BAB 28

1014 Kata
Hari ini Rara dijemput Razel pulang sekolah, itu karena supir pribadi Rara tidak bisa menjemputnya. Razel pun menelepon Rara jika ia sudah on the way dari empat puluh menit yang lalu. Rara sudah menunggunya di gerbang. Mungkin sudah lima belas menit lewat gadis itu menunggu, tetapi Razel belum juga datang. Beberapa kali temannya menawarkan pulang bareng, tetapi Rara menolak halus dan mengatakan jika ia ada jemputan. "Razel mana, ya?" Rara mengusap peluh yang membanjiri pelipisnya. Tak lama kemudian, deru motor Razel terdengar. Rara tersenyum singkat, akhirnya datang juga. Razel memberhentikan motornya di depan Rara, lalu memberikan helm yang dibawanya kepada Rara. "Sorry, ya, gue telat." "Nggak telat, kok." Rara segera menaiki motor itu dan memegang kedua pundak Razel. "Langsung pulang?" tanya Razel. "Terserah Razel aja. Kalau mau jalan, mute-muter dulu juga boleh," ucap Rara, karena ia juga tak buru-buru ingin pulang cepat. "Oke, jalan-jalan, yuk!" "Ayuk!" teriak Rara senang. Kapan lagi, kan, keliling naik motor bersama Razel. Sudah lama mereka tidak berpergian bersama. "Pegangan, ya, gue takut lo jatuh," ucap Razel menarik tangan Rara untuk memeluk perutnya. Rara menurut saja, toh, biasa saja memeluk saudara tirinya, kan? Razel tersenyum singkat, saat Rara memeluknya. Ia pun langsung melajukan motor. Embusan angin menerbangkan anak-anak rambut Rara, ia merentangkan tangan menikmati angin. Biasanya Rara hanya duduk diam di mobil, sekarang ia lebih leluasa memandang jalanan. "Razel, kita berhenti jajan di sana, yuk!" teriak Rara mengajak Razel untuk jajan dulu. "Oke," jawab Razel, menuruti saja apa keinginan Rara. Motor Razel berhenti di depan gerobak cilok. Mereka pun turun dari motor. "Pak ciloknya bungkus dua, ya," ucap Razel. "Baik, Dek." Sembari menunggu, Razel mengajak Rara duduk di bangku yang telah disediakan. "Ini, Dek." Penjual itu memberikan dua bungkus cilok dan Razel segera membayarnya. "Zel, aku juga mau batagor itu," ucap Rara menunjuk ke arah penjual batagor di seberang jalan. "Oke. Lo tunggu di sini aja, biar gue yang ke sana beliin." "Eh, sama somay itu juga, ya, yang di sebelahnya." Razel sedikit terkejut, karena Rara tampak tertarik dengan semuanya. "Oke, apa lagi?" "Bakso di sampingnya juga boleh. Eum sama yang itu ... es dogernya juga, ya." "Oke." Apa, sih, yang tidak buat Rara. Razel akan selalu menuruti apa keinginan gadis itu agar ia bahagia. "Ada lagi, gak?" tanya Razel. Rara memutar arah pandangnya, menatap penjual jalanan. "Nah, itu, ada martabak! Aku suka. Beliin dua, ya. Pokoknya masing-masing beli dua bungkus." "Oke." "Makasih, Razel!" "Iya. Ya udah, tunggu di sini, jangan ke mana-mana." "Oke, siap, Boss!" Rara tersenyum menatap Razel membelikannya semua makanan penjual jalanan itu. Bukan apa-apa. Rara hanya iba melihat penjual yang dagangannya sepi seperti itu, jadi Rara mencoba membantu untuk membeli semuanya agar adil. Nanti makanan itu juga tak akan habis olehnya. Rara rencana ingin membagikannya pada anak-anak jalanan nanti. "Pacarnya ya, Neng?" tanya Bapak penjual cilok tadi. Ah, iya, Rara baru menyadari jika ia masih berada di sini. "Bukan, Pak, itu saudara saya," ucap Rara sopan. "Wah, cocok sekali, Neng, saya kira pacaran." "Hehe, bukan, Pak." "Beruntung ya Neng dapat saudara seperti itu, baik, penurut lagi." "Iya, Pak. Razel emang anak yang baik," ucap Rara mengakui. "Mau minum, Neng?" tawar Pak Penjual Cilok itu menyodorkan air mineral, Rara menggelen pelan, menolak halus. "Terima kasih, Pak, tapi saya tidak haus." Sepuluh menit setelah itu, Razel datang dengan banyaknya kantong makanan di tangannya. Rara terkekeh pelan, kedua tangan Razel sudah penuh. Rara pun membantu membawanya. "Lo yakin mau makan sebanyak ini?" tanya Razel heran. "Siapa juga yang mau makan sebanyak ini, Zel. Semua ini mau aku bagikan ke anak-anak jalanan yang di perempatan." "Oh, kenapa gak bilang tadi," dengkus Razel. "Hehe, ayo berangkat sekarang." Kantong itu dikaitkan di depan penggantung, kebetulan motor Razel adalah motor beat. "Pak, saya pamit, ya, terima kasih." "Baik, Neng, hati-hati." Rara segera naik ke motor Razel dan cowok itu mulai menjalankan motornya. Tujuan mereka sekarang adalah membagikan makanan ini terlebih dahulu ke anak-anak jalanan. Berbagi itu indah, bukan? Setelah sampai, Rara segera turun dan menghampiri anak jalanan yang bertemu dengannya. Ia pun memberikan masing-masing satu kantong makanan itu. "Terima kasih, Kakak Cantik," ujar mereka yang membuat Rara tersenyum. Tangan Rara mengusap rambut anak kecil itu pelan. "Sama-sama." Melihat itu, Razel tersenyum. Mungkin tak seberapa, tetapi Rara pasti melakukan itu dengan ikhlas. Setelah membagikan di situ, mereka kembali bergerak mencari anak jalanan lagi, karena sisa makanan mereka masih ada. Terus berlanjut sampai makanan yang mereka bawa habis. Berbuat baik itu tak harus direncanakan. Rara dan Razel bahkan tak ada rencana melakukan ini, semuanya hanya terjadi dadakan. "Udah semua, yey!" teriak Rara. "Iya." "Oke, saatnya pulang!" ucap Rara, ternyata capek juga. "Ayo!" *** Sesampainya di rumah. Rara segera berlalu ke kamarnya. Namun, saat hendak membuka gagang pintu kamar, Razel menahan tangannya. Rara menoleh menatap ke arah Razel. "Kenapa, Zel?" Rara mengernyitkan alis bingung. "Ra, ada waktu sebentar?" "Buat apa?" "Gue mau ngomong, boleh ke halaman belakang sebentar?" tanya Razel. "Oke, tapi aku ganti baju dulu boleh, kan? Aku juga mau mandi dulu biar seger." "Boleh. Gue tunggu, ya." "Oke. Emang mau ngomong apa, sih? Gak bisa ngomong langsung aja, Zel?" "Gak bisa, Ra. Mending lo ganti baju dulu aja sana, gak pa-pa, gue tunggu." "Oke, deh, entar aku susul, ya." "Iya." Rara lalu masuk ke kamarnya. Razel menghela napas pelan. Ia pun melangkah menuju halaman belakang rumah. Kinilah saatnyanya. Tidak perlu menunda lagi, bukan? Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat. Ya, tidak ada salahnya juga jika harus jujur, karena jika dipendam terus menerus yang ada Razel semakin tersiksa. Razel juga masuk terlebih dahulu ke kamarnya, mengganti baju dan bersih-bersih. Mempersiapkan diri, entah kenapa ia malah ikut deg-degan, padahal yang akan ia bicarakan bukanlah sesuatu yang sulit. Mungkin sulit diutarakan, tetapi akan lega jika telah dilepaskan. Razel mengambil kembali jam tangan yang selalu ia pandang akhir-akhir ini. Ia memasukkan jam tangan itu ke dalam kotaknya. Jam tangan itu adalah sebuah kenangan. Yaitu, kenangan manisnya bersama Rara, sekitar empat tahun yang lalu. Apa yang terjadi? Apakah ada sangkut pautnya dengan perasaan? Semua itu akan diutarakan Razel di halaman belakang nanti. Tunggu saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN