Rara hanya tersenyum singkat, setelah menyapa ia pun hendak berlalu, tetapi tangannya ditahan oleh Arsya.
"Ra ... gue pengen ngomong sesuatu," ujar Arsya.
Langkah Rara terhenti. "Mau ngomong apa?"
"Gue ...."
"Eh, iya. Aku buru-buru, maaf, ya. Bisa nanti aja, nggak? Soalnya sekarang aku ada kelas."
"Oh, iya-iya. Nggak pa-pa. Gue tunggu lo di taman sekolah pas jam istirahat, ya."
"Oke."
Setelah itu, Rara melanjutkan jalannya kembali. Adimas yang daritadi sudah kesusahan menahan tawanya, sekarang ia lepaskan juga, membuat Arsya mendengkus. Tampaknya Adimas sangat puas menertawakannya.
"Jadi itu Rara-rara yang lo maksud?" tanya Adimas. Ia berbicara dengan Arsya sembaro berjalan menuju gerbang.
"Iya. Gimana? Cantik, kan? Gue belum pernah ketemu sama cewek secantik itu, sih."
"Hm ... ya. Lumayan."
"Kayak gak ikhlas gitu lo mujinya. Andai lo melihat Rara dengan mata cowok, pasti lo bakal terpesona. Ini karena lo cew--"
"Jangan bongkar identitas gue, ya. Gimana kalau ada yang denger?"
"Hehe, iya, maap-maap."
"Terus ... entar lo mau nembak dia di taman?"
"Iya."
"Bukannya lo bilang dia udah punya cowok?" tanya Adimas heran.
"Iya, tapi kan belum pasti juga mereka pacaran. Siapa tau tuh cowok juga lagi PDKT. Gue tentunya gak mau kalah, selagi Rara belum punya siapa-siapa, gue bakal maju paling depan buat dapatin hati dia."
"Dih, lebay," komentar Adimas.
Akhirnya mereka pun sampai di gerbang sekolah.
"Jangan lupa entar malam ke rumah gue," ucap Arsya.
"Yaelah, rumah lo sama gue tuh sejengkal, kalau gue gak dateng kan bisa samperin gue ke rumah."
"Ya masalahnya gue entar gak ada di rumah, De."
"Eh, mau ke mana lo?"
"Ya mau kencan sama pacar-pacar guelah."
"Dih, dasar playboy lo itu kudu dibasmi."
"Udahlah, sana-sana pulang. Thanks udah anterin dompet gue!"
"Hm."
"Hati-hati," ucap Arsya melambaikan tangannya.
***
Saat perjalanan menuju kelas, Arsya tak sengaja bersenggolan dengan seorang cewek jalan sambil menunduk.
"Eh, so--sorry," ujar Arsya.
"Gak pa-pa, kok," jawab gadis itu, ia pun menoleh ke arah cowok itu.
"Arsya ...."
"Niri ....."
Keduanya pun saling menyapa.
"Apa kabar, Woi! Udah lama gue nggak lihat lo," ucap Arsya merangkul bahu gadis itu.
"Arsya, lepasin, nanti kalau ada yang lihat gimana?"
"Biarinlah. Lagian lo, kan, pacar pertama gue waktu SMP."
Niri melengos pasrah.
"Lo kok bisa ada di sini? Anak baru? Eh, iyakah? Kelas berapa?" tanya Arsya.
"Iya, anak baru, kelas bahasa."
Kelas Bahasa? Berarti sama dengan Rara. Wah, kebetulan sekali, batin Arsya.
Niri adalah mantan Arsya. Ia adalah pacar pertama dalam hidup Arsya. Ya, walaupun cuma cinta monyet, tetapi tetap saja Niri adalah pacar spesial bagi Arsya, karena dialah yang dipilih Arsya menjadi pacar pertamanya, sebelum ia menjadi playboy cap buaya.
Mereka pacaran tiga bulan. Waktu pacaran paling lama Arsya yaitu bersama Niri. Mereka putus, karena Arsya ketahuan selingkuh, sebenarnya salah paham, tetapi Niri tetap memutuskan Arsya.
Akan tetapi, walaupun status mereka adalah mantan, selama tiga tahun di SMP mereka tetap berteman baik.
"Lo kok bisa pindah ke sini?" tanya Arsya.
"Nyokap nikah lagi," jawab Niri jujur-jujur saja. Lagi pula Arsya adalah satu-satunya teman yang Niri punya.
"Nikah lagi? Bukannya nyokap lo udah tiga kali nikah, ya?"
"Ya, tau sendirilah."
"Terus ... gimana? Bokap baru lo baik, nggak? Ceritalah, Neng! Gue seneng, nih, kita ketemu lagi. Walau lo bilang pas tamat SMP kemarin bakal pindah ke Manado."
"Lain kali aja, gue harus kembali ke kelas, nih," ucap Niri melepaskan rangkulan Arsya.
Gadis dengan muka tanpa ekspresi itu melangkah pergi meninggalkan Arsya.
Niri memang misterius. Bahkan Arsya jarang melihatnya tersenyum, ekspresinya selalu seperti itu. Arsya juga tidak bisa membedakan bagaimana muka Niri marah, sedih, atau pun bahagia. Semua tampak sama.
"Kalau Niri udah balik, gue jadi ragu, nih, ngejar Rara atau balik lagi sama Niri," ucap Arsya.
"Hmm ... Niri memang menarik, tapi gue udah pernah pacaran sama dia. Ya udah, Rara aja, lagian dia lebih cerita gitu," ucap Arsya masih berceloteh sendiri. Cowok itu kembali ke kelas.
***
Langkah Niri kembali dihalangi oleh Lulun beserta gengnya. Niri hanya bisa menghela napas. Ia yakin Lulun tak akan melepaskannya begitu saja.
"Heh, lo pikir, setelah diselamatin sama cowok cakep tadi, lo bisa lolos dari gue?"
"Maaf, Kak, tapi aku harus kembali ke kelas."
"Gue gak peduli!" teriak Lulun membentak. Niri hanya menunduk.
"Gue belum puas sebelum ... melakukan ini!" Lulun membuka tutup penanya, lalu menggoreskan pena itu ke muka mulus Niri, ia mencoret-coret muka gadis itu.
"NAH! Ini baru cocok sama muka buruk supa lo itu!" teriak Lulun tertawa puas. Kedua temannya pun ikut tertawa.
Niri hanya bisa pasrah. "Sudah, Kak?" tanyanya.
"Sudah apanya maksud lo, ha! Gue gak akan berhenti melakukan ini ke lo sampai lo dan ibu jallang lo itu angkat kaki dari rumah gue!"
Ya, Lulun memang saudara tirinya Niri. Ayah Lulun dan Ibunya Niri menikah satu tahun yang lalu. Penyebab Lulu sangat membenci Niri adalaah ... ada alasannya, yang tidak bisa dijelaskan sekarang.
"Permisi, Kak," ucap Niri segera berbalik kembali ke toilet.
Ternyata inilah alasan Lulun meminta ayahnya untuk memindahkan Niri ke sekolahnya, agar bisa lebih leluasa membully gadis itu.
Niri masuk ke dalam toilet, mencuci mukanya yang penuh coretan. Ingin sekali ia lari jauh-jauh dari Lulun, tetapi tak bisa. Ada rasa bersalah yang harus ia tanggung.
Niri mengusap air matanya yang kembali mengalir, bahkan tak terhitung berapa kali ia menangis setiap harinya.
Niri selalu disiksa oleh Lulun di rumahnya. Tak jarang pipi Niri menjadi incaran tangan Lulun. Ia harus menahan rasa sakit akibat tamparan Lulun setiap harinya. Belum lagi Niri selalu diikat si kamarnya, agar tidak bisa ke mana-mana.
Lulun sangat kejam, tetapi Niri tak bisa membalasnya. Yang dilakukan Niri selama ini hanyalah tutup mulut dan menyembunyikan semua kejahatan yang dilakukan Lulun padanya.
***
Jam istirahat pun berkumandang. Arsya segera bangkit dan berjalan ke luar kelas. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu Rara, walaupun jantung Arsya tidak aman sekarang.
Ternyata cewek itu sudah menunggunya di bangku taman. Arsya segera duduk di samping Rara.
"Hai, Ra. Maaf nunggu lama."
"Hai. Gak pa-pa. Aku juga baru datang."
Arsya menggaruk tengkuhnya yang tak gatal. Mendadak ia kembali gugup jika sudah berhadapan dengan Arsya.
"Hmm Ra ...."
"Iya, Sya?"
"Gue mau nanya ...."
"Nanya apa?"
"Tempo hari kita kan ga sengaja ketemu di taman, gue lihat lo sama cowok. Dia siapa lo, ya?" tanya Arsya hati-hati.
Rara kembali mengingat hari itu. Ia pun baru ingat jika cowok yang dimaksud Arsya adalah Razel.
"Oh, Razel, ya?"
"Hm ... iya mungkin. Lo ada hubungan apa sama dia?"
Rara terkekeh pelan. "Razel sodara tiri gue," jawab Rara yang membuat Arsya langsung berbinar.
"Jadi, dia bukan pacar lo?"
"Bukan."
Arsya pun dapat bernapas lega.
"Hufh, kalau gitu ... lo mau nggak, jadi pacar gue?" ucap Arsya dengan susah payah karena gugup menyerangnya.
"Eh? Mak--maksudnya?" tanya Rara terkejut.
***