Razel dan Rara senantiasa menunggu Bik Anti bicara. Wanita paruh baya itu tampak ngos-ngosan karena ia tadi berlarin dari ruang tamu sampai ke sini.
"Ada apa, Bik?" tanya Razel heran.
"Non, Aden ... Tuan dan Nyonya akan pulang malam ini," ujar Bik Anti antusias.
Mata Rara langsung melebar, "Beneran, Bik?"
"Bener, Non! Tadi Nyonya nelepon ke telepon rumah, terus bilang jika sekarang sudah dalam perjalanan."
"Yey!" teriak Rara refleks memeluk Razel, yang membuat cowok itu terkejut. Ia pun langsung membalas pelukan Rara.
Betapa bahagianya gadis itu sekarang, akhirnya ia kembali bertemu dengan mamanya. Rasa kangen ini sudah tak tertahan. Rara sudah tidak sabar.
"Aaaa gak sabar banget," ucap Rara.
Bik Anti tersenyum, ia juga senang melihat nona mudanya itu tersenyum lebar seperti itu. Berbanding terbalik dengan Razel yang tampak sedikit kesal, walau tak ia tampakkan di depan Rara. Razel kesal dengan orang tua mereka yang sibuk berdua itu, tanpa memedulikan anak-anaknya. Ke mana saja kemarin?
Razel tak tega melihat Rara menggigau sangking rindu dengan ibunya.
"Ya sudah, Bibik ke dapur dulu ya, Non."
"Terima kasih, Bik!" ucap Rara, yang dibalas anggukan oleh Bik Anti.
"Razel, Mama bentar lagi pulang," ucap Rara masih girang.
"Iya, Ra."
"Razel senang, kan? Emang Razel gak kangen sama Mama Papa?"
"Ngg--ya ... kangen, dong," jawab Razel yang sebenarnya rasa kesalnya lebih mendominasi sekarang.
"Razel, aku mau buburnya lagi, dong, suapin!" ucap Rara jadinya semangat makan. Razel tersenyum.
"Nah, gitu, dong!" ucap Razel menyentuh dahi Rara dengan telunjuknya.
"Makan yang banyak, ya," ucap Razel.
"Siap, Kak Razel!"
"Stop!"
"Hahaha ...."
Rara sangat bahagia. Ia pun tak sabar menunggu waktu berganti menjadi malam. Tidak hanya rindu dengan Sinta, Rara juga rindu dengan papa tirinya itu yang bernama Tino. Walaupun hanya papa tiri, tetapi kasih sayangnya juga seperti papa kandung. Ya, walaupun tidak ada yang bisa menggantikn papa kandungnya di hati Rara, tetapi Tino masih terbilang baik dan penyayang.
Setelah selesai menyuapkan Rara makan, ternyata gadis itu terlelap, ia pun tidur sambil tersenyum. Sebahagia itukah? Razel jadi semakin tak tega.
Razel mengelus rambut gadis itu pelan. Ia masih tak nyangka jika mereka sudah menjadi saudara tiri saja. Padahal dulu mereka adalah duo sahabat yang tak terpisahkan.
"Nyatanya kita gak akan bisa bersatu juga, Ra," ucap Razel pelan yang tentu tak terdengar oleh gadis itu. Rara sudah menyelam ke lauatan mimpi.
"Tapi gue janji, gue akan tetap menyayangi lo, bagaimanapun rasa sayang ini gak akan pernah hilang, walaupun lo cuma sebatas adek tiru gue."
Setelah itu, Razel membawa nampan dan baskom kompres tadi keluar dari kamar Rara.
Setelah Razel keluar, mata Rara kembali terbuka. Ia tersenyum kecil. Tentu saja Rara mendengar semua ucapan Razel. Ia jadi semakin bersalah, karena tidak bisa membalas perasaan cowok itu. Dari lubuk hati yang paling dalam, Rara benar-benar menganggap Razel sebatas saudara saja.
Rara bahagia merasakan memiliki seorang kakak dan Razel adalah kakak terbaik baginya. Jadi, tidak ada pikiran dan perasaan lain melebihi itu.
"Aku juga sayang kok sama kamu, Zel, walau sebagai Kakak, tapi yang pasti hubungan kakak-adek ini akan abadi dan ga akan ada putusnya. Jadi, kita masih tetap bareng-bareng," ujar Rara.
"Untuk saat ini aku tidak mencintai atau menyukai siapa pun, tapi ... aku memang pernah mengagumi seseorang di masa kecilku, tapi aku gak pernah ketemu sama dia lagi, dan ya aku juga gak tahu siapa namanya, wajahnya pun samar-samar," ucap Rara.
Andai Rara tahu, jika ia sudah bertemu kembali dengan cowok yang dimaksudnya itu. Yakni, Arsya. Ya, cowok itulah yang bertemu dengan Rara waktu itu, akan tetapi keduanya sama-sama tidak menyadari.
Akankah mereka tahu? Ya, semua perlu waktu. Jika sudah waktunya pasti mereka akan tahu juga.
"Aku tidur aja, ah, biar cepat malam," ujar Rara yang sudah tak sabaran.
***
Malam pun tiba, Rara sudah duduk menunggu di ruang tamu. Ia juga sudah membantu Bik Anti menyiapkan makan malam. Razel pun menemani Rara duduk di sana.
"Ra, mending lo makan dulu," suruh Razel.
Rara malah tidak mau makan, karena ia ingin makan malam bersama orang tuanya saat sudah sampai rumah nanti.
"Enggak, Zel, mending kamu aja makan. Aku belum lapar dan juga aku mau nunggu mama papa dulu, biar nanti bisa makan bareng."
"Lo cuma makan bubur aja tadi siang, belum makan nasi, kan? Yuk, makan dulu!"
"Gak mau, lagian panasku udah turun, loh. Noh ... periksa aja." Rara mendekatkan dahinya ke arah Razel, cowok itu lalu menyentuh dahi Rara yang sudah lumayan tak sepanas tadi.
"Tetap aja lo harus makan, kalau gak nanti kambuh lagi."
"Dikira demam bisa kambuh-kambuhan apa, hihi. Gak pa-pa, Azel. Aku gak lapar, kok, seriusan."
Razel menghela napas gusar, masalahnya sekarang sudah jam setengah sembilan kenapa orang tuanya itu belum juga sampai? Jika Rara tetap menunggu, bisa-bisa ia tak jadi makan malam nanti.
Rara memainkan HP-nya, sembari menunggu. Ia juga heran, kenapa orang tuanya itu belum juga sampai, padahal jika sudah on the way dari siang tadi, pastinya sekarang sudah sampai rumah, bukan?
"Gue ambilin nasi, ya, lo harus makan," ucap Razel.
"Razel kok maksa, sih?" Nada bicara Rara pun berubah dengan intonasi yang lebih meninggi.
Langkah Razel yang hendak beranjak ke meja makan terhenti. Ia merasa Rara sangat marah padanya sekarang.
"Oke, terserah kalau lo gak mau makan sekarang. Tunggu aja orang tua lo itu sampai perut lo keroncongan, mereka pasti ingkar janji lagi. Palingan masih di luar negeri, tuh," ucap Razel kesal berlalu meninggalkan Rara di ruang tamu sendirian.
Mendengar ucapan Razel, membuat raut muka Rara berubah. Apakah ia sudah membuat Razel marah? Kenapa ia bisa membuat cowok seperhatian itu marah? Ah, Rara memang keras kepala. Sejujurnya ia juga sudah lapar. Akan tetapi ia tahan.
Rara menoleh ke pintu depan. Kapan orang tuanya pulang? Kini, hanya tinggal Rara seorang diri di ruang tamu yang sedang menunggu.
Angin malam terasa mengembus dari balik ventilasi, Rara hanya memakai celana pendek. Jadi, angin itu terasa mengelus kulitnya.
Sudah setengah jam berlalu, sekarang sudah pukul sembilan malam dan Rara masih menunggu di sofa ruang tamu. Berharap terdengar deru mobil dan suara ketukan pintu, akan tetapi tampaknya itu semua hanya angan-angan saja.
Rintik hujan mulai terdengar dan sekarang rintikannya semakin deras, disertai petir yang menyambar. Rara meringkup di atas sofa, memeluk badannya sendiri. Ia masih yakin jika orang tuanya itu pulang malam ini juga. Jadi, ia akan tetap menunggu.
Satu jam sudah berlalu, hujan pun tak kunjung berhenti. Suara gemurun kian terdengar.
Razel yang berada di kamarnya sama sekali belum tertidur. Badannya saja yang berada di sini, tetapi pikirannya tetap memikirkan Rara. Apakah gadis itu sudah kembali ke kamarnya? Mendengar suara petir Razel jadi khawatir, Rara, kan, sangat takut dengan petir.
Razel pun memutuskan untuk keluar melihat Rara. Ia berpikir positif jika gadis itu sudah masuk ke kamar. Namun, saat melihat ruang tamu, mata Razel melotot, karena Rara masih berada di ruang tamu.
Buru-buru Razel menghampiri gadis itu yang sudah terlelap.
"Ra, lo kok masih di sini, sih," dengkus Razel.
Ia tahu jika di sini pasti dingin. Razel pun bernisiatif menggendong Rara membawa gadis itu ke kamarnya. Tampaknya Rara sudah benar tertidur, karena saat Razel mengangkat badannya gadis itu tak terbangun.
Razel lalu membawa Rara ke kamar gadis itu, membaringkan Rara ke kasurnya, lalu menyelimuti gadis itu.
"Lihat, Ra. Mereka gak jadi pulang malam ini juga, kan? Kasian banget lo udah rela nungguin gitu," ujar Razel, kekesalannya terharap orang tuanya semakin bertambah.
Razel menyelimuti Rara, setelah itu ia pun keluar dari kamar gadis itu. Razel pun kembali ke kamarnya.
***