Arsya sedikit terkejut dengan respons Rara. Ia berdeham pelan.
"Ya ... jadi pacar gue. Kita pacaran. Lo mau, kan?" tanya Arsya.
Rara hanya diam dan menunduk saja. "Maaf, Sya. Aku gak bisa."
Tentu saja jawaban Rara membuat Arsya terkejut dan juga patah hati sekaligus. Arsya tiba-tiba teringat dengan lirik lagu, 'cinta ditolak memang gak enak.'
"Kenapa?" tanya Arsya. Bisa-bisanya ia ditolak, padahal selama ini tidak ada yang berani menolak cinta seorang Arsya.
"Aku gak suka sama kamu, kita juga baru kenal, kan?"
"Tapi ... gue bisa, kok, buat lo jadi suka sama gue. Gue juga janji akan bahagiain lo."
Rara tersenyum singkat. "Maaf, Sya. Aku gak mau pacaran dulu."
"Alasannya?"
"Bagiku kebahagiaan bukan hanya dari pacaran. Kebahagian pertamaku adalah keluarga. Saat ini, kebahagiaan pertamaku itu hancur."
Arsya hanya bisa diam, sembari menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan Rara.
Lantas Rara bangkit dari duduknya. Sebentar lagi bel berbunyi dan waktu istirahat habis.
"Aku pamit ke kelas dulu, ya."
"Oke."
"Maaf, Sya," ucap Rara mengusap rambut cowok yang masih terduduk di bangku taman itu. Usapan tangan Rara langsung membuat pipi Arsya memerah.
Setelah itu Rara pun pergi meninggalkan taman. Arsya dibuat gagal move on, apalagi usapan tangan Rara sangat membuat Arsya melayang.
"Gimana gue bisa move on kalau cewek yang nolak gue kaya Rara!" kesal Arsya.
Ia bertekad tidak akan menyerah. Sampai kapan pun, Arsya akan mengejar cinta Rara dan membuat gadis itu mencintainya.
Tak peduli seberapa lama, yang penting tetap bersama.
"Ra, tunggu gue sampai bisa milikin lo!"
Itulah tekad Arsya. Apakah keinginannya akan segera terwujud? Tak peduli seberapa lama waktunya, yang penting Arsya harus bisa mendapatkan Rara.
***
Pulang sekolah. Siang ini Arsya mengajak salah satu pacarnya untuk kencan di kafe seberang sekolah. Sekarang jadwalnya bersama Evelin. Kakak kelas Arsya.
"Arsya ... kamu gandeng aku, dong!" ujarnya manja.
"Hadeh, napa gandengan segala. Udah kayak bocah aja."
"Iih, Arsya ...." Eve meraih lengan Arsya, bergelayut manja di sana, membuat Arsya risih.
"Ini kencam kita yang terakhir, kan?" tanya Arsya. Ia memaksimalkan dua kali kencan bersama pacar-pacarnya. Setelah kencan dua kali, maka hubungan mereka akan putus. Ya, seperti itulah Arsya mengoleksi banyak mantan.
Pacaran ... ajak kencan dua kali
... putus. Sebelum pacaran dengannya, Arsya memang menetapkan hal seperti itu, jika cewek yang ia incar setuju maka mereka pacaran, jika tidak ... Arsya pun tak peduli.
"I--iya. Tapi aku gak mau putuuus," rengek Eve. Seketika Arsya jadi semakin muak dengan kakak kelasnya itu.
Arsya ingin segera putus.
"Eh, Kak. Lo kenapa bawa teman-teman lo?" tanya Arsya melihat bangku kafe diisi oleh para seniornya.
"Aduh, bukan aku yang bawa, mereka semua yang pengen nongkrong di sini."
"Hmm."
Arsya duduk di pojok bersama Eve. Di depan mereka ada banyak teman-teman Eve yang sedang memperhatikannya.
'Hufh, nasib cowok ganteng,' ujar Arsya bangga.
"Aku pesen makanannya dulu, ya," ucap Eve.
"Ya."
Kafe ini hanyalah kafe kecil yang tak terlalu dikenal orang, karena kafe ini memang hanya untuk anak sekolah ini.
Jadi, tidak ada pelayan dan kita harus memesan makanan sendiri, lalu membawanya sendiri pula ke meja masing-masing.
Tak lama kemudian Eve pun kembali, memang saat ini tak terlalu ramai. Hanya ada Arsya, Eve, dan teman-teman sekelas Eve.
"Nih, minum dulu jusnya," ujar Eve menyodorkan jus orange itu ke arah Arsya.
"Thanks, Kak."
Arsya pun meneguk jus itu, karena ia sangat haus. Tenggorokannya terasa kering, apalagi cuaca di luar panas.
Setelah meminum jus itu yang sudah ia habiskan setengah gelas. Tiba-tiba pandangan Arsya menjadi kabur dan kepalanya memberat.
"Sya, kamu kenapa?"
"Gu--gue nggak pa--pa ...." Kepala Arsya langsung jatuh ke meja dengan mata tertutup. Ia kehilangan kesadarannya.
Melihat Arsya pingsan buru-buru teman Eve berpindah ke meja itu. Mereka langsung menggerubungi Arsya.
"Aaaa ganteng banget, sih, dia!"
"Duh, sayang banget gue gak pernah diajakin pacaran!"
"Lihat, dong, hidungnya."
"Minggir, Woi, gue juga pengen nyentuh mukanya."
Eve terkekeh pelan, dalam jus yang diberikannya pada Arsya ia masukkan obat tidur. Ini merupakan rencana Eve dan teman-temannya yang sengaja membuat Arsya tidur, agar bisa menikmati wajah tampan cowok itu.
"Duh, Vee ... ternyata cowok lo emang ganteng, ya."
"Oh, iya, dong! Berondong gue gitu, loh."
Mereka pun mulai mengusap-usap wajah Arsya, memainkan rambut cowok itu, berselfie ria dan memainkan bulu mata Arsya.
Mereka benar-benar menikmati setiap lekuk wajah tampan Arsya.
"Woi, gue boleh cium, nih, cowok gak, sih?'
"Eh, jangan, dong! Gue aja gak pernah," tolak Eve.
"Ya makanya, selagi dia tidur, kan," ucap Monic yang hendak mencium Arsya.
"Kalian ngapain?" tanya sebuah suara yang membuat semua siswi itu menoleh ke sumber suara.
Mereka kompak mengerutkan kening, karena tidak kenal dengan gadis yang berseragam sama dengan mereka itu. Oh, atau mungkin adik kelas.
Tiba-tiba gadis yang memergoki mereka mengeluarkan HP-nya menyorot ke arah mereka.
"Aku udah rekam, loh, kalau video ini sampai ke kepala sekolah, gimana, ya?" ucap cewek itu yang membuat Eve dan teman-temannya takut.
"Eh, jangan, dong!"
"Ya udah, kalau gak mau, cepat pergi dari sini. Biar cowok itu, aku yang urus."
Karena takut dengan ancaman sang adik kelas. Eve dan teman-temannya pun segera angkat kaki dari situ.
Cewek yang tak lain adalah Rara itu tersenyum singkat. Mudah sekali mengusir kakak-kakak itu.
Rara segera menghampiri Arsya. Tadi, ia tak sengaja menatap Arsya di gerbang sekolah dan bertepatan ia sedang berada dekat dengan teman-teman kakak kelasnya itu sedang berbincang.
Rara mendengar jika mereka merencanakan sesuatu pada Arsya. Maka dari itu, Rara memilih mengikuti Arsya sampai ke kafe ini. Rara juga melihat jika Eve memasukkan sesuatu ke dalam minuman Arsya.
"Sya, bangun!" panggil Rara menepuk-nepuk pelan pipi cowok itu, tetapi Arsya tak berkutik.
Rara dapat melihat jika Arsya memanglah pria tampan dengan hidung mancung, berkulit putih mulus, bibir merah muda, alis tebal. Rambut yang terlihat acak-acakan membuat cowok itu tampak lebih menggoda.
"Sya, kamu memang tampan, tapi aku belum mencintaimu," ujar Rara mengusap rambut Arsya pelan.
Tidak ada pilihan lain, ia harus segera membawa Arsya pergi dari sini, biaa gawat jika malah ia yang tertuduh melalukan sesuatu pada Arsya.
Rara menelepon supir pribadinya agar ke sini, ia tak akan bisa memapah badan Arsya seorang diri. Ia bertubuh kecil dan pendek, sedangkan Arsya sangat tinggi.
Setelah itu, supir pribadi Rara datang membantu membawa Arsya masuk ke mobil Rara. Gadis itu akan membawa Arsya pulang ke rumahnya saja dulu. Lagi pula, Rara tidak tahu rumah Arsya di mana.
***