Adimas menunggu Arsya pulang sekolah. Kemarin ia sudah mengabari cowok itu untuk memintanya kembali menemani Adimas mengurus sesuatu.
Arsya mengiyakan saja, kebetulan ia tidak ada jadwal kencan dengan pacar-pacarnya hari ini. Adimas sudah menunggu di rumah Arsya sejak setengah jam yang lalu. Tadi cowok itu mengabari jika ia akan segera pulang. Namun, kenapa sampai sekarang Arsya belum sampai juga?
Akhirnya terdengar suara deru motor di depan rumah. Buru-buru Adimas berjalan membukakan pintu. Ah, ia bagaikan seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang saja.
"Lama banget lo," kesal Adimas.
"Yee, kayak nggak tau aja macet," ujar Arsya masuk dan langsung duduk di sofa, melepaskan sepatunya.
"Gue udah siapin makanan tuh, selesai lo makan kita berangkat."
"Buru-buru amat, Bro.Gue rencana mau ngadem dulu bentar," ujar Arsya menyandarkan badannya ke badan sofa.
"Nggak ada waktu lagi, Arsya. Keburu si Laura nikah sama bokap gue entar."
"Ya apa masalahnya, sih, kan mayan lo dapat mamud satu lagi."
"Nggak mau! Udah, deh, kalau lo nggak mau nemenin, gue pergi sendiri aja."
"Dih, ngambekkan lo kayak cewek."
"Ya emang gue cewek!" kesal Adimas melempar bantal sofa ke arah Arsya.
"Eh, iya, Mbak. Iya."
"Dih. Udah, sana ganti baju lo, abis itu makan!" suruh Adimas yang sudah seperti Emak-emak saja.
"Iya, nyinyir lo kayak netizen."
"Biarin."
Arsya langsung berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Sembari menunggu Arsya, Adimas berjalan ke ruang makan mempersiapkan makanan cowok itu. Tadi ia sudah memasak. Rumah Arsya pun sama saja, tidak ada ART tetap yang mengurus rumah. ART di rumah Arsya hanya mencuci pakaian, piring, dan membersihkan rumah sampai jam sepuluh pagi, setelah itu ART-nya pulang.
Untum memasak, kadang Reni jika ada di rumah, atau tidak mereka makan di luar saja. Kebetulan Reni sibuk bekerja, Adimas membantu memasak tadi.
Menu masakannya adalah ikan nila, kesukaannya Arsya.
"Wow, lo yang masak semua?" ucap Arsya yang baru datang dan langsung duduk.
"Iya, dong, jangan ragukan skill masak gue."
"Kalau gini, mah, lo udah cocok jadi istri idaman, De."
"Eits, masih lama, ya. Gue mau jadi orang kaya dulu," ujar Adimas.
"Kan bokap lo udah kaya, De, mau dihabisin sebelas turunan juga gak abis tuh harta."
"Ya tetap aja itu bukan harta gue, kan? Itu harta bokap gue."
"Entar juga turunnya ke lo, De. Kan lo anak laki satu-satunya."
"Hm, udah gak usah dibahas. Gue cewek, ingat!"
"Lo lakik di mata orang lain."
"Bodo, ah, Sya. Itu bukan topik kita sekarang!" kesal Adimas, karen Arsya malah melantur ke mana-mana. Ia paling malas membahas tentang indetitasnya yang dipalsukan ini, apalagi ayah kandungnya tak tahu tentang identitas aslinya ini. Ada sesuatu tentunya yang tak bisa dibongkar sekarang.
Setelah Arsya makan, mereka pun pergi mencari Laura untuk menyelesaikan proboem yang sedang terjadi. Untung saja Adimas mendapatkan alamatnya dari Om Tino.
Jika tidak ada di rumah, Adimas bisa mencari ke kantornya atau ke rumah kerabatnya. Jika tidak ketemu juga, maka ia akan berurusan dengan Alex langsung saja.
"De, cuaca panas, nih, gue mau ngebut. Biar lo enggak jatoh, pegangan, ya!" suruh Arsya.
"Eh? Gue pegangan sama lo dikira gay, woi!" teriak Adimas kesal.
"Ya, bodo amat, De. Lo kan aslinya cewek. Udah, pegangan aja, daripada jatoh."
"Nggak, ah. Entar orang lain mikir kita--" Tiba-tiba Arsya mengencangkan laju motornya yang membuat Adimas mau tak mau memegang pinggang cowok itu. Ia hanya memegang ujung jaket Arsya.
"Yaelah, pegang erat-erat aja kali. Mau dipeluk juga gak pa-pa!"
"Diem lo! Lagian ngapain gak pake mobil aja, sih?"
"Macet, De, entar gak bisa nyalip-nyalip."
Suara Arsya mulai tak jelas terdengar, karena kencangnya embusan angin. Adimas memilih diam. Tangannya pelan-pelan memeluk pinggang Arsya erat.
Arsya tersenyum kecil, ia kadang sadar tak sadar menyadari jika sahabatnya itu aslinya adalah cewek.
Dari sekian banyaknya cewek yang pernah dipacari Arsya, kenapa ia tak pernah berpikir untuk mengajak Adimas pacaran?
Itu tidaklah mungkin terjadi. Arsya yakin Adimas tak mungkin menyukainya, karena selama ini Adimas selalu melihat sikap buruk Arsya.
Ya, itu hanya anggapan Arsya sendiri saja, aslinya jika Arsya tahu, Adimas memendam perasaannya.
Ia sudah menyukai Arsya diam-diam. Namun, selama ini Adimas mencoba menutupinya. Ia pun berusaha mengubur perasaan itu.
Karena Adimas yakin, tak ada harapannya di hati Arsya. Apalagi semenjak kedatangannya Rara. Harapan Adimas semakin menipis.
"De, kita isi bensin dulu, ya."
"Oke."
***
Setelah lama di perjalanan akhirnya mereka sampai di alamat tujuan. Adimas membaca alamat itu sekali lagi memastikan apakah ini benar rumahnya Laura.
Ia pun mengetuk pintu. Ketukan pertama tak ada sahutan, ia pun kembali mengetuk pintu tuk kedua kalinya. Sudah lima kali ia ketuk, tapi tak ada respons dari dalam juga.
"Kayaknya emang nggak ada orang," ujar Arsya.
"Hm, masa, sih?"
Adimas mencoba mengetuk sekali lagi, sampai seseorang dari rumah sebelah yang diyakini adalah tetangga Laura muncul menghampiri.
"Cari siapa ya, Nak?" tanya Ibu itu.
"Cari Mbak Laura, Bu."
"Oh, Nak Lauranya nggak di rumah, Nak. Ibunya kemarin kumat, terus Nak Laura bawa ibunya ke rumah sakit."
"Oh, kalau boleh tau di rumah sakit apa, Bu?"
"Rumah sakit Diantama, Nak."
"Baik, terima kasih banyak, Bu," ucap Adimas bersyukur ibu itu memberitahunya.
"Sama-sama Nak Ganteng," ujar Ibu itu yang membuat Adimas mengulum senyumnya.
"Ya udah kami pamit ya, Bu Semok," ujar Arsya tanpa beban, yang membuat mata Adimas melebar.
"Eh, kamu bisa aja," ujar Ibu itu yang tak marah malah salah tingkah.
Arsya terkekeh pelan. Adimas segera menarik tangan sahabatnya itu segera pergi dari sana. Enteng sekali mulut Arsya berbicara seperti itu, untung ibu itu tidak tersinggung.
"Mulut lo ya dijaga, dong, hadeh," kesal Adimas.
"Lah, gue kan muji, Ibu-ibu itu kalau dipuji semok malah bangga tau," ujar Arsya tak mau disalahkan.
"Ya gimana kalau Ibunya gak terima. Kita lagi di daerah orang, Sya."
"Haha, tenang aja, Bro. Untuk mengatasi perwanitaan serahkan aja sama Arsya si Tampan."
Adimas memutar bola matanya malas. "Udah, ah, ayo ke rumah sakit, sebelum kita kehilangan jejak si Laura lagi," ucap Adimas.
"Ya udah ayo. Agak jauh, ya."
"Iya, makanya nggak ada waktu lagi."
"Lo udah kabarin Om Tino?"
"Eh, iya, bentar."
Adimas pun menelepon Tino memberitahu di mana keberadaan Laura sekarang.
"Udah. Yok kita berangkat!"
"Ayo!"
***
Sesampainya di rumah sakit, ternyata Tino datang lebih dulu. Tino yang tahu nama ibunya Laura memudahkan mencari di mana ruang rawat ibunya.
"Kita cuma bantu cari Mbak Lauranya aja gak, sih? Setelah itu biarin aja urusan Om Tino," ucap Arsya. Ia rasa mereka tak ada hak lagi untuk ikut campur.
"Eh, iya juga ya benar kata lo. Lagian Mbak Laura juga gak kenal sama gue, walau gue calon anak tirinya."
"Ya, lebih baik kita biarin Om Tino aja yang urus."
"Hm, ya. Ya udah balik, yuk. Gue traktir lo makan bakso, nih," ucap Adimas.
"Eh, seriusan lo? Wah tumben. Ayo!"
Arsya merangkul pundak Adimas yang membuat gadis itu langsung melepaskan.
"Woy, entar dikira gay!" ujar Adimas lagi.
"Kalau gaynya sama lo apa masalahnya, sih?"
"Dih, Arsya ngucap lo, tobat!" kesal Adimas yang membuat Arsya tertawa pelan.
"Lo gemes, deh, De, kalau marah-marah gitu."
"Bodo amat gak denger!"
Adimas berjalan lebih dulu meninggalkan Arsya yang masih tertawa.
"Lo lucu banget, De. Udah kayak cewek ABG ngambekkan," ujar Arsya. "Eh, iya, kan emang cewek, argh!"
Arsya pun mengejar Adimas yang sudah berjalan lebih dulu. Ia terkadang lebih senang menghabiskan waktu bersama Adimas daripada bersama pacar-pacarnya.
***