Setelah mandi, Adimas malah ke kamar maminya. Tangannya tiba-tiba gatal untuk melihat berbagai macam gaun yang tergantung dalam lemari Farah.
"Kenapa tiba-tiba gue kepengin banget make nih gaun-gaun, ya?" ucap Adimas mengambil salah satu gaun Farah.
Jiwa perempuannya seakan memberontak sekarang. Ia juga merasa ingin berdandan.
"Gue kenapa, sih? Apa ini lagi puber-pubernya, ya?" tanya Adimas.
Ia pun mengganti bajunya dengan gaun Farah itu. Adimas tersenyum menatap pantulan wajahnya di cermin yang menampakkan seluruh tubuhnya. Gaun itu tampak melekat indah di badannya. Bagian bawahnya juga sedikit mengembang.
"Eh, gue mau ke mana make gaun?" tanya Adimas terkekeh pelan.
Ia pun segera keluar dari kamar Farah, membawa bajunya tadi kembali ke kamarnya.
"Kalo gak salah, gue masih nyimpen wig yang dikasih Tante Reni, deh," ucap Adimas.
"Nah, tuh, dia." Adimas lalu memakai wig rambut panjang itu. Sekarang ia benar-benar seperti perempuan pada umumnya.
"Dandan ... gue jadi pengen nyoba gitu, loh," ucap Adimas entah kesambet apa. Ia pun kembali ke kamar maminya, karena di kamar Adimas tidak ada satu pun alat make up.
"Wah, make up Mami juga banyak, ya."
Adimas lalu mengoles bedak, ia tak tahu urutan pakainya seperti apa. Ia hanya memakai apa yang ia tahu saja. "Gue gak mungkin bisa dandan kayak Tante Reni yang udah ahli gitu."
Adimas hanya memakai bedak dan lipstik, lalu blush on yang memerahkan pipinya. "Nah, kan, gue tuh cantik!" ujarnya memuji diri sendiri.
"Kapan lagi, kan, gue jadi cewek banget gini," ujar Adimas.
"Gue jalan-jalan ajalah, tapi gak di sini, eum ke mana aja, asal ke tempat yang ga ada orang. Gue mau selreward dulu," ucap Adimas.
"Jangan sampai Arsya lihat!" ujarnya. Ia sudah memesan taksi online yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan.
Namun, walaupun memakai gaun yang panjangnya selutut, Adimas tak menggunakan heels, melainkan memakai sepatu sport. Ia tak ingin memakai heels yang membuat kakinya tak nyaman. Biarlah orang-orang bilang ia tak tahu OOTD, yang penting bisa berpenampilan seperti cewek tulen seperti ini aja ia sudah bangga.
"Jalan, Pak," suruh Adimas saat taksi pesanannya sudah sampai.
***
Dokter sudah memeriksa keadaan Rara. Sinta pun sabar menunggu penjelasan sang dokter.
"Anak saya kenapa, Dok?" tanya Sinta panik.
Dokter Dian itu menoleh ke arah Sinta. "Tidak usah khawatir. Rara hanya kecapekan dan sepertinya dia juga efek tidak makan. Apakah Rara sebelumnya telat makan?"
Razel pun teringat jika kemarin malam Rara tak memakan sesuap nasi pun, ia hanya makan bubur siang kemarin itu pun porsinya tak banyak.
"Iya, Dok, dia gak makan nasi seharian kemarin. Dia hanya makan bubur aja siang kemarin," ujar Razel yang membuat Sinta terkejut.
"Nah, itulah penyebabnya, Rara pun kekurangan cairan. Setelah ini suruh minum air banyak-banyak, ya."
"Baik, Dok."
"Ini obatnya, diminum sampai badannya kembali segar. Kalau begitu saya pamit," ucap Dokter Dian.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama."
Tino pun mengantarkan Dokter Dian sampai pintu depan. Sinta langsung mengusap rambut putrinya itu.
"Padahal Mama baru pulang, Nak, kamu udah sakit aja," ucap Sinta meras bersalah.
"Anda baru melihat sekarang, kan? Kemarin ini ke mana saja?" ucapan Razel sangat membuat hati Sinta tercoles mendengarnya. Ia seperti dipojokkan.
"Ma--maaf, Razel."
"Kemarin Rara nungguin Anda dingin-dinginan di sofa rela gak makan, tapi Anda pulang baru pagi tadi. Hebat sekali."
Kata-kata Razel benar-benar menyeletik. Sejujurnya Razel tak terlalu menganggap Sinta sebagai ibu tirinya, dari awal ia juga tak merasa srek entah kenapa. Tidak ada chemistry yang terjalin.
"Saya harapa Ada tidak pernah meninggalkan anak Anda lagi," ucap Razel, berlalu keluar dari kamar Rara.
Sinta jadi merasa bersalah, apalagi melihat Razel yang masih tak menyukainya. "Sayang, maafakan Mama."
Sinta lalu ikut berbaring di sebelah putrinya itu di bagian yang kosong. Ia tidur sembari memeluk putrinya, melepaskan rindu. Namun, Rara masih belum terbangun.
***
Razel bertemu papanya di luar, sejak pagi tadi ia sama sekali belum menyapa papanya itu. Tino sempat berpikir jika Razel sama sekali tak mengharapkan kepulangannya.
Jarak antara anak dan bapak itu memang sudah sedikit renggang sejak ibu Razel meninggal dunia.
Razel tak peduli dengan papanya itu, sedangkan Tino ragu pula untuk memulai. Benar-benar terasa canggung.
"Hai, Razel. Lama gak berjumpa," sapa Tino.
Razel hanya diam dengan tatapan datarnya menatap Tino, ia malah berlalu ke luar tanpa memedulikan papanya itu.
Tino menghela napas pelan. Ternyata benar putranya itu masih marah padanya. Ditambah lagi, karena kemarin Tino tak pulang-pulang, pasti anaknya itu semakin membencinya.
"Bagaimana caranya agar papa menjadi ayah yang baik untukmu, Nak?" tanya Tino.
Di balik itu, tampak Rara yang sudah membuka matanya. Ia terkejut merasakan seseorang yang sedang memeluknya. Rara langsung tersenyum saat menyadari Sintalah yang memeluknya.
"Ma," panggil Rara. Sinta langsung tersentak.
"Sayang, kamu udah bangun!" Sinta lantas bangkit.
"Iya, Ma."
"Tadi kamu pingsan, Mama khawatir banget. Bentar, Mama ambilkan makanan, ya, kamu tumbang karena belum makan, kan."
Rara merasakan perutnya yang memang terasa keroncongan. Rara hanya bisa cengengesan menampilkan gigi rapinya. Sinta pun mengerti dengan kode itu.
"Sebentar, ya, Mama ambilkan dulu," ucap Sinta segera turun dari kasur.
"Iya, Ma. Maaf ngerepotin Mama."
"Aduh, kamu ngomong gitu malah bikin Mama sedih, loh, Sayang. Udah, ah, ini Mama kamu. Mamamu udah kembali," ucap Sinta tersenyum. Rara pun melebarkan senyumnya.
"Welcome, Mama!" Ia sampai lupa mengucapkan itu tadi.
"Iya, anak cantik Mama. Sebentar, ya."
"Iya, Ma."
Rara sangat bahagia. Kebahagiaan pertamanya sudah kembali.
***
Razel memilih pergi dari rumah. Daripada ia canggung bertemu Tino, lebih baik ia pergi saja mencari angin di luar.
Razel bukan berarti membenci ayah kandungnya sendiri, hanya saja ia kecewa, karena hubungan mereka sudah tak seperti orang tua dan anak.
Razel membawa motornya berjalan-jalan di sekitaran jalanan kota. Motornya berbelok ke arah danau yang ada di jalan Aori, tak banyak diketahui orang karena bukan tempat wisata. Akan tetapi Razel sering ke sana jika pikirannya sedang kalut.
Dua puluh menit kemudian, ia pun sampai di sana. Ia memarkirkan motornya sebelum masuk ke wilayah danau itu.
Danaunya kecil, akan tetapi tempatnya luas. Razel pun duduk di tanah yang luas itu, di depannya terdapat danau dengan air yang tenang. Tidak ada orang di sini, ya biasanya juga begitu.
Razel mulai berteriak melepaskan semua yang dirasanya. Ia kehilangan ibunya, lalu harus rela kehilangan cinta pertamanya karena hubungan keluarga.
Razel benar-benar tak mengerti kenapa ia seperti ini?
"Lo kenapa teriak gitu? Stress, ya?" tanya seseorang yang membuat Razel terkejut. Eh, ada orangkah selain dirinya di sini? Buru-buru Razel menoleh ke samping.
Ia pun tercengang menatap gadis di sampingnya sekarang. Siapakah itu?