Setelah sampai rumah, Adimas langsung masuk ke rumahnya begitupun dengan Arsya yang langsung pulang. Rumah mereka bersebelahan, jadi bisa mampir kapan saja.
Adimas membuka pintu rumahnya. Kosong. Ya, karena hanya di rumah ini hanya ada ia dan Farah. Pernah mereka memakai Asisten Rumah Tangga, tetapi ART itu sudah berhenti dan mereka tak mencari ART baru lagi. Mumpung Adimas di rumah saja dan bisa membereskan pekerjaan rumah, Farah tak berniat mencari ART lagi.
"Tinggal nunggu Mami pulang," ujar Adimas masuk ke kamarnya.
Ia masih penasaran dengan laki-laki yang tadi. Baiknya ia tunggu saja sampai Farah pulang.
"Tadi Mami juga nyebut nama papi loh," ujar Adimas yang semakin penasaran.
Teleponnya berdering. Adimas sedikit terkejut melihat nama yang tertera di layar HP-nya.
PAPI?
Benarkah? Apakah Adimas tak salah lihat? Buru-buru Adimas mengangkat telepon dari Alex.
"Halo, Pi."
'Halo, Putra Papi yang paling tampan, setampan Papinya.'
Adimas hanya tersenyum kikuk. Papinya itu selalu memanggilnya seperti itu, padahal nyatanya ia bukanlah seorang laki-laki.
"I--iya, Pi. Ada apa? Tumben Papi nelepon."
'Papi kangen aja sama kamu. Udah lama juga kita tidak bertemu, padahal harusnya Papi udah kenalin kamu tentang perusahaan ini.'
Adimas tak menjawab, karena ia tak tahu harus merespons apa.
"Hmm ... gimana kabarnya, Pi?" tanya Adimas mencoba mengalihkan.
'Baik. Kamu gimana? Mami kamu? Kalian baik-baik aja, kan?'
"Baik, Pi."
'Syukurlah. Papi nelepon kamu, karena Papi mau kasih tau, sekarang Papi udah di rumah. Kamu kapan ke sini?'
Tentu saja Adimas terkejut. Sejak kapan papinya itu pulang? Kenapa tidak ada yang memberitahunya jika Alex sudah di rumah.
"Papi kenapa gak kasih tau aku sebelum pulang, kan bisa jemput Papi di bandara."
'Nggak pa-pa, Dimas. Biar surprise aja, kan?'
"Hm."
'Ya udah, Papi cuma mau ngabarin itu, sampaikan salam papi ke mamimu. Papi juga udah merindukannya.'
"Beneran rindu?" tanya Adimas menggoda.
'Iya. Makanya ke sini, Papi tunggu. Bawa Mamimu juga. Udah, ya. Papi tutup teleponnya, bye ....'
"Bye, Pi."
Adimas meletakkan HP-nya di nakas. Ia tersenyum senang. Bahagia mengetahui papinya itu sudah kembali ke rumah dari sekian lama. Ia juga senang mengetahui papinya merindukan maminya. Walaupun ia tak melihat orang tuanya itu bersatu, tetapi ia masih bisa merasakan jika kedua orang tuanya tetap berhubungan walau dari jauh.
Suara deru mobil terdengar di luar. Adimas yakin yang datang adalah maminya. Buru-buru ia keluar untuk membukakan pintu. Sekaligus ia akan menanyakan perihal itu dengan maminya serius untuk kali ini.
Ternyata benar, maminya pulang. Farah pun langsung melangkah masuk ke rumah dan duduk di sofa. Kebetulan sekali. Adimas juga duduk di sofa.
"De, ambilin Mami air, dong, Sayang."
"Iya, Mi."
"Pake es batu, ya, biar dingin."
"Oke, Mi."
Kesempatan bagus. Ia bisa lebih leluasa bertanya jika maminya stay di ruang tamu. Adimas membuatkan jus spesial untuk maminya itu.
Setelah selesai, ia membawa segelas jus orange itu ke ruang tamu dan meletakkan ke atas meja.
"Makasih, Sayang. Tau aja Mami suka jus orange." Farah meneguk jus itu menyisakan setengah gelas.
Cuaca di luar panas, tenggorokannya terasa kering. Makanya ia merasa kehausan.
"Emm, Mam. Aku pengen nanya."
"Nanya apa? Kamu udah kerjain tugas yang Mami kasih, kan?"
"Udah, Mi. Nggak ada masalah soal itu."
"Syukurlah kalau kamu udah paham."
"Aku bukan mau nanya itu, Mi," ucap Adimas.
"Eh, iya. Apa? Mau nanya apalagi?"
"Maaf kalau aku lancang, tapi aku ingin dan berhak tau. Ini siapa, Mam?" tanya Adimas sambil menyodorkan HP-nya yang menampakkan foto Farah bersama seorang laki-laki.
Farah terkejut bukan main. Dari mana anaknya itu mendapatkan foto itu? Siapa yang memata-matainya? Apakah selama ini ia selalu dipaparazi?
"Kamu dalat foto itu dari mana?" tanya Farah tegas.
"Aku yang foto sendiri ini, Mam."
"Kamu ...."
"Maaf, Mam. Aku emang selidiki Mami, karena aku penasaran."
Farah memijat pangkal hidungnya pelan. "Terus, bagaimana menurut pandangan kamu? Apakah Mami terlihat selingkuh di mata kamu?"
"Iya. Apakah benar?"
"Tentu tidak." Farah menghela napas pelan. Harusnya ia menceritakan saja langsung pada Adimas, daripada terjadi kesalahpahaman seperti ini. Lagi pula Farah tak mungkin berniat selingkuh dari Alex. Percuma saja dong usahanya selama ini sampai membuat Adimas tampak seperti laki-laki, jika ia mengkhianati Alex.
"Adimas hanya ingin Mami jelasin semua ini dengan lengkap tanpada dikurang-kurangi."
"Oke, oke. Mami akan cerita, tapi hapus dulu fotonya. Bahaya kalau ada yang lihat, entar Mami malah dituduh macem-macem."
"Iya, iya. Udah aku hapus, nih. Silakan Mami ceritakan selengkap-lengkapnya."
Adimas menatap Farah serius, maminya itu pun tak bisa berkutik, apalagi tatapan tajam anaknya itu tampak mencekam.
"Laki-laki itu bukan selingkuhan Mami, kami hanya teman yang saling membutuhkan saat ini."
"Emang dia siapa?"
"Namanya Tino, dia adalah mantan kekasihnya Laura dan kamu tau siapa Laura? Dia adalah sekretaris Papimu sekaligus calon ibu tirimu."
Mendengar penuturan Farah membuat Adimas terkejut dengan mulut terbuka lebar. Jadi, papinya beneran serius dengan sekretaris itu? Kenapa papinya itu masih saja menambah istri di usia segini?
"Bagaimana? Kaget, nggak?" tanya Farah.
"Iya, Mam."
"Makanya lain kali kamu nggak usah sampai curigai Mami begitu. Mami nggak suka, loh, ya, privasi Mami kamu ganggu."
"Iya, maaf, Mam."
"Oke, Mami maafkan. Jadi, Tino membantu Mami agar si Laura gak jadi nikah sama papi kamu, karena Tino sangat mencintai Laura dan Mami juga nggak mau papi kamu menikah lagi."
"Tapi kenapa? Bukannya dia udah jadi mantannya Mbak Laura itu, Mam?"
"Karena Tino bilang, jika Laura mau dengan Alex karena hartanya saja."
Adimas mendengkus pelan. Sudah seperti di film-film saja. Ibu tiri yang hanya menginginkan harta suaminya. Untung Adimas bukanlah bawang putih yang selalu tertindas oleh bawang merah dan ibunya.
"Terus, emangnya mereka putus kenapa, Mi?"
"Karena si Tino gak ada uang lagi buat bayarin pengobatan ibunya Laura yang terkena kanker."
Mendengar itu Adimas jadi merasa bersalah. Tadi ia sempat menghujat Laura dalam hati.
"Terus kalau nikah sama Papi berarti tanpa cinta?"
"Ya begitulah, makanya Tino ini nggak mau lepasin Laura, hanya karena masalah uang. Tino mau minjem uang juga sama Mami, tapi Mami ajakin kerja sama begini biar Laura balikan lagi sama dia dan Alex tidak memaksa Laura nikah dengannya."
"Jadi, singkatnya Mbak Laura ini sebenernya nggak jahat ya, Mam? Tapi karena terpaksa butuh biaya saja makanya mau nikah sama papi?"
"Iya."
Dugaannya terhadap Laura membuat Adimas merasa bersalah. Ternyata benar kata orang.
Jika belum kenal tak perlu menilai, karena kita tidak tahu dirinya yang sesungguhnya.
"Maaf kalau aku salah paham sama Mami."
"Ya, nggak pa-pa."
"Makasih udah jelasin yang sebenernya Mam."
"Iya."
"Jadi, Lauranya udah balik lagi ke Mas Tino, Mam?"
"Belum. Itu masalahnya. Laura susah dihubungi, ditemui langsung juga ia menghilang."
"Kalau Mami percaya sama aku. Biar Dimas bantuin."
"Eh, nggak usah. Ini urusan orang dewasa, kamu tenang aja di sini."
"Tapi kalau Mami gak keberatan aku mau bantu."
"Ya udah terserah kamu."
"Pertama ... minta foto dan kontaknya, Mam."
"Iyaaa."
"Besok aku selidiki." Adimas tersenyum singkat. Esok ia akan meminta Arsya lagi untuk menemaninya.
***
Di samping itu tampak Razel yang sedang mempertimbangkan keputusannya.
Ia memegang sebuah jam tangan di dalam laci dan membawanya duduk di kasur.
"Apa keputusan gue udah benar? Tapi ... argh, tidak ada yang tau sebelum mencoba, kan?"
Razel menghela napas pelan. Ia akan berbicara serius dengan seaeorang besok. Ia harus jujur dan melepaskan semuanya sebelum terlambat.
"Gue yakin dia bakal kaget banget, tapi kalau gue nggak kasih tau, gue gak bisa mendem lebih lama lagi. Inilah saatnya, terserah gue bakal dibenci atau malah dimusuhi," ucap Razel yang sudah pasrah saja apa yang akan terjadi.
"Besok! Pokoknya besok harinya, entah gue bakal beruntung atau malah murung."
Razel merebahkan badannya di kasur, memandangi langit-langit kamar.
"Lo sadar gak, sih, selama ini kalau gue suka sama lo?"
Razel suka sama siapa? Siapa cewek yang berhail masuk ke hati seorang Razel yang super menyebalkan?
"Gue suka sama lo, terserah lo suka atau gaknya sama gue, yang pasti gue udah jujur." Ia pun mulai memejamkan mata bersiap untuk hari esok.
Apakah akan menjadi hari yang bahagia atau malah sebaliknya?