Sesuai janjinya Adimas mentraktir Arsya makan bakso di pinggir jalan. Harga terjangkau dan rasanya pun enak.
"Eh, De, lo tau gak. Orang buat bakso ini pake celana dalam, loh," ucap Arsya, yang langsung membuat Adimas memelotot.
"Heh, lo ngomong apa, hah!"
"Seriusan. Lo gak percaya? Orang buat bakso itu pake celana dalam tau."
Muka Adimas berubah aneh, pipinya mengembang membayangkan ucapan Arsya.
"Ih, lo ngomong apa, sih." Perut Adimas terasa berputar.
Melihat reaksi Adimas yang sudah sesuai harapannya, Arsya pun tertawa terbahak sambil memukul meja. Adimas mendengkus, apa yang cowok itu tertawakan?
"Yaiyalah orang buat nih bakso pake CD. Emangnya lo kagak pake celana dalam sekarang?"
Adimas memutar bola matanya malas. "Gue kirain lo bilang buat baksonya dikasih CD tau, gak!"
Arsya tertawa pelan. "Gue cuma ngelawak doang."
"Garing tau nggak."
"Dih, yang penting lo kena jebakan gue, kan."
"Bodo amat."
"Eh, De. Lihat, deh, tuh cewek yang duduk di sana boleh juga, tuh, gue gebet aja kali, ya?" ucap Arsya jiwa keplayboy-annya kumat.
"Tobat, Woi! Cewek lo udah banyak, mending perbaiki diri lo dari sekarang, dah."
"Tapi kan semua pacar-pacar gue itu cuma buat main-main, De."
"Enak aja lo mainin cewek, lo kira boneka dimain-mainin?"
"Haha, iya-iya. Sensi amat lo, biasanya juga sans aja gue banyak cewek."
"Ah, udah, ah. Pulang, yuk! Gue udah capek," ajak Adimas.
"Iya, ayolah!"
Mereka pun bangkit dan berlalu dari situ.
***
"Kamu mau ngomong apa?" Mendengar pertanyaan Rara, mendadak Razel jadu tak bisa berkutik. Ternyata tak semudah yang ia bayangkan.
Saat ini Rara dan Razel sedang berada di halaman belakang, duduk berdua sambil berhadap-hadapan.
"Eum ... Ra."
"Iya, Razel?" Rara mengerutkan keningnya tak seperti biasanya Razel tampak gugup.
"Anu--gue ...." Razel menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mendadak ia lupa dengan apa yang ia ingin katakan. Ini disebabkan jantungnya yang berdetak sangat kencang. Razel jadi tidak konsentrasi.
"Ada apa, sih, Zel?"
Entah kenapa Rara jadi teringat saat Arsya mengutarakan perasaannya. Ia juga tampak seerti Razel sekarang.
"Ini ... gue mau kasih lo ini." Razel memberikan kotak yang berisi jam tangan itu. Rara pun menerimanya.
"Untukku?"
"Iya."
"Boleh kubuka?"
"Boleh."
Rara pun membuka kotak itu dan ternyata isinya adalah jam tangan bewarna hijau pastel dengan motif kupu-kupu. Sangat indah. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Rara, melainkan sebuah kertas yang tersalip di sana.
Rara pun mengambil kertas itu dan membaca coretan tinta yang tertulis di sana.
I love you, Rara.
Mata Rara melebar membaca kertas itu. Apa maksudnya? Manik mata gadis itu langsung mengarah ke Razel yang mengalihkan mukanya.
"Razel ... mak--maksudnya?" tanya Rara. Ah, mungkin Razel hanya memberikan itu pertanda hubungan persaudaraan mereka saja, tetapi Rara merasa ada yang mengganjal.
Razel berdeham pelan. Ia menoleh menghadap sepenuhnya ke arah Rara. Matanya langsung memanah manik mata Rara yang membuat gadis itu terpaku.
"Gue suka sama lo, Ra."
Rara terkejut bukan main, kedua tangannya langsung menutup mulut tak percaya. Bagaimana mungkin?
"Sebelum papa gue dan mama lo nikah, gue udah suka sama lo. Jauh sebelum itu. Lo teman SD gue dan satu-satunya orang yang ngertiin gue."
"Zel ...."
"Lo juga selalu nemenin gue waktu SMP. Kita selalu main bareng ke mana pun, lo selalu jadi pendukung gue agar gue rajin belajar. Lo motivator terbaik gue. Lo selalu bisa menjadi pengganti sosok Ibu yang gue rindukan, walaupun lo beda banget sama ibu gue."
Rara hanya diam mendengarkan. Ia tak menyangka jika selama ini Razel ternyata memendam perasaannya.
"Siapa sangka, jika orang tua kita juga udah mengikat sebuah hubungan dan segera menikah? Tau, gak? Tepat sebelum papa gue lamar mama lo, gue udah mempersiapkan diri untuk menyampaikan perasaan gue ini ke lo. Gue udah beliin lo boneka yang pernah lo minta di Mall dulu. Tapi apa? Ternyata orang tua kita malah akan menikah. Sejak itu gue kacau. Walaupun masih berumur empat belas tahun, tapi gue merasa kalau gue gak akan pernah dapatin lo. Ya, kita bakal jadi saudar tiri, tapi kita gak mungkin bakal bareng selama-lamanya kan, Ra?"
"Razel ... tapi sekarang kita udah--"
"Gue tau. Gue cuma menyampaikan kembali perasaan gue yang dulu tertunda. Terserah lo mau membenci gue atau gimana."
"Zel, maaf ...." Rara menunduk pelan. Ia jadi merasa bersalah.
"Lo gak perlu minta maaf, Ra, gue tau lo nggak mungkin suka sama gue, hanya gue yang baper sama lo."
Air mata Rara lolos begitu saja. "Hiks--maaf udah bikin Razel suka sama Rara, maaf Rara gak bisa balas perasaan Razel." Rara malah menangis, yang membuat Razel panik. Kenapa gadis itu malah menangis?
Razel menarik gadis itu ke pelukannya untuk menenangkan. Rara masih tetap menangis.
"Ra, lo kenapa nangis?"
"Aku jahat! Aku udah kasih kamu harapan, padahal aku nggak akan bisa balas perasaan kamu."
"Nggak pa-pa, Ra, gue rela patah hati kalau hati gue, lo yang matahin."
"Tuh, kan, Rara jahat! Pukul Rara sekarang!"
Razel menggigit bibir bawahnya, tingkah Rara malah semakin membuatnya gemas. Tangan Razel mengusap rambut gadis itu pelan.
"Gue akhirnya lega. Lo gak usah mikirin perasaan gue, yang pasti gue udah senang bisa ngomong jujur sama lo."
"Buat apa kamu ngomong kalau tau bakal sakit hati, Zel?"
"Karena jika ditahan malah semakin sakit, Ra."
"Maaf, Rara gak bisa balas perasaan Razel. Kita udah jadi saudara tiri sekarang. Kita gak bisa lagi bersatu."
Razel mengusap puncak kepala Rara pelan. "Gak pa-pa, gue juga bahagia bisa jadi Kakak tiri lo, yang penting gue bisa dekat lo terus."
Rara tersenyum pelan, semakin mendekatkan badannya ke Razel.
"Razel gak marah, kan?"
"Nggak, Ra. Lo gak benci gue, kan?"
"Nggaklah, ngapain aku benci sama Razel."
"Syukurlah."
Rara melepaskan pelukannya, ia lalu kembali menghadap Razel.
"Rara janji, Rara akan carikan cewek yang cocok untuk Razel!" ucap Rara.
"Eh, gak usah, gue gak butuh cew--"
"Pokoknya aku janji, Zel, kamu pasti dapat yang terbaik. Tipe cewek kamu yang gimana?"
"Gue suka sama lo, Ra, jadi gue gak berpikiran buat cari cewek lain dulu, yang ada nanti mereka jadi pelarian."
Rara menggenggam tangan Razel pelan. "Boleh, nggak, hapus perasaan Razel buat Rara? Lalu buka hati untuk cewek lain? Razel juga berhak bahagia."
"Gu--gue gak mungkin semudah itu lupain lo, Ra."
"Razel pasti bisa lupain Rara. Ayo, lupain aku mulai sekarang!"
Razel tersenyum singkat. "Gimana cara lupain lo kalau lo selalu netap di pikiran gue, Ra?"
***