Mereka terkejut atas kehadiran Adimas dan juga mereka beranggapan kenapa cowok bisa masuk ke toilet ini?
"Kalian ngapain, ha?" tanya Adimas dengan intonasi tinggi.
"Elo siapa? Kenapa cowok masuk ke toilet cewek! Nggak sopan banget, jangan beranggapan karena lo ganteng, lo bisa seenaknya, ya!" ujar cerewet gadis bernama Lulun itu.
Adimas hanya menatap datar. Ia kembali beralih menatap seseorang yang dikeroyoki tiga gadis ini. Adimas mengulurkan tangannya kepada gadis yang terduduk di lantai toilet dengan muka ketakutannya itu.
Adimas menebak pasti gadis itu korban bullying dari tiga gadis ini. Ternyata hal seperti itu memang ada di sekolah umum. Maklum, Adimas selama ini hanya homesholling.
"Heh, lo denger gue nggak, sih?" bentak Lulun. Adimas hanya mengabaikan. Ia menarik tangan gadis pendek yang menjadi korban tadi.
Buru-buru Adimas membawa gadis itu keluar.
"Heh! Dasar nggak sopan, gue laporin lo!" teriak Lulun sangat kesal.
"Gue punya bukti lo melakukan bullying di sekolah. Jadi, apa lo mau gue laporin juga?" ancam balik Adimas yang membuat Lulun terdiam takut.
Merasa kalah telak, Lulun mengajak kedua temannya pergi saja dari situ. Walaupun mereka juga penasaran siapa cowok itu.
"Lo nggak pa-pa?" tanya Adimas.
"Nggak pa-pa, kok, Kak. Makasih, ya."
"Nama lo siapa?"
"Niri, Kak."
"Oke. Niri ... kalau lo dibully lagi, laporin aja ke guru, ya."
Niri langsung menunduk takut. "Bukannya Niri gak mau, Kak, tapi Niri juga gak tega sama Kak Lulun."
Alis Adimas mengerut, tak tahu arah pembicaraan Niri. Jelas-jelas Lulun sudah berbuat jahat padanya.
"Bagaimana pun juga, tetap aku yang salah," ucap Niri masih menunduk.
"Emang lo buat kesalahan apa sama dia?"
"Aku--aku ... aku nggak bisa cerita sama Kakak. Pokoknya makasih, ya." Niri pun segera berlari pergi dari situ meninggalkan Adimas sendirian.
Apa yang disembunyikan Niri? Adimas jadi penasaran, tetapi ini bukan urusannya. Jadi, biarkan saja. Lagi pula mereka pasti tidak akan pernah bertemu lagi, kan?
Di balik itu, Lulun tampak sangat kesal dengan cowok yang ia temui di toilet tadi.
"Ganggu aja tau, gak."
"Tapi, dia ganteng, loh, Lun," ujar Tina.
"Bodo amat ganteng, dia udah ganggu kesenangan gue," kesal Lulun.
"Kayaknya dia, deh, yang dihebohin sama anak kelas kita. Katanya cowok itu kerabatnya Arsya. Kalo ga salah ... namanya eum Adimas." Ria teringat jika Sofia bercerita heboh di kelasnya tadi.
"Arsya mantan gue kalian tau, kan, dan gue benci sama dia. So, gue gak peduli!" Lulun beranjak dari situ duduk di bangku taman, diikuti sama kedua temannya.
"Eh, Lun, gue mau tau, dong. Sebenernya adik kelas yang jadi murid baru itu siapa lo, sih?" tanya Tina.
"Pembantu gue!" ujar Lulun kesal.
"Masa, sih? Kok lo kejam banget sama pembantu lo?" ujar Ria, jadi tak tega sama Niri tadi.
"Kalian yang nggak tau, gak usah komen, deh."
Sebenarnya Niri bukanlah pembantunya, melainkan adik tiri Lulun. Mereka berdua pun dulu sangat dekat, seperti kakak-adik yang saling menyayangi. Namun, suatu hal terjadi yang merusak hubungan baik itu. Lulun sangat benci dengan Niri, tetapi Niri tak bisa membenci Lulun.
Tiba-tiba Lulun menangis, yang membuat kedua temannya panik. Kenapa tiba-tiba gadis itu menangis?
"Lun, lo gak pa-pa, kan?"
"Gak pa-pa, gue gak pa-pa, kok, gak usah panik gitu," ucap Lulun menghapus air matanya yan masih mengalir.
"Aaa, jangan nangis! Kita akan selalu ada buat lo," ujar Ria memeluk Lulun, diikuti oleh Tina.
"Makasih ya, Guys, tapi tadi gue cuma keinget sama bunda gue, kok."
Ria mengusap rambut Lulun, menenangkannya. Ia tahu, kondisi mental sahabatnya itu sudah melemah. Jadi, selama ini hanya Ria dan Tina yang menguatkan gadis serapuh Lulun itu.
Di samping itu, Rara hendak kembali ke kelas, tetapi ia malah bertemu dengan gurunya yang mengajar Pendidikan Pancasila. Bu Ririn itu malah meminta tolong kepada Rara untuk mengembalikan spidol kelas yang tak sengaja terbawa olehnya.
"Minta tolong ya, Nak, antarkan spidol itu ke kelas IPA 1. Tadi Ibu ga sengaja bawa, kasihan mereka tidak bisa menulis di papan."
"Baik, Bu."
Tungkai kaki Rara pun berjalan ke kelas IPA satu yang berada di ujung sana. Jika ia dinyatakan terlambat masuk kelas kembali dari Ruang BK. Rara punya alasan jika Bu Ririn menyuruhnya.
"Hai, Ra," sapa teman-temannya dari kelas lain yang mengenal Rara.
"Hai."
Rara mempercepat jalannya menuju kelas IPA 1. Tujuh menit kemudian. Kakinya berhenti di depan kelas itu.
"Selamat pagi, permisi, Bu," ujar Rara.
"Pagi, ada apa?" sahut guru yang mengajar.
"Saya disuruh mengembalikan spidol ke kelas ini oleh Bu Ririn, Bu."
"Nah, itu spidol kita, pantesan gak ada tadi," ujar salah satu murid di kelas.
"Baik, terima kasih, ya," ucap guru itu. Rara pun mengangguk pelan.
"Saya pamit undur diri, Bu," ucap Rara sopan.
"Baik, Nak."
Ternyata Aldo memperhatikan Rara sejak tadi. Ia tersenyum singkat. Sudah lama ia memendam perasaan ini pada Rara, tetapi belum juga bisa ia utarakan. Mungkin suatu saat nanti Aldo akan jujur dengan perasaannya.
***
Sejujurnya Adimas bingung ke mana jalan kembali ke parkiran, karena ternyata sekolah Arsya sangatlah luas, tak semudah yang ia bayangkan. Ia juga sudah lupa jalan kembali ke gerbang, tetapi Adimas tak ingin merepotkan Arsya untuk mengantarkannya. Lagi pun, gengsi jika mengatakan lupa jalan pulang.
"Eh, De! Lo masih di sini ternyata." Tiba-tiba Arsya muncul lagi. Benar-benar mengejutkan, cowok itu seperti hantu saja datang mendadak.
"Iya, ini mau pulang."
"Bilang ajalah kalau lo lupa jalan ke gerbang."
"Dibilangin juga, gue gak lupa!" Sebenarnya lupa, tetapi gengsi saja.
"Udahlah, mending gue anterin lo sampai gerbang." Arsya menarik tangan Adimas paksa, yang membuat gadis itu hanya bisa pasrah saja.
"Iya-iya makasih."
Mereka pun berjalan beriringan di lorong-lorong sekolah itu. Namun, tiba-tiba tanpa disengaja Arsya melihat seseorang berjalan ke arahnya. Langkah Arsya terhenti, matanya fokus menatap gadis itu yang kini sudah saling berhadapan dengannya.
"Ar--Arsya, kan? Eh, iya bukan?" tanya gadis itu lembut.
"Rara!" panggil Arsya bersemangat. Sedangkan Adimas hanya bisa memutar bola matanya malas. Oh, jadi ini Rara cewek kebanggan Arsya yang selalu diceritakannya itu. Adimas mengakui cewek itu sangat cantik, wajahnya baby face sekali, rambutnya dikucir dua dan ada poni yang menutupi dahinya. Tampak seperti anak SMP apalagi ukuran badannya yang minimalis. Seperti inikah tipe cewek Arsya? Jika benar, maka Adimas bukanlah masuk pada tipe cewek idaman seorang playboy cap buaya Arsya.
Akan tetapi, biarlah. Mungkin Rara yang terbaik untuk Arsya. Adimas tak ingin memusingkan masalah itu.