BAB 34

1008 Kata
Pagi-pagi sekali Adimas bangun, ia menyempatkan diri untuk berolahraga terlebih dahulu. Biasanya juga seperti itu, tetapi mengingat sudah dua hari ia tak olahraga, Adimas ingin mengeluarkan keringatnya banyak-banyak pagi ini. Adimas berada di balkon kamarnya yang mana di sebelah adalah balkon kamar Arsya. Balkon mereka memang disatukan saja, tidak ada dinding pembatas. Makanya Arsya mudah saja jika ingin ke kamar Adimas. Gadis itu memulai pemanasannya. Ia akan melakukan push up, jadi harus meregangkan otot-ototnya terlebih dahulu. Ia juga teringat jika sekarang adalah tanggal merah, yang artinya Arsya tidak ke sekolah hari ini. Sudah pasti cowok itu bangun kesiangan lagi. Adimas mulai push up-nya. Ia mencoba push up dua puluh kali terlebih dahulu. Jangan khawatirkan, karena Adimas sangat lincah melakukannya, inu karena sudah terbiasa sejak kecil. Adimas ingin membuat badannya lebih kekar, agar penyamarannya juga tampak lebih meyakinkan. Toh, Adimas juga bukan cewek yang lemah. "Pagi-pagi udah push up aja, Neng." Adimas terkejut mendengar suara itu, ia pun segera menoleh ke arah Arsya. Cowok itu sudah berjongkok di depannya. Buru-buru Adimas bangkit. "Neng, nang, nong. Kalau ada yang denger, gimana, hah!" "Gak bakal ada yang denger. Tenang aja. Masih pagi ini," ucap Arsya ikut meregangkan otot-ototnya. "Lo tumben bangun pagi-pagi buta begini," ujar Adimas menyindir. "Ya, gue juga pengen liat lo olahraga." "Dih, kesambet apaan lo." "Eh, De. Gue entar malam mau ke pesta gitu. Lo mau ikut, gak?" "Ogah. Gue gak suka ya sama yang namanya pesta." "Ya udah, sih, gue cuma ngajak doang. Gue perginya sama Sofia, kok." "Bentar ... Sofia yang waktu itu di sekolah?" "Iya. Kakaknya ulang tahun, Jadi gue diundang." "Oh." "Siapa tau lo bosen di rumah mulu, makanya gue ajakin. Sekalian cuci mata, De," ucap Arsya menaik-turunkan alisnya. "Dih, cuci mata buat apa gue? Ngelihat cewek-cewek sexy gitu? Gue juga cewek, njir!" "Hahaha eh iya lupa." "Udah, ah, sana-sana. Gua mau lanjut, nih, lo ganggu aja." "Iye-iya. Gue juga mau mandi dulu," ucap Arsya beranjak dari situ. Adimas melanjutkan push up-nya, walaupun peluh sudah mulai memhanjiri badannya. Setelah ini Adimas melakukan gerakan pendinginan dan baru mandi. Farah tadi sudah pergi ke acara temannya dan ia berpesan Adimas tak usah memasak, karena nanti Farah akan belikan makanan di luar saja untuk mereka berdua. Untuk pakaian juga sudah dibantu cuci oleh maminya itu tadi subuh. Mami yang baik, batin Adimas. Setelah selesai berolahraga pagi ini, Adimas pun masuk ke kamarnya, bersiap untuk mandi. *** Sudah pukul delapan pagi, tetapi Rara masih tertidur nyenyak. Sedangkan wanita yang duduk di tepi kasur gadis itu tampak tersenyum sambil mengelus rambut panjang gadis itu. Merasa terusik, Rara pun mengerjap-ngerjapkan matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah seseorang yang masih tampak samar. Rara mengusap matanya. Lalu melihat dengan jelas. Ia menatap tak percaya melihat wanita yang berada di hadapannya sekarang. Rara kembali mengerjapkan mata memastikan jika ia tidak bermimpi. "Udah bangun, Sayang?" "Mama!" teriak Rara langsung bangkit berhamburan memeluk wanita yang sangat ia rindukan itu. Rara benar-benar tak percaya jika saat ia membuka mata pagi ini sudah bisa melihat mamanya. "Sayang ...." Rara pun langsung menangis di pelukan Sinta. Ia seakan enggan melepaskan pelukannya takut Sinta meninggalkannya lagi. "Mama ... Rara kangen!" "Mama juga kangen sama kamu, Sayang." Rara melepaskan pelukannya. Sinta lalu menangkup muka putrinya itu, dan mencium setiap lekuk wajah Rara. Jika kalian berpikir Sinta selama ini tak merindukan putri semata wayangnya itu, kalian salah besar, karena Sinta juga teringat dengan Rara setiap saat. "Mama ke mana aja? Kenapa gak pulang-pulang?" "Maaf, ya. Mama terlalu sibuk dengan pekerjaan. Selama ini Mama juga kangen sama anak cantik Mama ini, tapi pekerjaan juga gak bisa Mama tinggalkan, Sayang." "Rara pikir Mama udah gak inget sama Rara." "Siapa bilang? Anak Mama yang cantik ini selalu hinggap di ingatan Mama." "Terus kenapa HP Mama gak aktif?" "Nah, itu, Sayang. HP Mama dirampok, begitu juga dengan HP Papamu. Untung saja dompet kami berhasil disembunyikan. Mama juga gak ingat nomormu. Kemarin Maka baru keinget nomor telepon rumah pernah Mama catat di dompet Mama." "Terus, Mama gak kenapa-napa, kan?" tanya Rara khawatir, mendengar orang tuanya itu dirampok. "Gak pa-pa, cuma HP dan laptop kami yang hilang, untung saja file-file penting sudah Mama salin di flashdisk." Rara benar-benar tak menyangka jika orang tuanya itu sampai di rampok. Padahal selama ini ia berpikir jika orang tuanya sengaja menghilang. "Udah, yuk, Rara mandi dan sarapan di bawah. Sudah ada Papa dan Razel menunggu, tuh." "Oke, Ma." Sinta mengelus rambut panjang putrinya itu pelan. "Mama tunggu di bawah, ya." "Iya, Ma." Rara pun semangat mandi. Akhirnya orang tuanya kembali. Namun, saat mencoba berdiri, kepala Rara terasa beputar. Ah, ia tiba-tiba pusing, tetapi untung saja Rara masih bisa berdiri tegak. "Ah, palingan karena baru bangun tidur," ucap Rara. Ia tak ingin sakit lagi, karena orang tuanya baru saja kembali. Rara cepat-cepat mandi. Lima belas menit kemudian, ia pun sudah selesai mandi dan segera memakai baju. Rasa sakit kepala Rara semakin terasa. Kenapa mendadak begini? Tidak-tidak. Ia tak boleh sakit dulu! Rara segera keluar dari kamarnya dengan jalan pelan-pelan, karena menuruni anak tangga. Setelah sampai di ruang makan, ia pun tersenyum menatap Tino yang juga tersenyum padanya. "Hai, Raquel," sapa Tino yang memang memanggil Rara dengan namanya. "Papa," lirih Rara yang hendak menghampiri Tino, akan tetapi kepalanya tiba-tiba memberat dan pandangannya kabur. Rara pun terhuyung buru-buru Razel yang melihat kaki Rara tak berdiri dengan tegap menghampiri gadis itu. Rara benar-benar tak kuat, penglihatannya mengabur dan semuanya pun gelap. Untung saja Razel berhasil menahan badan gadis itu, jika tidak kepala Rara pasti sudah terhempas ke lantai. Sinta dan Tino langsung bangkit dan terkejut. Sinta segera menghampiri putrinya itu dengan perasaan cemas dan panik yang menyatu. "Rara! Sayang, bangun!" Sedangkan Tino segera menghubungi Dokter spesialis keluarga ini. Razel yang menahan badan Rara juga tak kalah khawatir. "Ra, bangun," panggil Razel menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu. "Razel, ayo bawa Rara ke kamar dulu, Nak." "Iya." Razel pun menggendong badan kecil Rara ke kamarnya. Kena gadis itu tiba-tiba pingsan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN