujar Arsya mengambil dompetnya dan menyimpan di saku celana. Tatapan Arsya beralih ke Sofia yang tampak tersipu malu.
"Makasih juga udah anterin dia ke sini," ucap Arsya mengusap rambut cewek itu singkat, yang membuat Sofia melayang tinggi. Para pacar Arsya yang di dalam kelas melihat itu pun jadi cemburu. Apalagi Sofia tampak tersenyum kemenangan.
Sofia belike, 'hahaha ... rasain, tuh, Arsya lebih sayang gue, kan? Cemburu, gak? Cemburu, gak? Ya cemburulah.' batin Sofia.
"Aaa, sama-sama, Beb. Lagian Adimas juga sodara kamu." Sofia memegang tangan Arsya, semakin membuat para pacar Arsya di kelas memanas. Sengaja sekali tampaknya.
Arsya melirik Adimas singkat. Oh, jadi itu alasannya?
"Okelah, makasih, ya."
"Iya. Aku balik ke kelas, ya. Adimas ... see you!" ucap Sofia pamit undur diri.
Adimas hanya mengangguk kikuk. Ah, andai Sofia tahu, jika ia bukanlah cowok tampan dan mereka segender. "Makasih, ya!" teriak Adimas, dibalas dua jempol oleh Sofia.
"Puas lo?" tanya Adimas yang membuat tawa Arsya pecah.
"Kapan lagi, kan, lo ke sekolah umum gini."
"Udah, gue mau pulang," ucap Adimas berbalik badan.
"Lo pake apa ke sini?"
"Pake motor."
"Eh, tunggu dulu! Mau gue traktir di kantin?" tawar Arsya. Ia juga tak enak melihat Adimas pulang begitu saja setelah repot-repot mengantarkan dompetnya.
"Lo bukannya udah mau masuk kelas?"
"Tadi guru gue bilang dia gak masuk, karena ada kesibukan, Jadi pagi ini free class. Udahlah, ayo ke kantin!" ujar Arsya menarik tangan Adimas tanpa persetujuan gadis itu.
"Eh, lo ya!" kesal Adimas.
"Udahlah, gue mau traktir lo karena udah bawain dompet gue. Jadi, santai aja."
"Hmm."
"Sekalian ada yang mau gue omongin."
"Apaan?"
"Nanti aja di kantin."
"Hm, oke."
Ternyata di balik itu ada sepasang mata yang memperhatikan mereka, lebih tepatnya mata cewek itu mengarah kepada Arsya. Ia tersenyum singkat.
"Arsya, kita ketemu lagi," ujarnya.
"Heh, lo ngapain di sini, ha?"
Cewek yang bernama Niri itu menunduk takut, saat Lulun dan teman-temannya datang. Hari ini adalah hari pertama kalinya ia sekolah di sini.
"Ayo ikut gue!" ajak Lulun, tetapi Niri menggeleng menolak.
"Ke mana?"
"Ikut aja, sih!" paksa Lulun. Teman-temannya pun membantu menarik Niri. Gadis itu pun menurut saja.
"Aku mau masuk kelas, Kak."
"Udah, diem!"
Ternyata Lulun membawa Niri ke toilet. Tidak ada yang bisa dilakukan Niri selain pasrah.
"Muka lo itu terlalu buriq tau, nggak!" Lulun menghadap ke temannya. "Minta pena, dong!"
"Kak mau ngapain?" tanya Niri.
"Udah, diem aja! Kalian pegangin dia, ya."
Lulun pun mulai mencoret-coret muka Niri dengan pena yang diberikan temannya. Lulun tertawa pelan, sangat puas melihat muka Niri akibat coretannya, apalagi gadis itu hanya diam pasrah.
Ya, tidak ada lagi yang harus dilakukan Niri selain pasrah. Ingin berontak pun sama saja, tidak ada gunanya.
Lulun semakin menjadi-jadi mencoret muka mulus Niri.