Siang ini, karena hari Minggu, Rara hanya bersantai di kamarnya. Sejujurnya ia sedang tidak enak badan. Sejak pagi tadi, Rara merasa pusing, akan tetapi ia tak memberitahu siapa pun. Ia tak ingin membuat orang-orang khawatir.
Rara menatap sekotak pil yang terletak di nakas. Sudah lama ia tak menelan pil itu. Ya, ia mencoba kuat, bertahan hidup tanpa bantuan pil-pil pahit itu. Buktinya Rara masih sehat-sehat saja sampai sekarang.
Walaupun terkadang rasa sakit itu masih mencoba menyerangnya.
Ya, selama ini Rara memang menderita penyakit, tetapi ia sembunyikan. Hanya keluarganya saja yang tahu. Namun, Rara tak ingin orang-orang mengkasihaninya. Ia tak perlu belas kasihan, jika hanya mengharapka belas kasihan orang, lalu bagaimana caranya Rara melihat ketulusan?
"Ra!" panggil Razel dari luar.
"Iya," sahut Rara. Ia mencoba bangkit dari berbaring, lalu membukakan pintu untuk Razel.
"Lo kok gak keluar kamar, sih, Ra?" tanya Razel.
"Maaf, Zel, tadi Rara--"
"Ra, lo kok pucet?" tanya Razel panik, ia menangkup wajah gadis itu memperhatikan lebih jelas.
"Hah, nggak, kok. Aduh ini pilek aja mungkin," ucap Rara.
Tangan Razel lalu menyentuh dahi Rara. Merasakan panasnya dahi gadis itu seperti terbakar.
"Lo demam, loh, Ra."
"Iya, demam biasa aja, kok."
"Sana-sana baring cepat," suruh Razel, menuntun Rara agar kembali berbaring di kasur.
Jadi ini alasannya gadia itu tak keluar kamar sejak tadi. Razel menyesal tak mengecek dari tadi, mana ia baru tahu jika Rara melewatkan waktu sarapannya tadi pagi.
"Lo pasti belum makan apa pun, kan? Bentar, gue bawain makanan dulu, lo harus makan."
"Tapi, Zel, aku gak lapar. Nggak selera juga," ucap Rara merasakan pahit di lidahnya. Ia jadi tak nafsu makan rasanya.
"Gue maksa, lo harus makan, kalau gak gimana mau sembuh. Bentar gue ke apotek nanti beliin obat."
"Gak usah repot-repot, Zel. Aku gak pa-pa, kok, paling cuma butuh istirahat doang."
"Tetap aja lo harus makan dan minum obat, nanti juga gue kompres biar panasnya turun."
Tampaknya Razel benar-benar khawatir. Rara tersenyum menyadarinya, akhirnya ada yang perhatian juga padanya.
"Sembari nunggu, lo merem aja dulu, tidur!" suruh Razel yang tingkat kebawelannya jadi meningkat.
"Iya-iya, Zel."
"Ya udah, tunggu."
Razel pun keluar dari kamar Rara. Gadis itu hanya melamun, menatap langit-langit kamar. Ia sejujurnya rindu dengan perhatian mamanya yang sama persis seperti ditunjukan Razel tadi.
Ketika Rara sakit, maka mamanya itu orang pertama kali yang mengompres keningnya sampai panas Rara turun.
"Ma ... Mama masih inget Rara, kan? Mama gak kangen apa sama Rara?" lirih Rara. Ketika ia sakit, memang perasannya lebih mudah down.
Saat ini Rara benar-benar merindukan Sinta, mamanya. Ia lalu memejamkan mata, berharap setelah ini Sinta pun datang menghampirinya.
Masalahnya sekarang, Rara pun tidak bisa menghubungi nomor mamanya atau pun papa tirinya itu. Mungkin mereka sudah ganti nomor. Entahlah, Rara juga tidak tahu, yang pasti kedua orang tuanya itu sedang berada di luar negeri.
Di samping itu, tampak Razel yang sedang mengambil air dingin di kulkas. Tadi ia sudah balik dari apotek membelikan obat untuk Rara.
Ia juga sudah meminta Bik Anti untuk membuatkan bubur untuk Rara.
"Den, buburnya hampir mateng," ucap Bik Anti. Untung saja ada bahan-bahannya di dapur.
"Kalau udah mateng boleh minta tolong anterin ke kamar Rara, Bik?
"Oh ya, boleh, Den. Nanti Bibik antarkan."
"Baik, terima kasih, Bik."
"Sama-sama."
Razel membawa baskom berisi air dingin itu ke kamar Rara. Ia membuka pintu kamar gadia itu pelan. Tampaknya Rara sudah kembali tidur.
Razel meletakkan baskom itu di bawah, ia pun membangunkan Rara. Tangannya mengelus pipi gadis itu pelan.
"Ra, bangun dulu, yuk."
Ia takut jika Rara tidur tiba-tiba ia kompres malah membuat gadis itu terkejut. Rara mengernyit pelan. Ia membuka mata perlahan, sembari mengerjap-ngerjap.
"Gue kompres, ya," ucap Razel.
"Mama," lirih Rara yang membuat Razel terkejut.
Gadis itu ternyata kembali memejamkan mata. Hufh, sepertinya Rara menggigau.
"Mama," lirihnya kembali, tangan Razel yang berada di pipinya pun digenggam oleh Rara.
"Jangan tinggalin Rara, Ma."
"Duh, Ra, kasian banget lo. Sayangnya gue juga gak tau orang tua sekarang di mana. Udah pada sibuk, Ra, mungkin pada lupa kalau masih ada anak di rumah. Gue udah gak peduli, sih, yang penting lo tetap di samping gue," ucap Razel semakin mengelus pipi gadis itu.
"Gue kompres pelan-pelan, ya." Razel membilas saputangan itu yang ia benamkan ke dalam air di baskom, lalu diletakkannya di dahi Rara.
Selang beberapa menit, ia bilas kembali saputangan itu dan ditaruh kembali di dahi Rara, begitu seterusnya.
Sampai Bik Anti datang mengantarkan bubur untuk Rara yang sudah matang beserta obat demam yang dibeli Razel tadi.
"Ini, Den, Bibik pamit ke dapur, ya."
"Oke, makasih ya, Bik."
"Iya, Den. Jagain Non Rara, ya."
"Siap, Bik."
Bik Anti pun keluar dari kamar. Setelah itu, Razel pun kembali membangunkan Rara.
"Ra ... yuk, bangun dulu. Lo harus makan, terus minum obat."
Rara mengerjapkan matanya, kali ini ia benar-benar terbangun. "Razel," panggilnya terkejut, ia pun merasakan ada saputangan berada di keningnya. Ternyata Razel benar-benar mengompresnya.
"Nih, Bik Anti udah buatin lo bubur. Enak, nih," ucap Razel membujuk Rara agar mau makan.
"Aduh, Zel, bisa entara aja gak?'
"Ga bisa, Ra. Lo belum makan dari pagi jadi lo harus makan bubur ini, gak pa-pa ga habis, yang penting lo makan seberapa aja. Kalau pahit, telen aja cepat minum air," suruh Razel.
"Iya. Kamu bawel, ih."
"Ya kan biar lo cepet sembuh."
"Ini bentar lagi juga sembuh kalau Kak Razel yang ngerawat," ucap Rara yang membuat Razel mendengkus.
"Stop manggil gue pakai embel-embel kakak. Geli tau gak."
"Iya, maaf, hehe."
Razel lalu mulai menyuapkan adik tirinya itu bubur yang dibuatkan Bik Anti. Dari aromahnya tentu bubur ini enak, tetapi bagi orang sakit rasanya tentu hambar atau pahit.
"Udah, ya."
"Baru tiga sendok. Makan lagi, paling gak lima sendok lagi," ucap Razel.
"Nggak mau, entar aku muntah, Zel."
"Tapi lo makannya dikit banget. Gimana mau minum obat kalau gitu."
"Udah, aku dah kenyang, kok. Mana obatnya?"
Razel hanya bisa pasrah, karena Rara tak bisa dipaksa. Ia pun menyerahkan pil obat itu kepada Rara, dengan cepat gadis itu menelan obat dan meminum airnya.
Tiba-tiba Bik Anti masuk ke kamar Rara.
"Non, Den, Bibik ada kabar baik," ucap Bik Anti.
"Apa, Bik?"
Kira-kira apa kabar baiknya? Apalagi Bik Anti tambah bahagia dan bersemangat.