Adimas melangkahkan kaki masuk ke rumah yang sudah lama tak ia kunjungi itu. Orang pertama yang menyambut kedatangannya adalah Adiba. Adiknya itu sudah duduk di ruang tamu menunggu kedatangan kakaknya.
"Kak Dimas!" teriaknya segera menghambur ke pelukan Adimas.
"Hai! Apa kabar?"
"Baik, Kak."
Adimas pun melepaskan pelukannya. Untung saja Adiba pendek, sehingga tak akan merasakan perbedaan yang menonjol ketika berpelukan dengannya.
"Dimas, sudah lama tidak ke sini," sapa Pilar--istri ketiga Alex, atau Ibu dari Adiba, Lina dan, Lini.
"Iya, Ma."
Adimas lalu menyalimi Pilar. Bagaimanapun juga Pilar adalah kerabat Farah. Ya, jangan lupakan itu.
"Papi mana, Ma?" tanya Adimas.
"Di lantai atas."
"Oh, oke. Aku ke atas dulu." Adimas lalu menggandeng Adiba untuk ikut ke lantai atas bersamanya.
"Lina Lini masih jailin kamu?" tanya Adimas.
"Udah nggak, Kak, sekarang Kak Lina Lini udah mulai ajak aku main bareng."
"Hm, baguslah."
Tak sengaja mereka pun bertemu dengan Lina dan Lini yang sedang bermain di situ.
"K--kak Dimas," sapa Lini menunduk. Tampaknya mereka emang takut pada Adimas.
"Bagus. Kalian udah baik ya sekarang," ujar Adimas menghampiri anak kembar itu.
"Kak Lina Lini, ayo main lagi nanti," ajak Adiba.
"Ayo, Diba."
Tangan Adimas mengusap kepala Lina dan Lini bergantian. "Kalau gitu kan enak lihatnya, masa adik sendiri gak diajak main."
"I--iya, Kak."
"Ya udah, Diba. Main sana sama mereka."
"Siap, Kak."
Adimas pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Alex. Ya, tentu saja papinya itu berada di kamarnya.
Adimas mengetuk pintu tiga kali sampai pintu itu terbuka, menampakkan Alex yang muncul dari balik pintu.
"Dimas! Ah, akhirnya datang juga!" ucap Alex hendak memeluk Adimas, tetapi gadis itu segera mengalihkan dengan mencium punggung tangan Alex. Bisa bahaya jika mereka berpelukan.
"Ah, kamu pasti malu, ya, dipeluk Papi, udah gede gini."
"Iyalah, Pi. Lagian Dimas, kan, cowok."
"Haha ... iya."
Alex pun keluar dari kamarnya, lalu mengajak Adimas duduk di sofa yang ada di lantai dua.
"Papi udah rindu sama kamu dan mamimu, tapi kalian gak mau juga ke sini."
"Mami sibuk, Pi, dan Dimas akhir-akhir ini juga sibuk."
"Sesibuk itukah? Sampai gak ada waktu buat Papi?"
"Emang Papi kemarin ini pas sibuk ada waktu buat kami?" ucap Adimas membalikkan kata-kata Alex yang membuat papinya itu terdiam. Langsung kena mental, akibat ucapan Adimas menohok sekali.
"Kamu, mah, begitu, ya. Udah ... Papi ingin bahas ini sama kamu Bagaimana caranya nanti mengembangkan projek yang sudah Papi jalankan. Kamu udah brlajar bisnis, kan?"
"Pi, Dimas masih kelas satu SMA. Jadi, jika Papi tanya bagaimana caranya mengelola suatu perusahaan tentu ilmu Dimas belum cukup, Pi."
"Ingin sekali rasanya kamu cepat-cepat gede, biar bisa gantikan Papi. Karena Papi rasanya sudah tidak sanggup mengelola perusahaan kita yang sudah banyak cabangnya itu."
"Iya, Pi, tunggu dulu sampai Dimas layak," ujar Adimas.
"Iya, Sayang."
Sejujurnya Adimas tak masalah jika Alex memanggilnya seperti itu, akan tetapi jika mendalami peran sebagai laki-laki, Adimas merasa geli, karena ia merasa itu terlalu lebay. Apalagi papinya itu sering memanggilnya dengan sebutan Anak Tampan Papi.
"Pi, aku udah gede, jangan dipanggil gituan lagi, ah," ujar Adimas.
"Hahaha ... ternyata kamu emang anak Lakiknya Papi yang cool."
'Aku yang aslinya cewek aja geli dipanggil gituan, apalagi ia cowok beneran.'
"Oh, ya, ngomong-ngomong, Papi beneran mau nikah lagi? Pi, inget umur."
"Iya, Dim. Papi menikahi sekretaris Papi, sekaligus ingin membantu dia. Jadi, menurut Papi tidak masalah."
"Tapi umurnya jauh lebih muda dari Papi. Dia juga udah punya tunangan," ujar Adimas.
"Kamu tau darimana?" selidik Alex. Padahal ia tak memberitahu Adimas tentang calon istrinya itu.
"Ya, ak--aku kenal sama tunangannya Mbak Laura itu, Pi." Adimas kembali berpikir, apakah usahanya kemarin tak membuahkan hasil? Berarti Alex tetap menikahi Laura?
"Ya, Papi jadi bingung, sih, belum pasti juga," ujar Alex yang langsung menjawab kebingungan Adimas. Berarti yang di rumah sakit itu berhasil.
"Adimas!" panggil seseorang. Adimas dan Alex pun menoleh ke sumber suara.
Tampak Zahra yang sedang berjalan menghampiri mereka. Ia pun membawakan secangkir teh panas untuk Alex, karena tadi papinya itu minta buatkan.
"Kak," sapa Adimas.
"Kebetulan sekali, Dimas," ujar Zahra. Alis Adimas mengerut.
"Maksudnya, Kak?"
"Pi, pinjem Dimasnya dulu, ya, bentar," ujar Zahra menarik adik tirinya itu. Adimas pun menurut saja.
Zahra membawa Adimas sedikit menjauh dari Alex.
"Kakak mau minta tolong boleh, gak?" tanya Zahra dengan muka memelasnya.
"Minta tolong apaan, Kak?" tanya Adimas heran.
"Jadi gini, temannya Kakak sekarang ada acara, dia ulang tahun dan dia undang Kakak. Nah, masalahnya, disuruh bawa partner, kan Kakak jomlo."
Perasaan Adimas mulai tak enak, ia mencium bau-bau akan ....
"So, biar Kakak gak pergi menjones, karena teman-teman Kakak udah punya cowok semua. Kamu mau, ya, jadi pacar pura-puranya Kakak. Aman, mereka gak akan tau kok kalau kamu adik Kakak."
"Enggak, deh, Kak, Dimas malas kalau acara-acara begituan, gak minat." Ia jadi teringat tadi pagi Arsya mengajaknya ke pesta juga dan itu pun Adimad tolak.
"Please, Dim. Mohon banget ini, mah. Kakak bakal traktir atau nurutin semua keinginanlo, deh, asal lo mau. Ya, ya?"
"Kapan acaranya?" tanya Adimas malas. Terjebak lagi dan lagi.
"Nanti malam, jam delapan."
"Hm, oke."
Adimas bisa bersantai dulu di sini, kan, bertemu dengan adik-adiknya.
"Makasih, ya. Kakak seneng banget!" ujar Zahra, setelah mengatakan itu, ia pun pergi meninggalkan Adimas. Gadis itu pun kembali ke sofa untuk duduk bersama Alex lagi.
"Syukurlah kalian akur, ya, walau bukan saudara kandung semua," ujar Alex.
"Ya makanya Papi gak usah nambah istri lagi."
"Haha, takut banget kamu. Takut kalau Papi gak sayang lagi, ya, sama kamu?"
"Pi, aku cowok, gak usah lebay."
"Maaf, ya. Emang begini Papi menghadapi tigas istri dan banyak anak perempuan. Jadi, kebawa-bawa sama kamu, padahal kamu satu-satunya anak Papi yang laki-laki."
"Udah, ah, Pi. Dimas mau ke lantai atas dulu, ya, mau ke kamar Dimas yang di sini."
"Okelah."
Ia tentu menyiapkan baju untuk pergi nanti malam, bukan? Untung masih ada beberapa baju yang sengaja ia tinggalkan di kamar miliknya di rumah ini. Dulu Adimas sering main ke sini, terkadang juga menginap.
"Dimas ... Dimas, bentar!"
Zahra muncul lagi, kali ini tangannya membawa puperbag.
"Nih, setelan jas buat lo."
"Dapat darimana, Kak?"
"Gue sengaja beli baju couple waktu itu, walau belum ada pacar, sih. Udah, ah, pakai aja. Ternyata ada gunanya juga, kan."
"Oke, thanks."
Adimas mengambil puperbag itu lalu masuk ke kamarnya.
***