Desa Panuwari, daerah pendalaman, yang tak banyak diketahui oleh banyak orang. Di sinilah tempat perguruan Adimas dari kecil.
Namanya adalah Perguruan Silat Tomori, yang didirikan oleh Kakek Mori itu sendiri. Saat ini usia Kakek Mori sudah memasuki angka enam puluh tiga tahun.
Kakek Mori hanya tinggal bersama satu orang cucunya. Istri Kakek Mori sudah meninngal dan anaknya pergi merantau, tetapi cucunya memilih tinggal bersama Kakek Mori saja, karena orang tuanya sibuk dengan pekerjaan.
Nama cucu Kakek Mori adalah Irwan, ia tua setahun dari Adimas. Salah satu orang yang curiga jika Adimas adalah cewek, tetapi untung saja penyamarannya tak terbongkar.
Namun, walaupun Adimas tak memberikan identitas aslinya, Kakek Mori mengetahui jika ia adalah seorang cewek. Ya, penglihatan gurunya itu bisa melihat hal yang tak biasa orang lihat.
Setelah sampai, Adimas segera turun dari motornya. Tampak para juniornya sedang berlatih bersama Irwan di lapangan. Mereka mempraktekkan jurus dasar, menendang, menangkis, memukul, dan memukul.
"Kak Dimas!" teriak mereka menyambut kedatangan Adimas. Di sini, pangkat tertinggi didapatkan oleh Adimas. Kakek Mori pun sudah mempercayainya untuk membuka perguruan, tetapi Adimas tak berminat.
Walaupun Irwan juga tak kalah hebat, tetapi tetap Adimas lebih menguasai jurus-jurus dari Kakek Tomori. Sedikit info, Kakek Adimas yang sudah meninggal, dulunya adalah sahabat karibnya Kakek Mori.
Kakek Adimas juga hebat dalam persilatan, bahkan lebih hebat daripada Kakek Mori, tetapi Kakek Adimas juga tidak berminat membuka perguruan, karena ia sudah mulai sakit-sakitan saat umur tiga puluh tahun.
Kakek Adimas yang merupakan ayah dari Farah.
"Hai, semua," sapa Adimas.
Gadis itu segera menghampiri Kakek Mori dan memberikan salam dan hormatnya. Ya, seperti guru dan murid jika bertemu. Tak lupa ada Arsya juga yang mengekorinya.
"Adimas," sapa Kakek Mori.
"Iya, Kek. Apa kabar?" tanya Adimas sopan.
"Hm, baik. Sudah lama kau tidak kemari. Sibuk apa kau sekarang?"
"Sibuk sekolah, Kek. Maaf aku jarang main ke sini."
"Hm, itu di belakang kau, teman penakut yang kau bawa waktu kecil bukan?" tanya Kakek Mori menatap Arsya.
Hidung Arsya kembang kempis dibuatnya. Enak saja dibilang penakut, padahal emang iya. Eh, itu hanya karena ia tak bisa memanjat saja dulu. Apalagi disuruh manjat pohon kelapa yang tak ada cabangnya.
Ya wajarlah Arsya takut, toh ia hampir saja terjatuh, untung ada Adimas yang menanti di bawah.
"Salam, Kek," ucap Arsya kikuk.
"Salam apa kau? Assalammualaikum sebut," ucap Kakek Mori.
"Eh, iya. Assalammualaikum, Kek." Arsya menyalami tangan pria paruh baya itu.
"Hm, waalaikumussalam. Mau manjat lagi kau?"
"Nggak, Kek, terima kasih," ucap Arsya cepat.
Adimas terkekeh pelan, tampaknya Arsya masih trauma.
"Dimas, kau urus adik-adik kau yang di sana!" suruh Kakek Mori menunjuk para muridnya di tingkat menengah, mungkin itu kelompok anak smp.
"Baik, Kek."
Adimas menarik Arsya agar ikut bersamanya pindah tempat ke ruang sebelah.
"Bang Irwan," sapa Adimas.
"Hai, Dimas. Sudah lama gak kemari," ujar Irwan mengulurkan tangannya dan mereka bersalaman.
"Iya, maaf, Bang. Lumayan sibuk kemarin."
"Oh, iya, gak pa-pa. Pasti disuruh Kakek ngajar di sini, ya?"
"Iya."
"Monggo, biar gue bisa ke sebelah."
"Siap!"
Irwan menatap ke arah Arsya, alisnya mengerut karena merasa tak asing dengan cowok itu. Ya, sepertinya ia pernah melihat Arsya.
"Hai," sapa Adimas pada juniornya itu.
"Hai, Kak Dimass!" sapa mereka yang sudah kenal dengan Adimas.
"Hai, Kakak ganteng!"
"Hai, Kak, makin ganteng aja, ya."
"Kak Dimas apa kabar?"
"Kak Dimas kok jarang main ke sini?"
Adimas terkekeh mendengar pertanyaan beruntun yang mereka lontarkan.
"Mau cerita-cerita dulu, atau langsung latihan?" tanya Adimas.
"Cerita!" teriak mereka kompak.
"Baiklah." Adimas lalu duduk bersila di depan mereka dan semuanya pun ikut duduk.
Arsya hanya melihat dari jauh, ia duduk di sini sendiri. Bukan sendiri, Irwan malah ikut duduk di sampingnya.
"Murid baru, Bro?" tanya Irwan.
"Bukan, Bang."
"Terus?"
"Cuma mau lihat-lihat doang," ucap Arsya. Ia merasa risih, karena Irwan menatapnya intens.
"Gue kayak pernah lihat lo, deh, sebelumnya. Di mana, ya?"
"Salah orang kali, Bang."
"Nggak-nggak, gue beneran pernah lihat lo!" Irwan kembali memutar otak keras memikirkan di mana ia bertemu dengan Arsya.
"Nah, inget! Lo yang pernah dibawa Dimas ke sini, kan? Yang disuruh Kakek manjat pohon kelapa?"
Arsya mendengkus pelan. Kenapa hal memalukan itu terus yang terkenal di sini? Citra Arsya sebagai cowok ganteng mendadak merosot, jika mengingat hal itu.
Arsya kembali mendengkus, karena Irwan malah tak berhenti tertawa. Ia kira cowok itu kalem, menakutkan, dan mengerikan, ternyata Irwan malah tampak kocak tak ada kalem-kalemnya.
"Eh, btw, Bro. Lo temannya Dimas?"
"Iya, Bang."
"Deket, gak?"
'Ya deketlah, toh, gue udah sahabatan dari zigot, rumah kami sebelahan,' batin Arsya mengoceh.
"Iya, deket," jawab Arsya apa adanya.
"Lo ngerasa yang aneh gak, sih, sama Dimas? Kok gue merasa dia itu kayak cewek, ya, bukan cowok."
Mendadak tenggorokan Arsya terasa tersedak. Buru-buru Irwan menyodorkan botol air mineral yang tak boleh disebutkan mereknya itu, sebut saja Lee Mineral.
"Kenapa, Bro? Keselek ludah sendiri, ya?" tanya Irwan malah sempat-sempatnya bercanda.
"Nggak, Bang. Keselek omongan cabe-cabean, nih," jawab Arsya pula yang menbuat Irwan tertawa.
"Lo kocak juga, ya."
"Lo yang receh, Bang."
"Haha ... balik lagi ke topik. Lo ngerasa gitu juga gak? Apa gue aja? Abisnya dia kayak cewek banget, walau bentukannya kayak cowok, tapi auranya itu ceweknya kentara."
"No komen, Bang, dia cowok, kok," ucap Arsya yang terpaksa berbohong. Mau bagaimana lagi, bukan? Identitas sahabatnya itu harus dipalsukan.
"Yah ... ekspetasi gue salah ternyata, kirain dia cewek, mau gue kawinin."
Arsya kembali tersedak dan ia langsung meneguk air tanpa disodorkan dahulu.
"Kali ini keselek apaan pula?" tanya Irwan.
"Keselek cinta yang tertolak, Bang."
"Hahah, asyik! Boleh juga lo."
Arsya hanya bisa tersenyum kikuk. Luarnya saja yang seram, ternyata Irwan tak semengerika itu, malah receh abiss.
Lain sisi, Adimas tampak asyik berkenalan dengan juniornya yang baru masuk dan belum mengenalnya. Setelah asyik bercerita-cerita santai. Mereka pun mulai pemanasan.
Adimas mengetes jurus apa saja yang sudah mereka pelajari.
"Fina, kuda-kudanya coba dikuatkan lagi!"
"Arno, fokus! Jangan tengok kanan-kiri."
"Jea, tendanganmu belum lurus."
"Arni, atur pernapasan, jangan sampai ngos-ngosan karena nerveus."
"Baik, siap, Kak!" teriak mereka. Adimas pun berjalan mengelilingi juniornya itu mengetes satu persatu.
Satu jam lebih sudah mereka habiskan untuk berlatih, sekarang semuanya sudah terduduk menyelonjorkan kaki. Termasuk Adimas pun kelelahan. Adimas sempat bertanya-tanya ke mana perginya Arsya, ternyata sahabatnya itu malau asyik bersama Irwan.
Mereka mudah akrab, karena Irwan orang yang friendly.
"Kak Dimas," panggil salah seorang anak perempuan yang dilatihnya tadi.
"Iya, Maisa?"
"Ini, Kak, minum untuk Kak Dimas."
"Eh, gak usah repot-repot. Untuk kamu aja."
"Aku udah, Kak. Ini emang spesial untuk Kak Dimas, kok."
"Oh, oke. Thanks, ya."
"Sama-sama, Kak." Tampak pipi gadis yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas dua itu memerah, karena tersenyum.
Ada yang aneh, batin Adimas mulai waswas.
"Eum, Kak."
"Ya?"
"Kak Dimas udah punya pacar?" tanyanya malu-malu.
Apa maksudnya? Kenapa malah bertanya hal tak penting itu? batin Adimas berkecamuk.
"Emang kenapa?"
"Mau mastiin aja."
"Kakak gak punya pacar," ujar Adimas jujur. Tidak mungkin juga ia berbohong, toh kenyataaannya ia tak memiliki kekasih.
Lagi pula ia bingung, emang ada cowok mau dengannya? Apalagi identitasnya menipu seperti ini.
"Syukurlah, Kak."
Maisa lalu memberanikan diri menatap mata Adimas langsung. Matanya tampak berbinar-binar.
"Kak Dimas, mau nggak jadi pacarku?"
"Hah?" tanya Adimas terkejut bukan main. Untuk pertama kalinya ia ditembak oleh adik kelas dan seorang perempuan pula.
Ingin sekali Adimas mengatakan jika ia adalah seorang cewek, mereka sama-sama kaum hawa.
"Eum, gimana, Kak? Mau gak? Aku udah lama suka sama Kak Dimas."
"Anu-gue ...."
"Gak dijawab sekarang juga gak pa-pa, Kak."
Adimas menggaruk tengkuhnya. Tak mungkin juga ia memberikan harapan dan menggantung jawaban.
"Maaf, Dek, tapi gue gak bisa. Lo fokus sekolah aja dulu, ya," ucap Dimas hati-hati takut melukai hati mungil gadis itu.
"Heum, gitu ya, Kak."
"I--iya. Lagian apa, sih, yang lo suka dari gue? Padahal gue suka ngupil loh, terus upil gue kadang segede bola bekel."
Rusak sudah image Adimas di depan cewke itu, tetapi mau gimana. Ia harus membuat Maisa segera ilfeel dan move on.
"Kak Dimas beneran gitu? Kok kotor?"
"Iya, makanya ngapain coba lo suka sama cowok kayak gue," ucap Adimas berusaha membuat cewek itu semakin ilfeel padanya.
"Duh, kalau gitu gak jadi, deh, Kak. Aku pamit dulu, ya. Bye, Kak!"
Adimas menepuk dahinya pelan. Berhasil, sih, tetapi imagenya akan hancur. Bagaimana jika Maisa malah menceritakan kepada teman-temannya, yang ada mereka tidak ada lagi yang mau bertemu Adimas.
"Huh, lagian masa tuh bocil berani amat nembak gue. Apa coba bagusnya gue? Kita segender, Cuy!" ujar Adimas mengoceh. Setelah istirahat biasanya mereka pulang. Jadi, Adimas pun bisa pulang, sudah hampir dua jam ia di sini, menurutnya itu sudah cukup.
"Arsya!" panggil Adimas melambaikan tangan.
"Iya, De!"
"Pulang, yuk!" ajak Adimas.
"Yok!"
Sebelum pulang mereka pun berpamitan dengan Kakek Mori. Kakek itu berpesan supaya Adimas sering-sering main ke sini, membantunya. Namun, Adimas tidak bisa berjanji, karena terkadang ia benar-benar sibuk. Akan tetapi Adimas berjanji jika ada waktu dan kesempatan pasti ia akan mengunjungi tempat ini.
Ia pun jadi takut bertemu dengan bocil yang sudah ilfeel padanya tadi. Semoga Ia melupakan hal menjijikan yang Adimas bicarakan.
Setelah itu Adimas dan Arsya pun pulang. Hari ini lumayan menyenangkan, Arsya mendapatkan teman baru, walau sedikit menyebalkan.
***