BAB 14

1023 Kata
Hari ini Rara sudah kembali ke sekolah. Razel-lah yang memaksanya. Rara pun berjanji tidak akan bolos lagi. Ia akan sekolah seperti biasa. "Rara, kamu dipanggil oleh Bu Sinta ke ruangannya," ujar Pak Dodi yang akan mengajar di kelas pagi ini. "Baik, Pak," ucap Rara yang sudah tahu alasan kenapa ia dipanggil. Sudah pasti karena ia absen berkali-kali. "Permisi, Pak," ujar Rara pamit keluar kelas. Tadi Bu Sinta sudah menitipkan pesan kepada Pak Dodi, jika Rara sudah masuk kelas, suruh ke ruangannya. Pasalnya Bu Sinta sudah memantau dari lama. "Iya." Rara segera keluar kelas. Ia pun berjalan menuju ruang BK. Ia harus menyiapkan mental dan jawaban yang tepat ketika diinterogasi oleh Bu Sinta nanti. Siap tidak siap, ini adalah resiko yang harus ia tanggung. *** "Selamat pagi, Bu." "Pagi, Rara. Silakan duduk." Rara segera duduk di hadapan Bu Sinta, ia hanya menunduk, tak berani menatap guru BK tersebut. "Apa kamu sudah tahu, alasan saya memanggil kamu kemari, kenapa?" Rara hanya mengangguk pelan. "Lalu, bisa jelaskan. Apa alasan kamu tidak hadir berhari-hari. Terhitung absen sembilan kali dalam bulan ini. Kamu ke mana saja?" Ia sudah siap. Rara harus bisa menjawab pertanyaan Bu Sinta. "Saya sakit, Bu." Rara terpaksa setengah berbohong. Mengenai sakit, ia memang memiliki penyakit, tetapi bukan itu alasan utama ia bolos. "Kenapa tidak ada surat keterangan sakit dikirim ke sekolah? Kamu juga tidak memberi kabar kepada walas kamu." "Maaf, Bu. Saya tidak sempat mengirim surat." "Orang tua kamu bisa, kan?" Mendengar itu, kepala Rara langsung terangkat menatap mata Bu Sinta. Tersungging senyuman miring di bibir Rara. "Orang tua saya, Bu? Tahu saya masih hidup saja mungkin tidak," ucap Rara tersenyum pedih. "Apa maksud kamu?" tanya Bu Sinta heran. Rara tak menjawab, ia menoleh ke arah lain, agar tak bertatapan langsung dengan Guru BK itu. "Ceritakan saja kepada saya. Jika saya bisa bantu pasti saya akan bantu kamu." "Alasan saya absen berkali-kali karena sakit, Bu. Bukankah hanya itu yang Ibu tanyakan? Saya sudah beritahu alasannya. Apakah boleh saya pamit sekarang?" ujar Rara yang tak ingin Bu Sinta semakin memperdalam topik yang tak sengaja ia buka itu. "Tunggu, Rara. Kamu tadi bilang, jika orang tua kam--" "Maaf, Bu. Itu bukan urusan Ibu, karena itu urusan pribadi saya Jadi, tidak usah diteruskan, Bu." Bu Sinta menghela napas. Benar juga, ia tak boleh ikut campur jika tidak diizinkan. "Mengenai absen, kamu banyak sekali ketinggalan pelajaran. Mungkin ini juga akan berakibat pada nilai kamu. Apakah kamu siap posisi juara kamu tergantikan?" Pada semester satu kemarin Rara peraih nilai tertinggi dari semua kelas 10. Ya, otak Rara jangan diragukan lagi. Ia sudah pintar dari lahir. "Tidak masalah, Bu, saya siap. Kalaupun nanti posisi saya tergantikan, saya tidak permasalahkan, karena ini kesalahan saya." "Tapi Ibu harap kamu bisa mengejar pelajaran yang ketinggalan. Ibu yakin kamu pasti bisa mempertahankan juara kamu," ucap Bu Sinta yang membuat Rara tersenyum. "Terima kasih, Bu, atas kepercayaannya. Saya akan berusaha." "Baiklah Rara, mungkin hanya itu yang bisa Ibu sampaikan kepada kamu. Lain kali jika memang sakit, beri kabar ke walas, agar tidak terhitung absen." "Baik, Bu. Terima kasih." "Ya sudah, kamu boleh keluar sekarang." "Baik, Bu." Rara pun keluar dari Ruang BK itu. *** "Lo mau ngomongin apaan, sih?" tanya Adimas, karena Arsya sama sekali tak membuka suara sejak tadi. Ia asyik dengan semangkok baksonya. "Eh, iya, lupa! Mama Papa gue undang lo buat ke rumah besok. Kemarin nyokap kasih tau, tapi gue lupa ngasih tau lo." "Ngapain? Biasanya juga gue sering ke rumah lo." "Mana gue tau, mungkin ada hal penting yang ingin diomongin sama lo. Gue juga dilarang tau apa yang nyokap dan bokap bilang ke lo, katanya gue gak usah tau." "Hem, begitu. Oke, besok gue ke rumah lo. Jam berapa?" "Malam aja, siang nyokap bokap gue masih kerja." "Oke, deh." "Eh, ya, De. Gue tadi pagi ketemu Rara, berarti dia udah masuk lagi. Gue mau nembak dia nanti siang." "Oh," komentar Adimas singkat, padat, dan lugas. "Dih, lo nggak seneng gitu? Rara itu cewek idaman gue. Cantik, imut, pintar. Ah ... idaman gak, tuh?" "Ya, ya, ya. Semua cewek juga lo bilang gitu." "Eh ... nggak, De. Ini beda. Bahkan, ya, kalau bisa dibilang yang lain itu cuma suka-suka biasa. Tapi kalau Rara, suka gue ke dia udah di level atas." Adimas hanya menghela napas pelan dan memutar bola matanya kesal. Entah apalah yang Arsya bicarakan. "Udah, ah. Gue mau pulang." "Eh, emang lo tau jalan pulang?" "Ya taulah." "Awas nyasar, sekolah ini luas. Mau ke gerbang aja jauhnya ibarat dari Sabang ke Merauke tau gak." "Ya, gue tau. Tapi gue hafal kok jalan balik ke gerbang. Jangan ragukan daya ingat otak gue!" ujar Adimas memukul dahi Arsya pelan dengan sendoknya. "Ya, deh, terserah lo. Berarti gue nggak harus anterin lo ke gerbang, kan?" "Kagak usah! Gue bisa sendiri." "Awas, ketemu sama cewek lagi. Bahaya kalau yang lo temuin cabe-cabean. Mereka emang paling nggak bisa lihat cowok cakep." "Gue cewek," dengkus Adimas pelan. "Ya, tetap aja identitas lo itu cowok!" "Hm. Ya, ya. Udah, ah. Bye!" "Sekali lagi thanks, Brader! Gak tau, deh, di mana cari sohib sebaik lo." "Lebay banget, please. Pengen gue getok ginjal lo," ujar Adimas kesal. "Serem amat, Neng." "Jangan panggil gue neng-nong, neng-ning lagi, dong!" "Iya, becanda doang. Hati-hati." "Hmm." Adimas melambaikan tangannya dan mulai berjalan keluar dari kantin. Sebelum kembali pulang langsung ke gerbang. Adimas tak sengaja melewati toilet. Ia pun ingin ke toilet dulu sebentar, karena ingin Buang Air Kecil. Namun, Adimas ragu, ia masuk ke toilet cewek atau cowok, ya? Jika ada cewek di dalam toilet cewek, bisa-bisa mereka salah paham. Jika Adimas masuk ke toilet cowok malah berabe pula. "Ribet banget, sih, jadi gue!" kesal Adimas, terpaksa masuk ke toilet cowok saja. Kosong! Ah, untung saja. Ia bisa buang air kecil sambil jongkok jika begini. Setelah selesai, Adimas pun keluar dari toilet itu. Namun, telinganya samar-samar mendengar sebuah suara dari toilet cewek. Seperti suara keributan. Ada apa? Masa mereka konser si toilet? Tidak mungkin. Penasaran apa yang terjadi, Adimas pun melangkah mendekati toilet cewek itu. Dan, setelah melihat apa yang terjadi. Mata Adimas melotot tak percaya. "Woi!" teriak Adimas yang membuat sekelompok siswi itu terkejut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN