BAB 30

1035 Kata
Arsya tersentak pada jam tiga pagi. Napasnya tak teratur, peluh membanjiri. Kenapa ia kembali bermimpi menikah dengan pengantin yang misteri itu? Arsya mengambil air yang terletak di nakas. Untung sebelum tidur ia sempat membawa air minum ke kamarnya, diteguk air itu sampai habis. "Kok gue mimpi itu lagi, sih, padahal udah lama gue gak mimpi itu." Arsya memikirkan mimpi itu lagi. Ia kembali berbaring. "Apa ini pertanda kalau gue segera ketemu jodoh gue, ya? Eh, tapi kan gua baru kelas sepuluh! Bentar lagi naik kelas, sih, tapi masa jodoh gue datengnya secepat itu? Gak bisa ditunda dulu sampai gue tamat SMA, kuliah, abis itu kerja, hem?" Arsya malah mengoceh tak jelas. "Ahelah, gue kak tipikal yang kalau udah kebangun tengah malam nggak bisa tidur lagi." Arsya memutar badannya ke kiri dan ke kanan, mencari tempat ternyaman. Namun, ia masih belum tertidur. Sebelum tidur, ia biasanya menghayal. Kali ini ia tidak menghayal, melainkan teringat kenangan masa kecilnya yang bertemu gadis kecil cantik. "Aduh, siapa, sih, nama tuh cewek cantik?" Arsya bersikeras mengingat namanya. "Hufh, siapa ya? Padahal gue kemarin inget, loh." Arsya memukul kepalanya pelan. Ia menyesal tak mencatat nama cewek itu, karena Arsya mudah lupa. "Nah, gue inget!" Setelah lama berpikir, akhirnya ia kembali ingat. "Nama cewek yang gue temui itu adalah ...." "R-ra ... Raquel!" Setelah itu ia kembali tertidur nyenyak dan berharap suatu saat bisa bertemu Raquel kembali. Andai Arsya tahu, jika Rara--cewek yang sedang ia incar sekarang adalah Raquel yang ia temui waktu kecil. Semua itu terjadi kebetulan atau emang sudah takdirnya? Ya, hanya waktu yang bisa menjawab. Apakah itu sebuah pertanda? *** Hari ini adalah hari Minggu. Seperti biasa, Arsya akan bangun lebih siang, walaupun tadi ia juga bangun salat subuh, tetapi Arsya melanjutkan tidurnya kembali sampai jam sembilan. Saat ini ia sudah terbangun dan sudah selesai mandi. Cowok itu sudah siap dengan celana pendek dan hodie-nya. Ia juga menyisir rambutnya agar tampak lebih rapi. "Saatnya ke rumah sohib gue yang paling ... tampan, eh, cantik. Eh, gak juga. Adimas tuh tampan!" ujar Arsya keluar dari kamarnya. "Sya, sini sarapan dulu!" panggil Reni. Arsya hanya mampir sebentar di meja makan, menyomot satu roti dan meneguk s**u. "Ey, duduk dulu dong, Sya? Buru-buru, mau ke mana?" "Ke rumah Dimas, Ma. Udah, ya, Arsya pamit!" Toh, ia nanti juga bisa sarapan di rumah Adimas. Walaupun jam setengah sepuluh ini bukan jam sarapan keluarga Adimas lagi. "Woi, De! Pagiii!" teriak Arsya main masuk saja, karena pintu tidak terkunci. Bantal sofa langsung melayang ke arah Arsya, yang langsung ditangkap oleh cowok itu. "Eits, Brader, masa gue baru dateng langsung ditimpuk pake bantal." "Lo dateng-dateng bukannya ucap salam malah teriak-teriak kayak orang gila." "Enak aja cogan gini dibilang orang gila. Ya udeh, gue ulang, nih. Assalammualaikum, Sohib Ganteng gue." "Dih, jijik." "Jawab salam wajib, Woi." "Waalaikumussalam." Arsya tertawa pelan, lalu ikut duduk di sofa, di hadapan sahabatnya itu. "Mau ngapain lo pagi-pagi dateng ke rumah gue?" "Yaelah, kayak baru pertama kali aja gue kemari jam segini, biasanya abis salat subuh gue juga main ke sini, kan." "Mau apa lo? Gue mau pergi, nih." Arsya baru sadar jika Adimas sudah siap dengan celana olahraga dan sweeter abu-abunya. Merasa diperhatikan oleh Arsya, Adimas jadi salah tingkah. "Datar," ujar Arsya. "Heh, apa yang lo bilang datae, ha?" kesal Adimas kembali melempar bantal sofa yang ada di dekatnya. "Haha, maaf-maaf, tapi berkat datar itu penyamaran lo sebagai lakik makin meyakinkan, De." Adimas memutar bola matanya malas, ia tahu Arsya sedang mengejeknya. "Udah, ah, gue mau pergi, bye!" "Eh, mau ke mana, sih, lo? Ikut, dong!" "Ngapain ikut segala, gue mau ke tempat Kakek Mori." "Kakek Mori? Lo punya kakek?" "Guru silat gue. Masa lo nggak inget, dulu kan lo pernah temenin gue." "Oh, iya-iya. Kapok gue sama tuh, Kakek-kakek, bukannya ngajarin gue ilmu bela diri, malah nyuruh gue manjat pohon kelapa!" kesal Arsya yang membuat Adimas tertawa mengingat kejadian itu. Arsya sempat ingin masuk ke perguruan silat Adimas, tetapi ia menyerah saat Kakek Mori menyuruhnya memanjat kelapa. Hampir saja Arsya terjatuh dan ia pun trauma dengan ketinggian. "Yakin mau ikut?" "Iyee, gue gabut di rumah. Ya udah gue ikut lo aja. Kan gue ikut buat nonton lo doang bukan ikut latihan." "Oh, ya udah kalau gitu ...." Adimas melemparkan kunci motornya ke Arsya. "Lo yang bawa motor, ya." "Oke." "Sekalian keluarin tuh motor, gue mau kunci pintu dulu." "Emang nyokap lo ke mana?" "Pergi belanja." "Eh, iya, ada yang mau gue ceritain ke lo, De." "Udah, nanti aja ceritanya di sana. Gue hampir telat, nih." "Eh, bentaran doang, sebelum gue lupa lagi mau ceritain." Adimas pun terpaksa mendengarkan. Ia menghadap sepenuhnya ke arah Arsya. "Ya udah, apaan? Cepetan!" "Gue mimpi nikah sama pengantin yang gak keliatan wajahnya itu lagi." "Hadeh, mimpi itu lagi, itu lagi. Bosen gue dengernya tau, gak. Makanya lo itu tobat! Jangan suka sakitin hati anak orang, mending lo putusin deh tuh cewek-cewek mulai sekarang. Tobatlah sebelum terlambat!" "Tapi, De ... mereka juga gak anggep gue serius kan selama ini, jadi ya buat have fun aja gitu." "Kalau ada mantan lo itu yang dendam malah pelet lo supaya tergila-gila sama dia gimana?" ujar Adimas malah menakut-nakutkan Arsya. "Serem amat dipelet. Tapi ... hufh, bener juga kata lo. Apa gue putusin sekarang aja, ya?" "Langkah pertama lo jangan cari pacar lagi, terus putusin pelan-pelan yang jadi pacar lo sekarang. Sebelum mereka nganggep lo serius." "Oke, oke. Gue coba, De. Moga gue bisa!" "Iyaa. Udah, kan? Gue mau kunci pintu, nih. Buruan!" "Iye-iye. Eh, bentar. Gue mau ambil dompet dulu ke rumah." "Oke." Setelah itu Arsya kembali berlari ke rumahnya lagi. Sedangkan Adimas mengunci pintu rumahnya. Ia menunggu Arsya. Lima menit kemudian cowok itu kembali dan langsung mengeluarkan motor Adimas. Arsya memanaskan motor sport itu terlebih dahulu. "Yok, naik!" suruh Arsya. Adimas langsung naik di bangku belakang. Ia memegang pundak Arsya. "Udah?" tanya Arsya. "Udah, buruan jalan!" suruh Adimas. "Oke, siap! Lets go! Jangan lupa pegangan!" "Modus lo! Langsung jalan aja." "Hahaha. Oke siap! Berangkat!" Motor pun mulai melaju meninggalkan rumah. Adimas sudah tak sabar sampai di tempat Kakek Mori, karena sudah lama ia tak ke sana. Ia rindu teman-temannya dan para juniornya. Tentu saja di sana ada keseruannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN