BAB 25

1013 Kata
Apa itu sahabat? Adalah orang yang senantiasa memeluk kita di saat sedih dan ikut bahagia ketika kita senang. Sejak kecil Rara tidak pernah memiliki seorang sahabat, bahkan teman juga jarang. Ia tak mudah dekat dengan orang lain. Rara tipikal introvert yang lebih nyaman sendirian. Namun, seringkali Rara mengharapkan datangnya seorang sahabat yang bisa mengerti dirinya, memahami perasaannya. Jika teman bisa dibeli, maka ia akan membelinya, agar tidak kesepian. Saat ini ia belajar Bahasa Indonesia dan mendapatkan tugas membuat puisi bertema sahabat. Jujur Rara bingung harus menulis tentang apa, karena ia tak berpengalaman memiliki sahabat. "Emm ... maaf, boleh pinjem buku paketnya sebentar?" Rara tersentak kaget mendengar suara itu. Ia segera menoleh ke belakang---asal suara. Ternyata yang memangillnya adalah si anak baru yang baru beberapa hari ini masuk. Namanya adalah Niri. Ia juga tak memiliki teman. Mungkin di kelas, hanya Rara dan Niri yang tak diajak berteman oleh temannya yang lain. "Ndnek asak kai yo, Ni." Walau begitu, teman sekelas mereka tetap menghargai dan mengagumi Rara, karena gadis itu pintar. Mungkin Rara juga sudah tahu jika ia kadang hanya dimanfaatkan. Akan tetapi, Rara tetap tak ingin memberikan lembar jawabannya pada temannya yang lain, sedekat apa pun mereka, yang namanya tugas ya harus dikerjakan sendiri. "Oh, ya, boleh," ucap Rara menjawab permintaan Niri tadi. Ia menyodorkan buku itu ke belakang. Maklum saja, Niri baru pindah, pastinya banyak catatannya yang ketinggalan. "Kalau kamu ada yang nggak paham, tanya sama aku aja," ujar Rara lembut. Niri menghadap ke Rara dengan tatapan semangat. "Baik, terima kasih." "Iya." "Baik, Anak-anak. Apakah sudah ada yang selesai membuat tugasnya? Bapak berharap kalian juga menuliskan impian dan motivasi kalian di masa depan!" "Baik, Pak," jawab mereka. Waktu udah mulai habis, tidak ada waktu lagi. Siap tidak siap harus dikumpulkan. Rara hanya menulis asalan. Toh, itu juga hanya sebatas tugas. Lagi pula Rara tak mengharapkan puisinya bagus atau tidaknya. "Ra, ini buku paketnya," ujar Niri mengembalikan buku itu lagi. "Oke, Niri." "Makasih banyak, ya. Kalau kamu nggak keberatan boleh dong aku jadi temanmu?" tanya Niri. "Boleh, dong! Aku juga nggak punya teman tau ... kadang aku main sama adikku , susah banget ngalahin dia serius." "Terima kasih," ucap Niri pergi begitu saja. Jujur Rara sebenarnya masih heran dengan sikap Niri. Terkadang gadis itu sendirian, kadang menghilang begitu saja tanpa keterangan. Rara jadi penasaran, tetapi apa tak masalah jika ia mencampuri urusan orang lain? "Niri itu agak aneh, tapi aku yakin, dia bisa jadi temanku," ucap Rara dalam hati. "Dia sekarang ke mana, ya?" Buru-buru Rara menyusulnya yang tampak terburu-buru. Namun, Rara berusaha agar tidak kelihatan *** Masih berbicara tentang sahabat. Tentunya Arsya memiliki seorang sahabat yang tentunya sangat tampan dan selalu ada untuknya. Siapakah itu? Ah, terlalu mudah. Ya siapa lagi jika bukan Adimas. Gadis itu adalah sahabat terbaik Arsya, begitu pun sebaliknya. Siang ini Arsya ada janji dengan Adimas untuk menyelidiki seseorang yang sedang dicurigai oleh Adimas. "Lo yakin gak pa-pa?" tanya Arsya. "Yakinlah, emang ada yang kenal sama muka kita kalau udah dandan seperti ini." Arsya memakai wig keribo dan memakai kumis palsu. Sedangkan Adimas simpel saja, ia hanya memakai hodie, pakai kacamata hitam dan masker. Sangat tidak adil, karena Arsya didandani buruk rupa. "Nah, benar, kan. Itu tuh targetnya!!" ucap Adimas menunjuk ke arah ujung. "Eh, jangan nunjuk-nunjuk gitu, dong, entar kita ketauan!" "Eh, astaga iya juga, sorry-sorry!" "Lo ngapain ngintipin nyokap lo sih?" "Ey, diam aja kalau nggak paham." Adimas tetap memperhatikan gerak-gerik maminya itu yang hanya duduk sendirian di meja resroran di pojok sana. Tak lama kemudian munculah seseorang yang langsung duduk di hadapan Farah. Buru-buru Adimas hendak bangkit, tetapi tangan Arsya menahannya. "Gue harus samperin tuh selingkuhannya Mami." "Ey, belum tentu dia selingkuhannya Mami lo." "Udah pasti! Gue denger mereka telponan gitu." "Iya, tapi jangan disamperin dulu, biar kita bisa dengerin apa yang mereka bicarakan. "Iya, sih." Mereka pun sepakat tetap diam dan ngobrol sembari memperhatikan dua orang itu. "Lihat, tuh, nyokap lo kayaknya mau ngomong serius gitu." "Ya juga, sih, tapi kalau cuma rekan kerja doang. Mami gue kan kerjanya cuma guru privat dan satu lagi kerja kantoran , Sya." "Hmm ... ya kita dengerin aja dulu apa yang mereka bahas." Dengan telinga yang mereka lebarkan untuk mendengar percakapan Farah dan laki-laki itu, mereka tetap makan seperti biasa saja, agar tak tampak mencurigakan. "Jadi, gimana? Dia tetap gak cemburu?" "Dia sepertinya memang sudah melupakanku, Far. Harapanku sudah hilang." Alis Adimas mengkerut. Siapa yang dibahas oleh Maminya itu? "Kalau begitu, langsung ke Mas Alex saja," ujar Farah. Mendengar nama Papinya disebut, Adimas semakin menajamkan indra pendengarannya. "Tapi aku tidak yakin." "Tenang saja, Mas Alex tidak akan bisa membantah. Kamu tetap urus Laura." Adimas masih tak paham apa yang mereka bicarakan. Namun, satu hal yang Adimas tahu jika laki-laki bersama maminya itu tampak jauh lebih muda. Lalu, kenapa ketika di telepon Adimas mendengar maminya memanggil Mas? Apakah bukan orang yang sama? Tadi Adimas tak sengaja mendengar Farah berbicara di telepon mengatakan jika ketemuan di restoran ini. Maka dari itu Adimas mengajak Arsya untuk menemaninya. "Baik, terima kasih ya, Kak." Sebentar. Kak? Laki-laki itu memanggil maminya kakak? Berarti memang lebih muda daripada Farah. Adimas mulai curiga jika ia hanya salah paham belaka, tetapi Reni bilang Farah selingkuh antara iya dan tidak, berarti Reni juga mengakui jika maminya itu berhubungan dengan laki-laki lain, bukan? Sama saja. "Kalau begitu, mari kita makan dulu." "Iya." Adimas rasa ia sudah cukup memergoki maminya yang tampak bertemu dengan laki-laki lain. Ia pun mengajak Arsya pulang. Cowok itu menurut saja, jujur ia risih kenapa harus dandan seperti ini segala? Ini sangat mengganggu ketampanannya. Adimas memotret Farah dan laki-laki itu diam-diam. Ini akan dijadikan bukti nantinya. Urusan ini akan Adimas selesaikan di rumah. Ia harus meminta penjelasan Farah lebih lengkap agar menutup rasa penasarannya. Lagi pula kenapa maminya itu tak terus terang saja pada Adimas? Ia pasti mendukung jika itu memang yang terbaik untuk maminya. "Sya, makasih ya udah mau nemenin gue," ujar Adimas saat mereka sudah berada di parkiran. "Sama-sama, Bro. Tapi dandanan lo ini merusak paras ketampanan gue tau nggak." "Hahaha, ya gak pa-palah sesekali." "Ya udah sekarang mau ke mana?" "Pulanglah." "Oke." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN