BAB 18

1049 Kata
Arsya mengerjap-ngerjapkan matanya, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang bewarna pink. Di mana ia sekarang? Buru-buru Arsya bangkit, walau kepalanya masih terasa berat. "Eh gue di mana? Masa iya gue diculik!" celoteh Arsya. Ia mencoba mengingat-ingat hal terakhir yang ia lakukan. "Eh, iya. Bukannya gue tadi di kafe, ya? Terus kenapa ...." "Wah, Arsya, kamu udah bangun, ya?" Seseorang muncul dari balik pintu. Arsya melotot menatap Rara yang masuk sembari membawa nampan yang berisi makanan. "Ra ... lo, kok--" "Tadi kamu pingsan, karena obat tidur. Kakak kelas itu ngerjain kamu." "HAH?" Arsya terkejut dibuatnya. Apakah karena minuman yang ia minum tadi? Wah, sungguh tega Eve melakukan itu padanya. Ia akan memberikan pelajaran. Lihat saja. "Terus lo yang bawa gue ke sini? Ini di mana?" tanya Arsya menatap kamar yang serba pink itu. "Ini kamarku. Tadi aku bawa kamu ke rumahku aja, karena, kan, aku nggak tau rumah kamu di mana." "Oh, gitu, mak--makasih," ucap Arsya jadi malu. "Nih, makan dulu," suruh Rara duduk di kasur berhadapan dengan Arsya. "Iya ...." Namun, Rara langsung bernisiatif menyuapkan Arsya, yang membuat cowok itu semakin dibuat salah tingkah. 'Padahal gue nggak sakit, tapi disuapin,' batin Arsya. Sebut saja Arsya sekarang klepek-klepek, apalagi yang hendak menyuapkannya adalah cewek yang dibangga-banggakan Arsya. "Aaak ...." Rara menyodorkan satu sendok itu ke mulut Arsya, cowok itu pun menerima saja. 'Buset, gue udah kayak bocah,' batin Arsya berteriak senang. "Makasih, Ra ...." "Iya ...." Arsya tak menyangka, padahal baru tadi siang ia ditolak, tetapi ia sudah mendapatkan perhatian Rara seperti ini. Tidak masalah ditolak jika akhirnya mereka malah dekat. "Nanti aku anterin kamu pulang, ya, tapi tunggu supir aku datang dulu, soalnya tadi supirku mengisi bensin." "Oh, iya, gak pa-pa, sekali lagi makasih, Ra." "Iya, Arsya. Kalau kamu mau nunggu di luar dulu ayo." "Ayo!" Lagian Arsya tidak sakit parah, ia tadi hanya pingsan, akibat obat tidur. Rara membawa Arsya duduk di ruang tamunya, menunggu supir pribadi Rara kembali pulang. Arsya memperhatikan sekelilingnya. Ada banyak foto terpajang dan yang paling banyak adalah foto Rara waktu kecil. Arsya senyum-senyum menatap foto itu. Rara yang tahu Arsya sedang memperhatikan fotonya, jadi tersipu malu. "Itu lo ya, Ra," ucap Arsya menunjuk foto yang terpajang paling besar di dinding. "Iya. Ih, jangan diliatin terus!" Rara dibuat semakin bersemu, pipinya memerah. "Lo udah cantik dari kecil, ya," ucap Arsya menggoda membuat Rara menggigit bibir bawahnya, menahan untuk tak tersenyum oleh pujian Arsya. "Udah, kubilang jangan diliatin terus." Arsya malah beralih menatap Rara, yang membuat cewek itu semakin salah tingkah. "Kenapa natap aku gitu, sih?" "Katanya gak boleh natap fotonya, ya udah kalau natap orangnya langsung boleh, kan?" "Ish, Arsyaaa. Udah, ngadep sana!" Arsya terkekeh pelan melihat reaksi lucu yang ditampilkan Rara, benar-benar menggemaskan. Ternyata diam-diam Razel memperhatikan mereka berdua yang sibuk di ruang tamu. Jujur saja Razel tak suka dengan teman Rara itu. Ia tampak menyukai Rara, tentu saja Razel tak suka. Ia tak ingin seseorang pun mengambil Rara darinya, karena Rara adalah miliknya. Egois bukan? Ya seperti itulah, obsesi Razel kadang berlebihan. "Lihat, deh, Den. Mereka sepertinya pacaran," ucap Bik Anti yang ternyata mengintip pula. "Bibik tau siapa nama temannya Rara?" "Kalo gak salah namanya Den Arsya, Aden. Kasep pisan euy," puji Bik Anti yang malah semakin membuat Razek badmood. "Mana lebih gantengan Razel daripada dia, Bik?" tanya Razel. "Eh?" Bik Anti pun bingung menjawabnya. Jika jujur mungki lebih tampan Arsya, tetapi Bik Anti tentu tak ingin menyakiti perasaan anak majikannya itu. "Sama-sama ganteng, Den." "Pilih salah satu, Bik," ucap Razel. Bik Anti pun jadi bingung. "Pilih Den Razel, dong," ucapnya mencari aman saja. Jangan sampai Razel malah marah, karena tidak dpilih Bik Anti. "Oke, Bibik emang terbaik," ujar Razel pergi meninggalkan tempat itu, lalu masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar. Buru-buru Rara bangkit dan meminta supir pribadinya itu mengantarkan Arsya pulang. "Lo ikut anterin gue juga?" tanya Arsya. "Iya. Sekalian biar aku tau di mana rumah kamu." "Oh, oke. Mau mampir dulu juga boleh." "Hehe, kapan-kapak aja. Sekarang biar aku anterin kamu pulang dulu aja, ya." "Oke, makasih loh, Ra. Maaf gue ngerepotin." "Gak ngerepotin sama sekali. Santai aja, Sya. Yuk, masuk ke mobil!" ajak Rara. Arsya pun masuk ke mobil itu, Rara duduk di sampingnya. Mereka sama-sama duduk di bangku belakang. Seharian ini walau tak lama, tetapi sudah membuat Arsya bahagia. Ternyata obat tidur Eve berdampak yang baik, buktinya ia bisa dekat dengan Rara. Apa Arsya coba sekali lagi untuk menembak cewek itu, ya? Namun, apa tidak terlalu dekat jaraknya jika mencoba lagi? Padahal baru tadi siang ia ditolak. "Ra, gue suk--" "Sya, abis ini belok ke mana." "Belok kiri," ucap Arsya. Gagal sudah percobaan keduanya. Biarlah, lain kali saja. Mungkin seperti ini lebih baik, yang terpentinh bisa dekat dengan gadis imut itu. *** Malam ini, sesuai apa yang dikatakan Arsya. Adimas pun sudah berada di rumah cowok itu. Namun, kata bibik---ART di rumah Arsya---kedua orang tua Arsya itu belum pulang. Alhasil, Adimas hanya menunggu saja. Sebenarnya ia juga penasaran, apa yang ingin dikatakan orang tua Arsya? Suara deru mobil terdengar. Adimas bangkit, hendak membukakan pintu. Ia berpikir jika yang pulang adalah orang tua Arsya. Namun, tebakan Adimas salah, karena yang baru datang itu adalah Arsya. Mobil siapa itu? Ah, sudah pasti salah satu pacar Arsya," batin Adimas tak mau ribet. Arsya pun segera masuk ke dalam rumahnya. Ia terkejut menatap Adimas yang sudah berada di rumahnya. "Eh, ketemuan sama nyokap bokap gue udah kelar?" tanya Arsya. "Sya kamu ke mana aja?" "Biasalah, ngopi," jawab Arsya. Ia tak mungkin memberi tahu hal ini kepada semua orang. Bisa diketawkan ia oleh Adimas karena bisa-bisanya dikerjai oleh salah satu pacar sendiri sampai pingsan. "Wah, Adimas udah datang, ya?" Seseorang muncul lagi dan itu adalah mamanya Arsya, namanya Reni. Mendengar namanya disebut, Adimas segera menoleh, iia tersenyum, menunduk hormat kepada mama sahabatnya itu. "Eh, Tan. Ada apa, Tan?" "Adimas ... Tante boleh minta tolong?" Kebetulan sekali gadis itu sudah berada di sini dan ada Arsya juga. Ia memiliki suatu rencana, tetapi Reni tak memberitahukan kepada mereka berdua. Arsya saja yang bertanya kemarin tak dikasih tahu. "Minta tolong apa, Tan?" "Coba jadi perempuan," ucap Mama Arsya yang membuat Adimas dan Arsya terkejut. Untuk apa? Bukankah Adimas memang sudah perempuan? Walaupun identitasnya dipalsukan. Apakah maksud Reni, Adimas diminta berpenampilan seperti seorang perempuan? Lalu, apa yang direncanakan Reni? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN