Adimas juga tak kalah terkejut jika cowok yang berteriak di sampingnya---seperti orang gila---ternyata adalah ... Razel.
Gawat! Bagaimana jika ia mengenali wajah Adimas? Penyamarannya sebagai cowok pasti akan terbongkar. Adimas menyentuh mukanya yang dilapisi make up, semoga dandanannya ini tidak membuat Razel mengenalinya.
"Lo siapa?" tanya Razel.
Adimaz bernapas lega. Tampaknya cowok itu benar-benar tak mengenalnya. Ah, make up ini sangat membantu.
"Gu--gue ...." Adimas berpikir sebentar, tak mungkin ia mengatakan nama aslinya. Lalu, ia pun harus mengubac gaya bicaranya agar tidak ketahuan.
"Ak--aku ...." Adimas tiba-tiba mengubah nada bicaranya menjadi lembut, walau sebetulnya Adimas sangatlah jijik mendengar suara sendiri.
"Kamu gagap?" tanya Razel santai.
"Heh! Nggaklah!" bentak Adimas. Ups, bisa-bisanya ia kelepasan. Adimas buru-buru tersenyum kikuk. "Hehe maaf, ya, tadi itu ak--aku latihan drama."
Razel mengerutkan keningnya. Gadis itu aneh tetapi uni. Sepertinya bisa diajak bergaul.
"Nama gue Razel," ucap Razel.
'Tuh, kan, bener si cowok nyebelin,' batin Adimas.
"Nama lo siapa?"
"Nama gue--eh. Namaku Farah," jawab Adimas yang malah menyebutkan nama maminya. Lagipula ia tak tahu harus membuat nama samaran apa. Hanya nama Farah yang terpikir di otaknya.
"Oke, Farah. Lo ngapain di sini?"
"Eum ... cuma duduk-duduk aja. Seru lihat danaunya, adem, hehe," jawab Adimas selembut sutera.
"Oh, iya."
"Kalo kamu sendiri?"
"Gue lagi ada masalah, setiap pikiran gue kacau, gue selalu ke sini."
Adimas hanya beroh-ria. Tadi ia hanya ingin ke taman di seberang jalan, tetapi karena jalan-jalan menyusuri tempat ini, Adimas sampai di depan danau ini. Udaranya pun sangat sejuk, cocok untuknya, apalagi sepi tak ada orang.
"Kalau kamu mau cerita, boleh, kok," ucap Adimas.
Razel menghela napas pelan. "Tapi kita baru kenal, Fa."
"Eh, gak pa-pa, atuh. Anggap aja kita teman lama, hehe. Sok atuh, cerita aja, jangan sungkan."
Razel kembali menghela napas pelan. "Jadi, Ibu gue udah meninggal dan papa gue nikah lagi. Ternyata papa gue nikah sama mamanya cewek yang gue suka. Gimana, sih, menurut lo? Gue langsung kehilangan dua cewek yang gue sayangi."
Adimas mengerutkan keningnya. Terdengar simpel, akan tetapi sulit dipahami.
"Hmm ... terus?"
"Ya itu doang," jawab Razel.
Adimas menghela napas pelan. "Oh, oke paham. Jadi yang kamu sedihin itu kenapa ayah kamu nikah sama ibunya gebetan kamu gitu?"
"Iya."
"Gak pa-palah. Toh, masih bisa jadi saudaranya, kan?"
"Tapi gue pengennya bukan jadi saudara, tapi membuat suatu keluarga dengannya."
Adimas menggeser badannya mendekat ke arah Razel. "kamu udah utarain perasaan kamu belum?"
"Udah."
"Nah, kalau udah mah ... eh, beneran udah?" kaget Adimas.
"Iya."
"Kapan? Setelah kamu jadi saudaranya atau sebelum?"
"Sesudah."
"Yah ...," dengkus Adimas. "Padahal kalau sebelumnya, cewek kamu bisa pertimbangkan apakah dia nerima kamu dan ngebatalin pernikahan orang tua kalian, atau menolak kamu, karena ingin kalian dekat terus dan menjadi saudara."
"Sayangnya gue baru jujur sekarang, tapi mau dulu pun gue ungkapin, dia tetap gak akan mau nerima gue. Dia gak suka dan ga punya perasaan apa-sama sama gue selain perasaan saudara."
Adimas menepuk pundak cowok itu pelan, yang membuat Razel menoleh. Ia sedikit terpesona menatap cewek itu dari dekat. Ternyata cantik juga, batin Razel.
"Come on, Bro! Masih ada cewek lain. Anggap aja kamu bisa dapetinn dua. Saudara tiri kamu satu terus pacar kamu satu."
"Gak semudah itu juga mencari cewek yang tulus."
"Iya, sih."
"Ya udah kalau gitu, berarti bukan jodohmu. Suatu saat pasti dapat yang lebih baik," ucap Adimas lembut menatap mata cowok itu dalam. Razel tertegun dibuatnya, apalagi angin kencang berembus menerbangkan anak-anak rambut gadis itu.
Dalam hati Adimas panik, bisa gawat jika wig-nya yang lepas. Bisa-bisa Razel tahu. Angin kencang sudah selesai, Adimas pun bisa bernapas lega.
"Makasih," ucap Razel. Tuk pertama kalinya Adimas mendengar cowok itu berterima kasih dengan tulus.
Adimas meebarkan senyumnya dan itu membuat Razel kembali kagum, betapa cantiknya cewek itu.
"Hu um. Sama-sama, Razel," ucapnya.
'Kenapa cewek ini terlihat lebih lembut dari Rara?' batin Razel.
"Ka--kalau gitu, aku pergi dulu, ya. Sampai jumpa di lain waktu. Jangan lupa bahagia!" ujar Adimas berlalu dari situ. Razel yang masih melamun tak sadar gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.
"Bidadari itu nyata, ya?" ucap Razel pelan.
Adimas langsung memesan taksi kembali untuk ia pulang. Jika lama-lama di sana pasti ia ketahuan, apalagi wig-nya yang terasa hampir lepas.
Ponsel Adimas berdering, menandakan ada panggilan masuk.
Ternyata dari Alex, papinya. Adimas lupa jika ia belum mengunjungi papainya itu, padahal sudah dikabari dari beberapa hari yang lalu.
"Ha--halo, Pi?"
'Adimas, anak tampan Papi. Kamu gak jadi ke rumah? Papi nungguin kamu, loh.'
"Hm, anu--maaf, Pi. Kemarin Dimas ada urusan lain gitu, jadi belum sempat."
'Giliran Papi yang free kamu malah yang sibuk. Pokoknya Papi mau ketemu kamu, ya, sekarang. Papi tunggu.'
"Eh, tung--" Adimas mendengkus pelan, karena sambungan sudah diputuskan sepihak.
"Bisa-bisanya gue lupa," ucap Adimas. "Ya udah gue pulang dulu, ganti baju, bisa barabe kalau orang-orang lihat gue gini," ucap Adimas. Tak lama kemudian taksi pesanannnya datang dan Adimas segera masuk ke taksi itu.
"Jalan, Pak."
***
Untung saja Adimas sampai rumah, Farah belum kembali. Jika tidak, maka maminya itu pasti akan heboh, karena ia berpenampilan seperti perempuan.
Namun, Adimas jadi merasa bersalah karena ia menipu cowok itu. Eh, bukannya selama inilah ia menipu, karena identitasnya palsu? Menjadi cewek memang wajar, karena ia aslinya adalah berasal dari kaum hawa.
Buru-buru Adimas mengganti bajunya sebelum Maminya pulang. Ah, lebih baik langsung mandi saja. Biar lebih fresh. Lagi pula ia sudah rindu dengan keluarganya itu.
Adimas merindukan Adiba, apakah adiknya itu sudah berteman baik dengan Lina dan Lini? Awas saja jika mereka tetap usil.
Adimas juga rindu dengan Alex, walau tak terlalu rindu. Eh? Ya, seperti itulah, Adimas sebenarnya tak mau ribet.
Ia pun sudah selesai mandi dan kembali berpenampilan seperti laki-laki.
"Nah ini, nih, Adimastria. Gue adalah cewek tampan!" ujarnya menyisir rambut. Ia pun bercermin.
"Duh, tampan banget, sih, gue." Seketika kenarsisan Arsya pindah ke Adimas.
Ini akibat berteman terlalu dekat dengan cowok itu. HP Adimas kembali berdering. Ia pun melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo, Pi? Iya-iya, ini Dimas mau ke sana."
'Kak Dimas.'
"Eh, Adiba?"
'Iya, Kak. Aku tunggu, ya.'
"Oke, Sayang."
Telepon pun dimatikan. Wah, sepertinya dirinya emang sangat ditunggu di rumah itu.
"Yaiyalah, kan cuma gue si cowok di keluarga gue," ujar Adimas.
***